Renungan Filipi 2:1-11 untuk P/KB, Hendaklah Kamu Sehati Sepikir, Dalam Satu Kasih, Satu Jiwa, Satu Tujuan

Clavel Lukas • Dipublikasikan Sabtu, 12 September 2026 | 10:06 WIB
Ilustrasi Alkitab.
Ilustrasi Alkitab.

Bacaan: Filipi 2:1-11
Tema: “Hendaklah Kamu Sehati Sepikir, Dalam Satu Kasih, Satu Jiwa, Satu Tujuan”

Saudara-saudara P/KB GMIM yang dikasihi Tuhan, dalam kehidupan seorang pria ada banyak tanggung jawab yang sering kali harus dipikul dalam waktu yang bersamaan. Seorang pria dapat menjadi suami yang harus menjaga dan mengasihi keluarga, menjadi ayah yang membimbing anak-anak, menjadi opa yang memberi teladan kepada cucu, menjadi pekerja yang harus bertanggung jawab terhadap tugas dan kebutuhan rumah tangga, menjadi anggota masyarakat, dan dalam banyak keadaan juga menjadi pelayan Tuhan yang dipanggil untuk memberi diri bagi pekerjaan gereja.

Di tengah semua tanggung jawab itu, seorang pria sering dituntut untuk kuat, tegas, mampu mengambil keputusan dan sanggup menghadapi tekanan, tetapi Firman Tuhan hari ini mengingatkan bahwa kekuatan seorang pria Kristen tidak hanya diukur dari kemampuan memimpin, bekerja keras atau memenuhi kebutuhan keluarga, melainkan juga dari kerendahan hati, kemampuan mengasihi, kesediaan mendengar, keberanian meminta maaf dan kesungguhan menjaga kesatuan.

Banyak persoalan dalam keluarga sebenarnya bukan bermula dari masalah yang sangat besar, tetapi dari ego yang tidak mau mengalah, kata-kata yang terlalu keras, keinginan untuk selalu menang dalam perdebatan, ketidakmampuan mendengar pasangan dan anak-anak, atau perasaan bahwa karena seorang pria adalah kepala keluarga maka semua orang harus mengikuti keinginannya.

Baca Juga: Renungan Filipi 2:1-11, Hendaklah Kamu Sehati Sepikir, Dalam Satu Kasih, Satu Jiwa, Satu Tujuan

Baca Juga: Materi Khotbah Filipi 2:1-11, Hendaklah Kamu Sehati Sepikir, Dalam Satu Kasih, Satu Jiwa Satu Tujuan

Padahal kepala keluarga menurut semangat Kristus bukanlah orang yang menempatkan dirinya paling tinggi, melainkan orang yang bersedia menjadi yang pertama dalam berkorban, yang pertama dalam meminta maaf, yang pertama dalam berdoa, yang pertama dalam melayani dan yang pertama dalam menjaga damai.

Dalam kehidupan P/KB juga demikian. Kita dapat berada dalam satu jemaat, satu kolom, satu kelompok pelayanan, bahkan duduk bersama dalam satu ibadah, tetapi belum tentu hati kita sungguh-sungguh satu. Perbedaan pendapat dalam pelayanan, perbedaan cara bekerja, perbedaan latar belakang pendidikan, ekonomi, usia, pengalaman, bahkan persoalan kecil mengenai posisi dan penghargaan dapat berubah menjadi masalah apabila ego mulai mengambil alih. Karena itu Firman Tuhan dari Filipi 2:1-11 hadir untuk membawa kita kembali kepada pusat kehidupan orang percaya, yaitu Kristus.

Saudara-saudara P/KB GMIM yang dikasihi Tuhan,

Surat Filipi ditulis oleh Rasul Paulus kepada jemaat di Filipi, sebuah kota penting di wilayah Makedonia. Jemaat Filipi memiliki hubungan yang sangat dekat dengan Paulus. Kita mengetahui dari Kisah Para Rasul 16 bahwa Injil mulai diberitakan di Filipi melalui sebuah proses yang penuh perjuangan. Di sana Paulus bertemu dengan Lidia, seorang perempuan yang membuka hatinya bagi Injil, kemudian Paulus dan Silas juga mengalami penganiayaan dan pemenjaraan.

 Namun justru melalui peristiwa yang sulit itu kepala penjara Filipi dan keluarganya percaya kepada Tuhan. Hal ini menunjukkan bahwa sejak awal jemaat Filipi terdiri dari orang-orang dengan latar belakang yang berbeda, namun dipersatukan oleh iman yang sama kepada Yesus Kristus.

Ketika Paulus menulis surat ini, ia berada dalam keadaan terpenjara. Menariknya, Surat Filipi dipenuhi dengan sukacita. Paulus tidak membiarkan keadaan sulit menghilangkan sukacitanya di dalam Kristus. Akan tetapi ia juga mengetahui bahwa kehidupan jemaat harus terus dipelihara, terutama dalam hal kesatuan. Perbedaan, persaingan dan kepentingan pribadi dapat dengan mudah masuk ke dalam persekutuan apabila orang tidak lagi melihat Kristus sebagai pusat.

Karena itu pada Filipi 2 Paulus membawa jemaat kepada dasar yang sangat penting. Ia tidak hanya berkata, “Jangan bertengkar,” tetapi membawa mereka kepada sumber kesatuan yang sejati, yaitu kehidupan di dalam Kristus. Paulus menunjukkan bahwa kesatuan Kristen tidak dibangun hanya dengan aturan, tata tertib, rapat atau pembagian tugas, tetapi dengan hati yang telah dibentuk oleh kasih Kristus.

Tema “sehati sepikir, dalam satu kasih, satu jiwa, satu tujuan” bukan berarti semua orang harus memiliki pendapat yang sama dalam segala hal. Tuhan menciptakan manusia dengan kemampuan, karakter dan pengalaman yang berbeda. Kesatuan bukan keseragaman. Kesatuan adalah ketika orang-orang yang berbeda tetap menempatkan Kristus sebagai pusat, sehingga perbedaan tidak berubah menjadi permusuhan.

Dalam keluarga, suami dan istri tidak harus memiliki cara berpikir yang selalu sama, tetapi mereka dipanggil mengarahkan rumah tangga kepada tujuan yang sama, yaitu hidup takut akan Tuhan. Dalam pelayanan, setiap orang dapat memiliki gagasan yang berbeda, tetapi tujuan akhir harus sama, yaitu membangun jemaat dan memuliakan Kristus.

Puncak dari pembacaan ini adalah teladan Yesus Kristus. Paulus menunjukkan bahwa Kristus yang mempunyai kemuliaan ilahi tidak menggunakan kedudukan-Nya untuk meninggikan diri, tetapi merendahkan diri, mengambil rupa seorang hamba dan taat sampai mati di kayu salib. Jadi kesatuan hanya akan terpelihara apabila setiap orang belajar memiliki pikiran dan perasaan yang terdapat dalam Kristus.

PEMBAHASAN AYAT PER AYAT

Ayat 1 berkata, “Jadi karena dalam Kristus ada nasihat, ada penghiburan kasih, ada persekutuan Roh, ada kasih mesra dan belas kasihan.” Paulus memulai pembahasannya dengan mengingatkan apa yang sudah diterima oleh orang percaya. Sebelum meminta jemaat hidup dalam kesatuan, Paulus terlebih dahulu menunjukkan bahwa mereka sudah menerima kasih dan penghiburan dari Kristus. Ini berarti bahwa kehidupan Kristen selalu bermula dari anugerah. Kita mengasihi bukan supaya Tuhan mengasihi kita, tetapi karena kita telah lebih dahulu menerima kasih-Nya. Kita mengampuni karena kita sendiri telah diampuni. Kita berbelas kasihan karena Allah telah berbelas kasihan kepada kita.

Bagi seorang pria, kesadaran ini sangat penting, karena sering kali ego membuat kita lebih banyak menghitung apa yang belum dilakukan istri, anak atau orang lain bagi kita, daripada mengingat apa yang Tuhan sudah lakukan. Kita mungkin berkata, “Istri saya tidak memahami saya,” “Anak-anak tidak menghargai saya,” “Orang di tempat kerja tidak menghormati saya,” tetapi Firman Tuhan mengajak kita bertanya lebih dahulu: apakah saya sudah menunjukkan kasih Kristus kepada mereka? Orang yang terus mengingat belas kasihan Tuhan akan lebih mudah lembut, lebih mudah mengampuni dan lebih sulit menyombongkan diri.

Ayat 2 berkata, “Karena itu sempurnakanlah sukacitaku dengan ini: hendaklah kamu sehati sepikir, dalam satu kasih, satu jiwa, satu tujuan.” Inilah inti tema renungan kita. Paulus melihat bahwa salah satu tanda kedewasaan rohani sebuah jemaat adalah kemampuannya hidup dalam kesatuan. Bagi P/KB, ayat ini sangat relevan karena seorang pria sering mempunyai peran besar dalam menentukan arah keluarga.

Seorang ayah harus mampu membawa keluarganya kepada satu tujuan rohani. Sehati sepikir tidak berarti suami harus memaksakan pendapatnya kepada istri dan anak-anak, tetapi seluruh keluarga belajar menundukkan pikiran mereka kepada Kristus. Satu kasih berarti kasih tidak tergantung pada keadaan. 

Kita tetap mengasihi istri walaupun sedang kecewa, tetap mengasihi anak walaupun ia melakukan kesalahan, tetap menghormati saudara seiman walaupun berbeda pendapat. Satu jiwa berarti kita menyadari bahwa kita membutuhkan satu sama lain. Satu tujuan berarti rumah tangga, pekerjaan dan pelayanan diarahkan kepada kehendak Tuhan. 

Banyak keluarga menjadi sibuk mengejar uang, pendidikan, rumah, kendaraan dan masa depan, tetapi kehilangan tujuan rohani. Firman Tuhan mengingatkan bahwa keberhasilan terbesar keluarga bukan sekadar memiliki banyak, tetapi hidup bersama menuju Tuhan.

Ayat 3 berkata, “Dengan tidak mencari kepentingan sendiri atau puji-pujian yang sia-sia. Sebaliknya hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama daripada dirinya sendiri.” Paulus menyentuh salah satu pergumulan besar dalam diri manusia, termasuk kaum pria, yaitu ego.

Seorang pria dapat merasa harga dirinya terganggu ketika pendapatnya tidak diikuti, ketika orang lain lebih dihargai atau ketika ia merasa posisinya tidak dianggap. Karena itu banyak konflik sebenarnya bukan soal kebenaran, tetapi soal gengsi. Dalam rumah tangga, seorang suami dapat merasa bahwa meminta maaf akan membuat wibawanya turun. Padahal justru kemampuan berkata, “Saya salah, maafkan saya,” menunjukkan kekuatan karakter. 

Dalam pelayanan, seorang pria dapat merasa kecewa karena namanya tidak disebut, pendapatnya tidak dipakai atau orang lain mendapat kesempatan lebih besar. Firman Tuhan berkata jangan mencari pujian yang sia-sia. Kerendahan hati bukan kelemahan. Yesus sendiri menunjukkan bahwa orang yang benar-benar kuat adalah orang yang mampu merendahkan diri tanpa kehilangan martabatnya.

Ayat 4 berkata, “Dan janganlah tiap-tiap orang hanya memperhatikan kepentingannya sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga.” Firman ini sangat praktis bagi seorang suami dan ayah. Kadang-kadang pria merasa bahwa karena sudah bekerja keras dan membawa penghasilan ke rumah, tanggung jawabnya selesai.

Padahal keluarga membutuhkan lebih dari sekadar materi. Istri membutuhkan kehadiran, perhatian dan komunikasi. Anak-anak membutuhkan ayah yang mendengar, membimbing, berdoa dan memberi teladan. Seorang ayah mungkin memenuhi semua kebutuhan sekolah anak tetapi jarang bertanya tentang isi hati anaknya. 

Seorang suami dapat memberikan uang belanja tetapi tidak pernah sungguh-sungguh mendengar pergumulan istrinya. Paulus mengingatkan bahwa kasih sejati memandang kepentingan orang lain. Di tempat kerja, seorang pria Kristen tidak hanya mengejar keuntungan dirinya sendiri tetapi memperhatikan kesejahteraan orang lain. Dalam gereja, ia tidak hanya memikirkan kelompoknya, jabatannya atau keinginannya sendiri, tetapi keseluruhan tubuh Kristus.

Ayat 5 berkata, “Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus.” Inilah pusat seluruh pembacaan. Paulus tidak sekadar mengajarkan etika kesopanan, tetapi perubahan batin yang sangat dalam. Seorang pria Kristen tidak cukup hanya menjadi pekerja keras atau pemimpin yang tegas; ia harus memiliki pikiran Kristus.

Pikiran Kristus memengaruhi cara kita melihat istri, anak, pekerjaan dan pelayanan. Istri bukan orang yang harus selalu mengikuti kemauan kita, tetapi pasangan hidup yang harus dikasihi sebagaimana Kristus mengasihi jemaat. Anak bukan sekadar orang yang harus menaati perintah ayah, tetapi jiwa yang Tuhan percayakan untuk dibimbing. 

Jabatan bukan alat untuk berkuasa, tetapi kesempatan melayani. Ketika ada konflik, pikiran Kristus membuat kita bertanya bukan “Bagaimana saya menang?” melainkan “Bagaimana kebenaran dan kasih Tuhan dinyatakan?” Ketika tersinggung, kita tidak langsung membalas, tetapi belajar melihat melalui hati Kristus.

Ayat 6 berkata mengenai Kristus, “yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan.” Kristus memiliki kemuliaan dan kedudukan yang tidak dapat dibandingkan dengan manusia, tetapi Ia tidak menggunakan hak itu untuk kepentingan diri sendiri.

Ini menjadi teguran kuat bagi siapa pun yang memiliki posisi. Seorang suami yang memahami dirinya sebagai kepala keluarga jangan menggunakan kedudukan itu untuk menuntut pelayanan, tetapi untuk menjadi yang pertama dalam berkorban. 

Seorang pemimpin di tempat kerja jangan menggunakan kekuasaan untuk mempermalukan bawahan. Seorang pelayan Tuhan jangan merasa dirinya lebih suci atau lebih penting daripada jemaat lain. Kristus menunjukkan bahwa kekuasaan yang benar selalu digunakan untuk melayani. Semakin besar kepercayaan yang diberikan Tuhan, semakin besar pula tanggung jawab untuk merendahkan diri.

Ayat 7 berkata, “Melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia.” Kristus mengambil rupa seorang hamba. Inilah sesuatu yang sangat bertolak belakang dengan kecenderungan dunia. Dunia mengajarkan bahwa orang yang berhasil adalah orang yang semakin banyak dilayani, sedangkan Kristus menunjukkan bahwa kebesaran justru dinyatakan melalui pelayanan.

Bagi P/KB, hal ini penting. Tidak ada yang membuat seorang ayah kehilangan wibawa hanya karena ia membantu pekerjaan rumah, mendampingi anak belajar, mengurus orang tua yang sudah lanjut usia atau melayani keluarga dengan kasih. Justru dalam tindakan seperti itu anak-anak melihat teladan Kristus. Seorang pria yang mau melayani tidak menjadi lebih kecil, tetapi semakin serupa dengan Tuhan yang ia sembah.

Ayat 8 berkata, “Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib.” Di dalam Kristus, kerendahan hati mencapai puncaknya pada salib. Ia tidak hanya berbicara tentang kasih, tetapi membayar harga kasih itu dengan pengorbanan. Ini mengajarkan bahwa menjaga keluarga dan kesatuan membutuhkan pengorbanan. Ada saat seorang suami harus menahan ego agar pertengkaran tidak semakin besar.

Ada saat seorang ayah harus mengurangi kesibukan supaya dapat hadir bagi anak. Ada saat seorang pria harus melepaskan kebiasaan buruk demi keluarganya. Ada saat kita harus mengampuni walaupun hati masih terluka. Pengorbanan tidak selalu nyaman, tetapi kasih yang sejati memang tidak selalu memilih jalan yang mudah. Salib menunjukkan bahwa ketaatan kepada Allah lebih tinggi daripada kenyamanan pribadi.

Ayat 9 berkata, “Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama.” Setelah Kristus merendahkan diri, Allah meninggikan Dia. Ini mengajarkan bahwa orang percaya tidak perlu terus berusaha meninggikan dirinya sendiri. Banyak pria hidup dengan tekanan untuk membuktikan diri, harus lebih berhasil, lebih kaya, lebih dihormati atau lebih berpengaruh.

Tetapi Firman Tuhan mengingatkan bahwa nilai hidup kita tidak ditentukan oleh tepuk tangan manusia. Tugas kita adalah setia. Jika Tuhan memberikan kedudukan, terimalah dengan rendah hati. Jika tidak mendapat penghargaan, tetaplah melayani. Jangan mengejar nama, karena Allah melihat kesetiaan yang mungkin tidak dilihat manusia.

Ayat 10 berkata, “Supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi.” Semua kuasa pada akhirnya tunduk kepada Kristus. Seorang pria yang sadar bahwa Kristus adalah Tuhan tidak akan bertindak seolah-olah dirinya adalah penguasa mutlak dalam keluarga. Ia tahu bahwa dirinya pun harus bertekuk lutut di hadapan Tuhan.

Karena itu kepemimpinan seorang pria Kristen harus selalu berada di bawah otoritas Kristus. Sebelum menuntut anak menaati kita, kita harus bertanya apakah kita sendiri taat kepada Tuhan. Sebelum meminta keluarga takut kepada Tuhan, kita harus menunjukkan bahwa kita hidup takut akan Tuhan. Anak-anak belajar menghormati Allah bukan hanya dari nasihat ayah, tetapi dari cara ayah menjalani hidup.

Ayat 11 berkata, “Dan segala lidah mengaku: Yesus Kristus adalah Tuhan, bagi kemuliaan Allah, Bapa!” Inilah tujuan akhir semuanya. Keluarga bukan dibangun untuk membesarkan nama ayah, tetapi untuk memuliakan Kristus. Pelayanan bukan untuk membuat kita dikenal, tetapi supaya Yesus dikenal.

Pekerjaan bukan hanya untuk mengumpulkan kekayaan, tetapi menjadi ruang kesaksian. Apabila orang melihat kejujuran kita, kesetiaan kita kepada istri, kasih kepada anak, kerendahan hati di tempat kerja dan kesediaan berdamai, semua itu seharusnya membawa orang kepada pengakuan bahwa Kristus bekerja dalam hidup kita.

PENUTUP

Saudara-saudara P/KB GMIM yang dikasihi Tuhan, tema hari ini, “Hendaklah Kamu Sehati Sepikir, Dalam Satu Kasih, Satu Jiwa, Satu Tujuan,” bukan sekadar tema yang indah untuk dibicarakan dalam persekutuan, tetapi panggilan yang harus nyata dalam kehidupan kita setiap hari. Tuhan memanggil kita sebagai pria Kristen bukan hanya untuk menjadi kuat secara fisik, berhasil dalam pekerjaan atau mampu memenuhi kebutuhan keluarga, tetapi menjadi pria yang hatinya telah dibentuk oleh Kristus.

Kesatuan dimulai ketika ego kita mulai ditundukkan. Kita mungkin memiliki pendidikan lebih tinggi, pengalaman lebih banyak, jabatan lebih besar atau kemampuan lebih kuat daripada orang lain, tetapi semua itu bukan alasan untuk meninggikan diri. Kristus yang memiliki segala kemuliaan justru merendahkan diri. Jika Tuhan kita memilih jalan kerendahan hati, bagaimana mungkin kita yang hidup oleh anugerah-Nya justru memilih jalan kesombongan?

Sebagai suami, marilah kita bertanya apakah istri kita sungguh merasakan kasih Kristus melalui kehidupan kita. Jangan hanya bertanya apakah istri menghormati kita, tetapi tanyakan apakah kita mengasihinya dengan pengorbanan. Jangan hanya menuntut untuk didengar, tetapi belajarlah mendengar. Jangan hanya memerintah, tetapi melayani. Kepala keluarga menurut teladan Kristus bukan orang yang paling banyak menuntut, tetapi yang paling siap memikul tanggung jawab.

Sebagai ayah, kita perlu menyadari bahwa anak-anak mengamati kehidupan kita lebih tajam daripada mendengarkan nasihat kita. Mereka melihat cara kita berbicara kepada ibu mereka, cara kita menghadapi tekanan, cara kita menggunakan uang, cara kita bereaksi ketika marah, cara kita memperlakukan orang yang dianggap lebih rendah, dan cara kita menjalani iman.

Jika kita ingin anak-anak hidup rendah hati, mereka harus melihat ayah yang rendah hati. Jika ingin mereka belajar meminta maaf, mereka harus melihat ayah yang berani meminta maaf. Jika ingin mereka berdoa, mereka perlu melihat ayah berdoa. Jika ingin mereka hidup jujur, mereka perlu melihat ayah yang tidak bermain dengan ketidakjujuran.

Sebagai opa, kita memiliki kesempatan besar meninggalkan warisan iman. Cucu-cucu mungkin tidak akan mengingat semua nasihat yang pernah kita sampaikan, tetapi mereka akan mengingat bagaimana kita memperlakukan mereka, bagaimana kita berdoa, bagaimana kita memperlakukan pasangan dan bagaimana kita menjalani masa tua. Warisan terbesar seorang pria bukan hanya rumah, tanah, tabungan atau harta, tetapi iman yang hidup dan teladan yang dapat diteruskan kepada generasi berikutnya.

Sebagai pekerja, kita dipanggil menunjukkan bahwa Kristus menjadi Tuhan juga dalam pekerjaan. Jangan membiarkan persaingan membuat kita menjatuhkan orang lain. Jangan menggunakan kekuasaan untuk merendahkan bawahan. Jangan mengambil keuntungan dengan cara yang tidak benar. Jangan menjadikan keberhasilan sebagai alasan untuk merasa lebih tinggi. Bekerjalah dengan sungguh-sungguh, tetapi tetap rendah hati. Keberhasilan sejati bukan hanya ketika kita naik jabatan, tetapi ketika karakter Kristus tetap terpelihara di tengah keberhasilan.

Sebagai pelayan Tuhan, marilah kita menjaga hati dari persaingan dan keinginan mencari pujian. Pelayanan dapat menjadi tempat yang sangat indah, tetapi juga dapat menjadi tempat ego bersembunyi di balik aktivitas rohani. Kita dapat mengatakan bahwa kita melayani Tuhan tetapi sebenarnya kecewa ketika orang lain lebih dihargai. Kita dapat mengatakan bahwa kita bekerja bagi jemaat tetapi diam-diam ingin pendapat selalu diterima. Karena itu Firman Tuhan mengajak kita kembali kepada satu tujuan: bukan supaya nama kita dikenal, tetapi supaya Yesus Kristus dimuliakan.

Ada beberapa hal penting yang perlu kita bawa pulang dari renungan ini. Pertama, kesatuan harus dimulai dari diri sendiri. Jangan menunggu istri berubah, anak berubah, teman berubah atau jemaat berubah. Tanyakan lebih dahulu apa yang Tuhan ingin ubah dalam diri kita.

Kedua, kesatuan membutuhkan kerendahan hati. Belajarlah meminta maaf, menerima koreksi dan mendengar orang lain. Ketiga, kesatuan dibangun dengan kasih yang nyata. Kasih bukan hanya kata-kata, tetapi kehadiran, perhatian, pelayanan dan pengorbanan.

Keempat, kesatuan membutuhkan tujuan yang sama. Keluarga harus mempunyai arah rohani, bukan hanya target materi. Kelima, kepemimpinan Kristen adalah pelayanan. Semakin besar tanggung jawab, semakin besar pula kesediaan melayani. Keenam, Kristus harus selalu menjadi pusat. Jika Kristus menjadi pusat, ego kita akan semakin kecil dan kasih akan semakin besar.

Hari ini mungkin ada di antara kita yang sedang mengalami hubungan yang tidak harmonis dengan istri, anak, saudara atau rekan pelayanan. Jangan biarkan keadaan itu terus berlarut. Ambillah langkah pertama. Jangan menunggu orang lain mengaku salah terlebih dahulu. Jika kita tahu kita salah, katakanlah, “Maafkan saya.”

Jika ada yang perlu kita ampuni, mintalah Tuhan memberi kekuatan untuk mengampuni. Jika ada kata-kata kasar yang biasa keluar, mulai belajar menahan lidah. Jika selama ini terlalu sibuk bekerja dan kurang hadir bagi keluarga, mulailah menyediakan waktu. Jika selama ini pelayanan membuat kita merasa lebih penting, kembalilah kepada kaki salib dan ingat bahwa semua kita hanyalah hamba.

Seorang pria Kristen yang dewasa bukan orang yang tidak pernah salah, tetapi orang yang mau dibentuk Tuhan ketika salah. Ia bukan orang yang selalu menang dalam setiap perdebatan, tetapi tahu kapan harus mengalah demi kasih. Ia bukan orang yang mengendalikan keluarganya dengan ketakutan, tetapi memimpin dengan kasih. Ia bukan orang yang menyembunyikan kelemahan di balik gengsi, tetapi berani membawa kelemahannya kepada Tuhan.

Marilah kita memohon, “Tuhan Yesus, jadikan aku pria yang memiliki pikiran dan perasaan seperti Engkau. Bentuklah aku menjadi suami yang mengasihi, ayah yang memberi teladan, opa yang mewariskan iman, pekerja yang jujur, pelayan yang rendah hati dan pemimpin yang melayani. Singkirkan kesombongan, gengsi, kepentingan diri dan keinginan mencari pujian. Ajarlah aku memperhatikan kepentingan orang lain, menjaga kesatuan dan menjadi pembawa damai.”

Dan kiranya tema ini benar-benar hidup dalam setiap rumah tangga P/KB GMIM. Biarlah suami dan istri berjalan dalam satu kasih. Biarlah ayah dan anak-anak bertumbuh dalam satu jiwa. Biarlah keluarga mempunyai satu tujuan, yaitu hidup takut akan Tuhan dan memuliakan nama-Nya. Biarlah P/KB menjadi persekutuan pria yang tidak hanya kuat dalam organisasi dan kegiatan, tetapi kuat dalam karakter, kerendahan hati, kasih dan kesatuan.

Pada akhirnya, kehidupan kita bukan tentang siapa yang paling besar, siapa yang paling berhasil atau siapa yang paling dihormati. Pada akhirnya semua lutut akan bertekuk dan segala lidah akan mengaku bahwa Yesus Kristus adalah Tuhan. Karena itu selama masih diberi kesempatan hidup, marilah kita memakai kekuatan, kemampuan, pekerjaan, keluarga, jabatan dan pelayanan kita bukan untuk membesarkan diri, tetapi untuk memuliakan Kristus.

Hendaklah kita sehati sepikir, bukan karena semua kita sama, tetapi karena kita memiliki Kristus yang sama. Hendaklah kita hidup dalam satu kasih, karena kita telah lebih dahulu dikasihi oleh Tuhan. Hendaklah kita hidup dalam satu jiwa, karena kita adalah satu tubuh di dalam Kristus. Dan hendaklah kita hidup dalam satu tujuan, yaitu supaya melalui kehidupan kita sebagai pria, suami, ayah, opa, pekerja, pelayan dan pemimpin, nama Yesus Kristus semakin dimuliakan.

Amin.

Editor : Clavel Lukas
mtpj gmim PKB GMIM khotbah P/KB Renungan