Renungan Keluaran 18:13-27 Untuk W/KI, Carilah Orang Yang Cakap Dan Takut Akan Allah

Clavel Lukas • Dipublikasikan Sabtu, 5 September 2026 | 04:36 WIB
Ilustrasi Alkitab.
Ilustrasi Alkitab.

Bacaan: Keluaran 18:13-27

Tema: “Carilah Orang Yang Cakap Dan Takut Akan Allah”

Saudari-saudari W/KI GMIM yang dikasihi Tuhan Yesus Kristus, ketika berbicara tentang pelayanan dan kepemimpinan, kita sering kali lebih dahulu melihat apa yang tampak dari luar: kemampuan seseorang berbicara, pengalamannya, pendidikannya, keluasan pergaulannya, keberaniannya mengambil keputusan, atau seberapa aktif ia di dalam persekutuan.

Semua hal itu memang dapat menjadi bagian dari kecakapan seseorang, tetapi firman Tuhan dalam Keluaran 18:13-27 membawa kita kepada ukuran yang lebih dalam. Di hadapan Allah, seseorang yang menerima kepercayaan tidak cukup hanya cakap; ia juga harus takut akan Allah. Ia tidak cukup hanya mampu; ia juga harus dapat dipercaya. Ia tidak cukup hanya aktif; ia juga harus memiliki hati yang bersih dari kepentingan dan keuntungan yang tidak benar.

Bagi W/KI GMIM, firman ini sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari. Seorang perempuan sering menerima banyak tanggung jawab sekaligus sebagai istri, ibu, oma, pekerja, pelayan gereja, anggota masyarakat, bahkan sebagai orang yang menjadi tempat keluarga mencari nasihat dan pertolongan. Karena itu, kehidupan perempuan Kristen tidak hanya membutuhkan kekuatan dan keterampilan praktis, tetapi juga fondasi rohani yang kokoh. Kita membutuhkan hikmat untuk mengambil keputusan, kesabaran dalam menghadapi persoalan, kerendahan hati untuk mendengar, keberanian untuk berkata benar, dan terutama hati yang takut akan Tuhan.

Baca Juga: Renungan Keluaran 18:13-27, Carilah Orang Yang Cakap Dan Takut Akan Allah

Baca Juga: Materi Khotbah Keluaran 18:13-27, Carilah Orang Yang Cakap Dan Takut Akan Allah

Keluaran 18 memperlihatkan Musa dalam suatu keadaan ketika hampir seluruh persoalan umat Israel bertumpu kepadanya. Dari pagi sampai petang ia duduk mengadili bangsa itu. Secara manusiawi kita dapat mengatakan bahwa Musa sangat bertanggung jawab. Ia sungguh-sungguh melayani umat. Namun Yitro melihat bahwa pola itu tidak sehat. Musa akan menjadi lelah dan umat pun akan kelelahan menunggu. Karena itu Yitro menasihati Musa untuk membagi tanggung jawab kepada orang-orang lain.

Yang sangat penting adalah Yitro tidak meminta Musa sekadar mencari orang yang bersedia. Ia memberikan kriteria rohani dan moral yang jelas: orang yang cakap, takut akan Allah, dapat dipercaya, dan membenci keuntungan yang tidak benar. Di dalam empat kualitas ini kita melihat bahwa Alkitab tidak pernah memisahkan kemampuan dari karakter. Kecakapan harus berada di bawah takut akan Tuhan, kemampuan harus dikuduskan oleh integritas, dan kewenangan harus dijalankan dalam kesadaran bahwa setiap orang pada akhirnya bertanggung jawab di hadapan Allah.

Karena itu, bagian ini juga harus dipahami secara tepat dalam konteks pelayanan gereja. Keluaran 18 tidak secara langsung berbicara tentang pemilihan Penatua, Diaken, atau Pelayan Khusus sebagaimana dikenal dalam kehidupan gereja sekarang. Orang-orang yang dipilih Musa adalah orang-orang yang membantu menjalankan tanggung jawab kepemimpinan dan penyelesaian perkara di tengah umat Israel. Namun prinsip teologisnya sangat kuat dan tetap relevan: ketika umat Tuhan mempercayakan tanggung jawab kepada seseorang, yang diperhatikan bukan hanya kemampuan lahiriah, tetapi juga karakter rohani, integritas, kesetiaan, dan takut akan Allah.

Dengan demikian, firman ini tidak pertama-tama mengajak kita menilai orang lain, melainkan membawa setiap W/KI kepada pemeriksaan diri di hadapan Tuhan. Apakah saya sedang menjadi perempuan yang cakap dan takut akan Allah? Apakah saya dapat dipercaya dalam perkara kecil maupun besar? Apakah saya menggunakan kemampuan untuk membangun atau untuk meninggikan diri? Apakah ketika menerima tanggung jawab saya melihatnya sebagai panggilan untuk melayani, atau sebagai kesempatan untuk mendapatkan kehormatan?

Saudari-saudari W/KI GMIM yang dikasihi Tuhan Yesus Kristus,

Kitab Keluaran merupakan kitab yang sangat penting dalam keseluruhan kesaksian Alkitab karena memperlihatkan Allah sebagai Pribadi yang membebaskan, membentuk, dan mengikat perjanjian dengan umat-Nya. Bangsa Israel berada dalam perbudakan di Mesir, dan penderitaan mereka bukan hanya persoalan sosial atau politik, melainkan juga menjadi panggung bagi penyataan siapa Allah itu. Tuhan mendengar seruan umat, mengingat perjanjian-Nya dengan Abraham, Ishak, dan Yakub, lalu bertindak untuk membebaskan mereka.

Melalui Musa, Allah menyatakan kuasa-Nya atas Firaun dan atas seluruh sistem penindasan Mesir. Tulah-tulah, keluarnya Israel dari Mesir, dan penyeberangan Laut Teberau menunjukkan bahwa keselamatan umat berasal dari tindakan Allah. Israel tidak membebaskan dirinya sendiri. Mereka dibebaskan karena Tuhan bertindak.

Namun karya keselamatan Allah tidak berhenti pada pembebasan. Allah tidak hanya mengeluarkan Israel dari Mesir; Ia juga membentuk Israel menjadi umat milik-Nya. Inilah salah satu tema teologis besar dalam Keluaran: Allah membebaskan untuk membentuk. Allah menyelamatkan supaya umat hidup dalam ketaatan.

Karena itu, setelah keluar dari Mesir, Israel harus belajar hidup sebagai umat perjanjian. Bangsa yang dahulu hidup sebagai budak harus belajar menjalani kehidupan yang tertib, adil, bertanggung jawab, dan berpusat pada kehendak Allah.

Keluaran 18 berada pada tahap penting sebelum pemberian hukum di Sinai. Israel sedang bergerak dari komunitas bekas budak menuju umat yang harus hidup dalam keteraturan di bawah pemerintahan Allah. Di sinilah persoalan kepemimpinan Musa menjadi penting.

Musa telah dipanggil Tuhan menjadi pemimpin, tetapi panggilan ilahi tidak berarti bahwa seluruh pekerjaan harus berpusat pada satu orang. Justru melalui nasihat Yitro, Musa belajar bahwa kepemimpinan yang sehat membutuhkan pembagian tanggung jawab.

Secara teologis, ini menunjukkan bahwa pekerjaan Tuhan tidak dibangun atas kultus individu. Allah memang dapat memakai seorang pemimpin secara besar, tetapi Dia juga memakai banyak orang lain dalam tubuh umat-Nya. Panggilan seorang pemimpin bukan untuk menguasai seluruh pekerjaan, melainkan untuk menolong umat hidup dalam ketertiban sesuai kehendak Tuhan.

Karena itu, Keluaran 18 bukan hanya kisah tentang manajemen. Di dalamnya ada teologi tentang keterbatasan manusia, hikmat Allah, komunitas umat, integritas kepemimpinan, dan pentingnya memilih orang yang layak memegang kepercayaan.

Membahas Tema: “Carilah Orang Yang Cakap Dan Takut Akan Allah”

Tema ini berpusat pada ayat 21 dan mengandung prinsip yang sangat kaya.

Yang pertama adalah cakap. Dalam konteks ini, kecakapan bukan semata-mata kepintaran akademik. Cakap berarti mempunyai kemampuan yang memadai untuk memahami persoalan, menimbang dengan bijaksana, mengambil keputusan, dan menjalankan tanggung jawab.

Secara teologis, kecakapan dapat dipahami sebagai bentuk pengelolaan terhadap karunia yang Tuhan berikan. Allah memberikan kemampuan kepada manusia bukan untuk dibanggakan, tetapi untuk dipakai bagi kebaikan umat.

Karena itu, bagi W/KI, menjadi cakap berarti mau belajar. Seorang perempuan Kristen tidak boleh merasa bahwa kesalehan menggantikan kebutuhan untuk bertumbuh dalam kemampuan. Justru karena kita melayani Tuhan, kita harus mengerjakan setiap tanggung jawab dengan sebaik mungkin.

Yang kedua adalah takut akan Allah. Inilah pusat moral dan spiritual dari seluruh kriteria tersebut. Takut akan Allah bukan rasa takut yang membuat manusia menjauh dari Tuhan. Takut akan Allah berarti hidup dalam rasa hormat, kagum, tunduk, dan sadar bahwa seluruh kehidupan berada di hadapan-Nya.

Takut akan Allah adalah kesadaran bahwa Tuhan melihat lebih jauh daripada manusia. Manusia melihat tindakan, tetapi Tuhan melihat motivasi. Manusia dapat tertipu oleh penampilan, tetapi Tuhan mengenal hati.

Karena itu, orang yang takut akan Allah tidak hanya bertanya, “Apakah ini menguntungkan saya?” tetapi “Apakah ini benar di hadapan Tuhan?” Ia tidak hanya bertanya, “Apakah orang lain akan tahu?” tetapi “Apakah Tuhan berkenan?”

Yang ketiga adalah dapat dipercaya. Ini berbicara tentang integritas. Dalam Alkitab, integritas bukan sekadar reputasi baik di depan manusia, tetapi kesatuan antara iman, perkataan, dan tindakan.

Perempuan yang dapat dipercaya adalah perempuan yang tidak memiliki dua wajah: satu wajah di gereja dan wajah lain di rumah. Ia berusaha hidup konsisten. Jika dipercaya menyimpan rahasia, ia menjaganya. Jika diberi tanggung jawab, ia menyelesaikannya. Jika mengelola keuangan, ia jujur.

Yang keempat adalah membenci keuntungan yang tidak benar. Ini menunjukkan bahwa orang yang menerima kepercayaan harus bebas dari cinta terhadap keuntungan yang diperoleh melalui penyalahgunaan kewenangan.

Secara teologis, jabatan dan pelayanan bukan milik pribadi. Semua tanggung jawab adalah amanat Tuhan. Karena itu, menggunakan jabatan untuk mencari keuntungan pribadi berarti mengubah pelayanan menjadi alat kepentingan diri.

Bagi W/KI, tema ini mengajak kita memahami bahwa pelayanan bukan tempat mencari pujian, pengaruh, kelompok pendukung, atau keuntungan. Pelayanan adalah bentuk penyerahan diri kepada Tuhan.

Pembahasan Ayat Demi Ayat

Ayat 13. Musa duduk mengadili bangsa itu dari pagi sampai petang, sementara umat berdiri menghadapnya. Secara lahiriah kita melihat seorang pemimpin yang sangat rajin. Namun teks ini juga memperlihatkan keterbatasan manusia. Musa dipanggil Tuhan, tetapi panggilan itu tidak menghapus kemanusiaannya. Ia tetap mempunyai tenaga yang terbatas. Secara teologis, ini penting karena manusia tidak pernah menjadi pusat mutlak dari pekerjaan Allah. Hanya Tuhan yang tidak terbatas.

Pemimpin yang lupa akan keterbatasannya dapat tanpa sadar mengambil tempat yang seharusnya hanya dimiliki Tuhan. Dalam kehidupan W/KI, kita juga dapat jatuh dalam pola yang sama ketika merasa semua harus diselesaikan sendiri. Ada ibu yang merasa seluruh keluarga bergantung kepadanya, ada pelayan yang merasa kegiatan tidak akan berjalan tanpa dirinya. Firman ini mengingatkan bahwa mengakui keterbatasan bukan tanda kurang iman, melainkan pengakuan bahwa hanya Allah yang sempurna.

Ayat 14. Yitro melihat keadaan tersebut dan mempertanyakannya. Di sini kita melihat pentingnya komunitas dan koreksi. Allah dapat memakai orang lain untuk menunjukkan sesuatu yang tidak kita lihat sendiri. Secara teologis, ini menunjukkan bahwa hikmat Tuhan tidak selalu datang hanya melalui orang yang mempunyai jabatan terbesar. Tuhan dapat memakai suara dari luar struktur utama untuk memberi koreksi. Karena itu, perempuan Kristen membutuhkan kerendahan hati untuk mendengar. Kita tidak boleh merasa karena sudah lama melayani, lebih tua, atau lebih berpengalaman maka kita tidak lagi membutuhkan nasihat. Kerendahan hati adalah buah dari kesadaran bahwa kebenaran berasal dari Tuhan, bukan dari diri kita sendiri.

Ayat 15-16. Musa menjelaskan bahwa umat datang kepadanya untuk mencari keputusan Allah. Musa mengajarkan ketetapan dan hukum Tuhan. Di sini jelas bahwa pelayanan Musa bersifat rohani. Ia tidak sekadar menjadi hakim administratif, tetapi menjadi mediator yang menolong umat memahami kehendak Tuhan. Namun tugas yang benar tetap membutuhkan pola pelaksanaan yang benar. Secara teologis, ini mengingatkan bahwa tujuan yang rohani tidak membenarkan metode yang tidak sehat. Seseorang dapat mengerjakan pekerjaan gereja, tetapi jika dilakukan dengan ego, kontrol berlebihan, atau pengabaian terhadap keluarga, maka ada sesuatu yang harus dievaluasi. W/KI dipanggil bukan hanya untuk aktif, tetapi untuk hidup dengan hikmat.

Ayat 17-18. Yitro berkata bahwa apa yang dilakukan Musa tidak baik karena ia dan umat akan sama-sama menjadi lelah. Kata-kata ini menegaskan bahwa kelelahan bukan selalu tanda kesalehan. Ada kalanya kelelahan lahir dari ketidakmampuan membagi tanggung jawab. Secara teologis, ini menunjukkan bahwa tubuh manusia juga termasuk bagian dari ciptaan Tuhan yang harus dihargai. Manusia bukan roh tanpa tubuh. Karena itu, melayani Tuhan tidak berarti merusak diri. Bagi W/KI, penting untuk memahami bahwa menjaga keseimbangan hidup bukan tanda egois. Ada saat untuk melayani, tetapi juga ada saat untuk beristirahat, mendengar keluarga, dan memperhatikan kondisi diri.

Ayat 19. Yitro berkata agar Musa mendengarkan nasihatnya dan Allah kiranya menyertai dia. Kalimat ini memperlihatkan keseimbangan antara hikmat manusia dan ketergantungan kepada Allah. Yitro memberikan solusi praktis, tetapi tetap mengakui bahwa keberhasilan bergantung pada penyertaan Tuhan. Secara teologis, ini menolak dua ekstrem: hanya berdoa tanpa berpikir, atau hanya mengandalkan strategi tanpa Tuhan. Kehidupan Kristen memerlukan keduanya, yaitu doa dan hikmat, iman dan tanggung jawab, penyertaan Allah dan kesungguhan manusia.

Ayat 20. Musa harus mengajarkan ketetapan dan hukum Allah serta menunjukkan jalan yang harus ditempuh umat. Di sini terlihat bahwa pemimpin yang benar tidak membuat umat bergantung terus kepada dirinya, tetapi menolong umat memahami kehendak Tuhan. Secara teologis, pemimpin adalah pelayan firman, bukan pengganti Allah. Bagi W/KI sebagai ibu dan oma, tugas ini sangat penting. Kita dipanggil bukan hanya menyediakan kebutuhan jasmani keluarga, tetapi menolong generasi berikutnya mengenal jalan Tuhan. Anak dan cucu membutuhkan perempuan yang tidak hanya berkata “takutlah akan Tuhan,” tetapi memperlihatkan bagaimana takut akan Tuhan dijalani dalam keputusan, perkataan, pengampunan, kejujuran, dan kesetiaan.

Ayat 21. Inilah pusat seluruh bagian ini. Yitro meminta Musa mencari orang yang cakap, takut akan Allah, dapat dipercaya, dan membenci keuntungan yang tidak benar. Secara teologis, empat kriteria ini menunjukkan bahwa kepemimpinan dalam umat Tuhan tidak boleh dipisahkan antara kompetensi dan kekudusan hidup. Kemampuan tanpa takut akan Tuhan dapat menjadi alat manipulasi. Kecerdasan tanpa integritas dapat digunakan untuk menipu. Kuasa tanpa kesalehan dapat berubah menjadi penindasan.

 Sebaliknya, takut akan Allah menempatkan seluruh kemampuan di bawah kehendak-Nya. Dalam konteks pelayanan gereja sekarang, prinsip ini sangat penting. Sekalipun Keluaran 18 bukan aturan langsung tentang pemilihan Penatua dan Diaken, kita dapat melihat prinsip bahwa orang yang menerima tanggung jawab pelayanan harus dinilai dari kualitas hidup, bukan hanya popularitas, kedekatan, atau pengaruh. Bagi W/KI, ini bukan hanya kriteria untuk mencari orang lain, tetapi cermin bagi diri sendiri: apakah kita sungguh menjadi perempuan yang dapat dipercaya?

Ayat 22. Orang-orang yang dipilih kemudian menerima tanggung jawab dalam menyelesaikan perkara umat. Ini memperlihatkan bahwa kepemimpinan dalam umat Tuhan bersifat berbagi, bukan menumpuk. Secara teologis, hal ini berhubungan dengan kenyataan bahwa Allah bekerja melalui komunitas. Tidak satu orang memiliki seluruh kemampuan. Dalam kehidupan gereja, kita melihat prinsip yang sama: ada banyak karunia dan banyak bentuk pelayanan. Karena itu, perempuan yang dewasa secara rohani tidak merasa tersaingi oleh kemampuan orang lain. Ia bersukacita ketika orang lain bertumbuh karena pekerjaan Tuhan lebih besar daripada kepentingan pribadi.

Ayat 23. Yitro berkata bahwa jika Musa melakukan hal itu dan Allah memerintahkannya demikian, Musa akan dapat bertahan dan umat akan pulang dengan tenteram. Frasa “jika Allah memerintahkan” sangat penting. Ini menunjukkan bahwa hikmat manusia tetap harus diuji di bawah kehendak Tuhan. Sistem yang baik bukan tujuan akhir. Tujuan akhirnya adalah ketaatan kepada Allah dan kesejahteraan umat. Bagi W/KI, ini mengingatkan bahwa keberhasilan pelayanan bukan sekadar kegiatan berjalan, tetapi apakah pelayanan itu membawa damai, pertumbuhan, dan kemuliaan bagi Tuhan.

Ayat 24. Musa mendengarkan nasihat Yitro dan melakukannya. Di sini kita melihat kerendahan hati sebagai kualitas seorang pemimpin. Secara teologis, kerendahan hati lahir dari pengakuan bahwa hanya Allah yang sempurna. Musa tidak merasa panggilannya membuat dirinya kebal terhadap koreksi. Bagi W/KI, ini sangat penting. Semakin lama kita melayani, seharusnya semakin mudah kita diajar, bukan semakin sulit dikoreksi. Kerohanian yang sejati tidak membuat seseorang merasa selalu benar.

Ayat 25. Musa memilih orang-orang yang cakap dan menempatkan mereka sesuai tingkat tanggung jawab. Ada pemimpin seribu, seratus, lima puluh, dan sepuluh. Di sini terlihat prinsip bahwa tanggung jawab berbeda-beda sesuai kapasitas. Secara teologis, nilai seseorang tidak ditentukan oleh besar kecilnya posisi. Nilai kita berasal dari Allah, sedangkan jabatan hanyalah bentuk pelayanan. Karena itu, W/KI tidak perlu membandingkan diri. Tidak semua harus berada di depan. Kesetiaan jauh lebih penting daripada ketenaran.

Ayat 26. Orang-orang itu menjalankan tanggung jawab sesuai batasnya. Perkara besar dibawa kepada Musa, sementara perkara lainnya mereka tangani. Ini menunjukkan bahwa pendelegasian harus disertai keteraturan. Secara teologis, Allah adalah Allah yang membawa keteraturan, bukan kekacauan. Karena itu, pelayanan harus dilakukan dengan penghormatan terhadap tanggung jawab masing-masing. Jangan mengambil alih peran orang lain, tetapi jangan pula mengabaikan tugas sendiri.

Ayat 27. Yitro kemudian kembali ke negerinya. Ia pergi, tetapi hikmat yang ia berikan tetap tinggal dalam kehidupan Israel. Secara teologis, ini mengingatkan bahwa pengaruh terbesar seseorang tidak selalu berasal dari jabatan, tetapi dari kehidupan yang menyampaikan hikmat Tuhan. Bagi W/KI, ini menjadi pertanyaan tentang warisan iman. Apa yang akan diingat oleh anak dan cucu kita? Bukan hanya berapa banyak yang kita miliki atau kerjakan, tetapi apakah kehidupan kita membawa mereka mengenal Tuhan.

Penutup

Saudari-saudari W/KI GMIM yang dikasihi Tuhan, tema “Carilah Orang Yang Cakap Dan Takut Akan Allah” membawa kita kepada satu kenyataan penting: Allah tidak hanya memperhatikan apa yang dapat kita lakukan, tetapi siapa diri kita di hadapan-Nya.

Manusia sering kali tertarik pada kemampuan, tetapi Tuhan melihat hati. Manusia mudah terkesan oleh penampilan, tetapi Tuhan melihat motivasi. Manusia dapat melihat aktivitas pelayanan, tetapi Tuhan mengetahui apakah pelayanan itu lahir dari kasih atau dari keinginan untuk mendapat pengakuan.

Karena itu, tema ini tidak boleh berhenti menjadi ukuran untuk menilai orang lain. Firman ini harus terlebih dahulu menjadi cermin untuk diri kita.

Pertama, kita dipanggil menjadi perempuan yang cakap. Artinya, kita harus terus belajar, bertumbuh, dan mengembangkan kemampuan yang Tuhan percayakan. Iman tidak membuat kita berhenti belajar. Justru iman membuat kita ingin memberikan yang terbaik bagi Tuhan.

Kedua, kecakapan harus berada di bawah takut akan Allah. Takut akan Allah menjaga kemampuan kita supaya tidak berubah menjadi kesombongan. Takut akan Allah membuat kita sadar bahwa setiap talenta, kesempatan, dan tanggung jawab berasal dari Tuhan.

Ketiga, kita harus menjadi perempuan yang dapat dipercaya. Integritas dimulai dari perkara kecil. Dari cara kita berbicara, menjaga rahasia, menggunakan uang, memenuhi janji, dan memperlakukan orang lain. Jangan hanya ingin terlihat baik; hiduplah benar di hadapan Tuhan.

Keempat, kita harus menjaga motivasi dalam pelayanan. Pelayanan bukan tempat mencari kehormatan, posisi, pengaruh, atau keuntungan. Semakin besar tanggung jawab, semakin besar pula panggilan untuk merendahkan diri.

Kelima, kita harus belajar bekerja bersama orang lain. Musa tidak melakukan semuanya sendiri. Debora pun tidak berjalan sendirian. Allah bekerja melalui banyak orang. Karena itu, jangan takut ketika orang lain memiliki kemampuan. Jangan iri ketika orang lain dipercaya. Bersukacitalah ketika pekerjaan Tuhan bertumbuh.

Keenam, kita harus memiliki hati yang dapat dikoreksi. Musa mendengar Yitro. Orang yang takut akan Allah tidak merasa dirinya selalu benar. Ia bersedia belajar, meminta maaf, dan berubah ketika menyadari kesalahan.

Ketujuh, besar kecilnya tanggung jawab bukan ukuran nilai diri kita. Ada yang menerima tanggung jawab besar, ada yang kecil. Semua berharga ketika dilakukan dengan setia. Identitas kita bukan ditentukan oleh jabatan, tetapi oleh kasih Allah.

Kedelapan, kita harus meninggalkan warisan iman. Seorang perempuan Kristen dipanggil bukan hanya untuk menyelesaikan pekerjaan hari ini, tetapi menanam sesuatu yang dapat diteruskan kepada generasi berikutnya. Anak dan cucu perlu melihat iman yang nyata melalui kehidupan kita.

Saudari-saudari, dalam konteks pelayanan gereja, firman ini sangat menolong kita supaya tidak memandang pemilihan atau pemberian tanggung jawab pelayanan hanya sebagai persoalan siapa yang dikenal, siapa yang dekat, siapa yang populer, atau siapa yang mempunyai banyak kemampuan. Prinsip Keluaran 18 mengarahkan kita kepada sesuatu yang lebih mendasar: karakter yang dibentuk oleh takut akan Allah.

Sekalipun Keluaran 18 bukan teks langsung tentang pemilihan Penatua dan Diaken, pesan teologisnya tetap penting. Tanggung jawab atas umat Tuhan tidak boleh dipandang ringan. Pelayanan adalah amanat Allah. Karena itu, orang yang menerimanya harus memiliki kemampuan yang terus diasah, kehidupan yang takut akan Tuhan, karakter yang dapat dipercaya, dan motivasi yang bersih.

Saudari-saudari, dunia mungkin menghargai kecakapan, tetapi gereja membutuhkan lebih daripada kecakapan. Keluarga membutuhkan lebih daripada kemampuan. Masyarakat membutuhkan lebih daripada orang pintar. Kita membutuhkan perempuan-perempuan yang cakap dan takut akan Allah.

Perempuan yang cakap dapat mengatur banyak hal, tetapi perempuan yang takut Tuhan tahu untuk siapa ia melakukannya.

Perempuan yang pandai dapat berbicara dengan meyakinkan, tetapi perempuan yang takut Tuhan tahu kapan harus berbicara dan kapan harus diam.

Perempuan yang mempunyai pengaruh dapat menggerakkan banyak orang, tetapi perempuan yang takut Tuhan menggunakan pengaruh untuk membangun, bukan menguasai.

Perempuan yang mempunyai jabatan dapat menerima penghormatan, tetapi perempuan yang takut Tuhan menyadari bahwa seluruh kehormatan pada akhirnya kembali kepada Allah.

Karena itu, jangan hanya berdoa supaya Tuhan memberikan kita kesempatan yang besar. Berdoalah supaya Tuhan memberikan karakter yang cukup kuat untuk memikul kesempatan itu.

Kiranya melalui kehidupan W/KI GMIM yang demikian, keluarga semakin dikuatkan, pelayanan semakin sehat, generasi berikutnya menerima teladan iman, dan nama Tuhan semakin dimuliakan.

“Carilah Orang Yang Cakap Dan Takut Akan Allah.”

Dan sebelum kita mencarinya pada orang lain, biarlah doa kita menjadi:

“Tuhan, bentuklah aku menjadi perempuan yang cakap, dapat dipercaya, penuh hikmat, dan sungguh-sungguh takut akan Engkau.”

Amin.

Editor : Clavel Lukas
khotbah GMIM W/KI Renungan GMIM Renungan