Bacaan: Filipi 2:1-11
Tema: “Hendaklah Kamu Sehati Sepikir, Dalam Satu Kasih, Satu Jiwa, Satu Tujuan”
Saudari-saudari W/KI GMIM yang dikasihi Tuhan, kehidupan seorang perempuan sering kali dipenuhi begitu banyak peran dan tanggung jawab yang dijalankan secara bersamaan. Seorang perempuan dapat menjadi istri yang mendampingi suami, ibu yang merawat dan mendidik anak, oma yang menguatkan cucu, anak yang memperhatikan orang tua, pekerja yang menjalankan tanggung jawab di tempat kerja, pelayan Tuhan yang aktif dalam gereja, sekaligus menjadi pribadi yang sering kali harus tetap terlihat kuat walaupun di dalam hati sedang menghadapi kelelahan, kekecewaan, kekhawatiran atau pergumulan yang tidak diketahui banyak orang.
Dalam semua peran itu, perempuan mempunyai pengaruh yang sangat besar terhadap suasana di dalam keluarga, persekutuan dan lingkungan di mana ia berada, karena melalui perkataan, sikap, perhatian, doa dan teladan, seorang perempuan dapat membawa kesejukan, tetapi ia juga dapat tanpa sadar membawa ketegangan apabila hati tidak dijaga dengan baik.
Tema Firman Tuhan hari ini, “Hendaklah Kamu Sehati Sepikir, Dalam Satu Kasih, Satu Jiwa, Satu Tujuan,” berbicara sangat dalam kepada kehidupan kita. Tema ini mengingatkan bahwa hidup bersama orang lain tidak pernah hanya membutuhkan kemampuan berbicara, tetapi juga kerendahan hati untuk mendengar; tidak cukup hanya memiliki kasih dalam perasaan, tetapi harus ada kasih yang terlihat dalam tindakan; tidak cukup berada dalam satu rumah, satu jemaat atau satu kelompok pelayanan, tetapi hati juga perlu diarahkan kepada tujuan yang sama di dalam Kristus.
Baca Juga: Renungan Filipi 2:1-11, Hendaklah Kamu Sehati Sepikir, Dalam Satu Kasih, Satu Jiwa, Satu Tujuan
Baca Juga: Materi Khotbah Filipi 2:1-11, Hendaklah Kamu Sehati Sepikir, Dalam Satu Kasih, Satu Jiwa Satu Tujuan
Banyak masalah muncul bukan karena manusia sama sekali tidak memiliki kasih, tetapi karena kasih itu sering bercampur dengan ego, kekecewaan, rasa iri, perasaan tidak dihargai, keinginan untuk selalu dimengerti, atau keinginan agar orang lain mengikuti kehendak kita.
Di zaman sekarang, tantangan menjaga kesatuan bahkan menjadi semakin besar. Media sosial membuat kita mudah membandingkan kehidupan dengan orang lain, mudah melihat keberhasilan orang lain, mudah mengetahui persoalan orang lain, dan tanpa disadari dapat membuat hati dipenuhi iri hati, rasa tidak puas, prasangka atau keinginan untuk membicarakan kehidupan orang lain.
Di dalam grup percakapan, satu pesan yang salah dipahami dapat menimbulkan jarak. Di dalam keluarga, kesibukan membuat anggota keluarga tinggal satu rumah tetapi jarang berbicara dari hati ke hati. Dalam pelayanan, perbedaan pendapat yang seharusnya dapat memperkaya justru dapat menjadi sumber persoalan apabila masing-masing ingin pendapatnya yang diterima.
Karena itu Firman Tuhan hari ini bukan hanya mengajak kita supaya “rukun,” tetapi membawa kita lebih dalam kepada pertanyaan: apakah pikiran dan perasaan Kristus sudah menguasai kehidupan kita? Apakah kasih Kristus terlihat dalam cara kita berbicara kepada suami, anak, orang tua, saudara dan sesama anggota jemaat? Apakah ketika berbeda pendapat kita masih dapat menjaga kasih? Apakah ketika orang lain lebih diperhatikan kita mampu tetap bersukacita? Apakah ketika disakiti kita masih mau mencari jalan pengampunan? Inilah yang hendak kita renungkan melalui Filipi 2:1-11.
Saudari-saudari W/KI GMIM yang dikasihi Tuhan,
Surat Filipi ditulis oleh Rasul Paulus kepada jemaat di Filipi, sebuah kota penting di wilayah Makedonia. Jemaat di Filipi memiliki hubungan yang sangat dekat dengan Paulus. Kisah Para Rasul 16 menceritakan bahwa ketika Paulus datang ke Filipi, salah satu orang pertama yang menerima Injil adalah Lidia, seorang perempuan penjual kain ungu.
Tuhan membuka hati Lidia untuk menerima berita keselamatan, dan kemudian rumahnya menjadi tempat yang penting bagi pertumbuhan persekutuan orang percaya. Fakta ini sangat menarik bagi W/KI, sebab sejak awal kehidupan jemaat Filipi kita melihat peranan seorang perempuan yang membuka hati, membuka rumah dan memberi ruang bagi pekerjaan Tuhan.
Di Filipi pula Paulus dan Silas mengalami penganiayaan, dipukul dan dimasukkan ke dalam penjara. Namun dalam keadaan itu mereka tetap berdoa dan menyanyikan pujian kepada Allah. Melalui peristiwa tersebut kepala penjara Filipi beserta keluarganya kemudian percaya kepada Kristus. Dengan demikian jemaat Filipi sejak awal terbentuk dari orang-orang yang berbeda latar belakang, tetapi dipersatukan oleh Injil yang sama.
Paulus menulis surat ini ketika dirinya sedang berada dalam penjara. Walaupun demikian, surat ini dipenuhi dengan sukacita. Paulus menunjukkan bahwa sukacita orang percaya tidak terutama ditentukan oleh keadaan yang nyaman, tetapi oleh hubungan dengan Kristus. Namun ia juga melihat bahwa kehidupan jemaat harus terus dijaga dari bahaya persaingan, kesombongan, kepentingan pribadi dan perpecahan. Karena itu dalam pasal 2 Paulus mengarahkan jemaat kepada kehidupan yang sehati, sepikir dan rendah hati.
Tema “sehati sepikir, dalam satu kasih, satu jiwa, satu tujuan” tidak berarti semua orang harus menjadi sama. Kesatuan Kristen bukan keseragaman. Tuhan menciptakan manusia dengan karakter, kemampuan, pengalaman dan cara berpikir yang berbeda. Dalam W/KI sendiri ada perempuan dengan usia berbeda, pengalaman berbeda, pendidikan berbeda, keadaan keluarga berbeda dan karunia berbeda. Semua itu bukan masalah. Perbedaan menjadi masalah ketika kita berhenti menempatkan Kristus sebagai pusat dan mulai menjadikan diri sendiri sebagai pusat.
Kesatuan yang diajarkan Paulus dibangun di atas kasih Kristus dan kerendahan hati. Karena itu puncak pembacaan ini terdapat pada ayat 5-11 ketika Paulus menunjukkan Yesus sebagai teladan. Kristus memiliki kemuliaan ilahi, tetapi Ia tidak menggunakan kemuliaan itu untuk kepentingan diri sendiri. Ia merendahkan diri, mengambil rupa seorang hamba dan taat sampai mati di kayu salib. Jadi ketika Paulus mengajak jemaat hidup sehati, ia tidak sekadar memberikan aturan sosial, tetapi menunjukkan jalan Kristus sebagai dasar hubungan orang percaya.
PEMBAHASAN AYAT PER AYAT
Ayat 1 berkata, “Jadi karena dalam Kristus ada nasihat, ada penghiburan kasih, ada persekutuan Roh, ada kasih mesra dan belas kasihan.” Paulus memulai bukan dengan tuntutan, melainkan dengan mengingatkan jemaat tentang apa yang sudah mereka terima di dalam Kristus. Mereka telah menerima penghiburan, kasih, persekutuan Roh Kudus, kasih mesra dan belas kasihan. Artinya, sebelum Tuhan meminta kita mengasihi, Ia lebih dahulu mengasihi kita; sebelum meminta kita mengampuni, Ia lebih dahulu mengampuni kita; sebelum meminta kita berbelas kasihan, Ia lebih dahulu menunjukkan belas kasihan-Nya.
Bagi perempuan Kristen, kesadaran ini sangat penting karena sering kali dalam menjalankan banyak tanggung jawab kita dapat merasa tidak dihargai, tidak dipahami atau kurang diperhatikan. Seorang ibu dapat merasa pengorbanannya dianggap biasa, seorang istri dapat merasa tidak didengarkan, seorang oma dapat merasa tidak lagi terlalu dibutuhkan, seorang pelayan gereja dapat merasa kerjanya tidak diperhatikan.
Namun Firman Tuhan mengingatkan bahwa nilai kita tidak ditentukan oleh seberapa banyak manusia menghargai kita, tetapi oleh kasih Allah yang telah diberikan di dalam Kristus. Ketika hati dipenuhi oleh kasih Tuhan, kita tidak terlalu mudah menjadi pahit hanya karena manusia tidak memberikan penghargaan seperti yang kita harapkan.
Ayat 2 berkata, “Karena itu sempurnakanlah sukacitaku dengan ini: hendaklah kamu sehati sepikir, dalam satu kasih, satu jiwa, satu tujuan.” Ayat ini menjadi inti tema renungan kita. Paulus ingin jemaat hidup dalam kesatuan yang nyata. Sehati sepikir bukan berarti semua harus memiliki pendapat yang sama, tetapi pikiran mereka diarahkan kepada Kristus. Dalam keluarga, istri dan suami mungkin berbeda cara melihat suatu masalah, tetapi mereka tetap dapat bertanya bersama, “Apa yang Tuhan kehendaki bagi keluarga kita?”
Dalam pelayanan W/KI, anggota mungkin memiliki pendapat berbeda mengenai suatu kegiatan, tetapi tujuan akhirnya harus tetap sama, yaitu membangun jemaat dan memuliakan Tuhan. Satu kasih berarti kasih tidak berubah hanya karena orang lain mengecewakan kita. Satu jiwa berarti kita memahami bahwa kita saling membutuhkan sebagai sesama tubuh Kristus. Satu tujuan berarti kita tidak menjadikan pelayanan sebagai ruang untuk mencari nama atau pengaruh, tetapi sebagai tempat bersama-sama melakukan kehendak Allah.
Ayat 3 berkata, “Dengan tidak mencari kepentingan sendiri atau puji-pujian yang sia-sia. Sebaliknya hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama daripada dirinya sendiri.” Di sini Paulus menunjukkan bahwa akar banyak perpecahan bukan pertama-tama terletak pada perbedaan pendapat, tetapi pada ego manusia. Kita dapat mulai membandingkan diri dengan orang lain, merasa seharusnya kita lebih diperhatikan, merasa pelayanan kita lebih berat, merasa pendapat kita lebih benar, atau tersinggung ketika orang lain dipuji.
Perempuan juga dapat bergumul dengan perbandingan, apakah dalam penampilan, keluarga, pekerjaan, keadaan ekonomi, keberhasilan anak atau kesempatan pelayanan. Jika tidak dijaga, perbandingan dapat melahirkan iri hati dan iri hati perlahan-lahan dapat merusak kasih. Firman Tuhan mengajak kita kepada kerendahan hati, yaitu kemampuan bersukacita ketika orang lain diberkati, memberikan ruang kepada orang lain untuk bertumbuh dan mengakui bahwa Tuhan juga bekerja melalui orang lain.
Ayat 4 berkata, “Dan janganlah tiap-tiap orang hanya memperhatikan kepentingannya sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga.” Dalam kehidupan perempuan, ayat ini sering terlihat melalui banyak bentuk perhatian yang diberikan kepada keluarga, tetapi Firman ini juga perlu dijalankan dengan hikmat. Memperhatikan kepentingan orang lain bukan berarti kehilangan seluruh diri sendiri sampai menjadi lelah dan pahit, tetapi memiliki hati yang tidak berpusat hanya pada diri.
Seorang istri belajar memahami beban suaminya, seorang ibu berusaha memahami pergumulan anak yang hidup dalam tantangan zaman yang berbeda, seorang oma belajar mendengar generasi yang lebih muda, dan anggota W/KI tidak hanya memikirkan kelompok dekatnya sendiri tetapi juga mereka yang sering merasa tersisih. Gereja menjadi hangat ketika orang mulai melihat siapa yang sedang sakit, siapa yang sedang kehilangan, siapa yang merasa sendirian dan siapa yang membutuhkan penguatan.
Ayat 5 berkata, “Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus.” Inilah pusat pembacaan kita. Paulus tidak hanya meminta perubahan perilaku, tetapi perubahan cara berpikir dan cara merasa. Pikiran Kristus adalah pikiran yang tidak menjadikan diri sendiri sebagai pusat. Perasaan Kristus adalah kasih yang bersedia merendahkan diri dan melayani.
Bagi W/KI, ayat ini mengajak kita memeriksa apakah pikiran Kristus hadir dalam cara kita melihat sesama perempuan. Apakah kita melihat orang lain sebagai pesaing atau saudari yang harus dikuatkan? Apakah kita menggunakan kelemahan orang lain sebagai bahan pembicaraan atau sebagai alasan untuk mendoakan? Apakah ketika mendengar persoalan keluarga orang lain kita berusaha menolong atau justru memperluas cerita? Pikiran Kristus membuat kita lebih berhati-hati terhadap perkataan dan lebih peka terhadap luka orang lain.
Ayat 6 berkata tentang Kristus, “yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan.” Kristus memiliki kemuliaan ilahi, tetapi Ia tidak menjadikan kedudukan-Nya sebagai alat untuk menguntungkan diri sendiri. Dunia sering mengajarkan manusia untuk mempertahankan status, gengsi dan pengakuan, tetapi Kristus menunjukkan jalan yang berbeda.
Dalam kehidupan kita mungkin ada yang memiliki pendidikan tinggi, jabatan, ekonomi yang baik, keluarga yang berhasil atau pengalaman pelayanan yang panjang. Semua itu adalah berkat Tuhan, bukan alasan untuk merasa lebih tinggi daripada orang lain. Seorang perempuan yang matang dalam iman tidak perlu merendahkan orang lain supaya dirinya terlihat besar. Justru semakin banyak yang dipercayakan Tuhan, semakin besar kesediaannya mengangkat dan menguatkan sesama.
Ayat 7 berkata, “Melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia.” Kristus rela mengambil posisi seorang hamba. Ia tidak mengejar penghormatan manusia, tetapi datang untuk melayani. Ini menjadi koreksi bagi budaya yang sering mengukur keberhasilan dari seberapa banyak orang melayani kita. Dalam Kerajaan Allah, kebesaran terlihat dari kesediaan melayani.
Seorang ibu yang dengan setia merawat keluarganya mungkin tidak selalu mendapat penghargaan, tetapi Tuhan melihat. Seorang oma yang terus mendoakan anak dan cucunya mungkin tidak terlihat oleh banyak orang, tetapi doanya dapat menjadi kekuatan bagi keluarga. Seorang anggota W/KI yang bekerja di balik layar tanpa namanya disebut tetap berharga di mata Tuhan. Namun pelayanan juga tidak boleh menjadi alasan untuk menyombongkan diri, karena teladan kita adalah Kristus yang melayani dengan rendah hati.
Ayat 8 berkata, “Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib.” Kerendahan hati Kristus mencapai puncaknya pada salib. Kasih-Nya bukan hanya perasaan, tetapi pengorbanan. Ini mengajarkan bahwa kesatuan membutuhkan harga. Kadang-kadang kita harus mengorbankan keinginan untuk membalas. Kadang-kadang kita harus menahan perkataan supaya tidak melukai.
Kadang-kadang kita perlu datang lebih dahulu untuk memperbaiki hubungan walaupun merasa orang lain juga bersalah. Kadang-kadang kita harus mengampuni sesuatu yang masih terasa sakit. Semua itu tidak mudah, tetapi salib menunjukkan bahwa kasih sejati bersedia membayar harga. Namun pengorbanan Kristen bukan berarti membenarkan kekerasan atau ketidakadilan; yang diajarkan di sini adalah kesediaan menundukkan ego dan menaati Tuhan dalam kasih dan kebenaran.
Ayat 9 berkata, “Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama.” Kristus tidak meninggikan diri sendiri; Allah yang meninggikan Dia. Ini menjadi pelajaran yang sangat penting dalam kehidupan dan pelayanan. Kita tidak perlu selalu mencari pengakuan manusia. Tidak perlu merasa hidup kita kurang berarti hanya karena tidak banyak orang mengetahui pekerjaan kita.
Banyak perempuan melakukan pelayanan yang tidak terlihat: berdoa untuk keluarga ketika semua orang tidur, merawat orang tua, mendampingi anak, menghibur yang sakit, membantu orang tanpa diketahui. Tuhan melihat semua yang dilakukan dengan kasih. Karena itu jangan habiskan tenaga untuk mencari tepuk tangan manusia. Jadilah setia, dan serahkan penghargaan kepada Tuhan.
Ayat 10 berkata, “Supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi.” Semua akhirnya tunduk kepada Kristus. Karena itu tidak ada ruang bagi kesombongan manusia di hadapan Tuhan. Yang kaya dan sederhana, yang memiliki jabatan dan tidak, yang muda dan tua, semuanya berlutut di hadapan Yesus.
Kesadaran ini seharusnya menolong kita memperlakukan sesama dengan hormat. Jangan mengukur nilai perempuan lain dari pakaian, pendidikan, status keluarga, keadaan ekonomi atau kedudukannya. Kita semua adalah manusia yang hidup oleh anugerah dan berdiri di hadapan Tuhan yang sama.
Ayat 11 berkata, “Dan segala lidah mengaku: Yesus Kristus adalah Tuhan, bagi kemuliaan Allah, Bapa!” Inilah tujuan akhir dari kesatuan Kristen. Kita bersatu bukan supaya W/KI dikenal sebagai kelompok yang hebat, bukan supaya seseorang dipuji, tetapi supaya Kristus dimuliakan.
Ketika W/KI hidup saling mengasihi, tidak saling menjatuhkan, mampu menyelesaikan perbedaan dengan bijaksana, menopang anggota yang lemah dan menjadi sumber damai dalam keluarga serta jemaat, orang lain dapat melihat karya Kristus melalui kehidupan itu. Pengakuan “Yesus Kristus adalah Tuhan” bukan hanya diucapkan dalam ibadah, tetapi dinyatakan melalui cara kita hidup.
PENUTUP
Saudari-saudari W/KI GMIM yang dikasihi Tuhan, melalui Filipi 2:1-11 kita kembali diingatkan bahwa kehidupan Kristen bukan hanya tentang seberapa rajin kita beribadah, seberapa aktif kita mengikuti kegiatan atau seberapa lama kita telah menjadi anggota jemaat, tetapi tentang apakah pikiran dan perasaan Kristus semakin nyata dalam kehidupan kita. Tema “Hendaklah Kamu Sehati Sepikir, Dalam Satu Kasih, Satu Jiwa, Satu Tujuan” mengajak kita melihat kesatuan bukan sekadar sebagai suasana tanpa pertengkaran, melainkan sebagai buah dari hati yang telah disentuh kasih Kristus dan belajar merendahkan diri.
Kesatuan dimulai dari hati kita sendiri. Kita sering berharap suami berubah, anak berubah, saudara berubah, teman berubah atau orang lain di dalam pelayanan berubah, tetapi Firman Tuhan hari ini membawa pertanyaan itu kembali kepada diri kita: apa yang perlu Tuhan ubah dalam hati saya? Mungkin ada kepahitan yang sudah lama disimpan.
Mungkin ada seseorang yang masih sulit kita ampuni. Mungkin kita terlalu mudah tersinggung. Mungkin kita sering membandingkan diri dengan perempuan lain. Mungkin kita masih senang ketika mendengar kekurangan orang lain karena diam-diam membuat kita merasa lebih baik. Mungkin perkataan kita terlalu cepat keluar sebelum dipikirkan. Semua itu perlu dibawa kepada Tuhan.
Sebagai istri, marilah kita menjadi pembawa kasih di dalam rumah. Ini tidak berarti seorang istri harus selalu diam atau menerima semua hal tanpa suara, tetapi ia dipanggil menyampaikan kebenaran dengan kasih dan hikmat. Ketika ada perbedaan dengan suami, carilah jalan untuk memahami dan dipahami, bukan untuk sekadar memenangkan pertengkaran. Rumah tangga tidak menjadi kuat karena satu pihak selalu menang, tetapi karena suami dan istri bersama-sama tunduk kepada Kristus.
Sebagai ibu, kita mempunyai pengaruh besar terhadap pembentukan hati anak. Anak-anak tidak hanya mendengar apa yang kita katakan, tetapi menyerap suasana yang kita ciptakan. Jika mereka bertumbuh dalam rumah yang penuh teriakan, mereka belajar bahwa konflik diselesaikan dengan kemarahan. Jika mereka melihat ibu yang mau meminta maaf, mereka belajar kerendahan hati. Jika mereka melihat ibu yang mengampuni, mereka belajar kasih. Jika mereka melihat ibu berdoa ketika menghadapi masalah, mereka belajar bahwa pertolongan sejati berasal dari Tuhan.
Sebagai oma, jangan pernah merasa bahwa peranan rohani telah selesai. Banyak cucu membutuhkan oma yang mendoakan, mendengar dan mengingatkan mereka kepada Tuhan. Dunia yang mereka hadapi mungkin berbeda dengan dunia yang kita kenal, tetapi mereka tetap membutuhkan teladan iman. Nasihat yang disampaikan dengan kasih, doa yang setia dan kehidupan yang tenang di dalam Tuhan dapat menjadi warisan jauh lebih besar daripada materi.
Sebagai pekerja, tunjukkan pikiran Kristus melalui kejujuran, ketekunan dan cara memperlakukan sesama. Jangan menjadikan tempat kerja sebagai arena saling menjatuhkan. Jangan ikut menyebarkan pembicaraan yang merusak nama orang. Jangan iri terhadap keberhasilan rekan kerja. Jika Tuhan memberkati orang lain, bersukacitalah. Jika Tuhan memberi kita tanggung jawab lebih besar, gunakan itu untuk menolong dan bukan merendahkan.
Sebagai anggota dan pelayan W/KI, marilah kita sungguh menjaga persekutuan. Jangan biarkan perbedaan pilihan, pendapat, kelompok pertemanan atau persoalan pribadi menghancurkan persaudaraan dalam Kristus. Kita boleh berbeda pendapat, tetapi jangan kehilangan kasih.
Kita boleh memberikan kritik, tetapi jangan mempermalukan. Kita boleh tidak setuju, tetapi jangan mengubah ketidaksetujuan menjadi permusuhan. Jangan membawa percakapan yang seharusnya diselesaikan langsung kepada orang yang bersangkutan menjadi bahan pembicaraan dari satu kelompok ke kelompok yang lain.
Ada beberapa hal penting dari Firman Tuhan yang perlu kita bawa pulang.
Pertama, kesatuan lahir dari kasih Kristus yang terlebih dahulu kita terima. Jika hati kita terus dipenuhi oleh kesadaran bahwa kita hidup oleh anugerah, kita akan lebih mudah mengasihi dan mengampuni.
Kedua, kesatuan membutuhkan kerendahan hati. Jangan merasa diri selalu paling benar, dan belajarlah mendengar sebelum menjawab.
Ketiga, kesatuan membutuhkan perhatian kepada orang lain. Jangan hanya melihat kebutuhan dan luka sendiri; lihat pula mereka yang mungkin sedang membutuhkan kita.
Keempat, kesatuan memerlukan kemampuan menerima perbedaan. Tuhan memberikan karunia dan jalan hidup yang berbeda kepada setiap orang, dan semua dapat dipakai untuk membangun tubuh Kristus.
Kelima, kesatuan membutuhkan pengampunan. Tidak mungkin sebuah persekutuan bertahan lama apabila setiap kesalahan disimpan menjadi kepahitan. Keenam, kesatuan membutuhkan tujuan yang sama, yaitu kemuliaan Kristus. Ketika Kristus menjadi pusat, kita tidak perlu saling bersaing untuk menjadi yang terutama.
Tema ini juga mengingatkan bahwa “satu kasih” bukan berarti kasih hanya ketika keadaan menyenangkan. Kasih sejati diuji ketika terjadi perbedaan. “Satu jiwa” bukan berarti kita selalu merasa cocok, tetapi kita tetap menyadari bahwa kita adalah saudari di dalam Kristus. “Satu tujuan” berarti dalam semua kegiatan, pelayanan dan kehidupan keluarga, kita terus bertanya apakah Kristus sedang dimuliakan atau justru diri kita yang sedang berusaha dimuliakan.
Hari ini, mungkin Tuhan sedang mengingatkan kita kepada seseorang. Mungkin ada saudari yang lama tidak kita sapa karena persoalan tertentu. Mungkin ada anggota keluarga yang sedang menunggu kita membuka percakapan. Mungkin ada seseorang yang pernah kita bicarakan secara tidak baik. Mungkin ada hubungan yang sebenarnya dapat dipulihkan apabila kita bersedia merendahkan hati. Jangan menunggu terlalu lama. Ambillah langkah pertama.
Jika kita salah, beranilah meminta maaf. Jika kita disakiti, mintalah kekuatan untuk mengampuni. Jika kita iri, doakan orang yang kita iri hati. Jika kita sering membandingkan diri, ingatlah bahwa nilai kita berasal dari kasih Tuhan, bukan dari perbandingan dengan orang lain. Jika perkataan kita sering melukai, mintalah Roh Kudus menjaga lidah kita. Jika kita terlalu banyak membicarakan kelemahan orang lain, mulailah menggantinya dengan doa.
Belajarlah dari Maria dan Elisabet. Mereka tidak saling bersaing, tetapi saling menguatkan. Biarlah W/KI menjadi tempat perempuan saling membangun, bukan saling menjatuhkan; tempat orang yang terluka menemukan saudari yang mau mendengar; tempat yang lemah mendapatkan dukungan; tempat yang berhasil tidak menjadi sasaran iri hati tetapi mendapat ucapan syukur; tempat kasih Kristus menjadi lebih besar daripada perbedaan.
Dan terutama, pandanglah kepada Kristus. Ia memiliki segala kemuliaan tetapi merendahkan diri. Ia memiliki segala kuasa tetapi memilih melayani. Ia layak mendapat segala kehormatan tetapi rela menanggung salib. Karena itu apabila kita ingin hidup sehati sepikir, kita harus semakin memiliki pikiran dan perasaan seperti Dia.
Marilah kita membawa doa ini di dalam hati: “Tuhan Yesus, bentuklah aku menjadi perempuan yang membawa kasih dan bukan perpecahan. Ajarlah aku merendahkan hati, menjaga perkataan, mengampuni, bersukacita atas berkat orang lain dan memperhatikan mereka yang membutuhkan. Jadikan aku istri yang membawa damai, ibu yang memberi teladan, oma yang mewariskan iman, pekerja yang jujur, dan pelayan yang rendah hati. Ketika ego muncul, ingatkan aku kepada salib-Mu. Ketika iri hati muncul, ingatkan aku bahwa semua berkat berasal dari-Mu. Ketika aku terluka, kuatkan aku supaya tidak membalas dengan luka yang baru.”
Kiranya melalui setiap W/KI GMIM, keluarga merasakan kasih Kristus, anak dan cucu melihat teladan iman, sesama perempuan mendapatkan penguatan, jemaat mengalami damai dan masyarakat melihat bahwa ada cara hidup yang berbeda di dalam Tuhan.
Jangan hanya menjadi perempuan yang banyak melakukan pekerjaan, tetapi jadilah perempuan yang kehadirannya membawa kasih. Jangan hanya dikenal karena kemampuan berbicara, tetapi dikenal karena kata-kata yang membangun. Jangan hanya hadir dalam persekutuan, tetapi jadilah orang yang memperkuat persekutuan.
Hendaklah kita sehati sepikir, bukan karena kita semuanya sama, tetapi karena kita memiliki Tuhan yang sama. Hendaklah kita hidup dalam satu kasih, karena kita semua telah menerima kasih Kristus. Hendaklah kita hidup dalam satu jiwa, karena kita adalah bagian dari satu tubuh.
Hendaklah kita berjalan dalam satu tujuan, yaitu supaya melalui kehidupan kita sebagai perempuan, istri, ibu, oma, pekerja dan pelayan Tuhan, segala lidah mengaku bahwa Yesus Kristus adalah Tuhan bagi kemuliaan Allah Bapa.
Amin.
Editor : Clavel Lukas