Bacaan: Yohanes 10:1–21
Tema: “Aku Mengenal Domba-Domba-Ku Dan Domba-Domba-Ku Mengenal Aku”
Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan, ada perbedaan besar antara dikenal oleh banyak orang dan sungguh-sungguh dipahami oleh seseorang yang mengasihi kita. Orang lain mungkin mengenal nama kita, pekerjaan kita, keluarga kita, bahkan mengetahui kegiatan yang kita bagikan, tetapi belum tentu mereka memahami pergumulan yang kita simpan.
Seseorang dapat terlihat ramah dan tetap menjalankan tanggung jawabnya, sementara di dalam hati ia sedang memikul kesedihan, kekhawatiran, atau rasa lelah yang sulit dijelaskan. Dalam keadaan seperti itu, yang kita butuhkan bukan hanya orang yang mengetahui keadaan kita, melainkan seseorang yang bersedia mendekat, mendengarkan, menuntun, dan tetap mengasihi ketika melihat kelemahan kita.
Kerinduan untuk dikenal dan dikasihi membawa kita kepada firman Tuhan dalam Yohanes 10:1–21. Melalui gambaran seorang gembala dan kawanan dombanya, Yesus memperlihatkan hubungan yang tidak dibangun di atas kepentingan sesaat, melainkan di atas kepedulian dan pengorbanan. Ia bukan pemimpin yang hanya membutuhkan pengikut, bukan pula penolong yang hadir selama keadaan menguntungkan.
Ia mengenal milik-Nya dan menyerahkan hidup-Nya bagi mereka. Karena itu, tema “Aku Mengenal Domba-Domba-Ku Dan Domba-Domba-Ku Mengenal Aku” membawa penghiburan sekaligus panggilan: kita dikasihi secara pribadi oleh Kristus, tetapi kita juga dipanggil untuk semakin mengenal dan mengikuti-Nya.
Persoalannya, kita dapat mengetahui banyak hal tentang Yesus tanpa sungguh-sungguh menyerahkan arah kehidupan kepada-Nya. Kita mungkin mengetahui kisah kelahiran, pelayanan, kematian, dan kebangkitan-Nya, tetapi ketika harus mengambil keputusan, suara yang paling menentukan justru suara ketakutan, gengsi, keuntungan, atau keinginan sendiri.
Kita dapat datang beribadah, tetapi belum menyediakan ruang untuk mendengarkan firman dengan hati yang bersedia dibentuk. Karena itu, renungan ini mengajak kita bukan hanya bertanya apakah kita mengenal nama Yesus, melainkan apakah kita mempercayai karakter-Nya, menerima tuntunan-Nya, dan mau berjalan menurut kehendak-Nya.
Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan,
Injil Yohanes secara tradisional dihubungkan dengan kesaksian Yohanes, murid Yesus. Banyak peneliti menempatkan penyusunan akhirnya pada penghujung abad pertama, walaupun proses penyusunannya tetap menjadi bahan pembahasan. Injil ini memberi perhatian besar pada pengenalan akan pribadi Yesus melalui tanda-tanda, percakapan, dan pengajaran-Nya.
Tujuan penulisannya dinyatakan dalam Yohanes 20:30–31, yaitu membawa pembaca kepada iman bahwa Yesus adalah Mesias, Anak Allah, sehingga melalui iman itu mereka menerima kehidupan dalam nama-Nya. Dengan demikian, membaca Injil Yohanes bukan hanya mempelajari peristiwa masa lalu, melainkan menerima kesaksian yang mengundang kita percaya kepada Kristus.
Bacaan Yohanes 10:1–21 perlu dibaca bersama peristiwa dalam Yohanes 9. Pada pasal sebelumnya, Yesus menyembuhkan seorang yang buta sejak lahir, tetapi kesembuhan itu menimbulkan pemeriksaan dan pertentangan di antara para pemimpin agama. Orang yang disembuhkan tersebut akhirnya diusir setelah mempertahankan kesaksiannya tentang Yesus.
Ketika mendengar hal itu, Yesus menjumpainya dan membawanya kepada pengakuan iman. Hubungan kedua pasal ini penting: seseorang yang ditolak oleh mereka yang mengaku memahami perkara Allah justru dijumpai oleh Yesus. Dalam konteks itulah gambaran Gembala yang baik memperlihatkan perbedaan antara kepemimpinan yang memelihara manusia dan kepemimpinan yang mengabaikannya.
Gambaran gembala juga berakar dalam Perjanjian Lama. Dalam Yehezkiel 34, Tuhan menegur para gembala Israel yang mengurus kepentingan sendiri tetapi tidak menguatkan yang lemah, merawat yang terluka, atau mencari yang tersesat. Sebaliknya, Tuhan menyatakan bahwa Ia sendiri akan mencari dan memelihara kawanan-Nya. Ketika Yesus menyebut diri-Nya sebagai Gembala yang baik, kita dapat membaca perkataan itu dalam terang janji tersebut: pemeliharaan Allah bukan sekadar gagasan yang jauh, melainkan dinyatakan melalui kehadiran, pelayanan, dan pengorbanan Kristus.
Pembahasan Ayat per Ayat
Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan,
Pada ayat 1, Yesus membedakan orang yang masuk ke kandang melalui pintu dengan orang yang memanjat masuk melalui jalan lain. Gambaran pencuri dan perampok menyingkapkan adanya pihak yang mendekati domba bukan untuk memelihara, melainkan untuk mengambil keuntungan. Dalam konteks hubungan dengan Yohanes 9, perkataan ini mengajak kita memeriksa tujuan di balik kepemimpinan rohani: apakah seseorang sungguh membawa umat kepada Allah atau memakai kedudukan untuk kepentingannya sendiri.
Penerapannya bagi kita bukanlah memberi cap buruk kepada setiap orang yang berbeda pendapat, melainkan belajar menilai pelayanan melalui kesetiaan kepada Kristus dan kepedulian kepada sesama. Dalam keluarga, pekerjaan, dan gereja, kita perlu bertanya apakah pengaruh yang kita miliki dipakai untuk melindungi kehidupan orang lain atau justru mengendalikan mereka demi keinginan pribadi.
Pada ayat 2, orang yang masuk melalui pintu disebut sebagai gembala domba. Perbedaan ini memperlihatkan bahwa kedekatan dengan kawanan tidak dengan sendirinya membuktikan seseorang memiliki maksud yang benar; yang penting adalah hubungan dan tanggung jawabnya terhadap domba-domba itu. Sebagai penerapan, kita diajak memahami bahwa pelayanan tidak menjadi benar hanya karena terlihat rohani, dilakukan di tempat ibadah, atau mendapatkan persetujuan banyak orang.
Pelayanan harus tetap berada di bawah kehendak Kristus dan dapat dipertanggungjawabkan dalam kebenaran. Orang yang dipercaya memimpin tidak boleh menganggap kepercayaan itu sebagai hak untuk bertindak sesuka hati, sebab umat bukan miliknya. Kerendahan hati untuk menerima koreksi, keterbukaan dalam menjalankan tanggung jawab, dan perhatian terhadap mereka yang lemah merupakan langkah nyata untuk menjaga pelayanan agar tidak berubah menjadi penguasaan.
Pada ayat 3, Yesus menggambarkan gembala yang memanggil domba-dombanya menurut nama dan membawa mereka keluar. Panggilan menurut nama menunjukkan hubungan yang pribadi, sehingga domba tidak diperlakukan sebagai kumpulan tanpa wajah dan tanpa cerita. Dari gambaran ini kita menerima penghiburan bahwa pengenalan Kristus bukan perhatian yang umum dan jauh; Ia mengenal umat sebagai milik-Nya. Namun penghiburan itu juga menantang cara kita memperlakukan sesama.
Dalam jemaat, jangan hanya mengetahui berapa orang yang hadir, tetapi belajarlah memperhatikan siapa yang sedang berduka, siapa yang lama tidak terlihat, dan siapa yang membutuhkan pendampingan. Dalam keluarga, jangan merasa sudah mengenal seseorang hanya karena tinggal serumah, tetapi sediakan waktu untuk mendengarkan isi hatinya. Mengenal dengan kasih membutuhkan perhatian yang lebih dalam daripada mengetahui informasi.
Pada ayat 4, gembala berjalan di depan dan domba-domba mengikutinya karena mengenal suaranya. Pengenalan dengan demikian berhubungan dengan arah hidup, bukan hanya rasa dekat. Domba mengikuti karena mempercayai gembala yang menuntunnya, dan bagi orang percaya hal ini berarti menyerahkan keputusan kepada Kristus sebagaimana Ia dikenal melalui firman. Kita tidak dapat mengatakan bahwa Yesus adalah Gembala kita, tetapi selalu menolak ketika firman-Nya menuntut kejujuran, pengampunan, atau pertobatan.
Mengikuti Tuhan kadang berarti meninggalkan keuntungan yang diperoleh dengan cara salah, mengakui kesalahan yang selama ini ditutupi, atau menghentikan kebiasaan yang merusak keluarga. Kita belum tentu memahami seluruh perjalanan di depan, tetapi pengenalan akan karakter Kristus menolong kita mengambil langkah yang benar tanpa menunggu semua keadaan menjadi mudah.
Pada ayat 5, domba-domba tidak mengikuti orang asing karena mereka tidak mengenal suaranya. Gambaran ini mengajak kita bertumbuh dalam kepekaan rohani, tetapi bukan mengembangkan sikap curiga terhadap semua orang atau menutup diri dari pertanyaan. Mengenali suara Kristus tidak sama dengan mengikuti setiap dorongan batin yang terasa kuat, sebab perasaan dan keinginan kita pun perlu diuji.
Dalam kehidupan sekarang, ajakan yang memakai bahasa agama, kutipan Alkitab, atau janji pertolongan tetap harus diperiksa berdasarkan kebenaran firman dan karakter Kristus. Pengajaran yang membenarkan penipuan, menumbuhkan kebencian, atau menuntut ketaatan mutlak kepada seorang manusia tidak boleh diterima hanya karena disampaikan dengan penuh keyakinan. Semakin kita mengenal Gembala melalui firman, semakin kita belajar membedakan panggilan untuk taat kepada Tuhan dari tekanan yang memperalat nama-Nya.
Pada ayat 6, para pendengar belum memahami gambaran yang disampaikan Yesus. Ayat ini mengingatkan bahwa mendengar perkataan rohani tidak otomatis sama dengan memahami maksudnya, bahkan orang yang merasa akrab dengan urusan agama tetap perlu belajar. Kita juga dapat membaca bagian Alkitab yang sama berkali-kali, tetapi baru menyadari tegurannya ketika sungguh membuka hati untuk dibentuk.
Karena itu, jangan malu mengakui bahwa ada firman yang belum kita pahami, dan jangan terlalu cepat menganggap penafsiran pertama kita pasti benar. Pengenalan akan Tuhan bertumbuh melalui kesediaan membaca dengan cermat, bertanya, berdoa, dan menerima pengajaran yang bertanggung jawab. Kerendahan hati seorang murid terlihat bukan dari kemampuannya menjawab semua pertanyaan, melainkan dari kesediaannya terus mendengarkan Sang Guru.
Pada ayat 7, Yesus melanjutkan pengajaran-Nya dengan menyatakan diri sebagai pintu bagi domba-domba. Gambaran sekarang mengarahkan perhatian kepada akses menuju kehidupan yang Ia berikan. Dalam pembacaan iman Kristen, keselamatan tidak berpusat pada jasa manusia, keturunan, jabatan gerejawi, atau kedekatan dengan seorang pemimpin, melainkan pada Kristus sendiri.
Gereja bertugas memberitakan dan menuntun orang kepada-Nya, bukan mengambil tempat-Nya sebagai sumber keselamatan. Ayat ini mengajak kita memeriksa tempat kita menaruh pengharapan: apakah kita sungguh bersandar kepada Yesus atau merasa aman hanya karena sudah lama menjadi anggota jemaat. Kehadiran dalam ibadah dan pelayanan memang perlu dipelihara, tetapi semuanya harus membawa kita kepada perjumpaan yang lebih dalam dengan Kristus, bukan menjadi pengganti iman kepada-Nya.
Pada ayat 8, Yesus memperingatkan tentang mereka yang datang sebelum-Nya sebagai pencuri dan perampok. Pernyataan ini perlu dibaca dalam konteks teguran terhadap pihak yang menyesatkan dan merusak umat, bukan sebagai tuduhan bahwa semua tokoh sebelum Yesus adalah jahat. Injil Yohanes sendiri menyatakan bahwa tulisan Musa memberi kesaksian tentang Kristus, sehingga ayat ini tidak boleh dipakai untuk merendahkan seluruh kesaksian Perjanjian Lama.
Bagi kehidupan kita, pesannya adalah bahwa klaim rohani harus diuji, terutama ketika seseorang menjanjikan keselamatan atau keamanan dengan menjauhkan kita dari Kristus. Tradisi, pengalaman, dan kewibawaan seorang tokoh tidak boleh menjadi alasan untuk berhenti memeriksa kebenaran. Kesetiaan kepada Tuhan bukan kesetiaan buta kepada manusia, melainkan kesediaan menempatkan setiap pengajaran di bawah terang firman-Nya.
Pada ayat 9, Yesus menghubungkan masuk melalui diri-Nya dengan keselamatan dan pemeliharaan yang digambarkan melalui padang rumput. Ungkapan tentang masuk dan keluar tidak perlu dipahami sebagai tindakan keluar-masuk keselamatan sesuka hati, melainkan sebagai gambaran kehidupan yang dijalani dalam perlindungan serta pemeliharaan Gembala. Firman ini memberi dasar untuk mempercayakan seluruh kehidupan kepada Kristus, bukan hanya urusan ibadah.
Kita membawa pekerjaan, keluarga, tanggung jawab, dan kekhawatiran kepada-Nya sambil tetap menjalankan bagian kita dengan bijaksana. Pemeliharaan Tuhan tidak berarti setiap keinginan pasti dipenuhi, tetapi bahwa kita tidak perlu mencari kehidupan dengan meninggalkan kebenaran-Nya. Domba membutuhkan padang rumput, dan orang percaya membutuhkan kehidupan yang terus dipelihara oleh firman, doa, serta persekutuan yang menolongnya bertumbuh.
Pada ayat 10, Yesus memperlihatkan perbedaan tujuan antara pencuri yang merusak dan diri-Nya yang datang memberikan kehidupan dalam kelimpahan. Kelimpahan ini tidak patut dipersempit menjadi jaminan kekayaan, kesehatan tanpa gangguan, atau keberhasilan tanpa kegagalan, sebab pusat kesaksian Injil Yohanes adalah kehidupan dalam hubungan dengan Allah melalui Kristus. Karena itu, orang percaya yang sedang sakit atau berkekurangan tidak boleh dianggap gagal menerima janji Tuhan.
Kehidupan yang berlimpah mengarahkan kita kepada kepenuhan hidup bersama-Nya: dikasihi, diperdamaikan, memiliki pengharapan, dan dibentuk untuk mengasihi. Penerapannya bukan berhenti bekerja atau mengabaikan kebutuhan jasmani, melainkan menolak menjadikan harta sebagai satu-satunya ukuran kehidupan yang diberkati. Kita dapat memiliki banyak barang tetapi kehilangan arah, sehingga yang terutama kita perlukan adalah kehidupan yang berakar pada Gembala.
Pada ayat 11, Yesus menyatakan bahwa Gembala yang baik menyerahkan nyawa bagi domba-dombanya. Kebaikan-Nya tidak berhenti pada keramahan atau perhatian, melainkan mencapai pengorbanan diri. Dalam terang kematian dan kebangkitan Kristus, perkataan ini membawa kita kepada inti Injil: keselamatan umat bertumpu pada kasih Sang Gembala yang memberikan diri-Nya, bukan pada kemampuan domba menyelamatkan diri sendiri.
Karena itu, ketika iman kita lemah, dasar pengharapan bukanlah seberapa kuat kita merasa, melainkan siapa Kristus dan apa yang telah Ia lakukan. Pada saat yang sama, kasih tersebut memanggil pertobatan, sebab kita tidak patut memperlakukan pengorbanan-Nya sebagai alasan untuk terus memelihara dosa. Kita mengikuti Gembala bukan untuk membeli kasih-Nya, melainkan karena telah menerima kasih yang demikian besar.
Pada ayat 12, Yesus menggambarkan pekerja upahan yang meninggalkan kawanan ketika serigala datang. Perbedaan itu menjadi jelas pada saat bahaya muncul, sebab keadaan sulit menyingkapkan apakah seseorang benar-benar memedulikan mereka yang dipercayakan kepadanya. Dalam penerapan kehidupan, tanggung jawab tidak cukup dinyatakan ketika suasana menyenangkan, tetapi juga ketika diperlukan keberanian untuk melindungi yang lemah.
Keluarga dan jemaat perlu menjadi tempat orang yang terancam memperoleh pertolongan, bukan tempat yang mengutamakan nama baik lembaga di atas keselamatan manusia. Namun meneladani kepedulian Gembala tidak berarti seseorang harus menghadapi bahaya seorang diri atau menerima kekerasan. Mengajak orang lain membantu, mencari perlindungan yang aman, dan melibatkan pihak yang bertanggung jawab dapat menjadi bentuk nyata dari kesungguhan menjaga kehidupan.
Pada ayat 13, alasan kepergian pekerja upahan itu dinyatakan sebagai ketidakpedulian terhadap domba. Dengan demikian, yang disoroti bukan semata-mata adanya imbalan, melainkan hubungan yang hanya dipelihara selama memberi keuntungan. Ayat ini tidak tepat dipakai untuk menyalahkan setiap pelayan yang menerima penghidupan dari pekerjaannya, atau untuk menuntut seseorang melayani tanpa batas sampai kelelahan.
Persoalan rohaninya adalah hati yang menjadikan manusia sebagai sarana memenuhi kepentingan sendiri. Kita perlu memeriksa motivasi saat menolong, memimpin, atau melayani: apakah kita tetap melihat nilai sesama ketika mereka tidak dapat memberi balasan. Kasih yang mengikuti Kristus belajar hadir tanpa menghitung keuntungan pribadi, tetapi juga mengakui bahwa pelayanan membutuhkan pembagian tanggung jawab dan dukungan bersama agar perhatian tidak hanya menjadi kata-kata.
Pada ayat 14, Yesus menyatakan hubungan saling mengenal antara diri-Nya dan domba-domba-Nya, dan di sinilah tema renungan kita mendapat pusatnya. Pengenalan Kristus tidak dapat disamakan dengan sekadar memiliki catatan tentang kesalahan, kemampuan, atau kebutuhan manusia, sebab dalam alur bacaan pengenalan itu menyatu dengan kasih yang menyerahkan diri.
Kita tidak perlu berpura-pura kuat supaya layak mendekat kepada-Nya, tetapi boleh datang dengan kejujuran tentang keadaan hati. Namun dikenal Tuhan juga berarti kita tidak dapat terus berlindung di balik penampilan rohani sambil menyembunyikan kehidupan yang bertentangan dengan kehendak-Nya. Penghiburan dan teguran bertemu di sini: Kristus mengenal kita dengan kasih, dan kasih itu mengundang kita hidup dalam terang, menerima pemulihan, serta meninggalkan kepura-puraan.
Pada ayat 15, hubungan Gembala dan kawanan dikaitkan dengan pengenalan antara Bapa dan Anak, lalu kembali dihubungkan dengan penyerahan nyawa Yesus. Perbandingan ini menunjukkan kedalaman hubungan yang ditawarkan Kristus, tetapi bukan berarti manusia menjadi sama dengan Allah atau memiliki pengetahuan yang tidak terbatas. Kita menerima bagian dalam kehidupan yang bersumber pada kasih Allah, sementara tetap mengenal-Nya sebagai ciptaan yang bergantung kepada anugerah.
Mengenal Kristus karena itu lebih daripada merasakan suasana rohani yang mengharukan; pengenalan tersebut menyentuh kesetiaan, kepercayaan, dan ketaatan. Dalam kehidupan sehari-hari, kedekatan kepada Tuhan perlu terlihat ketika kita memilih yang benar walaupun tidak mudah, ketika kita bersedia dikoreksi, dan ketika kasih yang diterima dari-Nya mulai membentuk cara kita memperlakukan sesama.
Pada ayat 16, Yesus berbicara tentang domba-domba lain yang belum berasal dari kandang yang sedang digambarkan, tetapi juga akan dituntun-Nya menjadi satu kawanan di bawah satu Gembala. Dalam terang Yohanes 11:51–52, yang berbicara tentang pengumpulan anak-anak Allah yang tercerai-berai, perkataan ini membuka pandangan kepada keluasan karya keselamatan Kristus. Kita tidak boleh membatasi kepunyaan-Nya menurut suku, kelompok pertemanan, kedudukan, atau kebanggaan jemaat sendiri.
Kesatuan yang dihasilkan Kristus bukan tuntutan supaya semua orang kehilangan keunikan, melainkan supaya mereka menerima pusat kehidupan yang sama. Karena itu, gereja dipanggil memberitakan Injil dengan rendah hati, menyambut mereka yang datang untuk mengenal Kristus, dan bekerja sama tanpa menjadikan persaingan kelompok sebagai penghalang kasih.
Pada ayat 17, Yesus menghubungkan kasih Bapa dengan kesediaan-Nya menyerahkan nyawa dan menerima kehidupan-Nya kembali. Perkataan ini memperlihatkan kesatuan kasih dan ketaatan dalam karya penyelamatan, bukan berarti Bapa baru mulai mengasihi Anak setelah pengorbanan itu terjadi. Yohanes 17:24 justru menyatakan kasih Bapa kepada Anak sebelum dunia dijadikan.
Karena itu, salib harus dilihat dalam terang hubungan kasih tersebut, bukan seolah-olah Anak yang penuh belas kasihan harus membujuk Bapa yang tidak ingin menyelamatkan. Bagi kita, ini memberi pengharapan bahwa karya Kristus bukan tindakan yang terpisah dari hati Allah, melainkan penyataan kasih-Nya. Kita boleh mendekat kepada Bapa melalui Kristus tanpa membayangkan bahwa keselamatan bergantung pada keberhasilan kita membuat Allah bersedia mengasihi.
Pada ayat 18, Yesus menegaskan bahwa penyerahan nyawa-Nya berlangsung dalam kebebasan dan ketaatan kepada Bapa, serta menyatakan kuasa untuk menerimanya kembali. Kematian-Nya bukan sekadar nasib tragis seorang yang kalah oleh keadaan, melainkan bagian dari karya penyelamatan yang dijalani dengan kehendak-Nya sendiri.
Hal ini tidak membenarkan kejahatan pihak yang menganiaya-Nya, tetapi menegaskan bahwa kejahatan mereka tidak membatalkan maksud Allah. Bagi orang percaya, pengharapan kepada Gembala karena itu tidak berakhir di kubur. Namun teladan pengorbanan Kristus juga tidak boleh dipakai untuk memaksa seseorang mengorbankan keselamatannya demi mempertahankan keadaan yang merusak. Pengorbanan-Nya yang menyelamatkan adalah unik; kita meneladani kasih-Nya dengan melindungi kehidupan, melayani dalam kebenaran, dan menolak memakai kuasa untuk melukai.
Pada ayat 19, perkataan Yesus menimbulkan pertentangan di antara para pendengar. Bacaan ini tidak menggambarkan semua orang memberikan respons yang sama, sehingga kita perlu menghindari penilaian menyeluruh terhadap suatu bangsa atau kelompok. Di hadapan kesaksian tentang Kristus, ada yang menolak dan ada yang mempertimbangkan kembali apa yang mereka dengar.
Bagi kita, ayat ini mengingatkan bahwa kebenaran tidak ditentukan hanya oleh banyaknya orang yang menyetujui, tetapi juga bahwa penolakan orang lain tidak otomatis membuktikan kita benar. Kita tetap perlu menguji diri melalui firman. Mengikuti Kristus menuntut keteguhan yang rendah hati: tidak mudah meninggalkan iman karena tekanan, tetapi juga tidak mengubah keteguhan menjadi kesombongan atau kebencian terhadap mereka yang berbeda.
Pada ayat 20, sebagian orang menolak Yesus melalui tuduhan yang menyerang pribadi-Nya dan mengajak orang lain tidak mendengarkan Dia. Sikap tersebut menjadi cermin tentang bagaimana pelabelan dapat dipakai untuk menghindari percakapan yang jujur mengenai kebenaran. Dalam penerapannya, kita perlu menjaga diri agar tidak mengganti pemeriksaan yang sungguh-sungguh dengan hinaan, prasangka, atau serangan terhadap martabat seseorang.
Hal ini berlaku dalam keluarga, rapat pelayanan, maupun percakapan di ruang digital. Kita boleh tidak setuju dan perlu menolak ajaran yang salah, tetapi penolakan harus disampaikan dengan alasan yang dapat dipertanggungjawabkan. Mengenal Gembala yang baik seharusnya membuat kita semakin berhati-hati dalam menggunakan lidah, bukan merasa bebas melukai orang lain dengan dalih membela iman.
Pada ayat 21, orang-orang lain mempertanyakan tuduhan itu dengan mengingat karya Yesus yang memulihkan penglihatan orang buta. Mereka tidak hanya mengikuti tuduhan yang beredar, tetapi mempertimbangkan hubungan antara perkataan dan pekerjaan-Nya. Ayat penutup ini kembali menghubungkan Yohanes 10 dengan peristiwa Yohanes 9, sehingga pengajaran tentang Gembala tidak berdiri terpisah dari tindakan pemeliharaan yang telah dilakukan Yesus.
Bagi kita, pengenalan iman perlu berakar pada kesaksian yang utuh tentang Kristus, bukan pada potongan kalimat atau janji yang sesuai keinginan sendiri. Renungkanlah apa yang Ia katakan bersama dengan apa yang Ia kerjakan, terutama penyerahan diri-Nya dan kemenangan-Nya atas kematian, supaya kepercayaan kita semakin tertuju kepada pribadi-Nya.
Penutup:
Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan, tema “Aku Mengenal Domba-Domba-Ku Dan Domba-Domba-Ku Mengenal Aku” membawa kita kepada pusat hubungan antara Kristus dan umat-Nya. Firman ini bukan sekadar mengatakan bahwa Tuhan mengetahui keberadaan kita, melainkan menyatakan pengenalan yang terikat pada kasih dan pengorbanan.
Gembala itu tidak memandang kawanan dari jauh sambil membiarkannya mencari jalan sendiri, tetapi memanggil, menuntun, dan memberikan diri. Karena itu, dasar kehidupan iman bukanlah keyakinan bahwa kita selalu kuat memegang Tuhan, melainkan pengenalan akan Kristus yang layak dipercaya dan yang mengundang kita terus mengikuti-Nya.
Ketika merenungkan bahwa Kristus mengenal kita, marilah kita menerima penghiburan tanpa menjadikannya alasan untuk menghindari pertobatan. Kita tidak perlu membangun penampilan yang sempurna agar berani datang kepada-Nya, tetapi juga tidak boleh berpikir bahwa kasih-Nya membenarkan setiap pilihan kita. Ia mengenal kelemahan yang perlu dikuatkan sekaligus dosa yang perlu ditinggalkan.
Karena itu, doa yang jujur bukan hanya meminta agar masalah segera selesai, melainkan juga memohon agar hati dibentuk untuk menerima kebenaran. Kita boleh membawa rasa takut, penyesalan, kebingungan, dan kelelahan, sambil membuka diri untuk dituntun menuju kehidupan yang semakin sesuai dengan kehendak-Nya.
Bagian kedua dari tema ini sama pentingnya: domba-domba mengenal Gembala mereka. Di sinilah kita perlu memeriksa apakah iman kita hanya berupa pengetahuan yang diwarisi atau sungguh menjadi hubungan yang kita hidupi. Kita dapat mengingat banyak ayat, tetapi tetap enggan menaati firman yang menyentuh kebiasaan pribadi.
Kita dapat berbicara tentang kasih, tetapi mempertahankan kebencian; dapat memuji kejujuran, tetapi membenarkan manipulasi; dapat mengaku percaya kepada Tuhan, tetapi menyerahkan keputusan sepenuhnya kepada ketakutan akan pendapat manusia. Mengenal Kristus mengajak kita keluar dari kehidupan yang terpisah antara pengakuan di tempat ibadah dan tindakan dalam keseharian.
Mendengarkan suara Gembala karena itu perlu menjadi kebiasaan yang nyata, bukan hanya ungkapan yang kita gunakan ketika membutuhkan jawaban cepat. Sediakanlah waktu untuk membaca firman dalam konteksnya, merenungkan siapa Kristus yang dinyatakan di dalamnya, lalu bertanya bagian kehidupan mana yang perlu diarahkan kembali.
Dalam doa, jangan hanya membawa daftar permintaan, tetapi belajarlah mengakui keinginan yang perlu ditata dan keputusan yang membutuhkan hikmat. Ketika menerima nasihat rohani, tetaplah rendah hati untuk belajar sekaligus bertanggung jawab mengujinya. Kedekatan kepada Tuhan tidak membuat kita berhenti berpikir; justru kita belajar mempergunakan pikiran dengan hormat kepada kebenaran-Nya.
Pengenalan itu akan terlihat dalam pilihan yang sederhana tetapi menentukan. Dalam keluarga, kita dapat mulai dengan mendengarkan sebelum menilai dan meminta maaf tanpa mengalihkan kesalahan kepada orang lain. Dalam pekerjaan, kita dapat menolak keuntungan yang diperoleh melalui penipuan, sekalipun cara tersebut dianggap biasa oleh lingkungan.
Dalam pelayanan, kita dapat berhenti mengejar penghargaan dan mulai memperhatikan mereka yang tidak memiliki pengaruh. Dalam percakapan digital, kita dapat memilih memeriksa informasi sebelum menyebarkannya dan menahan diri dari komentar yang mempermalukan. Langkah-langkah ini bukan harga yang dibayarkan untuk memperoleh kasih Kristus, melainkan respons terhadap kasih yang telah kita terima.
Firman ini juga menolong kita menempatkan pergumulan pada tempat yang benar. Mengikuti Gembala yang baik tidak sama dengan memperoleh jaminan bahwa semua keadaan akan nyaman, semua relasi segera pulih, atau setiap penyakit langsung sembuh. Bacaan ini sendiri berbicara mengenai ancaman dan penyerahan nyawa Sang Gembala.
Karena itu, jangan mengukur kedekatan seseorang dengan Tuhan hanya dari lancarnya kehidupan yang terlihat. Dalam kesulitan, kita tetap dipanggil mencari pertolongan yang diperlukan, menjalankan tanggung jawab dengan bijaksana, dan membuka diri terhadap dukungan sesama, sambil menaruh pengharapan kepada Kristus yang tidak dapat dipersempit menjadi pemberi kenyamanan sesaat.
Tema ini mempunyai implikasi penting bagi kehidupan gereja. Apabila Kristus mengenal umat-Nya secara pribadi, persekutuan kita tidak boleh puas hanya dengan mengetahui jumlah anggota, keberhasilan kegiatan, atau banyaknya persembahan. Marilah belajar memperhatikan orang dengan cerita hidupnya masing-masing, tanpa mengubah perhatian itu menjadi campur tangan yang merampas kebebasan dan kerahasiaan.
Ada orang yang membutuhkan kunjungan, ada yang membutuhkan didengarkan, ada yang memerlukan bantuan praktis, dan ada yang membutuhkan pendampingan untuk mengambil langkah yang benar. Penggembalaan yang meneladani Kristus tidak menjadikan manusia sebagai alat keberhasilan program, melainkan menempatkan pelayanan sebagai sarana untuk merawat kehidupan.
Bagi mereka yang dipercayakan tanggung jawab memimpin, firman ini memanggil kerendahan hati yang sungguh. Pendeta, pelayan khusus, pengurus pelayanan, orang tua, maupun pemimpin dalam pekerjaan tetap berada di bawah Kristus; tidak seorang pun berhak menuntut penghormatan yang hanya patut diberikan kepada Tuhan.
Memimpin dengan baik berarti mau mendengarkan, menerima koreksi, mempertanggungjawabkan keputusan, dan melindungi orang yang rentan. Ketika ada kesalahan atau tindakan yang melukai, jangan menutupinya demi nama baik. Kesetiaan kepada Gembala justru menuntut keberanian untuk menghadirkan kebenaran dengan kasih, sehingga persekutuan menjadi tempat yang aman untuk bertumbuh, bukan tempat manusia kehilangan suara.
Pada saat yang sama, marilah kita menjaga kesatuan kawanan. Kristus tidak memanggil umat untuk membangun kebanggaan yang menutup diri dari saudara seiman di luar lingkaran sendiri. Perbedaan pengalaman, usia, kemampuan, dan latar belakang tidak perlu menjadi dasar untuk saling merendahkan. Dalam pelayanan, kita dapat bekerja sama tanpa harus selalu menjadi pihak yang paling menonjol. Ketika saudara lain dipakai Tuhan, kita dapat ikut bersyukur; ketika ada yang tertinggal, kita dapat menolong tanpa merasa lebih suci. Kesatuan seperti ini tidak dibangun dengan meniadakan kebenaran, melainkan dengan menempatkan Kristus sebagai pusat yang lebih besar daripada ambisi kelompok.
Bagi saudara yang merasa jauh dari Tuhan, jangan menunggu semua persoalan tertata sebelum mulai kembali mendengarkan-Nya. Datanglah melalui doa yang jujur, bukalah firman, dan carilah persekutuan yang menolong saudara bertumbuh dalam kasih serta kebenaran. Bagi saudara yang sedang memikul rasa bersalah, jangan berhenti pada penyesalan, tetapi ambillah langkah pertobatan dan perbaikilah kerusakan yang dapat diperbaiki.
Bagi saudara yang terluka oleh manusia, jangan dipaksa menyangkal luka itu; carilah pendampingan yang bijaksana dan bangunlah batas yang melindungi kehidupan. Menaruh pengharapan kepada Kristus tidak berarti menutupi kenyataan, melainkan membawa kenyataan itu kepada-Nya sambil bersedia menerima pertolongan.
Hari ini, marilah kita membawa satu keputusan yang jelas dari perenungan ini. Tentukanlah bagian kehidupan yang selama ini lebih banyak diarahkan oleh suara lain daripada firman Tuhan, kemudian mulailah mengubahnya melalui tindakan yang dapat dijalani. Mungkin kita perlu memperbaiki kebiasaan membaca Alkitab, menghentikan percakapan yang merusak, mengakui ketidakjujuran, menyediakan waktu bagi keluarga, atau mendampingi seseorang yang selama ini terabaikan.
Kita tidak perlu menunggu dapat melakukan semuanya sekaligus, tetapi jangan memakai keterbatasan sebagai alasan untuk tidak mengambil langkah pertama. Pertumbuhan dalam pengenalan akan Kristus terjadi ketika kita terus kembali mendengar dan menjawab panggilan-Nya dalam ketaatan.
Ingatlah kembali orang yang disembuhkan dalam Yohanes 9. Ia mengalami penolakan, tetapi kisahnya tidak berhenti pada penilaian orang lain; perjumpaan dengan Yesus membawanya kepada iman dan penyembahan. Demikian pula, tujuan penggembalaan Kristus bukan hanya membuat kita merasa lebih baik tentang diri sendiri, melainkan membawa kita mengenal dan menyembah-Nya.
Penghiburan yang sejati tidak berhenti pada perasaan diterima, tetapi bertumbuh menjadi kehidupan yang percaya, taat, dan bersedia mengasihi. Karena itu, marilah kita tidak hanya mencari tangan Tuhan ketika membutuhkan pertolongan, tetapi juga mencari pengenalan akan pribadi-Nya yang menuntun seluruh hidup.
Akhirnya, biarlah tema “Aku Mengenal Domba-Domba-Ku Dan Domba-Domba-Ku Mengenal Aku” menjadi penghiburan ketika kita merasa tidak dipahami, teguran ketika kita memilih jalan sendiri, dan panggilan untuk hidup semakin dekat kepada Kristus. Kita mengenal Gembala bukan dengan menguasai seluruh rahasia masa depan, melainkan dengan mempercayai-Nya dalam langkah yang harus dijalani hari ini.
Kita menunjukkan pengenalan itu melalui kejujuran, kasih, pertobatan, kepedulian, dan kesediaan dipimpin oleh firman. Kiranya rumah kita menjadi tempat orang didengarkan, jemaat kita menjadi persekutuan yang memelihara, dan kehidupan kita menjadi kesaksian tentang Gembala yang memberikan diri bagi umat-Nya.
Tuhan Yesus, Gembala yang baik, terima kasih karena Engkau mengenal kami dengan kasih yang tidak berhenti pada perkataan, melainkan dinyatakan melalui pengorbanan-Mu. Ajarlah kami semakin mengenal Engkau melalui firman, mempercayai tuntunan-Mu, dan menaati kehendak-Mu dalam kehidupan sehari-hari.
Tegurlah kami ketika mengikuti suara yang menyesatkan, kuatkan kami ketika perjalanan terasa berat, dan bentuklah kami menjadi orang yang memelihara kehidupan sesama, bukan memperalatnya. Biarlah keluarga dan jemaat kami bertumbuh sebagai kawanan yang mendengarkan satu Gembala, sehingga melalui perkataan serta tindakan kami nama-Mu semakin dimuliakan. Amin.
Editor : Clavel Lukas