Bacaan dan Renungan untuk Orang Muda Katolik, Hari Kamis 10 September 2026

Fandy Gerungan • Dipublikasikan Selasa, 8 September 2026 | 14:53 WIB
Perjamuan Malam Terakhir
Perjamuan Malam Terakhir

Pekan Biasa ke XXIII (Warna Liturgi Hijau)

Bacaan I 1 Korintus 8:1b-7.11-13

Tentang daging persembahan berhala kita tahu: "kita semua mempunyai pengetahuan." Pengetahuan yang demikian membuat orang menjadi sombong, tetapi kasih membangun.

Jika ada seorang menyangka, bahwa ia mempunyai sesuatu "pengetahuan", maka ia belum juga mencapai pengetahuan, sebagaimana yang harus dicapainya.

Tetapi orang yang mengasihi Allah, ia dikenal oleh Allah.

Tentang hal makan daging persembahan berhala kita tahu: "tidak ada berhala di dunia dan tidak ada Allah lain dari pada Allah yang esa."

Sebab sungguhpun ada apa yang disebut "allah", baik di sorga, maupun di bumi?dan memang benar ada banyak "allah" dan banyak "tuhan" yang demikian?

namun bagi kita hanya ada satu Allah saja, yaitu Bapa, yang dari pada-Nya berasal segala sesuatu dan yang untuk Dia kita hidup, dan satu Tuhan saja, yaitu Yesus Kristus, yang oleh-Nya segala sesuatu telah dijadikan dan yang karena Dia kita hidup.

Tetapi bukan semua orang yang mempunyai pengetahuan itu. Ada orang, yang karena masih terus terikat pada berhala-berhala, makan daging itu sebagai daging persembahan berhala. Dan oleh karena hati nurani mereka lemah, hati nurani mereka itu dinodai olehnya.

Dengan jalan demikian orang yang lemah, yaitu saudaramu, yang untuknya Kristus telah mati, menjadi binasa karena "pengetahuan" mu.

Jika engkau secara demikian berdosa terhadap saudara-saudaramu dan melukai hati nurani mereka yang lemah, engkau pada hakekatnya berdosa terhadap Kristus.

Karena itu apabila makanan menjadi batu sandungan bagi saudaraku, aku untuk selama-lamanya tidak akan mau makan daging lagi, supaya aku jangan menjadi batu sandungan bagi saudaraku.

Demikianlah Sabda Tuhan

U. Syukur kepada Allah

Mazmur 139:1-3.13-14ab.23-24

Untuk pemimpin biduan. Mazmur Daud. TUHAN, Engkau menyelidiki dan mengenal aku;

Engkau mengetahui, kalau aku duduk atau berdiri, Engkau mengerti pikiranku dari jauh.

Engkau memeriksa aku, kalau aku berjalan dan berbaring, segala jalanku Kaumaklumi.

Sebab Engkaulah yang membentuk buah pinggangku, menenun aku dalam kandungan ibuku.

Aku bersyukur kepada-Mu oleh karena kejadianku dahsyat dan ajaib; ajaib apa yang Kaubuat, dan jiwaku benar-benar menyadarinya.

Selidikilah aku, ya Allah, dan kenallah hatiku, ujilah aku dan kenallah pikiran-pikiranku;

lihatlah, apakah jalanku serong, dan tuntunlah aku di jalan yang kekal!

Bacaan Injil Lukas 6:27-38

"Tetapi kepada kamu, yang mendengarkan Aku, Aku berkata: Kasihilah musuhmu, berbuatlah baik kepada orang yang membenci kamu;

mintalah berkat bagi orang yang mengutuk kamu; berdoalah bagi orang yang mencaci kamu.

Barangsiapa menampar pipimu yang satu, berikanlah juga kepadanya pipimu yang lain, dan barangsiapa yang mengambil jubahmu, biarkan juga ia mengambil bajumu.

Berilah kepada setiap orang yang meminta kepadamu; dan janganlah meminta kembali kepada orang yang mengambil kepunyaanmu.

Dan sebagaimana kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah juga demikian kepada mereka.

Dan jikalau kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah jasamu? Karena orang-orang berdosapun mengasihi juga orang-orang yang mengasihi mereka.

Sebab jikalau kamu berbuat baik kepada orang yang berbuat baik kepada kamu, apakah jasamu? Orang-orang berdosapun berbuat demikian.

Dan jikalau kamu meminjamkan sesuatu kepada orang, karena kamu berharap akan menerima sesuatu dari padanya, apakah jasamu? Orang-orang berdosapun meminjamkan kepada orang-orang berdosa, supaya mereka menerima kembali sama banyak.

Tetapi kamu, kasihilah musuhmu dan berbuatlah baik kepada mereka dan pinjamkan dengan tidak mengharapkan balasan, maka upahmu akan besar dan kamu akan menjadi anak-anak Allah Yang Mahatinggi, sebab Ia baik terhadap orang-orang yang tidak tahu berterima kasih dan terhadap orang-orang jahat.

Hendaklah kamu murah hati, sama seperti Bapamu adalah murah hati."

"Janganlah kamu menghakimi, maka kamupun tidak akan dihakimi. Dan janganlah kamu menghukum, maka kamupun tidak akan dihukum; ampunilah dan kamu akan diampuni.

Berilah dan kamu akan diberi: suatu takaran yang baik, yang dipadatkan, yang digoncang dan yang tumpah ke luar akan dicurahkan ke dalam ribaanmu. Sebab ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu."

Demikianlah Injil Tuhan

U. Terpujilah Kristus

Renungan

Salve pernahkah kita merasa kesal karena seseorang tidak sependapat dengan kita? Dalam pertemanan, komunitas, keluarga, bahkan di media sosial, kita sering merasa bahwa pendapat kita paling benar. Ketika ada orang yang berbeda pandangan, kita mudah memberi label, menjauh, bahkan membicarakannya di belakang.

Bacaan hari ini mengingatkan kita pada sesuatu yang sederhana tetapi sering kita lupakan: menjadi orang beriman bukan hanya soal mengetahui banyak hal, tetapi tentang bagaimana pengetahuan itu membuat kita semakin mengasihi.

Kita bisa aktif dalam pelayanan, rajin mengikuti kegiatan gereja, hafal banyak doa, memahami banyak hal tentang iman, tetapi kalau kita mudah merendahkan orang lain, sulit mengampuni, dan senang menghakimi, kita perlu bertanya kembali: apakah iman itu sungguh sudah mengubah hati kita?

Sebagai orang muda, kita sering ingin menunjukkan siapa diri kita. Kita ingin pendapat kita didengar. Kita ingin dianggap hebat. Di media sosial, kita bahkan bisa tergoda untuk membuktikan bahwa hidup kita lebih baik daripada orang lain. 

Namun, Tuhan mengajak kita untuk tidak menjadikan kelebihan kita sebagai alasan untuk merendahkan sesama.

Kadang-kadang kita memang benar. Tetapi menjadi benar tidak selalu berarti kita harus menang. Ada saatnya kita memilih diam daripada memperpanjang pertengkaran. 

Ada saatnya kita memilih memahami daripada membalas. Ada saatnya kita memilih menjaga perasaan seorang teman daripada memaksakan ego kita.

Inilah yang dimaksud dengan kasih yang dewasa. Kasih Kristiani bahkan lebih jauh lagi. Yesus mengajarkan kita untuk mengasihi mereka yang tidak menyukai kita. Ini bukan perkara mudah. 

Bagaimana mungkin kita berbuat baik kepada orang yang pernah menyakiti kita? Bagaimana mungkin kita mendoakan seseorang yang membuat kita kecewa?

Namun justru di situlah kekhasan kasih Kristus. Kita tidak dipanggil hanya untuk mengasihi orang yang baik kepada kita. Kita dipanggil untuk memutus rantai kebencian.

Ketika seseorang menyakiti kita dan kita membalas dengan kebencian, luka itu akan terus berlanjut. Tetapi ketika kita memilih mengampuni, kita menghentikan rantai tersebut. 

Mengampuni bukan berarti mengatakan bahwa kesalahan orang lain tidak penting. Mengampuni berarti kita tidak mau membiarkan kesalahan orang lain menguasai hati dan hidup kita.

Teman-teman OMK, mungkin hari ini ada seseorang yang masih membuat hati kita sakit. Mungkin ada teman yang pernah mengkhianati kita. Ada orang yang pernah mempermalukan kita. 

Ada hubungan yang rusak karena salah paham. Atau mungkin kita sendiri sedang dijauhi dan tidak tahu apa kesalahan kita. Jangan biarkan luka membuat kita kehilangan kelembutan hati.

Kita tidak harus langsung memperbaiki semuanya. Tetapi kita bisa memulainya dengan sebuah langkah kecil: berhenti membicarakan keburukannya, berhenti membalas dengan keburukan, dan mulai mendoakannya. Serahkan kepada Tuhan apa yang tidak mampu kita selesaikan sendiri.

Bacaan pertama juga mengingatkan kita agar jangan sampai kebebasan kita menjadi batu sandungan bagi orang lain. Ini sangat relevan bagi kehidupan OMK. Apa yang kita unggah, apa yang kita komentari, cara kita berbicara, bahkan cara kita bercanda bisa memengaruhi orang lain.

Sebuah komentar yang menurut kita hanya bercanda mungkin menjadi luka bagi orang lain. Sebuah unggahan yang kita anggap biasa mungkin membuat seseorang merasa rendah diri. Sebuah perkataan dalam komunitas mungkin membuat seseorang memilih untuk tidak datang lagi ke gereja.

Karena itu, sebelum berkata atau bertindak, mari kita belajar bertanya: Apakah kehadiranku membuat orang lain semakin dekat dengan Tuhan, atau justru menjauh?

Menjadi OMK bukan hanya tentang menjadi aktif di gereja. Menjadi OMK berarti membawa wajah Kristus ke mana pun kita pergi: di sekolah, kampus, tempat kerja, keluarga, lingkungan pertemanan, dan media sosial.

Dunia tidak membutuhkan lebih banyak orang yang sibuk membuktikan bahwa dirinya paling benar. Dunia membutuhkan orang-orang muda yang berani mengasihi ketika orang lain memilih membenci, mengampuni ketika orang lain memilih membalas, dan tetap berbuat baik ketika kebaikannya tidak dihargai.

Mungkin kita tidak bisa mengubah dunia hari ini. Tetapi kita bisa mengubah cara kita memperlakukan satu orang yang kita jumpai hari ini.

Jangan hanya berusaha menjadi orang yang benar. Jadilah orang yang membawa kasih. Jangan hanya ingin didengar. Belajarlah mendengarkan. Jangan hanya ingin diampuni. Belajarlah mengampuni. (*)

 

Editor : Fandy Gerungan
renungan katolik omk Renungan