Ayat kunci:
“Berikanlah kepadaku pegunungan ini, yang dijanjikan TUHAN pada waktu itu.”
Yosua 14:12
Yosua 17–18 berbicara tentang pembagian tanah yang menjadi milik bangsa Israel setelah mereka memasuki Tanah Perjanjian. Tanah tersebut bukan sekadar wilayah untuk ditempati, tetapi merupakan bagian dari janji Tuhan kepada umat-Nya.
Namun, dalam proses menerima bagian yang Tuhan sediakan, bangsa Israel tetap harus bergerak, berjuang, menghadapi tantangan, dan mengambil langkah iman.
1. Tuhan Menentukan Bagian Setiap Orang
Dalam Yosua 17, kita melihat keturunan Yusuf, yaitu suku Manasye dan Efraim, menerima bagian mereka. Pembagian tanah dilakukan menurut ketetapan Tuhan.
Hal ini mengingatkan kita bahwa Tuhan mempunyai rencana dan bagian bagi setiap kehidupan. Apa yang Tuhan sediakan bagi seseorang tidak selalu sama dengan yang diberikan kepada orang lain.
Karena itu, kita tidak perlu hidup dalam iri hati atau terus membandingkan kehidupan kita dengan orang lain.
Ada bagian yang Tuhan percayakan kepada kita. Ada panggilan, tanggung jawab, kesempatan, dan berkat yang harus kita jalani dengan setia.
Sering kali kita melihat kehidupan orang lain dan berpikir bahwa mereka mendapatkan lebih banyak. Kita melihat keberhasilan mereka, keluarga mereka, pelayanan mereka, pekerjaan mereka, atau kesempatan yang mereka miliki.
Tetapi Tuhan tidak meminta kita untuk menjadi orang lain.
Tuhan ingin kita setia terhadap bagian yang telah Dia percayakan kepada kita.
2. Berkat Tuhan Harus Disertai Keberanian
Ketika keturunan Yusuf menerima bagian tanah mereka, mereka menghadapi persoalan. Mereka merasa wilayah yang diberikan kepada mereka tidak cukup karena orang Kanaan masih tinggal di daerah tersebut.
Yosua kemudian memberikan tantangan agar mereka tidak hanya mengeluh, tetapi bertindak.
Yosua 17:18 mengatakan:
“Tetapi pegunungan akan menjadi kepunyaanmu juga; walaupun itu hutan, haruslah kamu tebang dan daerah-daerah pinggirannya haruslah menjadi kepunyaanmu, sebab kamu akan menghalau orang Kanaan itu, walaupun mereka mempunyai kereta-kereta besi dan walaupun mereka kuat.”
Perhatikan perkataan Yosua: “kamu akan menghalau orang Kanaan itu.”
Ada sesuatu yang harus dilakukan oleh umat Tuhan.
Janji Tuhan bukan alasan untuk menjadi pasif. Justru karena Tuhan telah memberikan janji, umat-Nya harus melangkah dengan iman.
Kadang-kadang kita berdoa meminta Tuhan membuka jalan, tetapi ketika jalan itu terbuka, kita takut untuk melangkah.
Kita meminta Tuhan memberikan kesempatan, tetapi ketika kesempatan datang, kita takut mengambilnya.
Kita meminta Tuhan memberikan pertumbuhan dalam pelayanan, tetapi ketika Tuhan memberikan tanggung jawab, kita merasa tidak sanggup.
Yosua 17 mengajarkan bahwa iman bukan hanya percaya bahwa Tuhan sanggup, tetapi juga berani melakukan bagian yang Tuhan percayakan kepada kita.
3. Jangan Menjadikan Tantangan sebagai Alasan untuk Berhenti
Keturunan Yusuf melihat bahwa orang Kanaan mempunyai kekuatan dan kereta-kereta besi. Secara manusia, hal tersebut merupakan ancaman yang serius.
Tetapi Yosua tidak menyuruh mereka menyerah.
Mereka harus melihat lebih besar daripada persoalan yang ada di depan mata.
Dalam kehidupan kita, sering kali tantangan terlihat lebih besar daripada kemampuan kita.
Masalah ekonomi bisa membuat kita takut.
Masalah keluarga bisa membuat kita kehilangan pengharapan.
Tantangan pelayanan bisa membuat kita ingin berhenti.
Pergumulan pekerjaan dapat membuat kita merasa tidak memiliki masa depan.
Namun, orang percaya tidak dipanggil untuk hidup berdasarkan besarnya masalah, melainkan berdasarkan besarnya Tuhan.
Apa yang terlihat kuat di hadapan manusia tidak lebih besar daripada kuasa Tuhan.
Karena itu, ketika menghadapi “kereta-kereta besi” dalam kehidupan kita, jangan langsung berkata, “Saya tidak bisa.”
Belajarlah berkata:
“Tuhan menyertai saya. Saya akan melakukan bagian saya dan percaya Tuhan akan memberikan kemenangan.”
4. Yosua 18: Jangan Berhenti Sebelum Semua Bagian Diterima
Dalam Yosua 18, bangsa Israel berkumpul di Silo dan mendirikan Kemah Pertemuan. Namun masih ada tujuh suku Israel yang belum menerima bagian tanah mereka.
Yosua kemudian menegur mereka:
“Berapa lama lagi kamu bermalas-malas, sehingga kamu tidak pergi menduduki negeri yang diberikan kepadamu oleh TUHAN, Allah nenek moyangmu?”
Yosua 18:3
Pertanyaan ini sangat kuat.
Tuhan sudah memberikan tanah itu, tetapi mereka belum mendudukinya.
Ada perbedaan antara memiliki janji dan mengambil langkah untuk menikmati apa yang Tuhan sediakan.
Dalam kehidupan rohani, kita juga sering mengetahui banyak janji Tuhan, tetapi tidak selalu menjalankannya.
Kita tahu Tuhan meminta kita mengampuni, tetapi kita masih menyimpan kepahitan.
Kita tahu Tuhan meminta kita berdoa, tetapi kita sering mengabaikan waktu bersama-Nya.
Kita tahu Tuhan memanggil kita melayani, tetapi kita terus mencari alasan.
Kita tahu Tuhan ingin kita hidup dalam kekudusan, tetapi kita masih mempertahankan kebiasaan lama.
Yosua 18 mengingatkan kita untuk tidak terus-menerus tinggal dalam keadaan menunggu.
Ada saatnya kita harus bangkit dan bergerak.
5. Tuhan Tidak Ingin Kita Berhenti di Tengah Jalan
Bangsa Israel sudah mengalami banyak mujizat. Mereka telah melihat bagaimana Tuhan membawa mereka keluar dari Mesir, menyeberangi sungai Yordan, meruntuhkan Yerikho, dan memberikan kemenangan dalam berbagai peperangan.
Namun perjalanan mereka belum selesai.
Demikian juga kehidupan orang percaya.
Pernah mengalami mujizat bukan berarti tidak akan menghadapi tantangan lagi.
Pernah mengalami pertolongan Tuhan bukan berarti perjalanan selanjutnya selalu mudah.
Tetapi pengalaman masa lalu seharusnya menjadi alasan untuk semakin percaya kepada Tuhan.
Jika Tuhan sudah menolong kita sebelumnya, kita mempunyai alasan untuk percaya bahwa Dia tetap sanggup menolong kita hari ini.
Aplikasi dalam Kehidupan
Dari Yosua 17–18, ada beberapa hal yang dapat kita lakukan.
Pertama, kenali bagian yang Tuhan percayakan kepada kita.
Jangan terlalu sibuk melihat bagian orang lain sampai kita melupakan tanggung jawab sendiri.
Kedua, jangan takut menghadapi tantangan.
Kereta besi dan orang Kanaan yang kuat tidak membatalkan janji Tuhan. Masalah yang besar tidak berarti Tuhan meninggalkan kita.
Ketiga, berhenti menunda ketaatan.
Jika Tuhan sudah menunjukkan sesuatu yang harus kita lakukan, jangan terus menunggu keadaan menjadi sempurna.
Keempat, lakukan bagian kita dengan iman.
Tuhan memberikan kekuatan, tetapi kita tetap harus melangkah. Tuhan membuka pintu, tetapi kita harus berani masuk melalui pintu tersebut.
Kelima, tetap mengandalkan Roh Kudus.
Sebagai umat Pantekosta, kita percaya bahwa Roh Kudus bukan hanya hadir dalam ibadah, tetapi menolong kita menjalani kehidupan setiap hari. Roh Kudus memberikan keberanian, kekuatan, hikmat, dan pertolongan sehingga kita mampu melakukan kehendak Tuhan.
Renungan Pribadi
Mungkin hari ini ada “pegunungan” yang Tuhan taruh di depan kita.
Mungkin itu tanggung jawab yang selama ini kita hindari.
Mungkin sebuah keputusan yang harus diambil.
Mungkin pelayanan yang harus kita jalankan.
Mungkin hubungan yang perlu dipulihkan.
Mungkin sebuah langkah iman yang selama ini kita takut lakukan.
Jangan hanya melihat tingginya gunung.
Lihatlah Tuhan yang memberikan gunung itu sebagai bagian yang harus kita kerjakan.
Jangan hanya melihat kuatnya “kereta besi”.
Ingatlah bahwa Tuhan jauh lebih besar daripada setiap kekuatan yang menghadang.
Dan jangan sampai Tuhan bertanya kepada kita seperti Yosua bertanya kepada bangsa Israel:
“Berapa lama lagi kamu bermalas-malas?”
Hari ini adalah waktunya untuk bangkit.
Hari ini adalah waktunya untuk percaya.
Hari ini adalah waktunya untuk melangkah.
Yosua 17–18 mengajarkan bahwa Tuhan adalah Allah yang memberikan bagian dan janji kepada umat-Nya. Namun, umat Tuhan harus berani bergerak untuk menerima dan mengusahakan apa yang telah Tuhan percayakan.
Jangan biarkan ketakutan membuat kita berhenti. Jangan biarkan tantangan membuat kita menyerah. Jangan biarkan kenyamanan membuat kita malas bergerak.
Apa yang Tuhan percayakan kepada kita harus dikerjakan dengan iman, keberanian, dan ketekunan.
Tuhan menyediakan bagian kita, tetapi kita harus berani melangkah untuk mendudukinya.
Doa Penutup
Tuhan Yesus, kami bersyukur untuk firman-Mu hari ini. Kami percaya bahwa Engkau mempunyai rencana dan bagian yang telah Engkau sediakan bagi kehidupan kami.
Ampuni kami apabila selama ini kami terlalu takut menghadapi tantangan, terlalu banyak melihat kehidupan orang lain, atau terlalu sering menunda apa yang Engkau kehendaki.
Berikan kami keberanian seperti Yosua dan bangsa Israel untuk melangkah dalam iman. Ketika kami menghadapi “kereta-kereta besi” dalam kehidupan kami, ajarlah kami untuk tidak takut, tetapi tetap percaya kepada kuasa-Mu.
Roh Kudus, pimpinlah setiap langkah kami. Berikan hikmat ketika mengambil keputusan, kekuatan ketika menghadapi tekanan, dan keberanian untuk melakukan kehendak Tuhan.
Tolong kami supaya tidak bermalas-malasan terhadap tanggung jawab yang Engkau percayakan. Ajarlah kami setia sampai akhir dan jangan berhenti sebelum menyelesaikan apa yang Tuhan percayakan kepada kami.
Dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa dan mengucap syukur. Amin (*)
Editor : Deiby Rotinsulu