Renungan Yohanes 10:1–21 Untuk P/KB, Aku Mengenal Domba-Domba-Ku Dan Domba-Domba-Ku Mengenal Aku

Clavel Lukas • Dipublikasikan Sabtu, 19 September 2026 | 10:13 WIB
Ilustrasi Alkitab.
Ilustrasi Alkitab.

Bacaan: Yohanes 10:1–21
Tema: “Aku Mengenal Domba-Domba-Ku Dan Domba-Domba-Ku Mengenal Aku”

Saudara-saudara P/KB GMIM yang dikasihi Tuhan Yesus Kristus, dalam menjalani kehidupan sebagai pria, suami, ayah, opa, pekerja, dan pelayan Tuhan, kita dapat begitu terbiasa memikirkan kebutuhan orang lain sampai lupa mengakui kebutuhan diri sendiri. Ada tanggung jawab pekerjaan, kebutuhan keluarga, pendidikan anak, kesehatan orang tua, pelayanan dalam jemaat, dan berbagai keputusan yang harus diambil. Mungkin ada di antara kita yang tetap tersenyum dan menjalankan tugas seperti biasa, padahal sedang menyimpan kelelahan, ketakutan, atau perasaan gagal yang belum pernah diceritakan. Kita ingin keluarga merasa aman, tetapi sebenarnya kita sendiri sedang membutuhkan tempat untuk bersandar.

Dalam keadaan seperti itu, firman Tuhan hari ini membawa penghiburan yang mendalam. Yesus memperkenalkan diri sebagai Gembala yang baik, yang mengenal domba-domba-Nya dan menyerahkan nyawa bagi mereka. Kita tidak hanya dipanggil menjadi orang yang kuat menanggung tanggung jawab, tetapi terlebih dahulu diundang menerima pemeliharaan Kristus.

Karena itu, ada satu kebenaran yang perlu kita pegang sejak awal: sebelum kita menuntun keluarga dan melayani sesama, kita sendiri adalah orang yang perlu dituntun oleh Kristus. Kita bukan sumber kekuatan yang tidak pernah habis, bukan penolong yang dapat menyelesaikan segala persoalan, dan bukan pemimpin yang selalu mengetahui jalan terbaik. Kita membutuhkan Sang Gembala.

Baca Juga: Materi Khotbah Yohanes 10:1–21, Aku Mengenal Domba-Domba-Ku Dan Domba-Domba-Ku Mengenal Aku

Baca Juga: Renungan Yohanes 10:1–21, Aku Mengenal Domba-Domba-Ku Dan Domba-Domba-Ku Mengenal Aku

Tema “Aku Mengenal Domba-Domba-Ku Dan Domba-Domba-Ku Mengenal Aku” juga mengajak kita melihat perbedaan antara dikenal oleh manusia dan dikenal oleh Tuhan. Orang lain mungkin mengenal kita karena pekerjaan, jabatan, keluarga, kemampuan, atau pelayanan, tetapi Kristus mengenal kehidupan kita lebih dalam daripada semua itu. Di hadapan-Nya, kita tidak perlu menyembunyikan kelemahan demi mempertahankan kesan bahwa kita selalu mampu. Namun pengenalan Tuhan juga mengundang kejujuran, sebab kita tidak dapat terus memakai penampilan rohani untuk menutupi kesalahan yang sebenarnya perlu diakui dan diperbaiki.

Pada saat yang sama, tema ini bukan hanya mengatakan bahwa Tuhan mengenal kita, melainkan juga bahwa kita mengenal Dia. Pertanyaannya, apakah kita sungguh mengenal Kristus sebagai Gembala, atau hanya mengetahui cerita tentang-Nya? Apakah firman-Nya mempunyai tempat dalam keputusan kita, atau kita baru mencari Tuhan setelah jalan yang kita pilih sendiri membawa masalah? Apakah kita mendengarkan-Nya ketika Ia memanggil kita hidup jujur, mengendalikan kemarahan, memperbaiki hubungan, dan merawat keluarga, atau kita hanya ingin mendengar janji pertolongan tanpa menerima tuntunan-Nya?

Melalui bacaan ini, P/KB diajak bertumbuh menjadi persekutuan pria yang menerima kasih Kristus dan meneruskannya dalam kehidupan nyata. Panggilan ini berlaku bagi setiap saudara, baik yang sudah berkeluarga maupun yang belum menikah, yang masih bekerja maupun yang telah memasuki masa pensiun, yang mempunyai jabatan pelayanan maupun yang melayani tanpa kedudukan khusus. Nilai kita di hadapan Tuhan tidak bergantung pada kelengkapan peran tersebut, tetapi kehidupan yang dipercayakan kepada kita dapat menjadi tempat kasih Sang Gembala dinyatakan.

Saudara-saudara P/KB GMIM yang dikasihi Tuhan Yesus Kristus

Dalam tradisi gereja, Injil Yohanes dihubungkan dengan kesaksian Yohanes, murid Yesus. Bentuk akhirnya umumnya ditempatkan pada penghujung abad pertama, meskipun proses penyusunannya tetap menjadi pembahasan dalam penelitian Alkitab. Injil ini menampilkan pribadi Yesus melalui tanda-tanda, percakapan, dan pengajaran yang menuntun pembaca mengenali siapa Dia. Tujuan penulisannya dinyatakan dalam Yohanes 20:30–31, yakni supaya pembaca percaya bahwa Yesus adalah Mesias, Anak Allah, dan melalui iman itu memperoleh kehidupan dalam nama-Nya. Jadi, pengenalan akan Yesus dalam Injil ini bukan sekadar pengetahuan sejarah, melainkan undangan untuk percaya dan menerima kehidupan dari-Nya.

Yohanes 10:1–21 perlu dibaca bersama peristiwa dalam Yohanes 9. Pada pasal sebelumnya, seorang yang buta sejak lahir menerima penglihatan melalui karya Yesus, tetapi kemudian menghadapi pemeriksaan dan penolakan. Setelah mempertahankan kesaksiannya, orang itu diusir. Yesus mendengar tentang pengusiran tersebut, menjumpainya, dan menuntunnya kepada iman. Hubungan kedua pasal ini memperlihatkan bahwa pengajaran mengenai Gembala yang baik tidak berdiri sebagai gambaran yang indah tetapi jauh dari kenyataan; Yesus telah menunjukkan perhatian kepada orang yang justru disingkirkan oleh pihak lain.

Gambaran gembala mempunyai akar dalam Perjanjian Lama. Yehezkiel 34 menegur para pemimpin yang mengurus kepentingan sendiri, tetapi mengabaikan yang lemah, terluka, dan tersesat. Tuhan kemudian menyatakan bahwa Ia sendiri akan mencari serta memelihara kawanan-Nya. Dalam terang kesaksian tersebut, kita dapat memahami pengajaran Yesus sebagai penyataan pemeliharaan Allah yang hadir untuk menyelamatkan, bukan memperalat umat. Bagi P/KB, hubungan ini penting karena kepemimpinan rohani tidak dapat diukur hanya dari kemampuan memerintah atau mempertahankan pengaruh, melainkan dari kesetiaan merawat kehidupan yang dipercayakan Tuhan.

Dalam bacaan ini, Yesus menggunakan gambaran pintu dan gembala untuk menyatakan segi-segi yang berbeda tetapi saling melengkapi dari karya-Nya. Sebagai pintu, Ia memberikan jalan menuju keselamatan; sebagai Gembala yang baik, Ia memelihara dan menyerahkan diri bagi umat. Gambaran tersebut tidak perlu dipaksakan menjadi satu cerita yang setiap rinciannya mempunyai arti tersembunyi. Pusatnya adalah Kristus sendiri, yang patut dipercaya, didengarkan, dan diikuti.

Kata “mengenal” dalam tema kita karena itu tidak hanya berarti mengetahui informasi. Pengenalan tersebut berhubungan dengan kasih, kepercayaan, kesetiaan, dan kehidupan bersama. Kristus mengenal milik-Nya dengan kasih yang menyelamatkan, sedangkan umat mengenal Kristus dengan menerima siapa Dia dan mempercayakan hidup kepada-Nya. Kita tidak mengenal Tuhan selengkap Tuhan mengenal kita, tetapi kita dapat terus bertumbuh dalam hubungan yang nyata melalui firman, doa, dan ketaatan.

Bagi P/KB, pengenalan kepada Kristus seharusnya membentuk cara kita mengenal keluarga dan sesama. Kita tidak cukup mengetahui pekerjaan istri, nilai sekolah anak, atau usia cucu, tetapi perlu belajar memahami pergumulan mereka. Namun perikop ini pertama-tama berbicara tentang Yesus, bukan menjadikan seorang bapak setara dengan Sang Gembala. Keluarga bukan kawanan milik pribadi yang boleh dikendalikan sesuka hati. Kita meneladani kasih Kristus sambil menyadari bahwa kita sendiri tetap murid yang membutuhkan koreksi, pengampunan, dan tuntunan-Nya.

Pembahasan Ayat per Ayat

Pada ayat 1, Yesus membedakan orang yang masuk melalui pintu dengan orang yang memanjat masuk melalui jalan lain. Gambaran pencuri dan perampok menyingkapkan pendekatan yang merusak, karena kawanan didatangi untuk diambil keuntungannya, bukan dipelihara kehidupannya. Sebagai penerapan bagi P/KB, ayat ini mengajak kita memeriksa penggunaan pengaruh dan tanggung jawab. Apakah keluarga merasakan perlindungan melalui kehadiran kita, atau justru merasa harus menjaga diri dari kemarahan kita? Apakah pelayanan membuat sesama bertumbuh, atau menjadi sarana agar kita selalu dihormati? Firman ini bukan alat untuk memberi cap buruk kepada semua orang yang tidak sependapat, tetapi cermin bagi hati sendiri. Kepercayaan yang diberikan Tuhan tidak boleh dipakai untuk mengambil keuntungan dari kelemahan orang lain, termasuk melalui tekanan yang dibungkus dengan bahasa agama.

Pada ayat 2, orang yang masuk melalui pintu disebut sebagai gembala domba. Dalam gambaran ini terdapat hubungan yang benar dan tanggung jawab terhadap kawanan, bukan tindakan mengambil alih demi kepentingan pribadi. Bagi kita, hal tersebut mengingatkan bahwa menjalankan tanggung jawab tidak cukup hanya berdasarkan kedudukan. Seorang suami, ayah, pemimpin pekerjaan, atau pelayan gereja perlu menempatkan tindakannya di bawah kebenaran Kristus.

Kita tidak boleh merasa bahwa karena mempunyai pengalaman lebih panjang, semua keputusan kita pasti benar. Kerendahan hati untuk menerima koreksi merupakan bagian dari tanggung jawab, bukan ancaman terhadap wibawa. Dalam rumah, sikap ini dapat diwujudkan dengan mendengarkan pasangan dan anak sebelum mengambil keputusan yang menyangkut mereka, sambil tetap menjalankan kewajiban dengan sungguh-sungguh.

Pada ayat 3, gembala memanggil domba-dombanya masing-masing menurut nama dan menuntunnya keluar. Gambaran ini memperlihatkan perhatian yang pribadi, sehingga kawanan tidak diperlakukan sebagai jumlah tanpa cerita. Bagi kaum bapak, ayat ini mengundang pertanyaan yang dekat: apakah saya sungguh mengenal orang-orang yang tinggal bersama saya?

Mungkin kita mengetahui kebutuhan belanja, biaya pendidikan, dan jadwal pekerjaan, tetapi belum mengetahui apa yang sedang membuat pasangan atau anak merasa takut. Mengenal memerlukan kehadiran yang bersedia mendengarkan, bukan hanya kemampuan memberi jawaban. Cobalah menyediakan waktu tanpa segera memegang telepon, memotong cerita, atau membandingkan pergumulan mereka dengan pengalaman kita dahulu. Kasih yang meneladani Gembala belajar melihat pribadi, bukan hanya tugas yang harus diselesaikannya.

Pada ayat 4, gembala berjalan di depan dan domba-domba mengikuti karena mengenal suaranya. Pengenalan itu menghasilkan kepercayaan dan gerak mengikuti, sehingga tidak berhenti pada kedekatan perasaan. Bagi P/KB, penerapannya dimulai dengan kesediaan mengikuti Kristus sebelum menuntut orang lain mengikuti nasihat kita. Jika kita mengajak anak hidup jujur, jangan memperlihatkan kebohongan sebagai jalan yang dapat diterima ketika menguntungkan.

Jika kita mendorong keluarga berdoa, berikanlah ruang bagi doa dalam kehidupan sendiri. Jika kita meminta orang rumah menjaga perkataan, belajarlah terlebih dahulu berbicara tanpa penghinaan. Keteladanan bukan berarti kita tidak pernah salah, melainkan bahwa ketika salah kita mau mengakuinya dan kembali berjalan dalam kebenaran. Dengan demikian, keluarga tidak hanya mendengar perintah, tetapi melihat bagaimana iman dijalani.

Pada ayat 5, domba-domba tidak mengikuti orang asing karena tidak mengenal suaranya. Dalam penerapan iman, kita dipanggil membedakan tuntunan yang sesuai dengan Kristus dari ajakan yang menjauhkan kita daripada-Nya. Namun mengenali suara Tuhan tidak berarti menganggap setiap dorongan batin sebagai perintah Allah. Keinginan, ketakutan, dan pendapat pribadi tetap perlu diperiksa melalui firman.

Seorang bapak tidak boleh berkata bahwa Tuhan menghendaki sesuatu hanya untuk membuat keluarganya berhenti bertanya. Demikian juga, ajakan yang menjanjikan keuntungan besar atau memakai bahasa rohani tetap perlu diuji dengan jernih. Kesetiaan kepada Gembala bukan alasan untuk berhenti berpikir, melainkan panggilan untuk menggunakan pikiran dengan bertanggung jawab, mencari nasihat yang baik, dan menolak jalan yang menuntut kita mengorbankan kejujuran.

Pada ayat 6, para pendengar belum memahami maksud perkataan Yesus. Bagian ini mengingatkan bahwa berada dekat dengan pengajaran rohani tidak otomatis membuat seseorang mengerti dan menaatinya. P/KB juga perlu menjaga sikap sebagai murid, sekalipun sudah lama menjadi anggota jemaat, pernah memimpin pelayanan, atau mempunyai pengalaman hidup yang panjang. Kita tidak harus merasa malu mengakui bahwa ada firman yang belum dipahami atau ada sikap yang masih perlu diperbaiki. Sebaliknya, kesediaan bertanya dan belajar membuka ruang bagi pertumbuhan. Seorang opa pun dapat belajar memahami pergumulan generasi muda tanpa merasa pengalamannya sedang diremehkan. Pengenalan akan Kristus bertumbuh ketika kita tidak sibuk mempertahankan kesan bahwa kita sudah mengetahui semuanya, tetapi sungguh menyediakan hati untuk diajar.

Pada ayat 7, Yesus menyatakan diri sebagai pintu bagi domba-domba. Keselamatan dan kehidupan umat diarahkan kepada pribadi-Nya, bukan kepada kemampuan manusia memperoleh kedudukan rohani. Bagi kaum bapak, ayat ini mengingatkan bahwa kedekatan dengan gereja tidak dapat menggantikan iman kepada Kristus. Nama keluarga yang dikenal, jabatan pelayanan, kemampuan memberi persembahan, dan lamanya mengikuti ibadah bukan dasar untuk merasa tidak membutuhkan pertobatan.

Semua kegiatan rohani seharusnya membawa kita semakin dekat kepada Yesus, bukan menjadi perlindungan bagi kesombongan. Kita datang kepada Tuhan sebagai orang yang membutuhkan anugerah, sehingga tidak perlu menyombongkan kelebihan dan tidak perlu menjauh karena merasa tidak mempunyai sesuatu untuk dibanggakan. Pintu keselamatan bukan keberhasilan diri, melainkan Kristus yang kita percayai.

Pada ayat 8, perkataan tentang pencuri dan perampok harus dibaca dalam konteks teguran terhadap pihak yang merusak umat, bukan sebagai tuduhan bahwa semua tokoh sebelum Yesus adalah jahat. Injil Yohanes sendiri mengakui tulisan Musa sebagai kesaksian tentang Kristus. Karena itu, kita perlu berhati-hati agar sebuah ayat tidak dipisahkan dari kesaksian Alkitab yang lebih luas.

Penerapannya bagi P/KB adalah belajar menghormati tradisi dan pemimpin tanpa menjadikannya kebal terhadap pemeriksaan. Sesuatu tidak otomatis benar hanya karena sudah lama dilakukan, seperti kebiasaan membenarkan tindakan kasar dengan alasan itulah cara mendidik pada masa lalu. Kita boleh menghargai pengalaman pendahulu, tetapi tetap membawa setiap kebiasaan kepada firman Tuhan, supaya yang diteruskan kepada anak dan cucu sungguh membawa kehidupan.

Pada ayat 9, Yesus menghubungkan masuk melalui diri-Nya dengan keselamatan dan pemeliharaan yang digambarkan melalui padang rumput. Gambaran ini mengarahkan kita kepada kehidupan yang bergantung kepada-Nya, bukan kebebasan untuk berjalan sesuka hati. Sebagai penerapan, seorang bapak perlu merawat kehidupan imannya, bukan hanya mengurus kebutuhan lahiriah keluarga.

Kita dapat rajin bekerja dan mengatur banyak hal, tetapi tetap memerlukan firman yang mengoreksi pikiran serta doa yang membawa hati kembali kepada Tuhan. Membaca Alkitab bersama keluarga, mendengarkan pengajaran dengan sungguh-sungguh, dan berbicara dengan saudara seiman yang dapat dipercaya merupakan langkah untuk menjaga kehidupan rohani. Kita tidak perlu menunggu keadaan tenang sepenuhnya sebelum mencari Tuhan, sebab justru di tengah tanggung jawab kita membutuhkan pemeliharaan-Nya.

Pada ayat 10, kehidupan dalam kelimpahan yang diberikan Yesus perlu dipahami lebih luas daripada keberhasilan materi. Yohanes 17:3 mengaitkan kehidupan kekal dengan pengenalan akan Allah dan Yesus Kristus yang diutus-Nya. Karena itu, jangan menjadikan pendapatan, kesehatan, atau jabatan sebagai satu-satunya ukuran kasih Tuhan. Bagi seorang pria yang sedang kehilangan pekerjaan atau memasuki masa pensiun, nilai hidup tidak ikut hilang ketika penghasilan dan aktivitas berubah. Bagi bapak yang sedang sakit, kelemahan tubuh bukan bukti bahwa Kristus berhenti mengasihi. Kita tetap boleh memperjuangkan kebutuhan hidup dengan sungguh-sungguh, tetapi jangan mengorbankan kejujuran, keluarga, dan iman demi mengejar kesan berhasil. Kelimpahan yang berakar pada Kristus menolong kita hidup dengan arah, pengharapan, dan kemampuan menjadi berkat.

Pada ayat 11, Yesus menyatakan kebaikan-Nya melalui pemberian nyawa bagi domba-domba. Di sinilah kita melihat bahwa Kristus bukan sekadar teladan kepemimpinan, tetapi Juruselamat yang memberikan diri bagi umat. Pengorbanan-Nya tidak dapat disamakan begitu saja dengan usaha seorang ayah memenuhi kebutuhan keluarga, sebab keselamatan manusia bukan hasil pengorbanan kita. Namun dari kasih-Nya kita belajar memberi diri dengan tulus. Bagi P/KB, ini berarti bekerja, melayani, dan merawat keluarga tanpa menjadikan pengorbanan sebagai alat menuntut kepatuhan. Jangan menggunakan kalimat tentang betapa banyak kita telah bekerja untuk membenarkan tindakan yang melukai. Kasih yang meneladani Kristus memberi ruang bagi orang lain untuk hidup, bukan membuat mereka terus merasa berutang dan tidak berhak menyampaikan pergumulan.

Pada ayat 12, pekerja upahan meninggalkan kawanan ketika bahaya datang. Gambaran tersebut menantang kesungguhan kita dalam menjalankan tanggung jawab ketika keadaan tidak lagi menyenangkan. Bagi keluarga, kasih perlu nyata bukan hanya ketika pasangan sehat, anak berprestasi, dan ekonomi cukup, tetapi juga saat diperlukan kesabaran serta pendampingan.

 Namun bertanggung jawab tidak berarti menanggung semuanya seorang diri atau membiarkan tindakan berbahaya terus berlangsung. Jika ada ancaman atau kekerasan, keselamatan orang yang terancam harus didahulukan dan pertolongan yang tepat perlu dicari. Seorang pria yang bertanggung jawab tidak harus membuktikan keberanian dengan menghadapi semua bahaya tanpa bantuan. Kesediaan meminta dukungan, menerima nasihat, dan bekerja bersama orang lain dapat menjadi bentuk nyata kepedulian terhadap mereka yang dipercayakan kepadanya.

Pada ayat 13, ketidakpedulian terhadap domba menjadi persoalan utama pekerja upahan itu. Yang ditegur bukan setiap pekerjaan yang menerima imbalan, melainkan hubungan yang dipertahankan hanya selama memberi keuntungan. Karena itu, ayat ini tidak patut dipakai untuk menuduh pelayan yang menerima penghidupan atau membutuhkan istirahat.

 Penerapannya bagi P/KB ialah memeriksa apakah kasih kita bersifat transaksional. Apakah kita hanya merasa bangga kepada anak ketika ia berhasil? Apakah kita hanya mendekati saudara yang mempunyai kedudukan? Apakah semangat pelayanan hilang ketika nama kita tidak disebut? Hati yang sedang dibentuk Kristus belajar menghargai orang bukan berdasarkan kegunaannya bagi kita. Kita tetap perlu menata tanggung jawab dan batas kemampuan, tetapi jangan membiarkan perhitungan keuntungan menjadi dasar utama hubungan.

Pada ayat 14, Yesus menyatakan hubungan saling mengenal antara diri-Nya dan domba-domba-Nya. Inilah pusat tema khotbah kita. Bagi kaum bapak, dikenal Kristus berarti kita boleh datang tanpa menyembunyikan ketakutan di balik gengsi, tanpa menutup rasa bersalah dengan kemarahan, dan tanpa berpura-pura bahwa semua hal berada dalam kendali kita.

Tuhan tidak memanggil kita mempertahankan penampilan yang kuat, melainkan hidup dalam kebenaran di hadapan-Nya. Namun kasih yang mengenal juga mengundang perubahan: jika ada kesalahan terhadap keluarga, akuilah; jika ada kebiasaan yang merusak, jangan terus dibenarkan. Kita tidak bertobat supaya akhirnya menjadi orang yang diketahui Tuhan, tetapi karena kita datang kepada Dia yang telah mengenal dan mengasihi, serta yang memanggil kita berjalan dalam terang.

Pada ayat 15, pengenalan Gembala dan kawanan dikaitkan dengan hubungan Bapa dan Anak, kemudian kembali dihubungkan dengan penyerahan nyawa Yesus. Kedalaman kasih itu mengingatkan bahwa mengenal Kristus bukan sekadar memahami ajaran, melainkan menerima hubungan yang membentuk kesetiaan. Manusia tidak menjadi sama dengan Allah, tetapi diundang hidup dalam persekutuan dengan-Nya. Bagi P/KB, pengenalan demikian perlu diterjemahkan menjadi kesetiaan yang tidak berhenti pada perasaan.

Kita mengasihi keluarga bukan hanya ketika suasana hati baik, dan melayani bukan hanya ketika semua orang menyenangkan. Pada saat yang sama, kita perlu mengingat bahwa kedekatan tidak memberi hak untuk menguasai seluruh kehidupan orang lain. Kasih yang bertanggung jawab mendengarkan, menghormati, dan menolong, sambil tetap menuntun kepada kebenaran.

Pada ayat 16, Yesus berbicara tentang domba-domba lain yang juga akan dituntun menjadi satu kawanan di bawah satu Gembala. Dalam terang perluasan berita keselamatan kepada bangsa-bangsa, perkataan ini mengundang kita melihat keluasan pekerjaan Kristus. P/KB tidak boleh menjadi persekutuan tertutup yang hanya nyaman bagi orang dengan pekerjaan, kemampuan ekonomi, atau pergaulan tertentu.

Bapak yang pendiam, saudara yang baru kembali beribadah, orang yang tidak mempunyai jabatan, dan mereka yang sedang bergumul tetap perlu mendapat tempat. Kita tidak sedang mengumpulkan pengikut bagi kelompok sendiri, tetapi melayani sebagai bagian dari kawanan Kristus. Karena itu, perbedaan kemampuan seharusnya menjadi kesempatan saling melengkapi, bukan alasan membentuk tingkatan martabat di antara saudara seiman.

Pada ayat 17, kasih Bapa dinyatakan dalam hubungan dengan penyerahan nyawa Yesus dan kehidupan-Nya kembali. Ayat ini tidak berarti Bapa baru mulai mengasihi Anak setelah pengorbanan tersebut, sebab Yohanes 17:24 menyatakan kasih Bapa kepada Anak sebelum dunia dijadikan. Dalam terang itu, karya keselamatan memperlihatkan kesatuan kasih dan kehendak Allah.

Kita tidak sedang berhadapan dengan Anak yang mengasihi tetapi Bapa yang enggan menerima manusia. Bagi kita, pemahaman ini memberi dasar untuk mendekat kepada Allah tanpa membayangkan bahwa kasih-Nya harus dibeli melalui kesibukan pelayanan. Seorang bapak boleh bekerja dan melayani dengan sungguh-sungguh, tetapi tidak perlu menjadikan semua itu sebagai upaya membuktikan kelayakan diri di hadapan Tuhan. Ketaatan bertumbuh sebagai jawaban syukur atas kasih karunia.

Pada ayat 18, Yesus menegaskan penyerahan nyawa yang dijalani menurut kehendak-Nya sendiri, dalam ketaatan kepada Bapa, serta kuasa untuk menerimanya kembali. Karena itu, kematian-Nya bukan akhir yang membatalkan karya-Nya sebagai Gembala. Pengharapan Kristen tertuju kepada Tuhan yang hidup, bukan hanya kepada kenangan tentang seorang guru yang baik.

Bagi P/KB, kebenaran ini menguatkan kita menghadapi keterbatasan tanpa harus menyangkalnya. Kita dapat mengakui ketakutan terhadap penyakit, kehilangan, atau kematian sambil tetap mempercayakan hidup kepada Kristus. Kita tidak diminta menjadi manusia yang tidak pernah gentar, tetapi belajar bersandar kepada-Nya. Penyerahan diri kepada Tuhan tidak meniadakan tanggung jawab merawat tubuh dan mencari pertolongan, melainkan memberi pengharapan dalam menjalani semua itu.

Pada ayat 19, muncul pertentangan di antara para pendengar Yesus. Perikop ini tidak menampilkan satu respons yang seragam, sehingga tidak boleh dipakai untuk menuduh seluruh bangsa atau kelompok tanpa membedakan sikap masing-masing. Sebagai penerapan, kita diajak memegang iman dengan teguh tanpa mengubah keteguhan menjadi permusuhan. Dalam pergaulan, pekerjaan, atau keluarga besar, mungkin tidak semua orang memahami keputusan kita mengikuti Kristus.

Kita tidak perlu meninggalkan kebenaran demi disukai, tetapi juga tidak perlu menjawab perbedaan dengan penghinaan. Seorang pria yang matang dalam iman berani mempertanggungjawabkan keyakinan dengan tenang. Ia juga bersedia memeriksa diri, sebab ditentang orang lain tidak otomatis berarti setiap pendapatnya benar. Kristus, bukan kemenangan dalam perdebatan, tetap menjadi pusat kesaksian.

Pada ayat 20, sebagian orang menyerang Yesus dengan tuduhan keras dan mengajak orang lain tidak mendengarkan-Nya. Dalam penerapan kehidupan, kita perlu waspada terhadap kebiasaan mengganti percakapan yang jujur dengan pemberian cap. Bagi P/KB, ini menyentuh cara kita berbicara ketika marah atau berbeda pendapat.

Jangan menjadikan kelemahan seseorang sebagai bahan hinaan, dan jangan merusak nama baik hanya karena ia tidak mengikuti keinginan kita. Di dalam grup percakapan, rapat pelayanan, maupun rumah tangga, kita dapat menyampaikan keberatan tanpa menghancurkan martabat sesama. Keberanian Kristen bukan kemampuan mengucapkan kata-kata paling tajam, melainkan kesediaan berkata benar dengan tanggung jawab. Ketika kita mengaku mengenal Gembala yang baik, perkataan kita pun perlu diarahkan oleh kebaikan-Nya.

Pada ayat 21, pendengar yang lain mempertanyakan tuduhan tersebut dengan mempertimbangkan karya Yesus yang memulihkan penglihatan orang buta. Mereka menghubungkan perkataan dengan pekerjaan-Nya, dan ayat ini membawa perhatian kita kembali kepada peristiwa Yohanes 9. Pengenalan kepada Kristus perlu dibangun dari kesaksian Alkitab yang utuh, bukan dari potongan ayat yang dipilih untuk membenarkan pendapat pribadi.

Bagi P/KB, ini menjadi ajakan untuk membaca firman dengan sungguh-sungguh dan membiarkannya membentuk tindakan. Jangan hanya mencari ayat untuk menasihati pasangan atau anak, tetapi dengarkan juga apa yang Tuhan katakan kepada diri sendiri. Orang yang semakin mengenal Kristus seharusnya semakin bersedia hidup sesuai dengan kebenaran yang diakuinya, sehingga keluarga dan sesama tidak hanya mendengar pengajaran, tetapi merasakan buahnya.

Penutup:

Saudara-saudara P/KB GMIM yang dikasihi Tuhan, tema “Aku Mengenal Domba-Domba-Ku Dan Domba-Domba-Ku Mengenal Aku” membawa kita kepada dasar kehidupan yang tidak bergantung pada kekuatan diri sendiri. Kita dapat mempunyai banyak tanggung jawab, tetapi tidak pernah diminta menggantikan Tuhan sebagai penyelamat keluarga. Kita dapat dipercaya memimpin, tetapi tetap membutuhkan tuntunan. Kita dapat menjadi tempat orang lain meminta pertolongan, tetapi juga boleh mengakui bahwa kita memerlukan dukungan. Di hadapan Kristus, kita terlebih dahulu adalah orang yang dikasihi, dipanggil, dan dipelihara, sehingga pelayanan kepada keluarga tidak perlu dijalani sebagai usaha membuktikan bahwa kita tidak pernah lemah.

Mendengar bahwa Kristus mengenal kita seharusnya memberikan keberanian untuk hidup jujur. Jangan terus menyimpan pergumulan di balik kesibukan sampai kita hanya berhubungan dengan keluarga melalui perintah dan keluhan. Jangan menutupi rasa takut dengan sikap keras, dan jangan menutupi kesalahan dengan pembelaan diri. Datanglah kepada Tuhan dengan mengakui keadaan yang sesungguhnya, kemudian carilah pertolongan melalui orang yang dapat dipercaya. Meminta didoakan, menerima nasihat, dan mengakui kebutuhan akan pendampingan bukan tindakan yang menghapus martabat seorang pria. Justru melalui kejujuran seperti itulah kita membuka diri untuk dituntun dan dibentuk.

Pengenalan Kristus juga mengingatkan bahwa kita tidak dapat menjalani dua kehidupan yang saling bertentangan, seolah-olah Tuhan hanya melihat penampilan di gereja tetapi tidak mengetahui cara kita memperlakukan keluarga. Jika ada tindakan yang melukai, jangan mempertahankannya dengan alasan bahwa kita telah banyak berkorban. Jika ada ketidakjujuran, jangan membenarkannya hanya karena hasilnya dipakai memenuhi kebutuhan rumah. Jika ada kebiasaan merendahkan orang, jangan menganggapnya bagian yang tidak dapat diubah dari karakter kita. Dikenal oleh Tuhan merupakan penghiburan, tetapi juga panggilan untuk melepaskan kepura-puraan dan masuk ke dalam pertobatan yang nyata.

Bagian kedua tema ini mengajak kita bertanya apakah kita semakin mengenal Sang Gembala. Pengenalan itu tidak cukup dinilai dari banyaknya kegiatan yang kita ikuti, melainkan dari kesediaan menerima firman sebagai penuntun. Seorang bapak mungkin dapat memimpin doa dengan lancar, tetapi tetap perlu bertanya apakah hatinya mau menaati Tuhan ketika harus mengalah dari gengsi, berkata jujur, dan mendengarkan orang yang lebih muda. Kita tidak perlu malu memulai lagi kebiasaan membaca Alkitab atau bertanya tentang firman yang belum dipahami. Yang berbahaya bukan ketidaktahuan yang diakui, melainkan perasaan sudah mengetahui semuanya sehingga tidak lagi bersedia diajar.

Mengenal Gembala berarti membiasakan hati mendengarkan suara yang benar. Kita dapat memulai dengan menyediakan waktu membaca satu bagian Alkitab secara utuh, merenungkan apa yang dinyatakannya tentang Kristus, lalu membawa satu penerapan ke dalam doa dan tindakan. Ketika menerima ajakan atau mengambil keputusan, jangan hanya bertanya apakah hal itu menguntungkan, tetapi juga apakah dilakukan dalam kejujuran dan membawa kebaikan. Ketika marah, jangan segera menganggap semua pikiran yang muncul sebagai kebenaran. Berhentilah sejenak, dengarkan keadaan, dan izinkan firman memeriksa keinginan kita. Dengan cara itu, pengenalan kepada Tuhan tidak terpisah dari keputusan sehari-hari.

Dalam keluarga, buah pengenalan itu perlu terlihat melalui perhatian yang lebih sungguh. Bagi saudara yang menjadi suami, tanyakanlah apakah pasangan merasa aman untuk menyampaikan pendapat tanpa takut direndahkan. Bagi yang menjadi ayah, sediakan ruang bagi anak untuk bercerita tanpa langsung dibandingkan dengan anak lain atau dengan masa muda kita. Bagi yang menjadi opa, teruslah menjadi tempat doa, kasih, dan hikmat, tanpa merasa harus menentukan semua pilihan generasi yang lebih muda. Kita tidak selalu mempunyai jawaban, tetapi kita dapat belajar hadir dengan kasih. Mengenal keluarga berarti memperhatikan siapa mereka, bukan hanya bagaimana mereka memenuhi harapan kita.

Kepemimpinan yang belajar dari Kristus juga bersedia bertanggung jawab ketika terjadi kesalahan. Permintaan maaf tidak perlu disertai alasan yang kembali menyalahkan orang yang terluka. Lebih baik mengakui dengan jelas bahwa perkataan atau tindakan kita salah, kemudian menunjukkan perubahan secara konsisten. Jangan menuntut kepercayaan pulih hanya karena kita sudah sekali mengucapkan maaf, sebab orang yang terluka memerlukan bukti bahwa keadaan akan lebih aman. Jika kesalahan melibatkan bahaya atau kekerasan, keselamatan harus didahulukan dan pendampingan yang tepat perlu dicari. Merawat keluarga tidak sama dengan menjaga agar persoalan selalu tersembunyi.

Dalam pekerjaan, pengenalan kepada Gembala menolong kita menjaga hubungan antara tanggung jawab dan tujuan hidup. Bekerjalah dengan sungguh-sungguh, tetapi jangan membiarkan pekerjaan menjadi alasan untuk mengabaikan semua relasi. Carilah penghasilan dengan tekun, tetapi jangan menjadikan kebutuhan sebagai pembenaran bagi penipuan. Jika dipercayakan memimpin orang lain, perlakukan mereka dengan hormat dan jangan memanfaatkan kedudukan untuk mempermalukan. Bagi saudara yang sedang mencari pekerjaan atau menghadapi perubahan penghasilan, jangan menilai seluruh diri hanya berdasarkan keadaan tersebut. Kehidupan saudara tetap mempunyai arti, dan saudara tetap dapat menjadi berkat melalui kejujuran, perhatian, doa, dan tanggung jawab yang dijalani.

Dalam persekutuan P/KB, marilah membangun kebiasaan saling mengenal lebih dalam daripada sekadar mengetahui nama dan pekerjaan. Ada saudara yang mungkin tidak banyak berbicara tetapi membutuhkan teman untuk mendengar; ada yang lama tidak hadir karena bergumul, bukan karena tidak peduli; ada yang terlihat berhasil tetapi sedang menghadapi persoalan yang berat. Kita tidak perlu memaksa siapa pun membuka hal pribadi, tetapi dapat menawarkan kehadiran yang menghormati kerahasiaan. Persekutuan yang memelihara tidak menjadikan cerita pergumulan sebagai bahan percakapan, melainkan sebagai tanggung jawab untuk mendoakan dan menolong dengan bijaksana.

Firman ini juga mengajak P/KB menjauhkan pelayanan dari persaingan pengaruh. Kita tidak merawat milik sendiri dan tidak sedang membangun pengikut bagi nama pribadi. Ketika saudara lain mendapat kesempatan melayani, kita dapat mendukung tanpa merasa nilai diri berkurang. Ketika ada usulan yang berbeda, kita dapat membicarakannya tanpa membentuk permusuhan. Ketika seorang pemimpin melakukan kesalahan, kita dapat menyampaikan koreksi dengan benar, sebab menghormati seseorang tidak berarti membiarkannya bertindak tanpa pertanggungjawaban. Satu kawanan membutuhkan kasih dan kebenaran, bukan kepatuhan buta kepada manusia.

Bagi kaum bapak yang sedang mengalami kehilangan, sakit, atau masa depan yang tidak pasti, jangan merasa harus segera mempunyai penjelasan bagi semua yang terjadi. Percaya kepada Gembala tidak berarti tidak boleh menangis atau bertanya. Kita boleh memohon pertolongan sambil mengakui ketakutan, dan boleh menerima dukungan ketika kekuatan terbatas. Dalam penderitaan, jangan membuat kesimpulan bahwa Tuhan berhenti mengasihi hanya karena proses belum selesai. Pada saat yang sama, jangan merasa bersalah mencari perawatan, perlindungan, atau bantuan yang diperlukan. Bersandar kepada Kristus dapat berjalan bersama tindakan yang bijaksana dalam merawat kehidupan.

Kisah Petrus mengingatkan bahwa kegagalan tidak perlu menjadi alasan untuk berhenti datang kepada Tuhan. Namun pemulihan juga memanggil kita meninggalkan pembenaran diri dan belajar hidup dengan arah yang baru. Petrus tidak dipanggil untuk membesarkan dirinya, melainkan merawat milik Kristus sambil terus mengikuti Tuhan. Demikian pula, setelah menerima pengampunan, seorang bapak dipanggil menjadi lebih bertanggung jawab, lebih bersedia mendengar, dan lebih hati-hati menggunakan pengaruhnya. Orang yang telah dipelihara oleh Gembala yang baik seharusnya tidak semakin ingin menguasai, tetapi semakin belajar mengasihi.

Karena itu, bawalah satu langkah nyata dari firman ini ke dalam kehidupan sesudah ibadah. Mungkin langkah itu adalah memulai percakapan yang selama ini ditunda, meminta maaf kepada pasangan atau anak, menyediakan waktu mendengarkan, menghentikan perkataan yang merendahkan, atau menghubungi seorang saudara yang sedang membutuhkan dukungan. Mungkin kita perlu kembali membangun kehidupan doa, menerima koreksi dalam pekerjaan, atau membuka diri terhadap pendampingan. Jangan menunggu sanggup melakukan semuanya sekaligus, tetapi jangan pula membiarkan niat baik terus berhenti sebagai rencana. Mulailah dengan ketaatan yang jelas dan peliharalah dengan kesungguhan.

Marilah kita membawa kerinduan ini dalam doa: Tuhan Yesus, Gembala yang baik, ajarlah kami menerima kasih-Mu dengan rendah hati dan mengenal Engkau melalui firman serta ketaatan. Tolonglah kami berhenti menyembunyikan kelemahan di balik gengsi, dan berilah keberanian untuk mengakui kesalahan serta memperbaiki tindakan. Bentuklah kami menjadi pria yang mendengarkan sebelum menghakimi, melindungi tanpa menguasai, memimpin tanpa mempermalukan, dan melayani tanpa memperalat. Biarlah keluarga, jemaat, dan sesama merasakan buah kasih-Mu melalui kehidupan kami.

Akhirnya, saudara-saudara P/KB GMIM, kita tidak mengetahui seluruh jalan di depan, tetapi kita dapat terus bertumbuh mengenal Kristus yang kita ikuti. Kita tidak selalu mampu menjaga semua keadaan, tetapi kita dapat belajar mempercayakan hidup kepada-Nya dan menjalankan tanggung jawab dengan setia.

Biarlah tema “Aku Mengenal Domba-Domba-Ku Dan Domba-Domba-Ku Mengenal Aku” menjadi penghiburan ketika kita lemah, teguran ketika kita menyimpang, dan panggilan untuk semakin dekat kepada Tuhan. Sebelum kita menuntun orang lain, marilah dituntun oleh Kristus; sebelum kita meminta keluarga mendengarkan, marilah mendengarkan firman-Nya; dan ketika kita melayani, biarlah yang nyata bukan kehebatan diri, melainkan kasih Sang Gembala yang hidup dalam tindakan kita.

Amin.

Editor : Clavel Lukas
mtpj gmim renungan p/kb PKB GMIM khotbah Renungan