Ayat Kunci
“Sebab sesungguhnya, apabila kaki para imam pengangkat tabut TUHAN, Tuhan semesta alam, berhenti di dalam air sungai Yordan, maka air sungai Yordan itu akan terputus, yakni air yang turun dari hulu, dan berhenti menjadi bendungan.”..
— Yosua 3:13
Perjalanan bangsa Israel menuju Tanah Perjanjian memasuki sebuah tahap yang sangat menentukan. Setelah bertahun-tahun berada di padang gurun, mereka akhirnya berdiri di hadapan Sungai Yordan. Di seberang sungai itulah terdapat tanah yang telah dijanjikan Tuhan kepada mereka.
Namun, ada satu persoalan: Sungai Yordan sedang meluap.
Secara manusia, keadaan tersebut tentu menjadi penghalang. Mereka tidak memiliki jalan yang mudah untuk menyeberang. Tetapi Tuhan tidak pernah membawa umat-Nya sampai pada sebuah titik tanpa menyediakan jalan.
Melalui Yosua 3, Tuhan memberikan perintah kepada bangsa Israel untuk mengikuti tabut perjanjian. Para imam harus mengangkat tabut dan berjalan mendahului bangsa itu. Ketika kaki para imam menginjak air Sungai Yordan, mujizat terjadi. Air sungai yang mengalir dari hulu berhenti, sehingga seluruh bangsa Israel dapat menyeberang melalui tanah yang kering.
Hal yang menarik adalah air tidak berhenti sebelum para imam melangkah.
Ini mengajarkan sesuatu yang penting tentang iman. Sering kali kita ingin melihat mujizat terlebih dahulu baru kemudian mau melangkah. Kita ingin memastikan semuanya aman, jelas, dan tidak berisiko. Tetapi Tuhan justru sering meminta kita melangkah dalam iman terlebih dahulu, lalu kita akan melihat bagaimana Tuhan bekerja.
1. Ikuti Hadirat Tuhan
Dalam Yosua 3, bangsa Israel diperintahkan untuk memperhatikan tabut perjanjian dan mengikutinya. Tabut menjadi tanda kehadiran Tuhan di tengah-tengah umat-Nya.
Bagi kita pada masa kini, kehidupan orang percaya juga harus diarahkan oleh hadirat Tuhan. Jangan mengambil keputusan hanya berdasarkan apa yang terlihat oleh mata atau berdasarkan ketakutan.
Ada saatnya keadaan berkata, “Tidak mungkin.”
Ada saatnya logika berkata, “Jangan maju.”
Namun ketika Tuhan berkata, “Berjalanlah,” maka kita harus belajar percaya.
Kehidupan dalam Roh Kudus berarti belajar peka terhadap pimpinan Tuhan. Roh Kudus menolong kita untuk tidak berjalan berdasarkan kehendak sendiri, tetapi belajar mengikuti kehendak Allah.
Jangan mendahului Tuhan, tetapi jangan juga tertinggal ketika Tuhan menyuruh kita berjalan.
2. Iman Membutuhkan Langkah
Bangsa Israel tidak hanya berdiri di tepi Yordan sambil menunggu sungai mengering. Para imam harus masuk ke dalam air.
Di sinilah kita melihat bahwa iman bukan hanya tentang mengetahui janji Tuhan, tetapi juga berani bertindak berdasarkan janji tersebut.
Mungkin hari ini ada seseorang yang sedang berada di depan “Sungai Yordan” dalam kehidupannya.
Ada yang menghadapi persoalan keluarga.
Ada yang sedang bergumul dengan pekerjaan.
Ada yang sedang menantikan jawaban doa.
Ada yang menghadapi masa depan yang belum jelas.
Ada yang merasa jalan di depannya tertutup.
Yosua 3 mengingatkan kita bahwa besarnya sungai bukan ukuran besarnya kuasa Tuhan.
Sungai boleh meluap, tetapi Tuhan tetap sanggup membuka jalan.
Jangan biarkan besarnya masalah membuat kita lupa bahwa kita memiliki Allah yang lebih besar daripada masalah tersebut.
3. Tuhan Membuka Jalan yang Tidak Kita Sangka
Ketika para imam menginjakkan kaki ke dalam air, Tuhan menghentikan aliran Sungai Yordan. Bangsa Israel kemudian berjalan di tanah yang kering.
Mujizat tersebut menunjukkan bahwa Tuhan sanggup menciptakan jalan di tempat yang menurut manusia tidak memiliki jalan.
Kadang-kadang kita terlalu fokus mencari jalan keluar dengan kemampuan sendiri. Kita mencoba berbagai cara, menghitung kemungkinan, dan akhirnya menjadi takut karena semua jalan terlihat tertutup.
Namun Tuhan tidak terbatas pada jalan yang dapat kita lihat.
Ketika manusia melihat sungai, Tuhan melihat jalan penyeberangan.
Ketika manusia melihat hambatan, Tuhan melihat kesempatan untuk menyatakan kuasa-Nya.
Karena itu, jangan cepat menyimpulkan bahwa sebuah keadaan sudah berakhir. Bisa jadi justru di tempat itulah Tuhan sedang mempersiapkan sebuah mujizat.
4. Jangan Lupakan Mujizat Tuhan
Setelah Israel menyeberangi Sungai Yordan, Tuhan memberikan perintah kepada Yosua untuk mengambil dua belas batu dari tengah Sungai Yordan.
Batu-batu tersebut menjadi tanda peringatan bagi generasi berikutnya.
Yosua 4 mengajarkan bahwa pengalaman bersama Tuhan tidak boleh dilupakan.
Ada begitu banyak pertolongan Tuhan yang pernah kita alami. Ada doa yang pernah dijawab. Ada pintu yang pernah dibukakan. Ada bahaya yang pernah Tuhan hindarkan. Ada keadaan yang dahulu tampak mustahil tetapi akhirnya Tuhan selesaikan.
Namun manusia mudah lupa.
Karena itu, kita membutuhkan “batu peringatan” dalam kehidupan rohani. Bukan berarti kita harus menyimpan batu secara harfiah, tetapi kita perlu mengingat pekerjaan Tuhan dalam hidup kita.
Ketika suatu hari kita kembali menghadapi masalah, kita dapat berkata:
“Dahulu Tuhan menolong saya. Tuhan yang sama masih ada sampai hari ini.”
Kesaksian tentang pertolongan Tuhan bukan hanya untuk menguatkan diri sendiri, tetapi juga menjadi warisan iman bagi keluarga dan generasi berikutnya.
5. Mujizat Tuhan Harus Membawa Kita Semakin Mengenal-Nya
Tujuan Tuhan menghentikan Sungai Yordan bukan sekadar supaya Israel dapat menyeberang. Peristiwa tersebut juga menjadi kesaksian bahwa Tuhan menyertai Yosua sebagaimana dahulu Ia menyertai Musa.
Dengan kata lain, mujizat Tuhan memiliki tujuan rohani: supaya manusia semakin mengenal dan menghormati Tuhan.
Ketika Tuhan menolong kita, jangan hanya berhenti pada kalimat, “Puji Tuhan, masalah saya selesai.”
Lebih dalam daripada itu, kita harus berkata:
“Melalui pertolongan ini, saya semakin mengenal siapa Tuhan dalam hidup saya.”
Tuhan bukan hanya pemberi mujizat. Dia adalah Tuhan yang harus kita sembah, kita percayai, dan kita ikuti.
Aplikasi dalam Kehidupan
Pertama, jangan takut terhadap “Sungai Yordan” dalam hidup kita.
Masalah yang sedang kita hadapi mungkin besar, tetapi kuasa Tuhan jauh lebih besar.
Kedua, belajar melangkah dalam iman.
Jangan menunggu semua keadaan sempurna baru menaati Tuhan. Ketika Tuhan memberikan arah yang jelas, lakukan dengan iman.
Ketiga, jadikan Roh Kudus sebagai penuntun.
Sebagai umat Pantekosta, kita percaya bahwa Roh Kudus hadir untuk menolong, memimpin, menguatkan, dan mengarahkan kehidupan orang percaya.
Keempat, jangan melupakan pertolongan Tuhan.
Catat dalam hati setiap kebaikan dan kesetiaan Tuhan. Ingat kembali bagaimana Tuhan menolong kita pada masa lalu ketika kita sedang menghadapi pergumulan baru.
Kelima, ceritakan karya Tuhan kepada generasi berikutnya.
Seperti dua belas batu yang menjadi tanda bagi anak-anak Israel, pengalaman kita bersama Tuhan dapat menjadi kesaksian yang menguatkan anak, keluarga, dan orang-orang di sekitar kita.
Yosua 3–4 mengajarkan bahwa Tuhan sanggup membuka jalan ketika tidak ada jalan yang terlihat. Sungai Yordan yang meluap tidak mampu menggagalkan rencana Tuhan bagi Israel.
Namun Israel harus berani melangkah. Para imam harus terlebih dahulu memasukkan kaki mereka ke dalam air. Setelah mereka taat dan melangkah, Tuhan menyatakan kuasa-Nya.
Hari ini mungkin kita sedang berdiri di tepi “Yordan” kita masing-masing. Jangan melihat besarnya air dan melupakan besarnya Tuhan.
Ikuti hadirat-Nya, dengarkan suara-Nya, melangkahlah dalam iman, dan percayalah bahwa Tuhan sanggup membuka jalan.
Dan ketika Tuhan sudah membawa kita melewati pergumulan itu, jangan pernah melupakan pertolongan-Nya. Jadikan pengalaman tersebut sebagai “batu peringatan” yang terus mengingatkan kita:
Tuhan yang menolong kemarin adalah Tuhan yang tetap menyertai kita hari ini dan sampai selama-lamanya.
DOA
Tuhan Yesus, kami bersyukur untuk firman-Mu hari ini. Ajarlah kami untuk tetap percaya ketika kami berada di hadapan keadaan yang tampaknya mustahil. Berikan kami keberanian untuk melangkah dalam iman dan ketaatan. Biarlah Roh Kudus memimpin setiap langkah kehidupan kami sehingga kami tidak berjalan menurut kehendak sendiri, tetapi mengikuti kehendak-Mu.
Ketika kami menghadapi “Sungai Yordan” dalam kehidupan kami, kuatkan iman kami untuk percaya bahwa Engkau sanggup membuka jalan. Tolong kami juga untuk tidak pernah melupakan setiap pertolongan dan kebaikan-Mu. Biarlah kesaksian hidup kami menjadi berkat bagi keluarga dan generasi yang akan datang.
Dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa. Amihn (*)
Editor : Deiby Rotinsulu