Bacaan dan Renungan untuk Orang Muda Katolik, Hari Senin 21 September 2026

Fandy Gerungan • Dipublikasikan Jumat, 18 September 2026 | 10:33 WIB
Perjamuan Malam Terakhir
Perjamuan Malam Terakhir

Pesta St. Matius, Penginjil (Warna Liturgi Merah)

Bacaan I Efesus 4:1-7,11-13

Sebab itu aku menasihatkan kamu, aku, orang yang dipenjarakan karena Tuhan, supaya hidupmu sebagai orang-orang yang telah dipanggil berpadanan dengan panggilan itu.

Hendaklah kamu selalu rendah hati, lemah lembut, dan sabar. Tunjukkanlah kasihmu dalam hal saling membantu.

Dan berusahalah memelihara kesatuan Roh oleh ikatan damai sejahtera:

satu tubuh, dan satu Roh, sebagaimana kamu telah dipanggil kepada satu pengharapan yang terkandung dalam panggilanmu,

satu Tuhan, satu iman, satu baptisan,

satu Allah dan Bapa dari semua, Allah yang di atas semua dan oleh semua dan di dalam semua.

Tetapi kepada kita masing-masing telah dianugerahkan kasih karunia menurut ukuran pemberian Kristus.

Dan Ialah yang memberikan baik rasul-rasul maupun nabi-nabi, baik pemberita-pemberita Injil maupun gembala-gembala dan pengajar-pengajar,

untuk memperlengkapi orang-orang kudus bagi pekerjaan pelayanan, bagi pembangunan tubuh Kristus,

sampai kita semua telah mencapai kesatuan iman dan pengetahuan yang benar tentang Anak Allah, kedewasaan penuh, dan tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus,

Demikianlah Sabda Tuhan

U. Syukur kepada Allah

Mazmur 19:2-3,4-5

hari meneruskan berita itu kepada hari, dan malam menyampaikan pengetahuan itu kepada malam.

Tidak ada berita dan tidak ada kata, suara mereka tidak terdengar;

tetapi gema mereka terpencar ke seluruh dunia, dan perkataan mereka sampai ke ujung bumi. Ia memasang kemah di langit untuk matahari,

yang keluar bagaikan pengantin laki-laki yang keluar dari kamarnya, girang bagaikan pahlawan yang hendak melakukan perjalanannya.

Bacaan Injil Matius 9:9-13

Setelah Yesus pergi dari situ, Ia melihat seorang yang bernama Matius duduk di rumah cukai, lalu Ia berkata kepadanya: "Ikutlah Aku." Maka berdirilah Matius lalu mengikut Dia.

Kemudian ketika Yesus makan di rumah Matius, datanglah banyak pemungut cukai dan orang berdosa dan makan bersama-sama dengan Dia dan murid-murid-Nya.

Pada waktu orang Farisi melihat hal itu, berkatalah mereka kepada murid-murid Yesus: "Mengapa gurumu makan bersama-sama dengan pemungut cukai dan orang berdosa?"

Yesus mendengarnya dan berkata: "Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit.

Jadi pergilah dan pelajarilah arti firman ini: Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan, karena Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa."

Demikianlah Injil Tuhan

U. Terpujilah Kristus

Renungan

Salve sahabat muda katolik! kita sering merasa bahwa hidup harus terlihat sempurna. Kita ingin memiliki masa depan yang baik, diterima oleh lingkungan, punya prestasi, dan mendapatkan pengakuan dari orang lain. 

Ketika gagal atau melakukan kesalahan, kita bisa merasa bahwa diri kita tidak cukup baik untuk Tuhan. Kisah Santo Matius menunjukkan sesuatu yang berbeda. Matius bukanlah orang yang memiliki masa lalu yang sempurna. 

Ia bekerja sebagai pemungut cukai dan dipandang buruk oleh banyak orang. Namun, Yesus tidak melihatnya hanya berdasarkan pekerjaannya atau masa lalunya. Yesus melihat pribadi Matius dan memanggilnya untuk memulai kehidupan yang baru.

Hal ini penting bagi kita sebagai orang muda. Jangan berpikir bahwa Tuhan baru akan memanggil kita ketika kita sudah sempurna. Tuhan memanggil kita dalam keadaan kita sekarang, lengkap dengan kelemahan, kegagalan, pergumulan, dan proses kehidupan yang sedang kita jalani.

Mungkin ada di antara kita yang sedang merasa jauh dari Tuhan. Ada yang kecewa karena pernah gagal. Ada yang merasa tidak layak karena kesalahan masa lalu. 

Ada juga yang sedang bingung menentukan arah hidup. Kisah Matius mengingatkan kita bahwa masa lalu bukan akhir dari cerita hidup kita.

Ketika Matius berani meninggalkan kehidupannya yang lama dan mengikuti Yesus, ia menemukan tujuan hidup yang baru. Pertobatan bukan berarti kita tiba-tiba menjadi sempurna. 

Pertobatan berarti kita berani mengubah arah dan memberikan kesempatan kepada Tuhan untuk membentuk hidup kita. Sebagai OMK, kita juga dipanggil untuk menggunakan kemampuan yang Tuhan berikan. 

Ada yang pandai berbicara, bermusik, membuat konten, mengorganisasi kegiatan, mengajar, bekerja, mendengarkan orang lain, atau sekadar hadir ketika seorang teman membutuhkan pertolongan. Semua itu dapat menjadi jalan pelayanan.

Kita tidak perlu menunggu menjadi hebat untuk berguna bagi Gereja. Jangan berpikir bahwa pelayanan hanya untuk mereka yang aktif di altar, menjadi pengurus, atau memiliki kemampuan tertentu. 

Ketika kita menggunakan apa yang kita punya untuk membawa kebaikan bagi orang lain, di situlah kita sedang mengambil bagian dalam karya Tuhan.

Bacaan hari ini juga mengingatkan pentingnya kerendahan hati, kesabaran, kasih, dan kesatuan. Ini sangat relevan dalam kehidupan OMK. Dalam komunitas, kita pasti memiliki perbedaan pendapat, karakter, cara berpikir, bahkan pilihan pelayanan. 

Tantangannya bukan bagaimana membuat semua orang menjadi sama, tetapi bagaimana tetap berjalan bersama dalam kasih.

Gereja membutuhkan orang muda yang bukan hanya aktif, tetapi juga dewasa dalam iman. Orang muda yang mampu membawa semangat, kreativitas, keberanian, sekaligus kerendahan hati. 

Gereja membutuhkan kita bukan karena kita sempurna, tetapi karena Tuhan memiliki karya yang dapat dilakukan melalui hidup kita.

Santo Matius akhirnya tidak hanya menjadi seseorang yang pernah dipanggil Yesus. Ia menjadi murid dan pewarta Injil. Hidupnya menjadi kesaksian bahwa seseorang yang pernah dipandang rendah oleh manusia dapat menjadi alat Tuhan yang luar biasa.

Karena itu, jangan pernah meremehkan dirimu sendiri. Jangan biarkan kesalahan masa lalu menentukan seluruh masa depanmu. Jangan merasa terlalu muda untuk melayani dan jangan merasa terlalu tidak sempurna untuk dipakai Tuhan.

Mungkin hari ini Tuhan sedang memanggil kita dari tempat kita masing-masing. Pertanyaannya bukan apakah kita sudah sempurna, tetapi apakah kita berani membuka hati dan menjawab panggilan-Nya.

Seperti Santo Matius, mari berani bangkit, meninggalkan apa yang menghalangi kita untuk bertumbuh, dan melangkah bersama Yesus. Sebab ketika kita menyerahkan hidup kepada-Nya.

Tuhan dapat mengubah kelemahan kita menjadi kekuatan dan menjadikan hidup kita berkat bagi banyak orang. (*)

Editor : Fandy Gerungan
renungan katolik omk Renungan