Ulangan 33–34 menjadi penutup perjalanan panjang Musa bersama bangsa Israel. Setelah memimpin Israel keluar dari Mesir, melewati padang gurun, menerima hukum Tuhan dan mengajar bangsa itu untuk hidup dalam ketaatan, Musa akhirnya sampai pada penghujung hidupnya.
Namun, akhir kehidupan Musa bukanlah akhir dari pekerjaan Tuhan.
Ulangan 33 berisi berkat Musa kepada suku-suku Israel, sedangkan Ulangan 34 menceritakan saat Musa melihat Tanah Perjanjian dari Gunung Nebo sebelum akhirnya meninggal. Ada kesan perpisahan yang kuat dalam kedua pasal ini, tetapi sekaligus terdapat pesan besar tentang kesetiaan Tuhan, warisan iman, dan pentingnya menyelesaikan perjalanan hidup dengan tetap percaya kepada-Nya.
Ulangan 33 — Berkat Tuhan bagi Umat-Nya
Sebelum meninggalkan bangsa Israel, Musa memberikan berkat kepada suku-suku Israel.
Ini adalah sebuah gambaran yang indah. Musa tidak mengakhiri kehidupannya dengan kepahitan karena dirinya tidak diperbolehkan masuk ke Tanah Perjanjian. Sebaliknya, ia menggunakan kesempatan terakhirnya untuk memberkati umat Tuhan.
Musa memilih untuk meninggalkan berkat dan warisan iman.
Dalam kehidupan kita, ada pelajaran yang sangat penting. Ketika kita mengetahui bahwa sebuah musim kehidupan akan berakhir, apa yang kita tinggalkan?
Apakah kita meninggalkan luka?
Apakah kita meninggalkan kepahitan?
Ataukah kita meninggalkan teladan, doa, kasih dan iman kepada generasi berikutnya?
Musa menunjukkan bahwa hidup yang berkenan kepada Tuhan bukan hanya tentang bagaimana kita memulai perjalanan, tetapi juga bagaimana kita mengakhirinya.
Tuhan adalah Raja dan Penolong umat-Nya
Ulangan 33:27 berkata:
"Allah yang abadi adalah tempat perlindunganmu, dan di bawahmu ada lengan-lengan yang kekal."
Ayat ini menjadi salah satu penghiburan terbesar dari pasal tersebut.
Manusia memiliki keterbatasan. Kekuatan kita terbatas. Waktu kita terbatas. Jabatan dan pelayanan kita juga memiliki batas.
Tetapi Tuhan adalah Allah yang abadi.
Ketika manusia tidak lagi mampu menopang kita, tangan Tuhan tetap menopang.
Ketika kekuatan kita habis, lengan-Nya tetap kuat.
Ketika kita tidak mengetahui harus pergi ke mana, Tuhan tetap menjadi tempat perlindungan.
Karena itu, keamanan hidup orang percaya tidak terletak pada keadaan yang selalu baik, melainkan pada Tuhan yang tidak pernah berubah.
Ulangan 34 — Musa Menyelesaikan Perjalanannya
Ulangan 34 menceritakan bagian yang sangat mengharukan. Musa naik ke Gunung Nebo dan Tuhan memperlihatkan kepadanya seluruh Tanah Perjanjian.
Musa dapat melihat tanah itu, tetapi ia tidak masuk ke dalamnya.
Bagi manusia, hal ini mungkin terasa seperti sebuah akhir yang menyedihkan.
Musa telah berjalan begitu lama bersama bangsa Israel. Ia telah menghadapi Firaun, menyaksikan laut terbelah, menghadapi keluhan bangsa Israel, menerima hukum Tuhan dan memimpin mereka melewati padang gurun.
Namun, pada akhirnya, ia hanya diperbolehkan melihat Tanah Perjanjian dari kejauhan.
Di sinilah kita belajar bahwa tidak semua hal yang kita perjuangkan harus kita nikmati sendiri hasilnya.
Kadang-kadang Tuhan memakai hidup kita untuk mempersiapkan sesuatu yang akan dinikmati oleh generasi sesudah kita.
Musa tidak masuk ke Tanah Perjanjian, tetapi pekerjaannya membantu mempersiapkan bangsa Israel untuk masuk ke sana.
Begitu juga kehidupan kita.
Mungkin ada doa yang belum kita lihat jawabannya.
Mungkin ada pekerjaan yang kita mulai tetapi tidak kita lihat hasil akhirnya.
Mungkin ada pelayanan yang kita bangun dan kemudian diteruskan oleh orang lain.
Tetapi jangan berpikir bahwa hidup kita sia-sia.
Apa yang kita lakukan dalam ketaatan kepada Tuhan dapat menjadi dasar bagi generasi berikutnya.
Musa Melihat dari Gunung Nebo
Ulangan 34:4 mencatat perkataan Tuhan kepada Musa:
"Inilah negeri yang Kujanjikan dengan sumpah kepada Abraham, Ishak dan Yakub; demikian: Kepada keturunanmulah akan Kuberikan negeri itu. Aku mengizinkan engkau melihatnya dengan matamu sendiri, tetapi engkau tidak akan menyeberang ke sana."
Musa melihat janji Tuhan dengan matanya sendiri.
Ada sesuatu yang sangat dalam di sini.
Musa mungkin tidak menerima seluruh pengalaman yang diharapkannya, tetapi ia dapat melihat bahwa Tuhan tidak pernah gagal menepati janji-Nya.
Janji Tuhan kepada Abraham, Ishak dan Yakub tetap berjalan.
Musa merupakan bagian dari rencana besar Tuhan, tetapi bukan keseluruhan rencana itu.
Hal ini mengajarkan kita untuk tidak mengukur kesetiaan Tuhan hanya berdasarkan apa yang kita terima secara pribadi.
Tuhan sedang mengerjakan sesuatu yang jauh lebih besar daripada kehidupan kita sendiri.
Musa Mati, tetapi Pekerjaan Tuhan Berlanjut
Ulangan 34:5-6 mencatat bahwa Musa meninggal di tanah Moab dan Tuhan sendiri yang menguburkan dia.
Kemudian muncul Yosua sebagai pemimpin berikutnya.
Ulangan 34:9 berkata:
"Dan Yosua bin Nun penuh dengan roh kebijaksanaan, sebab Musa telah meletakkan tangannya ke atasnya. Sebab itu orang Israel mendengarkan dia dan melakukan seperti yang diperintahkan TUHAN kepada Musa."
Musa selesai, tetapi Tuhan melanjutkan pekerjaan-Nya melalui Yosua.
Ini merupakan prinsip penting dalam kehidupan pelayanan.
Pelayan Tuhan dapat berganti, tetapi Tuhan tidak pernah berhenti bekerja.
Jangan pernah berpikir bahwa pekerjaan Tuhan bergantung sepenuhnya kepada satu orang.
Tuhan dapat memakai kita hari ini, tetapi Dia juga mempersiapkan orang lain untuk meneruskan apa yang telah kita kerjakan.
Karena itu, kita harus belajar membangun generasi berikutnya.
Jangan hanya bertanya, "Apa yang bisa saya lakukan untuk Tuhan?"
Tetapi juga tanyakan:
"Siapa yang sedang saya persiapkan untuk melanjutkan pekerjaan Tuhan?"
Musa Menjadi Teladan Kesetiaan
Ulangan 34:7 memberikan gambaran tentang kondisi Musa:
"Musa berumur seratus dua puluh tahun, ketika ia mati; matanya belum kabur dan kekuatannya belum hilang."
Musa menjalani hidupnya sampai akhir.
Ia bukan hanya seorang pemimpin besar, tetapi seorang yang memiliki hubungan yang dekat dengan Tuhan.
Ulangan 34:10 berkata:
"Seperti Musa yang dikenal TUHAN dengan berhadapan muka, tidak ada lagi nabi yang bangkit di antara orang Israel."
Yang paling penting bukan hanya bahwa Musa dikenal oleh manusia sebagai pemimpin besar.
Yang lebih penting adalah bahwa Musa dikenal oleh Tuhan.
Ini menjadi tantangan bagi kita sebagai orang percaya.
Kita bisa dikenal banyak orang.
Kita bisa memiliki jabatan.
Kita bisa aktif dalam pelayanan.
Kita bisa memiliki kemampuan berbicara atau memimpin.
Tetapi pertanyaan yang lebih penting adalah:
Apakah kita hidup dekat dengan Tuhan?
Karena pada akhirnya, ukuran terbesar kehidupan bukan seberapa terkenal kita di hadapan manusia, tetapi seberapa sungguh kita berjalan bersama Tuhan.
Pelajaran Pantekosta
Ulangan 33–34 sangat relevan dengan kehidupan orang percaya yang hidup dalam pimpinan Roh Kudus.
Roh Kudus tidak hanya memberikan kuasa untuk melakukan sesuatu yang besar, tetapi juga menolong kita untuk tetap setia sampai akhir.
Kita membutuhkan Roh Kudus bukan hanya ketika memulai pelayanan, tetapi juga ketika menjalani proses panjang.
Ada masa ketika kita bersemangat.
Ada masa ketika kita lelah.
Ada masa ketika kita melihat hasil pelayanan.
Tetapi ada pula masa ketika kita hanya bisa percaya bahwa Tuhan sedang bekerja meskipun kita belum melihat hasilnya.
Di semua musim itu, Roh Kudus menolong kita tetap berdiri.
Jangan berhenti hanya karena kita belum melihat seluruh janji Tuhan.
Musa tidak masuk ke Tanah Perjanjian, tetapi ia tetap menyelesaikan tugas yang Tuhan berikan kepadanya.
Demikian juga kita dipanggil untuk tetap setia pada bagian yang Tuhan percayakan kepada kita.
Aplikasi dalam Kehidupan
1. Jadilah orang yang meninggalkan berkat
Musa mengakhiri hidupnya dengan memberkati bangsa Israel.
Kita juga dipanggil untuk meninggalkan sesuatu yang baik bagi keluarga, gereja dan generasi berikutnya.
Jangan biarkan kehidupan kita hanya dikenang karena masalah yang kita buat. Biarlah kehidupan kita menjadi kesaksian tentang kasih dan kesetiaan Tuhan.
2. Percayalah meskipun belum melihat hasilnya
Tidak semua doa langsung mendapatkan jawaban.
Tidak semua pelayanan langsung menghasilkan buah.
Tidak semua janji Tuhan kita lihat penggenapannya dalam waktu yang kita inginkan.
Tetaplah percaya.
Tugas kita adalah taat. Tuhan yang menentukan waktunya.
3. Jadikan Tuhan sebagai tempat perlindungan
Ketika menghadapi tekanan, jangan menjadikan manusia sebagai satu-satunya tempat bergantung.
Datanglah kepada Tuhan.
Dia adalah Allah yang abadi dan lengan-Nya tidak pernah kehilangan kekuatan.
4. Persiapkan generasi berikutnya
Musa mempersiapkan Yosua.
Demikian juga kita harus belajar menolong generasi berikutnya mengenal Firman Tuhan, hidup dalam kebenaran dan berjalan dalam pimpinan Roh Kudus.
5. Tetap setia sampai akhir
Jangan hanya bersemangat ketika semuanya berjalan baik.
Kesetiaan justru terlihat ketika perjalanan menjadi panjang dan melelahkan.
Tetaplah berdoa.
Tetaplah membaca Firman.
Tetaplah melayani.
Tetaplah percaya.
Tetaplah berjalan bersama Tuhan.
Ulangan 33–34 menutup perjalanan Musa dengan sebuah pesan yang sangat kuat: hidup ini adalah perjalanan bersama Tuhan, dan yang terpenting bukan seberapa banyak yang kita miliki, tetapi seberapa setia kita menjalankan panggilan-Nya.
Musa tidak memasuki Tanah Perjanjian, tetapi ia berhasil menyelesaikan tugas yang Tuhan percayakan kepadanya.
Ia meninggalkan berkat.
Ia meninggalkan teladan.
Ia mempersiapkan generasi berikutnya.
Dan yang terutama, ia hidup dekat dengan Tuhan.
Karena itu, jangan kecewa ketika kita tidak melihat seluruh hasil dari apa yang kita kerjakan. Jangan merasa hidup kita sia-sia ketika orang lain yang menikmati hasilnya.
Mungkin kita hanya menanam, tetapi generasi berikutnya yang akan menuai.
Yang penting adalah kita tetap setia.
Sebab pada akhirnya, bukan tentang seberapa jauh kita dapat melihat, tetapi apakah kita tetap berjalan bersama Tuhan sampai akhir.
Ayat Kunci
Ulangan 33:27
"Allah yang abadi adalah tempat perlindunganmu, dan di bawahmu ada lengan-lengan yang kekal."
Doa Penutup
Tuhan Yesus, kami bersyukur untuk Firman-Mu. Ajarlah kami seperti Musa yang tetap setia menjalankan panggilan-Mu sampai akhir hidupnya.
Ketika kami menghadapi perubahan, berikan kami kekuatan. Ketika kami belum melihat jawaban doa dan penggenapan janji-Mu, berikan kami iman untuk tetap percaya.
Jadikanlah Engkau tempat perlindungan kami. Biarlah Roh Kudus memenuhi kami, memberikan kekuatan dan menolong kami untuk tetap berjalan dalam kebenaran.
Tolong kami agar kehidupan kami dapat menjadi berkat bagi keluarga, gereja dan generasi yang akan datang. Ajarlah kami untuk tidak hidup hanya bagi diri sendiri, tetapi meninggalkan warisan iman yang membawa orang lain semakin dekat kepada-Mu.
Kami percaya bahwa sekalipun kekuatan manusia terbatas, lengan-Mu yang kekal tidak pernah berhenti menopang kami.
Dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa. Amin (*)
Editor : Deiby Rotinsulu