Bacaan dan Renungan untuk Orang Muda Katolik, Hari Sabtu 12 September 2026

Fandy Gerungan • Dipublikasikan Kamis, 10 September 2026 | 14:19 WIB
Perjamuan Malam Terakhir
Perjamuan Malam Terakhir

Pekan Biasa ke XXIII (Warna Liturgi Hijau)

Bacaan I 1 Korintus 10:14-22a

Karena itu, saudara-saudaraku yang kekasih, jauhilah penyembahan berhala!

Aku berbicara kepadamu sebagai orang-orang yang bijaksana. Pertimbangkanlah sendiri apa yang aku katakan!

Bukankah cawan pengucapan syukur, yang atasnya kita ucapkan syukur, adalah persekutuan dengan darah Kristus? Bukankah roti yang kita pecah-pecahkan adalah persekutuan dengan tubuh Kristus?

Karena roti adalah satu, maka kita, sekalipun banyak, adalah satu tubuh, karena kita semua mendapat bagian dalam roti yang satu itu.

Perhatikanlah bangsa Israel menurut daging: bukankah mereka yang makan apa yang dipersembahkan mendapat bagian dalam pelayanan mezbah?

Apakah yang kumaksudkan dengan perkataan itu? Bahwa persembahan berhala adalah sesuatu? Atau bahwa berhala adalah sesuatu?

Bukan! Apa yang kumaksudkan ialah, bahwa persembahan mereka adalah persembahan kepada roh-roh jahat, bukan kepada Allah. Dan aku tidak mau, bahwa kamu bersekutu dengan roh-roh jahat.

Kamu tidak dapat minum dari cawan Tuhan dan juga dari cawan roh-roh jahat. Kamu tidak dapat mendapat bagian dalam perjamuan Tuhan dan juga dalam perjamuan roh-roh jahat.

Atau maukah kita membangkitkan cemburu Tuhan? Apakah kita lebih kuat dari pada Dia?

Demikianlah Sabda Tuhan

U. Syukur kepada Allah

Mazmur 116:12-13.17-18

Bagaimana akan kubalas kepada TUHAN segala kebajikan-Nya kepadaku?

Aku akan mengangkat piala keselamatan, dan akan menyerukan nama TUHAN,

Aku akan mempersembahkan korban syukur kepada-Mu, dan akan menyerukan nama TUHAN,

akan membayar nazarku kepada TUHAN di depan seluruh umat-Nya,

Bacaan Injil Lukas 6:43-49

"Karena tidak ada pohon yang baik yang menghasilkan buah yang tidak baik, dan juga tidak ada pohon yang tidak baik yang menghasilkan buah yang baik.

Sebab setiap pohon dikenal pada buahnya. Karena dari semak duri orang tidak memetik buah ara dan dari duri-duri tidak memetik buah anggur.

Orang yang baik mengeluarkan barang yang baik dari perbendaharaan hatinya yang baik dan orang yang jahat mengeluarkan barang yang jahat dari perbendaharaannya yang jahat. Karena yang diucapkan mulutnya, meluap dari hatinya."

"Mengapa kamu berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, padahal kamu tidak melakukan apa yang Aku katakan?

Setiap orang yang datang kepada-Ku dan mendengarkan perkataan-Ku serta melakukannya?Aku akan menyatakan kepadamu dengan siapa ia dapat disamakan?,

ia sama dengan seorang yang mendirikan rumah: Orang itu menggali dalam-dalam dan meletakkan dasarnya di atas batu. Ketika datang air bah dan banjir melanda rumah itu, rumah itu tidak dapat digoyahkan, karena rumah itu kokoh dibangun.

Akan tetapi barangsiapa mendengar perkataan-Ku, tetapi tidak melakukannya, ia sama dengan seorang yang mendirikan rumah di atas tanah tanpa dasar. Ketika banjir melandanya, rumah itu segera rubuh dan hebatlah kerusakannya."

Demikianlah Injil Tuhan

U. Terpujilah Kristus

Renungan

Salve sahabat muda katolik! orang muda zaman sekarang hidup di tengah dunia yang sangat memperhatikan penampilan. Media sosial membuat kita terbiasa menunjukkan sisi terbaik dari diri kita. Foto terbaik, pencapaian terbaik, perjalanan terbaik, bahkan kehidupan yang terlihat bahagia.

Tetapi Tuhan tidak hanya melihat apa yang tampak dari luar. Tuhan melihat hati. Bacaan hari ini mengingatkan kita bahwa kehidupan seseorang dapat dilihat dari buah yang dihasilkannya. 

Artinya, siapa diri kita sebenarnya akan terlihat dari cara kita berbicara, memperlakukan orang lain, menghadapi masalah, menggunakan media sosial, menjalani pertemanan, dan mengambil keputusan.

Kita bisa terlihat sangat rohani di depan orang lain, tetapi pertanyaannya adalah: apakah Kristus sungguh-sungguh hidup dalam diri kita?

Menjadi orang muda Katolik bukan hanya soal memakai kalung salib, datang ke gereja, mengikuti kegiatan OMK, atau aktif dalam pelayanan. Semua itu baik, tetapi iman harus masuk lebih dalam. Iman harus memengaruhi cara kita hidup.

Kalau kita sungguh dekat dengan Kristus, seharusnya ada buah yang terlihat dalam kehidupan kita. Kita menjadi lebih mampu mengampuni, lebih sabar, lebih jujur, lebih peduli, dan lebih bertanggung jawab.

Bukan berarti kita langsung menjadi sempurna. Kita tetap bisa jatuh, marah, kecewa, gagal, dan membuat kesalahan. Tetapi orang yang berakar dalam Kristus tidak tinggal dalam kegagalan. Ia selalu berusaha bangkit dan kembali kepada Tuhan.

Karena itu, Yesus mengajak kita membangun kehidupan di atas dasar yang kuat. Masa muda adalah masa ketika banyak fondasi kehidupan sedang dibangun.

Kita sedang menentukan siapa sahabat kita, bagaimana kita menggunakan waktu, apa yang kita kejar, bagaimana kita menjalani relasi, apa yang kita percaya, bahkan ke mana hidup kita akan diarahkan.

Dan tidak semua yang terlihat menarik adalah sesuatu yang baik. Ada pilihan yang membuat kita populer, tetapi menjauhkan kita dari Tuhan. Ada pergaulan yang membuat kita diterima, tetapi perlahan menghancurkan diri kita. 

Ada hubungan yang terlihat indah, tetapi justru membuat kita kehilangan harga diri dan iman. Karena itu, jangan hanya bertanya, "Apakah pilihan ini membuatku bahagia?".

Tanyakan juga, "Apakah pilihan ini membuatku semakin dekat dengan Kristus dan menjadi pribadi yang lebih baik?"

Itulah pentingnya memiliki fondasi iman. Ketika hidup sedang baik, mungkin kita tidak terlalu menyadari pentingnya fondasi. Tetapi ketika masalah datang, ketika hubungan berakhir, ketika harapan gagal. ketika kita tidak diterima, ketika mengalami kekecewaan, saat itulah dasar hidup kita diuji.

Kalau dasar hidup kita hanya pujian orang lain, kita akan hancur ketika dikritik.
Kalau dasar hidup kita hanya keberhasilan, kita akan kehilangan arah ketika mengalami kegagalan.

Kalau dasar hidup kita hanya hubungan dengan seseorang, kita akan merasa hidup kita berakhir ketika hubungan itu berakhir.

Tetapi kalau Kristus menjadi dasar hidup kita, kita tahu bahwa nilai diri kita tidak ditentukan oleh jumlah pengikut, komentar, prestasi, status hubungan, atau penilaian manusia.

Kita tahu bahwa kita tetap berharga karena kita adalah milik Tuhan. Bacaan pertama juga mengingatkan bahwa kita dipersatukan dalam Kristus. Karena itu, iman tidak boleh membuat kita hidup hanya untuk diri sendiri. 

Kita dipanggil untuk menjadi bagian dari komunitas dan menghadirkan Kristus melalui kehidupan kita. OMK bukan sekadar tempat berkumpul anak-anak muda Katolik. OMK adalah tempat kita belajar menjadi murid Kristus. 

Di sana kita belajar melayani, bekerja sama, menerima perbedaan, mengampuni, bertanggung jawab, dan bertumbuh bersama. Maka jangan takut menjadi orang muda yang berbeda karena iman.

Di tengah dunia yang sering mengatakan bahwa kita harus mengikuti apa yang sedang populer, beranilah memilih apa yang benar. Di tengah budaya yang mudah menghakimi, jadilah pribadi yang membawa kasih. 

Di tengah dunia yang mengejar pengakuan, jadilah orang muda yang tetap rendah hati. Sebab Tuhan tidak mencari orang muda yang hanya terlihat baik.

Tuhan mencari orang muda yang berakar kuat dalam Kristus dan berani menghasilkan buah dalam kehidupan nyata. Mungkin hari ini kita perlu kembali memeriksa fondasi hidup kita. 

Apa yang selama ini menjadi pusat hidup kita? Apa yang paling kita kejar? Apa yang membuat kita merasa berharga? Mari kita letakkan semuanya kembali kepada Kristus.

Bangunlah hidupmu bersama Kristus sejak sekarang. Jangan menunggu tua untuk mulai serius dengan Tuhan. Jangan menunggu mengalami kehancuran baru mencari dasar yang kuat. Masa muda adalah kesempatan untuk membangun sesuatu yang kokoh.

Dan ketika suatu hari badai kehidupan datang, semoga kita tetap mampu berdiri karena hidup kita tidak dibangun di atas sesuatu yang mudah berubah, tetapi dibangun di atas Kristus yang selalu menjadi dasar dan kekuatan hidup kita. (*)

Editor : Fandy Gerungan
renungan katolik omk Renungan