Bacaan dan Renungan untuk Orang Muda Katolik, Hari Minggu 13 September 2026

Fandy Gerungan • Dipublikasikan Kamis, 10 September 2026 | 14:54 WIB
Perjamuan Malam Terakhir
Perjamuan Malam Terakhir

Hari Minggu Biasa ke XXIV (Warna Liturgi Hijau)

Bacaan I Putra Sirakh 27:33-29:9

Barangsiapa membalas dendam akan dibalas oleh Tuhan. Tuhan dengan saksama mengindahkan segala dosanya.

Ampunilah kesalahan kepada sesama orang, niscaya dosa-dosamupun akan dihapus juga, jika engkau berdoa.

Bagaimana gerangan orang dapat memohon penyembuhan pada Tuhan, jika ia menyimpan amarah kepada sesama manusia?

Bolehkah ia berdoa karena dosa-dosanya, kalau tidak menaruh belas kasihan terhadap seorang manusia yang sama dengannya?

Meskipun ia hanya daging belaka, namun ia menaruh dendam kesumat, siapa gerangan akan memulihkan dosa-dosanya?

Ingatlah akan akhir hidup dan hentikanlah permusuhan, ingatlah akan kebusukan serta maut dan hendaklah setia kepada segala perintah.

Ingatlah akan perintah-perintah dan jangan mendendami sesama manusia, hendaklah ingat akan perjanjian dari Yang Mahatinggi, lalu ampunilah kesalahannya.

Jauhilah pertikaian, maka dosa kaukurangkan, sebab orang yang panas hati mengobar-ngobarkan pertikaian.

Orang yang berdosa mengganggu orang-orang yang bersahabat, dan melontarkan permusuhan di antara orang-orang yang hidup dengan damai.

Demikianlah Sabda Tuhan

U. Syukur kepada Allah

Mazmur 103:1-2,3-4,9-10,11-12

Dari Daud. Pujilah TUHAN, hai jiwaku! Pujilah nama-Nya yang kudus, hai segenap batinku!

Pujilah TUHAN, hai jiwaku, dan janganlah lupakan segala kebaikan-Nya!

Dia yang mengampuni segala kesalahanmu, yang menyembuhkan segala penyakitmu,

Dia yang menebus hidupmu dari lobang kubur, yang memahkotai engkau dengan kasih setia dan rahmat,

Tidak selalu Ia menuntut, dan tidak untuk selama-lamanya Ia mendendam.

Tidak dilakukan-Nya kepada kita setimpal dengan dosa kita, dan tidak dibalas-Nya kepada kita setimpal dengan kesalahan kita,

tetapi setinggi langit di atas bumi, demikian besarnya kasih setia-Nya atas orang-orang yang takut akan Dia;

sejauh timur dari barat, demikian dijauhkan-Nya dari pada kita pelanggaran kita.

Bacaan II Roma 14:7-9

Sebab tidak ada seorangpun di antara kita yang hidup untuk dirinya sendiri, dan tidak ada seorangpun yang mati untuk dirinya sendiri.

Sebab jika kita hidup, kita hidup untuk Tuhan, dan jika kita mati, kita mati untuk Tuhan. Jadi baik hidup atau mati, kita adalah milik Tuhan.

Sebab untuk itulah Kristus telah mati dan hidup kembali, supaya Ia menjadi Tuhan, baik atas orang-orang mati, maupun atas orang-orang hidup.

Demikianlah Sabda Tuhan

U. Syukur kepada Allah

Bacaan Injil Matius 18:21-35

Kemudian datanglah Petrus dan berkata kepada Yesus: "Tuhan, sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadap aku? Sampai tujuh kali?"

Yesus berkata kepadanya: "Bukan! Aku berkata kepadamu: Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali.

Sebab hal Kerajaan Sorga seumpama seorang raja yang hendak mengadakan perhitungan dengan hamba-hambanya.

Setelah ia mulai mengadakan perhitungan itu, dihadapkanlah kepadanya seorang yang berhutang sepuluh ribu talenta.

Tetapi karena orang itu tidak mampu melunaskan hutangnya, raja itu memerintahkan supaya ia dijual beserta anak isterinya dan segala miliknya untuk pembayar hutangnya.

Maka sujudlah hamba itu menyembah dia, katanya: Sabarlah dahulu, segala hutangku akan kulunaskan.

Lalu tergeraklah hati raja itu oleh belas kasihan akan hamba itu, sehingga ia membebaskannya dan menghapuskan hutangnya.

Tetapi ketika hamba itu keluar, ia bertemu dengan seorang hamba lain yang berhutang seratus dinar kepadanya. Ia menangkap dan mencekik kawannya itu, katanya: Bayar hutangmu!

Maka sujudlah kawannya itu dan memohon kepadanya: Sabarlah dahulu, hutangku itu akan kulunaskan.

Tetapi ia menolak dan menyerahkan kawannya itu ke dalam penjara sampai dilunaskannya hutangnya.

Melihat itu kawan-kawannya yang lain sangat sedih lalu menyampaikan segala yang terjadi kepada tuan mereka.

Raja itu menyuruh memanggil orang itu dan berkata kepadanya: Hai hamba yang jahat, seluruh hutangmu telah kuhapuskan karena engkau memohonkannya kepadaku.


Bukankah engkaupun harus mengasihani kawanmu seperti aku telah mengasihani engkau?

Maka marahlah tuannya itu dan menyerahkannya kepada algojo-algojo, sampai ia melunaskan seluruh hutangnya.

Maka Bapa-Ku yang di sorga akan berbuat demikian juga terhadap kamu, apabila kamu masing-masing tidak mengampuni saudaramu dengan segenap hatimu."

Demikianlah Injil Tuhan

U. Terpujilah Kristus

Renungan

Salve sahabat muda katolik!, kita tentu pernah disakiti. Ada teman yang mengkhianati kepercayaan, seseorang yang berkata kasar, keluarga yang membuat kita kecewa. 

Atau mungkin orang yang pernah memperlakukan kita tidak adil. Kadang kita berkata sudah memaafkan, tetapi di dalam hati luka itu masih kita simpan.

Hari ini Gereja mengajak kita melihat kembali arti pengampunan. Mengampuni bukan berarti mengatakan bahwa kesalahan orang lain itu benar. Mengampuni juga bukan berarti kita harus melupakan begitu saja apa yang telah terjadi. Mengampuni berarti memilih untuk tidak membiarkan luka dan kemarahan menguasai hati kita.

Sering kali kita ingin Tuhan mengampuni kesalahan kita, tetapi kita masih sulit memberikan pengampunan kepada orang lain. Kita ingin mendapatkan belas kasih ketika jatuh, tetapi kita begitu mudah menghakimi ketika orang lain jatuh. Di sinilah iman kita diuji.

Yesus mengajarkan bahwa pengampunan tidak memiliki batas yang sempit. Pengampunan bukan sekadar dilakukan ketika orang lain meminta maaf atau ketika kita merasa siap. Pengampunan adalah pilihan hati untuk terus membuka ruang bagi kasih Tuhan bekerja dalam diri kita.

Dalam kehidupan OMK, hal ini sangat nyata. Persahabatan bisa rusak hanya karena salah paham. Grup pertemanan bisa terpecah karena satu komentar. Hubungan bisa berakhir karena ego. Bahkan di dalam komunitas pelayanan, kita bisa kecewa karena merasa tidak dihargai atau tidak dianggap.

Kalau semua luka itu terus disimpan, hati kita akan semakin berat. Kita mungkin terlihat baik-baik saja dari luar, tetapi di dalam hati terus terjadi pertengkaran yang tidak pernah selesai.

Bacaan hari ini mengingatkan bahwa kita tidak hidup hanya untuk diri sendiri. Hidup kita adalah milik Tuhan. Karena itu, cara kita memperlakukan orang lain juga menjadi bagian dari iman kita.

Mengampuni adalah salah satu bentuk nyata bahwa kita sungguh ingin hidup dalam Kristus. Ketika kita mengampuni, kita sedang belajar melepaskan hak untuk terus membalas. Kita menyerahkan luka itu kepada Tuhan dan membiarkan Tuhan menyembuhkan hati kita.

Tentu, mengampuni tidak selalu mudah. Ada luka yang membutuhkan waktu. Ada pengalaman yang tidak bisa diselesaikan dalam satu hari. Tetapi kita dapat memulainya dengan doa sederhana: Tuhan, aku belum mampu mengampuni sepenuhnya, tetapi aku mau belajar melepaskan kemarahanku.

Sebagai orang muda Katolik, jangan biarkan kebencian menjadi bagian dari identitas kita. Jangan sampai satu kesalahan seseorang membuat kita kehilangan kemampuan untuk melihat kebaikan dalam dirinya.

Kita semua pernah membutuhkan pengampunan. Kita semua pernah salah. Dan kita semua hidup karena belas kasih Tuhan.

Maka hari ini, mungkin ada seseorang yang perlu kita ampuni. Mungkin juga ada seseorang yang perlu kita datangi dan kita mintai maaf.

Jangan menunggu sampai semuanya terlambat. Jangan biarkan ego membuat hati semakin jauh. Jika masih ada kesempatan untuk berdamai, ambillah kesempatan itu.

Sebab hati yang mampu mengampuni adalah hati yang sedang belajar menjadi seperti hati Kristus. (*)

 

Editor : Fandy Gerungan
renungan katolik omk Renungan