Hari Minggu Biasa ke XXIV (Warna Liturgi Hijau)
Bacaan I Putra Sirakh 27:33-29:9
Barangsiapa membalas dendam akan dibalas oleh Tuhan. Tuhan dengan saksama mengindahkan segala dosanya.
Ampunilah kesalahan kepada sesama orang, niscaya dosa-dosamupun akan dihapus juga, jika engkau berdoa.
Bagaimana gerangan orang dapat memohon penyembuhan pada Tuhan, jika ia menyimpan amarah kepada sesama manusia?
Bolehkah ia berdoa karena dosa-dosanya, kalau tidak menaruh belas kasihan terhadap seorang manusia yang sama dengannya?
Meskipun ia hanya daging belaka, namun ia menaruh dendam kesumat, siapa gerangan akan memulihkan dosa-dosanya?
Ingatlah akan akhir hidup dan hentikanlah permusuhan, ingatlah akan kebusukan serta maut dan hendaklah setia kepada segala perintah.
Ingatlah akan perintah-perintah dan jangan mendendami sesama manusia, hendaklah ingat akan perjanjian dari Yang Mahatinggi, lalu ampunilah kesalahannya.
Jauhilah pertikaian, maka dosa kaukurangkan, sebab orang yang panas hati mengobar-ngobarkan pertikaian.
Orang yang berdosa mengganggu orang-orang yang bersahabat, dan melontarkan permusuhan di antara orang-orang yang hidup dengan damai.
Demikianlah Sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah
Mazmur 103:1-2,3-4,9-10,11-12
Dari Daud. Pujilah TUHAN, hai jiwaku! Pujilah nama-Nya yang kudus, hai segenap batinku!
Pujilah TUHAN, hai jiwaku, dan janganlah lupakan segala kebaikan-Nya!
Dia yang mengampuni segala kesalahanmu, yang menyembuhkan segala penyakitmu,
Dia yang menebus hidupmu dari lobang kubur, yang memahkotai engkau dengan kasih setia dan rahmat,
Tidak selalu Ia menuntut, dan tidak untuk selama-lamanya Ia mendendam.
Tidak dilakukan-Nya kepada kita setimpal dengan dosa kita, dan tidak dibalas-Nya kepada kita setimpal dengan kesalahan kita,
tetapi setinggi langit di atas bumi, demikian besarnya kasih setia-Nya atas orang-orang yang takut akan Dia;
sejauh timur dari barat, demikian dijauhkan-Nya dari pada kita pelanggaran kita.
Bacaan II Roma 14:7-9
Sebab tidak ada seorangpun di antara kita yang hidup untuk dirinya sendiri, dan tidak ada seorangpun yang mati untuk dirinya sendiri.
Sebab jika kita hidup, kita hidup untuk Tuhan, dan jika kita mati, kita mati untuk Tuhan. Jadi baik hidup atau mati, kita adalah milik Tuhan.
Sebab untuk itulah Kristus telah mati dan hidup kembali, supaya Ia menjadi Tuhan, baik atas orang-orang mati, maupun atas orang-orang hidup.
Demikianlah Sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah
Bacaan Injil Matius 18:21-35
Kemudian datanglah Petrus dan berkata kepada Yesus: "Tuhan, sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadap aku? Sampai tujuh kali?"
Yesus berkata kepadanya: "Bukan! Aku berkata kepadamu: Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali.
Sebab hal Kerajaan Sorga seumpama seorang raja yang hendak mengadakan perhitungan dengan hamba-hambanya.
Setelah ia mulai mengadakan perhitungan itu, dihadapkanlah kepadanya seorang yang berhutang sepuluh ribu talenta.
Tetapi karena orang itu tidak mampu melunaskan hutangnya, raja itu memerintahkan supaya ia dijual beserta anak isterinya dan segala miliknya untuk pembayar hutangnya.
Maka sujudlah hamba itu menyembah dia, katanya: Sabarlah dahulu, segala hutangku akan kulunaskan.
Lalu tergeraklah hati raja itu oleh belas kasihan akan hamba itu, sehingga ia membebaskannya dan menghapuskan hutangnya.
Tetapi ketika hamba itu keluar, ia bertemu dengan seorang hamba lain yang berhutang seratus dinar kepadanya. Ia menangkap dan mencekik kawannya itu, katanya: Bayar hutangmu!
Maka sujudlah kawannya itu dan memohon kepadanya: Sabarlah dahulu, hutangku itu akan kulunaskan.
Tetapi ia menolak dan menyerahkan kawannya itu ke dalam penjara sampai dilunaskannya hutangnya.
Melihat itu kawan-kawannya yang lain sangat sedih lalu menyampaikan segala yang terjadi kepada tuan mereka.
Raja itu menyuruh memanggil orang itu dan berkata kepadanya: Hai hamba yang jahat, seluruh hutangmu telah kuhapuskan karena engkau memohonkannya kepadaku.
Bukankah engkaupun harus mengasihani kawanmu seperti aku telah mengasihani engkau?
Maka marahlah tuannya itu dan menyerahkannya kepada algojo-algojo, sampai ia melunaskan seluruh hutangnya.
Maka Bapa-Ku yang di sorga akan berbuat demikian juga terhadap kamu, apabila kamu masing-masing tidak mengampuni saudaramu dengan segenap hatimu."
Demikianlah Injil Tuhan
U. Terpujilah Kristus
Renungan
Saudara/i setiap orang pasti pernah mengalami luka karena orang lain. Ada perkataan yang menyakitkan, perlakuan yang mengecewakan, pengkhianatan, atau kesalahan yang begitu sulit dilupakan.
Tidak jarang luka itu kemudian berubah menjadi kemarahan dan kebencian yang kita simpan dalam hati. Bacaan-bacaan hari ini mengajak kita melihat kembali arti pengampunan.
Dalam iman Katolik, mengampuni bukan berarti membenarkan kesalahan orang lain. Mengampuni juga bukan berarti kita harus berpura-pura bahwa tidak pernah terjadi sesuatu. Mengampuni berarti memilih untuk tidak membiarkan kesalahan orang lain terus menguasai hati kita.
Sering kali kita lebih mudah mengingat kesalahan orang lain daripada mengingat kesalahan kita sendiri. Kita ingin orang lain memahami keadaan kita, tetapi sulit memahami keadaan mereka.
Kita ingin diberi kesempatan ketika melakukan kesalahan, tetapi kadang tidak mudah memberikan kesempatan yang sama kepada orang lain.
Injil hari ini menunjukkan bahwa belas kasih Tuhan jauh lebih besar daripada kesalahan manusia. Kita adalah orang-orang yang setiap hari menerima pengampunan Tuhan. Karena itu, pengampunan yang kita terima seharusnya juga mengubah cara kita memperlakukan sesama.
Yesus mengajarkan bahwa pengampunan tidak boleh dibatasi oleh hitungan. Pengampunan bukan sekadar tindakan yang kita lakukan beberapa kali ketika hati sedang baik. Pengampunan adalah sikap hidup seorang murid Kristus.
Namun, mengampuni bukan sesuatu yang selalu mudah. Ada luka yang membutuhkan waktu panjang untuk disembuhkan. Ada orang yang mungkin belum meminta maaf. Ada pengalaman yang masih membuat kita sedih ketika mengingatnya.
Karena itu, mengampuni tidak selalu berarti bahwa hubungan harus langsung kembali seperti semula.
Kita tetap boleh menjaga batas yang sehat. Kita tetap boleh belajar dari pengalaman. Tetapi kita tidak perlu memelihara kebencian. Kita dapat menyerahkan luka itu kepada Tuhan dan membiarkan Dia perlahan-lahan menyembuhkan hati kita.
Bacaan kedua mengingatkan bahwa hidup kita bukan hanya tentang diri sendiri. Hidup kita berada dalam Tuhan. Karena itu, iman tidak cukup hanya terlihat dalam doa, pelayanan, atau kehadiran kita di gereja. Iman juga terlihat dalam cara kita memperlakukan orang yang pernah menyakiti kita.
Mungkin hari ini ada seseorang yang namanya masih sulit kita sebut dalam doa. Ada orang yang ketika kita mengingatnya, hati kita kembali terluka. Jangan memaksa diri untuk langsung merasa baik-baik saja. Mulailah dengan membawa luka itu kepada Tuhan.
Kita bisa berkata dalam hati, Tuhan, aku masih terluka dan belum mampu mengampuni sepenuhnya. Tetapi aku mau belajar melepaskan kemarahanku dan menyerahkan orang ini kepada-Mu.
Pengampunan adalah perjalanan. Kadang kita harus memilih mengampuni berkali-kali karena luka yang sama kembali muncul dalam ingatan. Tetapi setiap kali kita memilih mengampuni, kita sedang memberikan ruang yang lebih besar bagi kasih Tuhan dalam hidup kita.
Jangan sampai kesalahan orang lain membuat hati kita kehilangan damai. Jangan sampai kebencian membuat kita jauh dari Tuhan.
Pada akhirnya, kita semua adalah manusia yang membutuhkan belas kasih. Kita pernah menyakiti dan kita juga pernah disakiti. Kita pernah mengecewakan dan kita juga pernah dikecewakan.
Karena itu, marilah kita belajar menjadi pribadi yang tidak hanya pandai meminta pengampunan, tetapi juga murah hati dalam memberikan pengampunan.
Sebab ketika kita sungguh-sungguh mengampuni, kita bukan sedang kehilangan sesuatu. Kita justru sedang membebaskan hati kita untuk kembali hidup dalam kasih, damai, dan belas kasih Tuhan. (*)
Editor : Fandy Gerungan