Bacaan: 1 Timotius 3:1–13
Tema: “Diuji Dahulu Baru Ditetapkan Dalam Pelayanan”
Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan, dalam kehidupan gereja ada banyak orang yang mempunyai kerinduan untuk melayani. Kerinduan itu baik. Ada yang ingin menjadi pelayan karena sungguh mengasihi Tuhan dan jemaat, ada yang merasa terpanggil memberikan waktu dan tenaga, ada yang mempunyai kemampuan memimpin, mengajar, mengatur, berbicara, atau membangun hubungan dengan orang lain. Semua kemampuan itu dapat menjadi berkat bagi gereja. Namun Firman Tuhan hari ini menunjukkan bahwa dalam pelayanan, kerinduan saja belum cukup, kemampuan saja belum cukup, popularitas saja belum cukup, bahkan kesediaan untuk melayani saja belum otomatis berarti seseorang sudah siap ditetapkan untuk memikul tanggung jawab pelayanan.
Inilah sebabnya tema kita berkata, “Diuji Dahulu Baru Ditetapkan Dalam Pelayanan.” Tema ini langsung berhubungan dengan perkataan Paulus dalam 1 Timotius 3:10 mengenai para diaken: mereka harus diuji terlebih dahulu dan apabila ternyata tidak bercacat dalam pengertian layak serta dapat dipercaya, barulah mereka melayani. Prinsip yang kita temukan dalam keseluruhan pasal ini menunjukkan bahwa gereja tidak boleh tergesa-gesa menyerahkan tanggung jawab rohani hanya karena seseorang terkenal, mempunyai banyak teman, pandai berbicara, mempunyai kemampuan ekonomi, berasal dari keluarga tertentu, atau mempunyai pengaruh yang besar. Pelayanan gereja bukan hadiah atas popularitas dan bukan pula kedudukan sosial. Pelayanan adalah kepercayaan dari Tuhan yang berhubungan dengan kehidupan umat-Nya.
Baca Juga: Revisi Tata Gereja GMIM di Sidang Istimewa, Stop Bawa Kepentingan Tertentu !
Baca Juga: 15 Alasan Dkn, Pnt GA, Pdt dan Calon BPMS GMIM Maksimal 65 Tahun
Karena itu ketika gereja mempertimbangkan seseorang untuk pelayanan, pertanyaannya bukan pertama-tama, “Apakah ia mampu tampil?” tetapi “Bagaimana kehidupannya?” Bukan hanya, “Apakah ia pandai berbicara?” tetapi “Apakah perkataannya dapat dipercaya?” Bukan hanya, “Apakah ia mempunyai banyak pengalaman?” tetapi “Apakah pengalaman itu menghasilkan kedewasaan?” Bukan hanya, “Apakah ia dikenal banyak orang?” tetapi “Bagaimana kesaksian orang tentang karakter kehidupannya?” Bukan hanya, “Apakah ia hadir dalam banyak kegiatan?” tetapi “Apakah ia hidup dalam kebenaran ketika tidak ada orang yang melihat?”
Di sinilah kita perlu memahami arti “diuji”. Diuji bukan berarti seseorang harus menjadi manusia yang sama sekali tidak pernah salah, karena tidak ada pelayan Tuhan yang sempurna. Kalau kesempurnaan tanpa dosa menjadi syarat pelayanan, tidak seorang pun dapat melayani. Yang dimaksud ialah bahwa kehidupan seseorang harus cukup dikenal dan telah menunjukkan buah iman yang dapat dipercaya. Ia harus memperlihatkan kematangan, kemampuan menerima koreksi, kesetiaan, penguasaan diri, tanggung jawab, serta kehidupan yang tidak bertentangan secara nyata dengan iman yang ia akui.
Pengujian juga bukan mencari-cari kesalahan untuk menjatuhkan seseorang. Pengujian yang benar bertujuan melindungi jemaat, melindungi pelayanan, dan bahkan melindungi orang yang akan melayani supaya ia tidak diberikan beban yang belum siap dipikulnya. Terkadang kita menganggap semakin cepat seseorang diberikan jabatan semakin baik, padahal Firman Tuhan justru menunjukkan bahwa proses adalah bagian dari persiapan Allah.
Ada karakter yang hanya terlihat setelah melewati waktu. Ada kesetiaan yang baru terlihat ketika seseorang tidak mendapat pujian. Ada penguasaan diri yang baru terlihat ketika ia diprovokasi. Ada kerendahan hati yang baru terlihat ketika pendapatnya tidak diterima. Ada integritas yang baru terlihat ketika terbuka kesempatan melakukan sesuatu yang salah tanpa diketahui orang lain.
Karena itu Firman hari ini penting bukan hanya bagi mereka yang akan dipilih atau ditetapkan sebagai pelayan. Firman ini penting bagi seluruh jemaat. Mereka yang memilih harus bertanya berdasarkan ukuran Firman Tuhan, bukan ukuran kedekatan pribadi. Mereka yang dipilih harus melakukan pemeriksaan diri, bukan sekadar mengejar kedudukan. Mereka yang sudah melayani harus terus menguji kehidupan mereka, karena penetapan bukan akhir dari proses pembentukan. Bahkan semakin besar kepercayaan yang diberikan, semakin besar pula tanggung jawab untuk menjaga kehidupan.
Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan
Surat 1 Timotius memperkenalkan dirinya sebagai surat Paulus kepada Timotius, seorang rekan pelayanan yang sangat dekat dengannya dan disebut sebagai anaknya yang sah di dalam iman. Timotius berada di Efesus dengan tugas menghadapi persoalan pengajaran yang tidak sehat serta membantu menata kehidupan jemaat. Karena itu surat ini banyak berbicara mengenai kehidupan gereja, ajaran yang benar, kesalehan, hubungan antaranggota jemaat, kepemimpinan, serta kualitas orang yang dipercayakan tanggung jawab dalam pelayanan.
Efesus merupakan kota yang penting dan berpengaruh. Jemaat berada di tengah masyarakat dengan berbagai nilai, ajaran, kepentingan ekonomi, dan kehidupan religius yang kompleks. Di dalam jemaat sendiri muncul persoalan pengajaran yang salah. Karena itu Paulus tidak hanya memikirkan bagaimana gereja mempunyai struktur, tetapi bagaimana gereja memiliki pelayan yang hidupnya selaras dengan Injil. Salah satu tekanan penting surat ini ialah bahwa iman yang sehat harus terlihat dalam kehidupan yang sehat; antara apa yang dipercayai dan bagaimana seseorang hidup tidak boleh dipisahkan.
Hal ini menjelaskan mengapa ketika Paulus berbicara mengenai penilik jemaat dan diaken dalam pasal 3, sebagian besar persyaratan yang disebutkan bukan mengenai bakat luar biasa. Paulus memang menyebut kemampuan mengajar bagi penilik, tetapi daftar itu terutama berbicara mengenai karakter: tidak bercacat, setia dalam kehidupan pernikahan, dapat menahan diri, bijaksana, sopan, suka memberi tumpangan, tidak peminum, tidak pemarah, peramah, pendamai, tidak cinta uang, mampu mengelola rumah tangga, matang dalam iman, dan mempunyai nama baik di luar jemaat. Untuk diaken pun tekanannya sama: terhormat, tidak bercabang lidah, tidak diperbudak minuman, tidak mencari keuntungan yang tidak pantas, memegang iman dengan hati nurani yang suci, lalu diuji terlebih dahulu.
Dari sini kita melihat sesuatu yang sangat penting: Tuhan lebih dahulu memperhatikan siapa diri seorang pelayan sebelum memperhatikan posisi apa yang akan dipegangnya. Gereja zaman sekarang mudah terpesona oleh kemampuan komunikasi, pendidikan tinggi, pengalaman organisasi, jaringan yang luas, kekuatan ekonomi, atau kemampuan menggerakkan banyak orang. Semua itu dapat berguna, tetapi tidak dapat menggantikan karakter. Kemampuan dapat membawa seseorang ke depan banyak orang, tetapi hanya karakter yang membuatnya tetap dapat dipercaya ketika sudah berada di sana.
Tema “Diuji Dahulu Baru Ditetapkan Dalam Pelayanan” karena itu bukan ajakan supaya gereja menjadi curiga kepada setiap calon pelayan. Tema ini adalah panggilan supaya gereja serius terhadap kekudusan pelayanan. Orang yang akan memegang tanggung jawab terhadap umat tidak boleh ditentukan hanya oleh perasaan suka atau tidak suka, kedekatan keluarga, pertemanan, popularitas, kekayaan, atau tekanan kelompok. Firman Tuhan memberikan ukuran yang berbeda: karakter, kesetiaan, kematangan rohani, kemampuan merawat keluarga dan jemaat, kesaksian yang baik, serta iman yang diwujudkan dalam kehidupan.
Dan hal yang sama berlaku kepada diri kita. Sebelum bertanya, “Apakah saya akan dipilih?” lebih baik bertanya, “Apakah kehidupan saya sedang dibentuk untuk menjadi pelayan yang dapat dipercaya Tuhan?”
PEMBAHASAN AYAT PER AYAT
Ayat 1 mengatakan bahwa apabila seseorang menghendaki jabatan penilik jemaat, ia menginginkan pekerjaan yang indah. Paulus tidak menyalahkan kerinduan untuk melayani. Ada sesuatu yang mulia dalam keinginan memberikan hidup bagi pekerjaan Tuhan, tetapi perhatikan bahwa yang ditekankan bukan pertama-tama kemuliaan sebuah posisi, melainkan kebaikan sebuah pekerjaan. Pelayanan bukan pangkat yang membuat seseorang lebih tinggi daripada jemaat, tetapi pekerjaan yang membawa tanggung jawab. Karena itu motivasi seseorang perlu diuji.
Apakah ia menginginkan pelayanan karena ingin mengabdi atau karena ingin mendapatkan kehormatan? Apakah ia melihat jabatan sebagai kesempatan melayani atau kesempatan memiliki pengaruh? Apakah ia tetap bersedia bekerja bagi Tuhan jika namanya tidak disebut dan posisinya tidak terlihat? Pertanyaan seperti inilah yang menyentuh jantung tema kita. Kerinduan melayani adalah baik, tetapi kerinduan tersebut perlu dimurnikan supaya seseorang tidak mengejar kursi pelayanan sambil kehilangan hati seorang hamba.
Ayat 2 mengatakan bahwa penilik jemaat harus tidak bercacat, setia dalam pernikahan, dapat menahan diri, bijaksana, sopan, suka memberi tumpangan, dan cakap mengajar. “Tidak bercacat” bukan berarti tidak pernah berbuat salah, melainkan kehidupan yang tidak memberikan dasar yang sah bagi tuduhan bahwa ia menjalani pola hidup yang bertentangan dengan imannya. Ini adalah reputasi yang dibangun dari integritas. Kesetiaan dalam pernikahan menunjukkan bahwa kehidupan pribadi dan seksual seorang pelayan tidak boleh dianggap terpisah dari pelayanan.
Ungkapan yang secara harfiah dapat dipahami sebagai “seorang laki-laki dari satu perempuan” menekankan kesetiaan dan kemurnian hidup, bukan sekadar status administratif. Selanjutnya Paulus berbicara tentang penguasaan diri, kebijaksanaan, kesopanan, keramahan dan kemampuan mengajar. Pelayan Tuhan harus mampu mengendalikan diri sebelum ingin mengatur orang lain. Ia perlu memiliki hidup yang tertata sebelum menata pelayanan. Ia harus membuka ruang bagi orang lain, bukan hanya membangun lingkaran bagi kelompoknya sendiri. Dan ketika mengajar, ia tidak hanya menyampaikan pengetahuan, tetapi membawa kebenaran yang terlebih dahulu ia berusaha hidupi.
Ayat 3 melanjutkan bahwa seorang penilik tidak boleh menjadi peminum, pemarah, tetapi harus peramah, pendamai, dan tidak menjadi hamba uang. Paulus masuk kepada bagian kehidupan yang sering menguji karakter paling nyata, yaitu cara seseorang menghadapi keinginan, konflik, dan uang. Seseorang mungkin berbicara dengan sangat baik ketika berada di mimbar, tetapi karakter sesungguhnya sering terlihat ketika ia marah, ketika kepentingannya terganggu, atau ketika berhadapan dengan uang. Seorang pelayan tidak boleh menggunakan kekerasan, baik melalui tindakan maupun melalui cara berbicara yang mengintimidasi. Ketegasan berbeda dari kekasaran.
Pemimpin yang tegas dapat menyatakan kebenaran tanpa menghancurkan martabat manusia. Ia juga tidak boleh dikenal sebagai orang yang terus mencari pertengkaran. Kemampuan berdamai bukan tanda lemah, melainkan bukti penguasaan diri. Demikian pula soal uang: karena pelayanan sering bersentuhan dengan persembahan, aset, bantuan, dan berbagai sumber daya gereja, integritas keuangan harus menjadi bagian penting dari pengujian. Orang yang tidak dapat dipercaya dalam perkara uang akan membawa luka yang besar apabila diberikan akses yang lebih luas.
Ayat 4 mengatakan bahwa seorang penilik harus menjadi kepala keluarga yang baik dan disegani serta dihormati oleh anak-anaknya. Paulus membawa pengujian pelayanan masuk ke ruang yang sangat dekat: rumah. Di sinilah kita memahami bahwa kehidupan di rumah tidak dapat dipisahkan dari kehidupan di gereja. Seseorang mungkin terlihat sabar di depan jemaat karena hanya berjumpa beberapa jam, tetapi bagaimana ia memperlakukan orang yang tinggal bersamanya setiap hari?
Apakah anggota keluarganya mengenal kasih, kejujuran dan tanggung jawabnya, atau justru hanya mengenal kemarahannya? Ayat ini tidak berarti seorang pelayan dapat menjamin setiap keputusan anak yang sudah mempunyai tanggung jawab moralnya sendiri, tetapi menekankan kemampuan menjalankan kehidupan keluarga dengan tanggung jawab dan martabat. Rumah bukan panggung pertunjukan kesempurnaan, melainkan tempat pertama karakter diuji secara nyata.
Ayat 5 memberikan alasan yang sangat kuat: jika seseorang tidak tahu bagaimana mengatur keluarganya sendiri, bagaimana ia dapat mengurus jemaat Allah? Perhatikan kata yang dipakai Paulus bukan semata-mata “menguasai”, tetapi gagasan tentang merawat dan mengurus. Gereja adalah milik Allah, bukan milik pemimpin. Karena itu kepemimpinan gerejawi tidak memberi seseorang hak memperlakukan jemaat sebagai kepunyaan pribadi.
Ia dipercayakan untuk merawat sesuatu yang bukan miliknya. Prinsip ini sangat penting pada masa kini ketika jabatan kadang dipahami sebagai wilayah kekuasaan. Firman justru berkata bahwa semakin tinggi tanggung jawab seseorang, semakin besar kewajibannya merawat. Keluarga menjadi salah satu tempat pembelajaran paling nyata: apakah kita dapat mendengarkan, mengatur dengan hikmat, bertanggung jawab, menyelesaikan konflik, dan mengasihi orang yang dipercayakan kepada kita?
Ayat 6 mengatakan bahwa penilik janganlah orang yang baru bertobat supaya ia jangan menjadi sombong dan terkena hukuman yang sama seperti Iblis. Paulus mengingatkan bahwa kemampuan dan semangat rohani tidak selalu sama dengan kematangan. Seseorang yang baru mengalami perubahan dapat mempunyai semangat yang luar biasa, tetapi ia tetap membutuhkan waktu untuk bertumbuh, diuji, dikoreksi, dan belajar. Gereja perlu berhati-hati agar tidak langsung memberikan tanggung jawab besar hanya karena seseorang terlihat menonjol.
Waktu bukan musuh panggilan; waktu justru dapat menjadi alat Tuhan untuk membentuk panggilan. Kesombongan menjadi bahaya ketika seseorang mendapatkan kedudukan sebelum cukup belajar merendahkan hati. Ia dapat mulai menganggap bahwa keberhasilan pelayanan terjadi karena dirinya. Karena itu proses pengujian menolong seseorang menyadari bahwa pelayanan adalah anugerah, bukan bukti bahwa dirinya lebih hebat daripada yang lain.
Ayat 7 menambahkan bahwa seorang penilik harus mempunyai nama baik di luar jemaat. Ini sangat menarik karena Paulus tidak hanya bertanya bagaimana seseorang dinilai oleh orang-orang yang sudah satu persekutuan dengannya. Ia juga memperhatikan kesaksian di tengah masyarakat. Bagaimana ia menjalankan pekerjaan? Apakah ia menepati janji? Bagaimana ia memperlakukan orang yang tidak dapat memberi keuntungan? Bagaimana sikapnya kepada tetangga, rekan kerja, pelanggan, atau orang yang berbeda keyakinan?
Gereja tidak boleh memilih seseorang hanya berdasarkan penampilan hari Minggu apabila kehidupannya dari Senin sampai Sabtu dikenal penuh ketidakjujuran. Di zaman media sosial, kesaksian publik bahkan semakin luas. Cara seseorang berkomentar, menyebarkan informasi, menyerang orang lain atau menanggapi perbedaan juga menjadi bagian dari kehidupan yang dapat dilihat. Pelayan tidak harus sempurna di mata semua orang, tetapi tidak seharusnya dikenal karena pola hidup yang mempermalukan kesaksian Injil.
Ayat 8 beralih kepada para diaken dan mengatakan bahwa mereka harus orang terhormat, tidak bercabang lidah, tidak menjadi penggemar anggur, dan tidak mengejar keuntungan yang tidak pantas. Sekali lagi kita melihat bahwa standar pelayanan terutama berbicara tentang karakter. Tidak bercabang lidah berarti perkataan dapat dipercaya; seseorang tidak mengatakan hal yang berbeda kepada orang berbeda hanya untuk mempertahankan kepentingannya.
Hal ini sangat penting dalam pelayanan karena pelayan sering menerima informasi sensitif dan berhubungan dengan banyak orang. Jika perkataannya tidak dapat dipercaya, pelayanan mudah dipenuhi gosip, manipulasi dan perpecahan. Tidak mengejar keuntungan yang tidak pantas menunjukkan bahwa pelayanan tidak boleh menjadi jalan mencari manfaat pribadi. Gereja harus sangat berhati-hati terhadap penggunaan jabatan untuk memperoleh proyek, uang, pengaruh, atau keuntungan bagi kelompok tertentu.
Ayat 9 mengatakan bahwa diaken harus memelihara rahasia iman dalam hati nurani yang suci. Istilah “rahasia iman” menunjuk kepada kebenaran iman yang telah dinyatakan dalam Injil, dan Paulus menghubungkannya dengan hati nurani yang bersih. Artinya, ajaran dan kehidupan tidak boleh dipisahkan. Seseorang dapat mengetahui doktrin dengan benar tetapi hidup dengan hati nurani yang terus diganggu oleh pola dosa yang dipelihara.
Pelayan bukan hanya orang yang mengetahui apa yang dipercayai gereja, tetapi orang yang berusaha menjalani iman itu dengan integritas. Hati nurani yang suci bukan hati nurani orang yang tidak pernah gagal, melainkan hati yang tidak terus-menerus membuat perdamaian dengan kebohongan. Ketika salah, ia bertobat. Ketika ditegur, ia mau mendengar. Ketika menemukan sesuatu yang harus diperbaiki, ia tidak terus mencari alasan.
Ayat 10 merupakan pusat tema kita: para calon pelayan harus diuji terlebih dahulu, kemudian barulah mereka melayani apabila ternyata layak. Di sinilah Alkitab secara langsung menolak sikap tergesa-gesa dalam penetapan pelayanan. Pengujian membutuhkan waktu karena beberapa kualitas tidak dapat diketahui hanya melalui wawancara atau penampilan singkat. Kesetiaan perlu diamati. Penguasaan diri perlu terlihat. Integritas perlu dibuktikan dalam berbagai keadaan.
Kemampuan bekerja sama perlu diuji ketika pendapat berbeda. Kerendahan hati terlihat ketika seseorang tidak mendapatkan apa yang diinginkannya. Bagaimana ia bereaksi ketika dikritik? Bagaimana ia menggunakan uang? Bagaimana ia memperlakukan orang yang tidak mempunyai kedudukan? Apakah ia tetap melayani ketika tidak mendapatkan jabatan? Semua itu dapat menjadi bagian dari proses pengenalan karakter. Dan sekali lagi, pengujian bukan mencari kesempurnaan tanpa dosa, melainkan mencari kehidupan yang sudah menunjukkan pola kesetiaan dan dapat dipertanggungjawabkan.
Ayat ini juga mengingatkan gereja bahwa penetapan tidak boleh mendahului pengenalan. Jangan baru setelah seseorang diberikan tanggung jawab besar kita mulai mencari tahu siapa dirinya. Gereja perlu mengenal kehidupan, kesaksian dan kematangannya terlebih dahulu. Di sinilah proses pencalonan, penilaian, percakapan, doa dan pertimbangan harus dilakukan dengan sungguh-sungguh. Jangan menjadikan proses itu formalitas apabila hasil sebenarnya sudah ditentukan berdasarkan kedekatan atau kepentingan. Jika Alkitab mengatakan “diuji dahulu”, maka gereja perlu menghormati proses tersebut sebagai bagian dari tanggung jawab rohani.
Ayat 11 berbicara mengenai perempuan-perempuan yang juga harus terhormat, tidak memfitnah, dapat menahan diri dan dapat dipercayai dalam segala hal. Ada perbedaan penafsiran mengenai apakah yang dimaksud terutama adalah istri para diaken atau perempuan yang menjalankan bentuk pelayanan diakonal; bahasa teks memungkinkan pembahasan tersebut. Namun pesan etisnya jelas: orang yang terlibat dalam kehidupan pelayanan harus memiliki martabat, penguasaan diri, kesetiaan dan terutama menjaga perkataan.
Ini sangat penting karena lidah dapat membangun pelayanan, tetapi juga menghancurkannya. Informasi pelayanan tidak boleh berubah menjadi bahan pembicaraan. Persoalan keluarga jemaat tidak boleh menjadi konsumsi umum. Tuduhan yang belum jelas tidak boleh disebarkan sebagai fakta. Pelayan yang dapat dipercaya adalah orang yang memahami bahwa mengetahui sesuatu tidak selalu berarti mempunyai hak untuk menceritakannya.
Ayat 12 kembali mengatakan bahwa diaken harus setia dalam kehidupan pernikahan dan mengurus anak-anak serta keluarganya dengan baik. Pengulangan ini menunjukkan betapa seriusnya hubungan antara karakter keluarga dan pelayanan publik. Gereja tidak sedang meminta keluarga sempurna tanpa masalah, tetapi menuntut tanggung jawab yang dapat terlihat.
Seseorang tidak seharusnya menggunakan kesibukan pelayanan untuk terus-menerus meninggalkan kewajibannya kepada keluarga. Ironis jika seseorang sangat memperhatikan kebutuhan orang lain tetapi keluarganya sendiri hidup tanpa perhatian. Pelayanan kepada Tuhan dan tanggung jawab keluarga tidak seharusnya dipertentangkan. Justru keluarga menjadi salah satu tempat pertama di mana kesabaran, kesetiaan, pengorbanan dan kemampuan merawat diuji.
Ayat 13 menutup bagian ini dengan mengatakan bahwa mereka yang melayani dengan baik memperoleh kedudukan yang baik dan keberanian besar dalam iman kepada Kristus Yesus. Perhatikan bahwa penghargaan diberikan kepada mereka yang melayani dengan baik, bukan hanya kepada mereka yang berhasil mendapatkan jabatan. Nilai pelayanan terdapat dalam kesetiaan menjalankannya.
Seseorang dapat memegang posisi tetapi tidak melayani dengan baik, sementara orang lain mungkin tidak banyak dikenal tetapi menjalankan pelayanan dengan sangat setia. Tuhan melihat kualitas pelayanan, bukan hanya gelarnya. Kesetiaan juga membentuk keberanian iman, sebab melalui perjalanan melayani seseorang semakin belajar bergantung kepada Kristus dan melihat karya-Nya. Inilah hasil pelayanan yang seharusnya kita rindukan: bukan nama pribadi yang semakin besar, tetapi iman yang semakin kuat dan Kristus yang semakin dimuliakan.
Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan, setelah mendengar seluruh 1 Timotius 3:1–13, kita memahami bahwa tema “Diuji Dahulu Baru Ditetapkan Dalam Pelayanan” bukan sekadar aturan administratif gereja. Ini adalah prinsip rohani yang menjaga kekudusan, integritas dan kesehatan pelayanan. Gereja adalah milik Tuhan. Jemaat adalah umat yang dikasihi Kristus. Karena itu orang yang akan diberikan kepercayaan untuk melayani kehidupan umat tidak boleh dipilih secara sembarangan.
Firman Tuhan hari ini mengubah pertanyaan kita. Jangan pertama-tama bertanya, “Siapa yang populer?” Bertanyalah, “Siapa yang dapat dipercaya?” Jangan hanya bertanya, “Siapa yang pandai berbicara?” tetapi “Siapa yang hidupnya mendukung apa yang dikatakannya?” Jangan hanya bertanya, “Siapa yang mempunyai banyak hubungan?” tetapi “Siapa yang mempunyai karakter seorang hamba?” Jangan hanya melihat siapa yang aktif ketika banyak orang memperhatikan, tetapi siapa yang tetap setia ketika pekerjaannya tidak terlihat.
Karena itu jemaat perlu berhati-hati agar proses pemilihan dan penetapan pelayanan tidak berubah menjadi perlombaan pengaruh. Jangan memilih berdasarkan suka atau tidak suka. Jangan menjadikan hubungan keluarga, persahabatan, kedekatan kelompok, kemampuan ekonomi, atau status sosial sebagai ukuran utama. Semua itu dapat membuat kita melihat manusia menurut ukuran yang sangat berbeda dari 1 Timotius 3. Firman Tuhan membawa perhatian kita kembali kepada karakter.
Bagi saudara yang mungkin sedang dipertimbangkan untuk suatu pelayanan, jangan melihat masa pengujian sebagai penghinaan atau tanda bahwa orang tidak mempercayai saudara. Terimalah itu sebagai kesempatan memeriksa diri. Jika ada bagian kehidupan yang perlu diperbaiki, perbaikilah. Jika ada hubungan yang rusak karena kesalahan kita, ambillah tanggung jawab. Jika cara menggunakan uang belum tertib, mulailah menatanya. Jika perkataan sering tidak dapat dipercaya, bertobatlah. Jika kita mudah marah dan sulit menerima koreksi, jangan menutupinya dengan berkata, “Memang karakter saya begitu.” Kristus memanggil kita terus dibentuk.
Dan jangan menganggap bahwa pelayanan adalah sesuatu yang harus kita rebut. Jika benar Tuhan memanggil, kita dapat menjalani proses dengan tenang. Kerinduan yang sehat tidak takut diuji. Integritas tidak takut diperiksa. Kesetiaan tidak membutuhkan manipulasi untuk memperoleh posisi. Bahkan apabila pada suatu waktu kita belum ditetapkan, kita tetap dapat melayani Tuhan. Orang yang benar-benar mempunyai hati seorang hamba tidak berhenti berbuat baik hanya karena tidak mempunyai jabatan.
Bagi mereka yang sudah ditetapkan dalam pelayanan, firman ini mungkin justru berbicara lebih keras. Jangan merasa bahwa karena sudah terpilih maka pengujian selesai. Sesungguhnya setelah penetapan, kehidupan kita akan semakin terlihat. Cara mengambil keputusan, menggunakan uang, menangani konflik, menjaga kerahasiaan, memperlakukan keluarga, merespons kritik, serta memperlakukan orang yang tidak mempunyai pengaruh akan terus menjadi kesaksian. Jabatan tidak menghapus kebutuhan akan pertobatan. Semakin besar tanggung jawab, semakin besar kebutuhan untuk hidup dekat kepada Tuhan.
Kita juga perlu menghindari dua kesalahan. Kesalahan pertama ialah menurunkan standar sehingga hampir siapa saja dianggap layak hanya karena dibutuhkan. Kesalahan kedua ialah menaikkan standar menjadi kesempurnaan tanpa dosa sehingga tidak seorang pun dianggap layak. Alkitab tidak meminta manusia tanpa kelemahan, tetapi manusia yang hidupnya menunjukkan arah pertumbuhan, kesetiaan dan pertobatan. Pelayan dapat melakukan kesalahan, tetapi ia harus dapat ditegur. Ia dapat mempunyai kelemahan, tetapi tidak boleh memelihara kehidupan ganda sambil menolak pertobatan.
Keluarga juga tidak boleh dilupakan. Salah satu pengujian paling jujur terhadap kehidupan seorang pelayan adalah bagaimana orang-orang terdekat mengenalnya. Bukan berarti setiap keluarga pelayan akan bebas masalah. Anak-anak tetap pribadi yang mempunyai keputusan sendiri, pasangan pun mempunyai pergumulan sendiri. Tetapi pertanyaannya ialah apakah sang pelayan menjalankan tanggung jawabnya dengan kasih, martabat, kejujuran dan kesungguhan. Jangan sampai seseorang dikenal sangat sabar oleh jemaat, tetapi keluarganya hanya mengenal kemarahannya. Jangan sampai gereja mendapatkan seluruh tenaganya, sementara keluarga hanya mendapatkan sisanya.
Perhatikan pula soal uang. Paulus berkali-kali menegaskan agar pemimpin dan diaken tidak diperbudak cinta uang atau keuntungan yang tidak pantas. Ini berarti pengelolaan keuangan bukan perkara kecil dalam pelayanan. Transparansi, pencatatan, pertanggungjawaban dan pembatasan akses bukan tanda tidak percaya, tetapi perlindungan bagi semua pihak. Jangan menempatkan seseorang dalam situasi di mana ia memegang seluruh kendali tanpa pertanggungjawaban. Bahkan orang yang baik memerlukan sistem yang baik, karena pelayanan yang sehat tidak hanya bergantung pada karakter individu tetapi juga membangun tata kelola yang dapat diperiksa.
Perkataan pun perlu diuji. “Tidak bercabang lidah” dan “tidak memfitnah” merupakan standar yang sangat relevan saat ini. Orang dapat menghancurkan nama baik seseorang hanya melalui satu pesan yang diteruskan tanpa diperiksa. Pelayan Tuhan harus belajar menjaga informasi, membedakan antara hal yang perlu dilaporkan dan hal yang harus dirahasiakan, serta menolak menjadikan persoalan jemaat sebagai bahan pembicaraan. Tidak semua yang benar perlu diumumkan kepada semua orang, dan tidak semua yang kita dengar adalah benar.
Kesaksian kepada masyarakat juga sangat penting. Kita tidak dapat membangun dua kehidupan: satu kehidupan di gereja dan satu kehidupan di luar gereja. Kristus yang kita sembah pada hari Minggu adalah Tuhan yang sama ketika kita bekerja, menjalankan usaha, membuat transaksi, menggunakan media sosial dan berhubungan dengan tetangga. Karena itu penilaian mengenai seorang pelayan perlu melihat kehidupan secara utuh.
Pada akhirnya, pengujian bukan hanya pekerjaan panitia, badan pekerja, atau jemaat yang sedang memilih. Setiap kita dipanggil menguji diri di hadapan Tuhan. Firman menjadi cermin. Roh Kudus bekerja menyadarkan. Komunitas iman menolong kita melihat bagian yang mungkin tidak mampu kita lihat sendiri. Orang yang rendah hati akan berkata, “Tuhan, jika ada sesuatu dalam diriku yang belum siap, bentuklah aku. Jika ada dosa yang harus kutinggalkan, tegurlah aku. Jika ada karakter yang harus diperbaiki, kerjakanlah itu dalam hidupku.”
Karena itu, marilah kita membawa beberapa kebenaran penting dari tema hari ini:
- Pelayanan adalah pekerjaan yang mulia, tetapi bukan tempat mencari kemuliaan pribadi. Orang yang ingin melayani perlu mempunyai hati seorang hamba, bukan hanya keinginan mendapatkan jabatan.
- Karakter lebih penting daripada popularitas. Kemampuan berbicara, pendidikan, pengalaman dan jaringan memang dapat membantu, tetapi tidak dapat menggantikan kejujuran, kesetiaan, kerendahan hati dan penguasaan diri.
- Kehidupan keluarga merupakan bagian penting dari kesaksian seorang pelayan. Gereja perlu melihat apakah tanggung jawab, kasih dan integritas terlihat juga di rumah, bukan hanya ketika berada dalam kegiatan gereja.
- Kematangan membutuhkan waktu. Orang yang baru bersemangat belum tentu siap menanggung tanggung jawab besar. Proses pembentukan, pendampingan dan pengujian bukan hambatan bagi panggilan, tetapi dapat menjadi cara Tuhan mempersiapkan seseorang.
- Kesaksian di luar gereja juga penting. Pelayan Tuhan harus dapat dipercaya dalam pekerjaan, hubungan sosial, perkataan dan kehidupan sehari-hari.
- Diuji bukan berarti harus sempurna. Yang dicari adalah kehidupan yang memiliki arah kesetiaan, dapat dikoreksi, mau bertobat, tidak memelihara kehidupan ganda, dan menunjukkan buah kedewasaan.
- Pengujian tidak berhenti setelah seseorang ditetapkan. Pelayanan harus terus dijalani dengan evaluasi diri, kerendahan hati, pertanggungjawaban, doa dan kesediaan untuk terus dibentuk Tuhan.
Saudara-saudara, mungkin hari ini kita sedang berada dalam proses untuk sebuah pelayanan. Jangan tergesa-gesa. Biarkan Tuhan membentuk karakter. Jangan terlalu sibuk memikirkan apakah nama kita akan dipilih sampai lupa memikirkan apakah kehidupan kita sudah siap. Lebih baik belum mendapatkan jabatan tetapi sedang bertumbuh dalam karakter, daripada mendapatkan jabatan tetapi karakter kita kemudian menghancurkan pelayanan.
Dan kepada jemaat, ketika tiba waktunya memberikan kepercayaan, berdoalah dan gunakan Firman Tuhan sebagai ukuran. Jangan memilih hanya karena hubungan dekat. Jangan menolak hanya karena persoalan pribadi. Jangan membawa dendam, persaingan, atau kepentingan kelompok ke dalam proses rohani. Tanyakan dengan jujur: apakah kehidupan orang ini menunjukkan karakter yang disebutkan Firman? Apakah ia dapat dipercaya? Apakah ia mempunyai kesaksian yang baik? Apakah ia mampu menerima koreksi? Apakah ia mempunyai hati seorang hamba?
Gereja tidak membutuhkan pelayan yang hanya hebat di depan, tetapi berbeda ketika berada di belakang. Gereja membutuhkan orang-orang yang perkataan dan kehidupannya berjalan ke arah yang sama. Gereja membutuhkan pelayan yang ketika tidak ada tepuk tangan tetap setia, ketika tidak dipuji tetap bekerja, ketika dikoreksi tetap mau mendengar, ketika dipercaya mengelola sesuatu tetap jujur, dan ketika mempunyai kekuasaan tetap rendah hati.
Karena pada akhirnya yang kita layani bukan organisasi semata, bukan jabatan, bukan kelompok dan bukan kepentingan manusia. Kita melayani Yesus Kristus. Dan umat yang dipercayakan kepada pelayanan kita adalah umat yang dikasihi-Nya.
Maka biarlah tema ini tinggal dalam hati kita: “Diuji Dahulu Baru Ditetapkan Dalam Pelayanan.” Biarlah sebelum tangan manusia menetapkan kita, kehidupan kita terlebih dahulu dibentuk oleh tangan Tuhan. Sebelum kita meminta kepercayaan jemaat, biarlah kita belajar menjadi orang yang dapat dipercaya. Sebelum mengajarkan orang lain, biarlah Firman lebih dahulu mengajar diri kita. Sebelum memimpin orang lain, biarlah kita belajar memimpin diri sendiri dalam takut akan Tuhan.
Kiranya ketika Tuhan memberikan kepercayaan, kita menerimanya bukan dengan kesombongan tetapi dengan gentar dan syukur. Dan ketika Tuhan masih menempatkan kita dalam proses, jangan kecewa. Tetaplah setia. Sebab proses Tuhan bukan penolakan; proses dapat menjadi persiapan. Pengujian bukan untuk menghancurkan panggilan, tetapi untuk memurnikan dan mempersiapkannya.
Kiranya lahir pelayan-pelayan Tuhan yang bukan hanya mempunyai nama dalam daftar pelayanan, tetapi namanya dikenal karena integritas; bukan hanya mempunyai jabatan, tetapi mempunyai hati seorang hamba; bukan hanya dapat berbicara tentang iman, tetapi memegang iman dengan hati nurani yang suci; bukan hanya dipilih manusia, tetapi kehidupan mereka menunjukkan bahwa mereka bersedia terus dibentuk oleh Tuhan.
Dan kelak, ketika pelayanan kita selesai, kiranya yang dikenang bukan seberapa tinggi kedudukan yang pernah kita pegang, melainkan seberapa setia kita telah menggunakan kepercayaan Tuhan untuk mengasihi, merawat, membangun dan membawa orang semakin dekat kepada Kristus.
Diuji dahulu, kemudian ditetapkan. Setelah ditetapkan, teruslah hidup dalam pengujian Firman Tuhan. Dan dalam seluruh perjalanan itu, biarlah Kristus yang semakin besar, sementara kita tetap menjadi hamba-hamba yang setia.
Amin.
Editor : Clavel Lukas