Ayat Kunci
Ulangan 26:10-11
“Dan sekarang, di sini aku membawa hasil pertama dari buah tanah yang telah Kauberikan kepadaku, ya TUHAN. Kemudian engkau harus meletakkannya di hadapan TUHAN, Allahmu, dan sujudlah di hadapan TUHAN, Allahmu. Dan haruslah engkau bersukaria karena segala yang baik yang diberikan TUHAN, Allahmu, kepadamu dan kepada seisi rumahmu, engkau serta orang Lewi dan orang asing yang ada di tengah-tengahmu.”
Ulangan 25–26 mengajarkan kepada bangsa Israel bagaimana seharusnya mereka hidup setelah menerima berkat dan janji Tuhan. Tuhan tidak hanya berbicara tentang tanah yang akan mereka tempati, tetapi juga tentang karakter, keadilan, ketaatan, kepedulian kepada sesama, serta hati yang penuh ucapan syukur.
Bangsa Israel sedang dipersiapkan untuk memasuki Tanah Perjanjian. Mereka akan mengalami kehidupan yang baru. Karena itu, Tuhan memberikan aturan dan prinsip yang harus menjadi dasar kehidupan mereka.
Bagi kita sebagai orang percaya, bagian ini juga sangat penting. Tuhan tidak hanya ingin memberkati kita, tetapi Tuhan ingin supaya kehidupan yang diberkati itu menghasilkan karakter yang benar dan hati yang selalu bersyukur.
Roh Kudus menolong kita bukan hanya untuk mengalami kuasa Tuhan, tetapi juga untuk hidup sesuai dengan kehendak-Nya.
1. Ulangan 25: Tuhan Menghendaki Keadilan
Ulangan 25 berbicara mengenai berbagai aturan kehidupan, termasuk tentang hukuman, tanggung jawab dalam keluarga, kejujuran dalam perdagangan, dan bagaimana memperlakukan sesama.
Salah satu penekanan penting dalam pasal ini adalah bahwa Tuhan membenci ketidakadilan dan kecurangan.
Ulangan 25:15 mengatakan:
“Haruslah ada neraca yang betul dan tepat, harus ada efa yang betul dan tepat, supaya lanjut umurmu di tanah yang diberikan kepadamu oleh TUHAN, Allahmu.”
Tuhan memperhatikan hal-hal yang mungkin dianggap kecil oleh manusia.
Kejujuran dalam berdagang, perkataan yang benar, cara memperlakukan orang lain, dan bagaimana kita menjalankan tanggung jawab—semuanya diperhatikan oleh Tuhan.
Sering kali manusia berpikir bahwa kekudusan hanya berkaitan dengan ibadah. Kita merasa sudah dekat dengan Tuhan karena berdoa, menyanyi, atau hadir dalam persekutuan. Tetapi firman Tuhan menunjukkan bahwa hubungan dengan Tuhan juga harus terlihat melalui cara kita memperlakukan orang lain.
Roh Kudus Membentuk Karakter
Inilah salah satu pekerjaan Roh Kudus dalam kehidupan orang percaya.
Roh Kudus bukan hanya memberikan kuasa untuk melayani, tetapi juga mengubahkan karakter kita.
Kita mungkin memiliki kemampuan yang luar biasa, tetapi Tuhan juga ingin kita memiliki hati yang benar.
Kita mungkin memiliki banyak berkat, tetapi Tuhan ingin kita menggunakan berkat tersebut dengan cara yang benar.
Kita mungkin mempunyai posisi dan pengaruh, tetapi Tuhan ingin kita tetap hidup dalam kejujuran dan kerendahan hati.
Karena itu, kehidupan yang dipenuhi Roh Kudus seharusnya terlihat dalam buah kehidupan sehari-hari.
Ketika tidak ada orang yang melihat, kita tetap memilih untuk jujur.
Ketika kita mempunyai kesempatan untuk mengambil keuntungan dengan cara yang salah, kita memilih untuk takut akan Tuhan.
Ketika orang lain berbuat tidak baik kepada kita, kita belajar untuk mengampuni.
Inilah kehidupan yang berkenan kepada Tuhan.
2. Ulangan 26: Jangan Lupa Sumber Berkat
Memasuki Ulangan 26, bangsa Israel diperintahkan untuk membawa hasil pertama dari tanah yang diberikan Tuhan kepada mereka.
Ini berbicara tentang persembahan hasil pertama atau buah sulung.
Namun yang menarik adalah ketika mereka membawa hasil tanah tersebut, mereka harus mengingat kembali perjalanan hidup mereka.
Mereka harus mengingat bahwa dahulu mereka bukanlah bangsa yang besar dan kuat. Mereka pernah hidup sebagai orang asing dan mengalami penindasan di Mesir.
Tetapi Tuhan membebaskan mereka.
Tuhan membawa mereka keluar.
Tuhan menyertai perjalanan mereka.
Tuhan membawa mereka masuk ke tanah yang dijanjikan.
Karena itu, ketika mereka menikmati hasil tanah, mereka tidak boleh berkata, “Ini semua karena kekuatanku.”
Mereka harus mengingat bahwa semuanya berasal dari Tuhan.
Berkat Tidak Boleh Membuat Kita Lupa Tuhan
Ini adalah pelajaran yang sangat penting.
Kadang-kadang ketika kita sedang mengalami kesulitan, kita mudah mencari Tuhan.
Kita berdoa.
Kita menangis di hadapan Tuhan.
Kita meminta pertolongan.
Tetapi setelah keadaan menjadi baik, kita mulai sibuk dengan kehidupan sendiri.
Ketika belum memiliki sesuatu, kita berkata, “Tuhan, berikanlah.”
Tetapi setelah Tuhan memberikan, kita lupa berkata, “Tuhan, terima kasih.”
Ulangan 26 mengajarkan kita bahwa berkat harus selalu membawa kita kembali kepada Sang Pemberi berkat.
Apa pun yang kita miliki hari ini—keluarga, pekerjaan, pelayanan, kesehatan, kesempatan, kemampuan, materi, maupun keberhasilan—semuanya tidak boleh membuat kita lupa bahwa Tuhan adalah sumbernya.
3. Bersyukur Bukan Hanya Ketika Semuanya Sempurna
Ulangan 26:11 berkata:
“Dan haruslah engkau bersukaria karena segala yang baik yang diberikan TUHAN, Allahmu, kepadamu dan kepada seisi rumahmu...”
Bangsa Israel diminta untuk bersukacita atas kebaikan Tuhan.
Perhatikan bahwa sukacita itu muncul karena mereka menyadari bahwa Tuhan telah melakukan sesuatu dalam kehidupan mereka.
Syukur bukan berarti kita mengatakan bahwa semua keadaan selalu mudah.
Syukur berarti kita menyadari bahwa di tengah segala keadaan, Tuhan tetap baik.
Ada saat kita mendapatkan apa yang kita doakan.
Ada saat kita harus menunggu.
Ada saat pintu terbuka.
Ada saat pintu tertutup.
Ada saat kita memahami rencana Tuhan.
Ada saat kita belum mengerti mengapa sesuatu terjadi.
Namun dalam semuanya itu, kita dapat berkata:
“Tuhan tetap baik. Tuhan tetap menyertai saya.”
Inilah iman yang dewasa.
Kita tidak hanya memuji Tuhan karena berkat-Nya, tetapi kita memuji Tuhan karena siapa Dia.
4. Roh Kudus Menolong Kita Mengingat Kebaikan Tuhan
Sebagai orang percaya, kita membutuhkan pertolongan Roh Kudus agar tidak mudah melupakan kebaikan Tuhan.
Manusia memiliki kecenderungan untuk mengingat masalah lebih lama daripada mengingat pertolongan Tuhan.
Ketika menghadapi satu masalah, kita bisa langsung merasa bahwa Tuhan tidak bekerja.
Padahal jika kita melihat perjalanan hidup kita, ada begitu banyak pertolongan Tuhan yang sudah kita alami.
Pernah ada masa kita tidak tahu bagaimana jalan keluarnya, tetapi Tuhan membuka jalan.
Pernah ada masa kita merasa tidak kuat, tetapi Tuhan memberikan kekuatan.
Pernah ada masa kita menangis, tetapi Tuhan memberikan penghiburan.
Pernah ada masa kita merasa sendirian, tetapi Tuhan menunjukkan bahwa Dia tidak pernah meninggalkan kita.
Karena itu, jangan hanya melihat apa yang belum kita miliki.
Ingatlah apa yang sudah Tuhan lakukan.
Ketika kita mengingat kebaikan Tuhan, hati kita akan dipenuhi ucapan syukur.
Dan ketika hati kita penuh syukur, kita tidak mudah dikuasai oleh keluhan, iri hati, dan kekhawatiran.
5. Berkat Tuhan Harus Menjadi Berkat bagi Orang Lain
Ada satu hal yang sangat indah dalam Ulangan 26.
Ketika bangsa Israel bersukacita karena berkat Tuhan, mereka tidak menikmatinya seorang diri. Mereka juga melibatkan orang Lewi dan orang asing yang ada di tengah-tengah mereka.
Artinya, berkat Tuhan tidak berhenti pada diri sendiri.
Tuhan memberkati kita supaya kita juga dapat menjadi berkat bagi orang lain.
Jika Tuhan memberikan kita kemampuan, gunakan untuk menolong.
Jika Tuhan memberikan kita materi, gunakan untuk menjadi berkat.
Jika Tuhan memberikan kita kesempatan, gunakan untuk membangun orang lain.
Jika Tuhan memberikan kita pengaruh, gunakan untuk membawa orang kepada kebaikan.
Jika Tuhan memberikan kita pengalaman, gunakan untuk menguatkan orang yang sedang mengalami pergumulan.
Orang yang mengerti kasih karunia Tuhan tidak akan hidup hanya untuk dirinya sendiri.
6. Kehidupan yang Dipenuhi Roh Kudus adalah Kehidupan yang Bersyukur
Pantekosta mengingatkan kita tentang karya Roh Kudus yang memenuhi dan memperlengkapi umat Tuhan.
Namun kepenuhan Roh Kudus tidak boleh hanya dipahami sebagai pengalaman rohani dalam sebuah ibadah.
Kepenuhan Roh Kudus harus menghasilkan perubahan dalam kehidupan.
Roh Kudus menolong kita untuk hidup benar.
Roh Kudus menolong kita untuk mengasihi.
Roh Kudus menolong kita untuk mengampuni.
Roh Kudus menolong kita untuk tetap jujur.
Roh Kudus menolong kita untuk peduli kepada sesama.
Roh Kudus menolong kita untuk tetap bersyukur.
Karena itu, pertanyaan bagi kita hari ini bukan hanya:
“Apakah saya sudah menerima berkat Tuhan?”
Tetapi juga:
“Apakah hidup saya menjadi berkat bagi orang lain?”
Bukan hanya:
“Apakah Tuhan sudah menjawab doa saya?”
Tetapi juga:
“Apakah saya tetap bersyukur ketika jawaban Tuhan belum datang?”
Bukan hanya:
“Apakah saya mengalami kuasa Tuhan?”
Tetapi juga:
“Apakah karakter saya semakin menyerupai kehendak Tuhan?”
Ulangan 25–26 mengajarkan kepada kita dua hal penting.
Ulangan 25 mengingatkan kita untuk hidup dalam keadilan, kejujuran, dan kebenaran.
Ulangan 26 mengingatkan kita untuk tidak melupakan Tuhan sebagai sumber segala berkat dan untuk selalu hidup dalam ucapan syukur.
Sebagai umat Pantekosta, marilah kita membuka hati untuk terus dipimpin Roh Kudus.
Jangan sampai kita hanya mengejar berkat tetapi melupakan Sang Pemberi berkat.
Jangan sampai kita mengejar keberhasilan tetapi kehilangan karakter.
Jangan sampai kita menikmati kebaikan Tuhan tetapi lupa menjadi berkat bagi orang lain.
Mari kita belajar berkata:
“Tuhan, semua yang aku miliki berasal dari-Mu. Karena itu, hidupku juga mau kupersembahkan kembali kepada-Mu.”
Kiranya Roh Kudus memenuhi hati kita dengan kasih, membentuk karakter kita, mengajarkan kita hidup benar, dan memberikan kepada kita hati yang selalu bersyukur.
Doa
Tuhan Yesus, kami bersyukur untuk setiap kebaikan dan penyertaan-Mu dalam kehidupan kami. Ampuni kami jika sering kali kami menikmati berkat-Mu tetapi melupakan Engkau sebagai sumber segala sesuatu.
Roh Kudus, pimpinlah hidup kami. Bentuklah karakter kami supaya kami hidup dalam kejujuran, keadilan, kasih, dan kebenaran. Ajarlah kami untuk tidak hanya menerima berkat, tetapi juga menjadi berkat bagi orang lain.
Berikan kami hati yang selalu mengingat kebaikan Tuhan, baik dalam keadaan yang mudah maupun sulit. Biarlah hidup kami menjadi kesaksian tentang kasih dan kebaikan-Mu.
Dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa dan mengucap syukur. Amin (*)
Editor : Deiby Rotinsulu