Bacaan: Filipi 2:1-11
Tema: “Hendaklah Kamu Sehati Sepikir, Dalam Satu Kasih, Satu Jiwa, Satu Tujuan”
Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan, salah satu hal yang paling mudah diucapkan tetapi sangat sulit dilakukan dalam kehidupan bersama adalah hidup sehati, sepikir, dalam satu kasih, satu jiwa dan satu tujuan. Kita dapat berada dalam satu rumah tetapi belum tentu sehati, kita dapat berada dalam satu jemaat tetapi belum tentu sepikir, kita dapat bekerja dalam satu organisasi tetapi belum tentu mempunyai satu tujuan, bahkan kita dapat duduk bersama dalam satu ibadah, menyanyikan lagu yang sama, mengucapkan pengakuan iman yang sama, tetapi di dalam hati masih terdapat persaingan, kekecewaan, sakit hati, keinginan untuk lebih dihargai, keinginan untuk dianggap lebih penting, atau bahkan perasaan bahwa pendapat kitalah yang paling benar.
Karena itu ketika Firman Tuhan melalui Rasul Paulus berkata, “Hendaklah kamu sehati sepikir, dalam satu kasih, satu jiwa, satu tujuan,” sesungguhnya Firman ini sedang menyentuh salah satu persoalan paling mendasar dalam kehidupan manusia, yaitu bagaimana orang-orang yang berbeda latar belakang, karakter, pengalaman, kepentingan, cara berpikir dan kemampuan dapat hidup bersama dalam kasih Kristus tanpa harus saling mengalahkan, menjatuhkan atau memaksakan kehendak.
Kehidupan pada masa sekarang justru sering mendorong manusia semakin kuat mempertahankan dirinya sendiri. Media sosial membuat orang dengan mudah membandingkan dirinya dengan orang lain, persaingan dalam pekerjaan membuat manusia ingin kelihatan lebih berhasil, perbedaan pilihan dan pandangan dapat membuat keluarga terpecah, perbedaan pendapat dalam pelayanan dapat berubah menjadi persoalan pribadi, bahkan hal-hal kecil dapat menjadi besar karena setiap orang ingin didengar tetapi tidak mau mendengar.
Kita hidup pada zaman ketika orang sangat mudah berkata, tetapi semakin sulit memahami; mudah mengkritik, tetapi sulit menerima koreksi; mudah menuntut penghargaan, tetapi sulit memberikan penghargaan kepada orang lain. Di tengah keadaan seperti inilah Filipi 2:1-11 menjadi Firman yang sangat penting, karena Paulus menunjukkan bahwa persatuan sejati tidak lahir hanya dari kesepakatan manusia, melainkan dari hati yang telah dibentuk oleh teladan Kristus.
Tema kita, “Hendaklah Kamu Sehati Sepikir, Dalam Satu Kasih, Satu Jiwa, Satu Tujuan,” bukan berarti semua orang harus memiliki kepribadian yang sama, pendapat yang selalu sama, kemampuan yang sama atau cara bekerja yang sama. Kesatuan dalam Kristus bukan keseragaman.
Kesatuan adalah ketika orang-orang yang berbeda bersedia menempatkan Kristus sebagai pusat kehidupan mereka, sehingga sekalipun berbeda pendapat, mereka tidak kehilangan kasih; sekalipun berbeda tugas, mereka tetap mempunyai tujuan yang sama; sekalipun memiliki kemampuan yang berbeda, mereka tidak saling merendahkan; dan sekalipun terjadi konflik, mereka tetap mau mencari jalan damai karena hubungan mereka dengan Kristus lebih besar daripada ego pribadi mereka.
Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan,
Surat Filipi ditulis oleh Rasul Paulus kepada jemaat di Filipi, sebuah jemaat yang mempunyai hubungan sangat dekat dengan dirinya. Jemaat Filipi lahir melalui pelayanan Paulus ketika Injil pertama kali diberitakan di wilayah Makedonia. Kisah Para Rasul 16 mencatat bagaimana di Filipi Tuhan membuka hati Lidia untuk menerima Injil, bagaimana Paulus dan Silas dipenjarakan karena pelayanan mereka, kemudian bagaimana kepala penjara Filipi dan keluarganya percaya kepada Tuhan. Jadi sejak awal, jemaat Filipi terdiri dari orang-orang yang mempunyai latar belakang yang sangat berbeda, tetapi dipersatukan oleh iman kepada Yesus Kristus.
Paulus menulis surat ini dalam keadaan dipenjara. Ia sedang mengalami penderitaan, tetapi menariknya, Surat Filipi justru penuh dengan sukacita. Ini menunjukkan bahwa sukacita Kristen tidak terutama ditentukan oleh keadaan luar, melainkan oleh hubungan seseorang dengan Kristus. Namun di tengah kehidupan jemaat yang baik, Paulus juga melihat adanya kemungkinan perpecahan, persaingan, kepentingan diri dan keinginan mencari pujian. Karena itu dalam Filipi 2 Paulus membawa jemaat kepada satu dasar yang sangat penting, yaitu kerendahan hati seperti yang ada di dalam Yesus Kristus.
Tema “sehati sepikir, dalam satu kasih, satu jiwa, satu tujuan” harus dipahami dalam konteks tersebut. Paulus tidak sekadar meminta jemaat supaya rukun secara lahiriah. Ia tidak sedang berkata, “Jangan bertengkar supaya organisasi terlihat baik.” Paulus berbicara jauh lebih dalam. Kesatuan Kristen lahir dari pengalaman bersama akan kasih Kristus, penghiburan dalam Kristus, persekutuan Roh Kudus dan belas kasih Allah. Artinya, sebelum seseorang dapat hidup sehati dengan sesamanya, ia harus terlebih dahulu hidup di dalam Kristus dan membiarkan Kristus mengubah hatinya.
Puncak pembacaan ini terdapat dalam ayat 5-11, ketika Paulus menunjukkan Yesus Kristus sebagai teladan terbesar dalam kerendahan hati. Kristus yang memiliki kemuliaan ilahi tidak mempertahankan hak-Nya untuk kepentingan diri sendiri, tetapi merendahkan diri, mengambil rupa seorang hamba, taat sampai mati bahkan mati di kayu salib. Karena itu kesatuan jemaat tidak mungkin dibangun hanya dengan aturan, rapat, struktur organisasi atau kesepakatan manusia; kesatuan hanya dapat bertahan apabila setiap orang memiliki pikiran dan sikap seperti Kristus.
PEMBAHASAN AYAT PER AYAT
Ayat 1 berkata, “Jadi karena dalam Kristus ada nasihat, ada penghiburan kasih, ada persekutuan Roh, ada kasih mesra dan belas kasihan.” Paulus memulai bukan dengan perintah, melainkan dengan mengingatkan jemaat tentang segala sesuatu yang telah mereka terima di dalam Kristus. Mereka telah menerima penghiburan, kasih, persekutuan Roh Kudus, belas kasihan dan kelembutan Allah.
Inilah dasar kehidupan bersama orang percaya. Kita tidak diminta mengasihi supaya Allah mengasihi kita; kita mengasihi karena kita sudah lebih dahulu dikasihi. Kita tidak mengampuni supaya mendapatkan pengampunan; kita belajar mengampuni karena kita sendiri telah menerima pengampunan di dalam Kristus.
Jadi apabila kehidupan keluarga, jemaat atau pelayanan mulai kehilangan kasih, kita perlu kembali mengingat kasih yang telah kita terima dari Tuhan. Banyak pertengkaran menjadi besar karena manusia terlalu fokus pada apa yang belum diberikan orang lain kepadanya, tetapi lupa menghitung betapa besar anugerah yang sudah diberikan Tuhan kepadanya.
Ayat 2 berkata, “Karena itu sempurnakanlah sukacitaku dengan ini: hendaklah kamu sehati sepikir, dalam satu kasih, satu jiwa, satu tujuan.” Paulus menunjukkan bahwa sukacitanya sebagai pelayan Tuhan akan menjadi penuh apabila jemaat hidup dalam kesatuan. Kalimat ini sangat indah karena menunjukkan bahwa ukuran keberhasilan jemaat bukan hanya banyaknya program, megahnya gedung, besarnya kegiatan atau ramainya ibadah, tetapi juga kualitas hubungan di antara orang percaya.
Apakah kita sehati dalam Kristus? Apakah kita masih mampu saling mengasihi ketika berbeda pendapat? Apakah pelayanan kita memiliki satu tujuan, yaitu kemuliaan Tuhan, atau perlahan-lahan berubah menjadi tempat mencari pengakuan diri? Sehati sepikir bukan berarti semua orang harus mengatakan hal yang sama, tetapi semua orang menundukkan pikiran mereka kepada Kristus.
Satu kasih berarti kita tidak hanya mengasihi orang yang sesuai dengan kita, tetapi juga orang yang berbeda dengan kita. Satu jiwa berarti kita memiliki ikatan batin sebagai tubuh Kristus. Satu tujuan berarti semua pelayanan, kemampuan, jabatan dan pekerjaan diarahkan untuk kemuliaan Allah dan pembangunan tubuh Kristus, bukan untuk membesarkan nama pribadi.
Ayat 3 berkata, “Dengan tidak mencari kepentingan sendiri atau puji-pujian yang sia-sia. Sebaliknya hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama daripada dirinya sendiri.” Di sinilah Paulus menyentuh akar banyak perpecahan, yaitu kepentingan diri dan keinginan akan pujian.
Banyak konflik bukan terjadi karena masalahnya benar-benar besar, tetapi karena ego manusia terluka. Kita ingin pendapat diterima, ingin nama disebut, ingin usaha dihargai, ingin posisi kita dianggap penting. Ketika semua itu tidak diperoleh, kita mulai kecewa dan menjauh. Paulus berkata bahwa kehidupan Kristen harus bergerak dalam arah yang berbeda, yaitu kerendahan hati.
Menganggap orang lain lebih utama bukan berarti merendahkan diri secara tidak sehat atau menganggap diri tidak berharga, melainkan memberi ruang untuk menghormati, mendengar dan mempertimbangkan kepentingan orang lain. Kerendahan hati membuat kita mampu berkata, “Saya mungkin tidak selalu benar,” “Saya perlu mendengar,” “Saya bisa belajar dari orang lain,” dan bahkan, “Saya bersedia mengalah apabila itu membawa damai dan tidak bertentangan dengan kebenaran.”
Ayat 4 berkata, “Dan janganlah tiap-tiap orang hanya memperhatikan kepentingannya sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga.” Paulus tidak mengatakan bahwa kita tidak boleh memperhatikan kebutuhan diri sendiri, tetapi ia melarang kehidupan yang hanya berpusat pada diri. Dunia sering mengajarkan manusia untuk bertanya, “Apa keuntungan bagi saya?” sedangkan Injil mengajar kita bertanya, “Apa yang dapat saya lakukan bagi sesama?”
Dalam keluarga, ayat ini berarti suami dan istri tidak hanya menuntut untuk dimengerti tetapi juga belajar mengerti; orang tua tidak hanya menuntut anak menaati mereka tetapi juga memahami pergumulan anak; anak-anak tidak hanya menuntut kebutuhan mereka dipenuhi tetapi belajar menghargai perjuangan orang tua.
Dalam jemaat, kita tidak hanya memikirkan kelompok kita sendiri, kolom kita sendiri, komisi kita sendiri atau kepentingan pelayanan kita sendiri, tetapi melihat keseluruhan tubuh Kristus. Kesatuan menjadi nyata ketika kita mampu merasakan sukacita dan kesulitan orang lain sebagai bagian dari kehidupan kita sendiri.
Ayat 5 mengatakan, “Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus.” Inilah jantung dari seluruh pembacaan. Paulus tidak hanya berkata supaya kita menjadi orang baik, tetapi supaya pikiran dan perasaan Kristus menjadi pola kehidupan kita bersama. Kekristenan bukan sekadar perubahan tindakan, tetapi perubahan cara berpikir dan cara memandang orang lain.
Kristus menjadi ukuran. Ketika kita ingin membalas, kita bertanya bagaimana Kristus akan bersikap. Ketika ego kita terluka, kita melihat kerendahan hati Kristus. Ketika kita merasa lebih penting daripada orang lain, kita melihat bagaimana Kristus melayani. Kesatuan sejati tidak dimulai dengan menuntut orang lain berubah, melainkan dengan bertanya apakah pikiran Kristus sudah sungguh-sungguh menguasai diri kita.
Ayat 6 berkata bahwa Kristus, “yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan.” Ayat ini menunjukkan kemuliaan dan kerendahan hati Kristus secara bersamaan. Kristus memiliki martabat ilahi, tetapi Ia tidak menggunakan kedudukan-Nya untuk keuntungan diri. Di sinilah kita melihat perbedaan antara cara dunia dan cara Kristus.
Dunia sering menggunakan kekuasaan untuk meninggikan diri, sementara Kristus menggunakan kemuliaan-Nya untuk menyelamatkan. Dalam kehidupan sekarang, jabatan, pendidikan, kekayaan, usia, pengalaman dan kedudukan sering menjadi dasar untuk merasa lebih tinggi, tetapi Kristus menunjukkan bahwa semakin besar kedudukan seseorang, semakin besar pula tanggung jawabnya untuk melayani. Pemimpin Kristen bukan orang yang terus menuntut dihormati, melainkan orang yang hidupnya membuat orang lain merasakan kasih Tuhan.
Ayat 7 berkata, “Melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia.” Mengosongkan diri bukan berarti Kristus berhenti menjadi Allah, tetapi bahwa Ia rela tidak menggunakan hak dan kemuliaan-Nya untuk kepentingan diri sendiri. Ia mengambil posisi seorang hamba. Ini adalah pembalikan yang sangat besar terhadap cara dunia memandang kebesaran.
Dunia berkata bahwa semakin tinggi seseorang, semakin banyak orang harus melayaninya; Kristus menunjukkan bahwa semakin besar seseorang, semakin besar kesediaannya melayani. Dalam keluarga, jemaat, pekerjaan dan masyarakat, semangat Kristus ini sangat dibutuhkan. Banyak hubungan rusak karena semua orang ingin dilayani dan hanya sedikit yang mau melayani. Kesatuan akan bertumbuh ketika kita mulai bertanya bukan “Siapa yang harus melakukan ini untuk saya?” tetapi “Apa yang dapat saya lakukan untuk menolong?”
Ayat 8 berkata, “Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib.” Kerendahan hati Kristus mencapai puncaknya pada salib. Ia bukan hanya berbicara tentang kasih, tetapi membayar harga kasih itu dengan hidup-Nya. Salib menunjukkan bahwa kasih sejati selalu memiliki unsur pengorbanan.
Kita tidak dapat membangun keluarga yang sehat tanpa pengorbanan, tidak dapat membangun pelayanan yang baik tanpa kesediaan menahan ego, dan tidak dapat mempertahankan persatuan tanpa kesediaan mengampuni. Taat sampai mati menunjukkan bahwa Yesus menempatkan kehendak Bapa di atas kepentingan diri sendiri. Inilah yang harus menjadi dasar “satu tujuan” orang percaya: bukan kehendak saya, bukan kelompok saya, bukan nama saya, melainkan kehendak Tuhan.
Ayat 9 mengatakan, “Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama.” Ada prinsip Kerajaan Allah yang sangat berbeda dengan dunia: jalan menuju kemuliaan adalah kerendahan hati. Dunia berkata naiklah dengan meninggikan diri, tetapi Kristus direndahkan dan kemudian Allah meninggikan-Nya.
Kita sering terlalu sibuk membangun nama sendiri, padahal tugas kita adalah setia dan membiarkan Tuhan menentukan tempat kita. Ketika manusia mengejar pujian, ia mudah bersaing; tetapi ketika manusia mengejar kesetiaan, ia dapat bekerja bersama orang lain dengan damai karena ia tidak merasa harus selalu menjadi yang terutama.
Ayat 10 berkata, “Supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi.” Ayat ini menunjukkan kekuasaan universal Kristus. Pada akhirnya semua ciptaan akan mengakui otoritas-Nya. Ini berarti bahwa di dalam jemaat tidak ada manusia yang menjadi pusat.
Pendeta bukan pusat, pelayan khusus bukan pusat, tokoh jemaat bukan pusat, kelompok tertentu bukan pusat; Kristuslah pusat. Ketika Kristus benar-benar menjadi pusat, banyak persoalan menjadi kecil karena kita sadar bahwa semua kita berdiri di bawah Tuhan yang sama. Tidak ada ruang bagi kesombongan rohani apabila semua lutut pada akhirnya harus bertekuk di hadapan Yesus.
Ayat 11 menutup dengan berkata, “Dan segala lidah mengaku: Yesus Kristus adalah Tuhan, bagi kemuliaan Allah, Bapa!” Inilah tujuan akhir kehidupan Kristen, yaitu kemuliaan Allah. Kesatuan bukan tujuan akhir pada dirinya sendiri; kesatuan harus membuat dunia melihat siapa Kristus.
Ketika keluarga Kristen hidup dalam kasih, ketika jemaat mampu menyelesaikan perbedaan dengan dewasa, ketika orang percaya dapat bekerja bersama tanpa saling menjatuhkan, di situlah nama Kristus dimuliakan. Sebaliknya, apabila gereja berbicara tentang kasih tetapi penuh pertengkaran, dunia akan kesulitan melihat Injil yang kita beritakan. Karena itu pengakuan “Yesus Kristus adalah Tuhan” harus terlihat bukan hanya pada bibir, tetapi pada cara kita memperlakukan orang lain.
PENUTUP
Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan, tema Firman Tuhan hari ini berkata, “Hendaklah Kamu Sehati Sepikir, Dalam Satu Kasih, Satu Jiwa, Satu Tujuan.” Tema ini bukan hanya ajakan supaya kita tidak bertengkar, melainkan panggilan untuk menjalani kehidupan bersama dengan cara Kristus. Kita dipanggil menjadi umat yang memiliki satu pusat, yaitu Kristus; satu dasar, yaitu kasih; satu pola hidup, yaitu kerendahan hati; dan satu tujuan akhir, yaitu kemuliaan Allah.
Menjadi sehati sepikir tidak berarti kita harus kehilangan identitas dan keunikan masing-masing. Tuhan menciptakan kita berbeda. Ada yang cepat mengambil keputusan dan ada yang lebih berhati-hati, ada yang mampu berbicara di depan dan ada yang bekerja dengan tenang di belakang, ada yang mempunyai pengalaman panjang dan ada yang baru belajar.
Perbedaan bukan masalah apabila Kristus menjadi pusat. Masalah muncul ketika perbedaan ditambah dengan ego. Pendapat berbeda ditambah ego menjadi pertengkaran, kemampuan berbeda ditambah ego menjadi persaingan, jabatan ditambah ego menjadi kesombongan, bahkan pelayanan ditambah ego dapat berubah menjadi perebutan penghargaan.
Karena itu Firman Tuhan membawa kita kembali kepada Kristus. Ayat 5 berkata, “Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus.” Ini berarti perubahan pertama yang harus kita minta bukan perubahan orang lain, tetapi perubahan diri sendiri. Sangat mudah berkata, “Kalau dia berubah, saya akan baik.” Sangat mudah berkata, “Kalau mereka mau mengerti saya, saya juga akan mengerti mereka.” Tetapi Kristus tidak menunggu dunia menjadi baik baru Ia mengasihi. Kristus datang ketika manusia masih berdosa dan memberikan diri-Nya untuk keselamatan manusia.
Karena itu kita perlu bertanya kepada diri sendiri: apakah selama ini saya lebih banyak memikirkan kepentingan pribadi atau kepentingan bersama? Apakah saya bisa menerima ketika orang lain mendapat kesempatan yang lebih besar? Apakah saya mampu bersukacita ketika orang lain dipuji? Apakah saya masih membawa sakit hati dari konflik yang sudah lama terjadi?
Apakah saya mampu meminta maaf ketika salah? Apakah saya sungguh mendengar pendapat orang lain atau hanya menunggu kesempatan untuk menjawab? Apakah dalam keluarga saya membawa damai atau justru membuat suasana menjadi semakin tegang? Apakah dalam jemaat kehadiran saya memperkuat kesatuan atau justru tanpa sadar menambah perpecahan?
Ada beberapa kebenaran penting yang perlu kita bawa pulang dari tema ini. Pertama, kesatuan Kristen dimulai dari hubungan kita dengan Kristus. Kita tidak akan mampu terus-menerus mengasihi hanya dengan kekuatan sendiri. Kita membutuhkan kasih Kristus mengisi hati kita. Kedua, kesatuan membutuhkan kerendahan hati. Selama semua orang ingin menjadi yang paling benar, paling penting dan paling dihargai, persatuan akan sulit terjadi.
Ketiga, kesatuan membutuhkan perhatian terhadap kepentingan orang lain. Kita dipanggil bukan hanya melihat kebutuhan sendiri tetapi juga penderitaan, pergumulan dan kebutuhan sesama. Keempat, kesatuan membutuhkan pikiran dan perasaan Kristus. Kita tidak cukup hanya bertanya apa yang kita inginkan, tetapi apa yang Kristus kehendaki.
Kelima, kesatuan membutuhkan pengorbanan. Salib mengajarkan bahwa kasih mempunyai harga. Ada saat kita harus menahan diri, mengalah, memaafkan dan melepaskan keinginan pribadi demi sesuatu yang lebih besar. Keenam, Kristus harus menjadi pusat dan tujuan. Ketika semua orang berusaha membesarkan nama Kristus, kita tidak lagi terlalu sibuk memperbesar nama sendiri.
Hari ini mungkin ada keluarga yang sedang tidak sehati. Ada suami dan istri yang hidup dalam satu rumah tetapi jarang benar-benar berbicara dari hati ke hati. Ada anak dan orang tua yang hubungannya menjadi jauh karena luka yang tidak pernah diselesaikan. Ada saudara yang sudah lama tidak saling menyapa. Ada rekan pelayanan yang masih menyimpan kecewa.
Ada perbedaan pendapat yang berubah menjadi persoalan pribadi. Firman Tuhan hari ini mengundang kita untuk tidak terus memelihara keadaan itu. Jangan menunggu orang lain mengambil langkah pertama. Ketika Roh Kudus berbicara kepada hati kita, beranilah menjadi orang pertama yang berkata, “Mari kita selesaikan dengan baik,” “Maafkan saya,” “Saya mau mendengar,” atau “Mari kita kembali kepada tujuan kita bersama.”
Dalam keluarga, jadikan Kristus pusat supaya setiap orang belajar bahwa hubungan lebih penting daripada gengsi. Dalam jemaat, jangan biarkan perbedaan kecil menghancurkan persekutuan yang dibangun dengan darah Kristus. Dalam pelayanan, jangan bertanya siapa yang paling menonjol, tetapi apakah Kristus dimuliakan. Dalam pekerjaan, jangan melihat rekan sebagai pesaing yang harus dikalahkan, tetapi sebagai sesama manusia yang perlu dihargai. Dalam masyarakat yang semakin mudah terpecah oleh perbedaan pandangan, orang Kristen dipanggil menunjukkan bahwa perbedaan tidak harus menghasilkan permusuhan.
Yesus Kristus telah memberikan teladan yang sempurna. Ia mempunyai segala kemuliaan, tetapi memilih jalan kerendahan. Ia mempunyai segala kekuasaan, tetapi datang sebagai hamba. Ia berhak menerima penghormatan, tetapi rela dihina. Ia tidak bersalah, tetapi rela menanggung salib. Karena itu apabila kita mengaku sebagai pengikut Kristus, jalan kita juga harus semakin menyerupai jalan-Nya. Kekristenan bukan perjuangan menjadi lebih tinggi daripada orang lain, melainkan kesediaan menjadi semakin serupa dengan Kristus.
Marilah kita membawa tema ini menjadi doa pribadi kita: “Tuhan, ajarlah aku menjadi orang yang membawa persatuan dan bukan perpecahan. Ajarlah aku mendengar sebelum berbicara, memahami sebelum menghakimi, mengampuni sebelum menyimpan kepahitan, melayani tanpa mencari pujian dan bekerja tanpa mengejar nama sendiri. Berikan kepadaku pikiran dan perasaan Kristus, supaya di dalam keluargaku, jemaatku, pekerjaanku dan seluruh kehidupanku, aku menjadi pembawa kasih dan damai.”
Kiranya sesudah mendengar Firman ini kita tidak hanya berkata bahwa kesatuan itu penting, tetapi mulai menjalankannya dalam tindakan nyata. Jika ada hubungan yang rusak, mulailah memperbaikinya. Jika ada kepahitan, bawalah kepada Tuhan dan belajarlah mengampuni. Jika ada persaingan, gantikan dengan kerja sama. Jika ada kesombongan, belajar merendahkan hati. Jika selama ini kita lebih banyak menuntut untuk dilayani, mulailah mencari kesempatan untuk melayani. Jika kita terlalu sibuk mempertahankan kepentingan sendiri, belajarlah melihat kepentingan orang lain.
Akhirnya, hendaklah keluarga kita menjadi keluarga yang sehati dalam Tuhan, hendaklah jemaat menjadi persekutuan yang hidup dalam satu kasih, hendaklah pelayanan kita digerakkan oleh satu jiwa, dan hendaklah seluruh kehidupan kita diarahkan kepada satu tujuan, yaitu supaya melalui setiap perkataan, keputusan, pekerjaan dan hubungan kita, dunia melihat bahwa Yesus Kristus adalah Tuhan, bagi kemuliaan Allah Bapa.
Hendaklah kita sehati sepikir, hidup dalam satu kasih, satu jiwa dan satu tujuan. Jangan mencari kepentingan sendiri, tetapi belajarlah merendahkan hati. Jangan berlomba untuk menjadi yang terbesar, tetapi berlombalah untuk menjadi semakin serupa dengan Kristus. Dan biarlah dalam segala sesuatu bukan nama kita yang semakin besar, tetapi nama Yesus Kristus yang semakin dimuliakan.
Amin.
Editor : Clavel Lukas