Bacaan dan Renungan untuk Umat Katolik, Hari Sabtu 26 September 2026

Fandy Gerungan • Dipublikasikan Rabu, 23 September 2026 | 14:21 WIB
Perjamuan Malam Terakhir
Perjamuan Malam Terakhir

Pekan Biasa ke XXV (Warna Liturgi Hijau)

Bacaan I Pengkhotbah 11:9-12:8

Bersukarialah, hai pemuda, dalam kemudaanmu, biarlah hatimu bersuka pada masa mudamu, dan turutilah keinginan hatimu dan pandangan matamu, tetapi ketahuilah bahwa karena segala hal ini Allah akan membawa engkau ke pengadilan!

Buanglah kesedihan dari hatimu dan jauhkanlah penderitaan dari tubuhmu, karena kemudaan dan fajar hidup adalah kesia-siaan.

Ingatlah akan Penciptamu pada masa mudamu, sebelum tiba hari-hari yang malang dan mendekat tahun-tahun yang kaukatakan: "Tak ada kesenangan bagiku di dalamnya!",

sebelum matahari dan terang, bulan dan bintang-bintang menjadi gelap, dan awan-awan datang kembali sesudah hujan,

pada waktu penjaga-penjaga rumah gemetar, dan orang-orang kuat membungkuk, dan perempuan-perempuan penggiling berhenti karena berkurang jumlahnya, dan yang melihat dari jendela semuanya menjadi kabur,

dan pintu-pintu di tepi jalan tertutup, dan bunyi penggilingan menjadi lemah, dan suara menjadi seperti kicauan burung, dan semua penyanyi perempuan tunduk,

juga orang menjadi takut tinggi, dan ketakutan ada di jalan, pohon badam berbunga, belalang menyeret dirinya dengan susah payah dan nafsu makan tak dapat dibangkitkan lagi?karena manusia pergi ke rumahnya yang kekal dan peratap-peratap berkeliaran di jalan,

sebelum rantai perak diputuskan dan pelita emas dipecahkan, sebelum tempayan dihancurkan dekat mata air dan roda timba dirusakkan di atas sumur,

dan debu kembali menjadi tanah seperti semula dan roh kembali kepada Allah yang mengaruniakannya.

Kesia-siaan atas kesia-siaan, kata Pengkhotbah, segala sesuatu adalah sia-sia.

Demikianlah Sabda Tuhan

U. Syukur kepada Allah

Mazmur 90:3-4.5-6.12-13.14.17

Engkau mengembalikan manusia kepada debu, dan berkata: "Kembalilah, hai anak-anak manusia!"

Sebab di mata-Mu seribu tahun sama seperti hari kemarin, apabila berlalu, atau seperti suatu giliran jaga di waktu malam.

Engkau menghanyutkan manusia; mereka seperti mimpi, seperti rumput yang bertumbuh,

di waktu pagi berkembang dan bertumbuh, di waktu petang lisut dan layu.

Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian, hingga kami beroleh hati yang bijaksana.

Kembalilah, ya TUHAN? berapa lama lagi? dan sayangilah hamba-hamba-Mu!

Kenyangkanlah kami di waktu pagi dengan kasih setia-Mu, supaya kami bersorak-sorai dan bersukacita semasa hari-hari kami.

Kiranya kemurahan Tuhan, Allah kami, atas kami, dan teguhkanlah perbuatan tangan kami, ya, perbuatan tangan kami, teguhkanlah itu.

Bacaan Injil Lukas 9:43b-45

Maka takjublah semua orang itu karena kebesaran Allah. (9-43b) Ketika semua orang itu masih heran karena segala yang diperbuat-Nya itu, Yesus berkata kepada murid-murid-Nya:

"Dengarlah dan camkanlah segala perkataan-Ku ini: Anak Manusia akan diserahkan ke dalam tangan manusia."

Mereka tidak mengerti perkataan itu, sebab artinya tersembunyi bagi mereka, sehingga mereka tidak dapat memahaminya. Dan mereka tidak berani menanyakan arti perkataan itu kepada-Nya.

Demikianlah Injil Tuhan

U. Terpujilah Kristus

Renungan

Saudara/i terkasih hidup manusia terus berjalan. Masa muda akan berlalu, kekuatan akan berkurang, kesempatan akan datang dan pergi, sampai akhirnya setiap orang akan kembali kepada Tuhan yang menjadi sumber kehidupannya. 

Pengkhotbah mengajak kita menyadari bahwa segala sesuatu di dunia ini bersifat sementara. Apa yang hari ini kita miliki, suatu saat akan kita tinggalkan.

Karena itu, menikmati kehidupan bukanlah sesuatu yang salah. Kita boleh bersukacita, mengejar cita-cita, menikmati persahabatan, bekerja, belajar, membangun keluarga, dan menggunakan talenta yang Tuhan berikan. 

Namun, semua itu perlu dijalani dengan kesadaran bahwa hidup bukan hanya tentang kesenangan dan keberhasilan duniawi.

Ada saat ketika manusia terlalu sibuk mengejar sesuatu sampai lupa kepada Tuhan. Kita mengejar prestasi, uang, popularitas, kenyamanan, pengakuan, bahkan keinginan pribadi. 

Tanpa disadari, hal-hal yang seharusnya menjadi sarana justru berubah menjadi tujuan utama kehidupan. Ketika itu terjadi, hati manusia perlahan kehilangan arah.

Pengkhotbah mengingatkan kita untuk mengingat Sang Pencipta sejak masa muda. Pesannya sangat penting: jangan menunggu sampai tua, lemah, atau menghadapi kesulitan besar baru mencari Tuhan. 

Tuhan bukan sekadar tempat kita datang ketika membutuhkan pertolongan. Tuhan adalah dasar kehidupan kita sejak awal sampai akhir.

Injil hari ini membawa kita lebih dalam. Setelah menyaksikan karya Yesus yang mengagumkan, para murid justru mendengar tentang penderitaan yang akan dialami-Nya. 

Mereka belum mampu memahami bahwa jalan keselamatan ternyata tidak selalu berupa kemenangan yang terlihat oleh manusia. Ada salib, pengorbanan, penderitaan, dan penyerahan diri.

Di sinilah kita belajar bahwa tidak semua hal dalam hidup langsung dapat kita mengerti. Ada pengalaman yang membuat kita bertanya kepada Tuhan: mengapa harus terjadi?

Mengapa doa belum terjawab? Mengapa perjuangan terasa berat? Mengapa orang yang berbuat baik harus mengalami penderitaan?

Iman Katolik mengajarkan bahwa ketika kita belum memahami jalan Tuhan, kita tetap dipanggil untuk percaya. Para murid membutuhkan waktu untuk memahami misteri salib. Demikian pula kita. 

Tidak semua jawaban harus kita dapatkan hari ini. Yang penting adalah tetap berjalan bersama Kristus.

Salib menunjukkan bahwa hidup yang bermakna bukanlah hidup tanpa penderitaan. Hidup yang bermakna adalah hidup yang dijalani bersama Tuhan, termasuk ketika jalan yang kita tempuh terasa berat. 

Kristus sendiri menunjukkan bahwa kasih yang sejati membutuhkan pengorbanan dan kesetiaan.

Karena itu, marilah kita menikmati setiap tahap kehidupan dengan penuh syukur, tetapi jangan sampai kehilangan Tuhan di tengah perjalanan. 

Gunakan masa muda, kesempatan, kesehatan, kemampuan, pekerjaan, pendidikan, dan relasi yang kita miliki sebagai kesempatan untuk melakukan kebaikan.

Pada akhirnya, yang membuat hidup kita berarti bukan seberapa banyak yang kita kumpulkan, tetapi seberapa dalam kita mengasihi Tuhan dan sesama. 

Apa yang kita miliki akan berlalu, tetapi kasih yang kita hidupi di dalam Kristus tidak pernah menjadi sia-sia.

Hari ini Tuhan mengajak kita untuk tidak takut menjalani hidup. Bersukacitalah, berjuanglah, bermimpilah, tetapi tetaplah mengingat siapa yang menjadi sumber kehidupan kita. 

Ketika kita menempatkan Tuhan sebagai pusat hidup, setiap kegembiraan memiliki makna, setiap perjuangan memiliki nilai, dan bahkan penderitaan pun dapat menjadi jalan menuju kedewasaan iman.

Hidup memang sementara. Namun, di dalam Kristus, hidup yang sementara ini dapat menjadi perjalanan menuju kehidupan yang kekal bersama Allah. (*)

Editor : Fandy Gerungan
renungan katolik Renungan