Bacaan dan Renungan untuk Orang Muda Katolik, Hari Minggu 27 September 2026

Fandy Gerungan • Dipublikasikan Kamis, 24 September 2026 | 13:57 WIB
Perjamuan Malam Terakhir
Perjamuan Malam Terakhir

Hari Minggu Biasa ke XXVI (Warna Liturgi Hijau)

Bacaan I Yehezkiel 18:25-28

Tetapi kamu berkata: Tindakan Tuhan tidak tepat! Dengarlah dulu, hai kaum Israel, apakah tindakan-Ku yang tidak tepat ataukah tindakanmu yang tidak tepat?

Kalau orang benar berbalik dari kebenarannya dan melakukan kecurangan sehingga ia mati, ia harus mati karena kecurangan yang dilakukannya.

Sebaliknya, kalau orang fasik bertobat dari kefasikan yang dilakukannya dan ia melakukan keadilan dan kebenaran, ia akan menyelamatkan nyawanya.

Ia insaf dan bertobat dari segala durhaka yang dibuatnya, ia pasti hidup, ia tidak akan mati.

Demikianlah Sabda Tuhan

U. Syukur kepada Allah

Mazmur 25:4bc-5,6-7,8-9

Beritahukanlah jalan-jalan-Mu kepadaku, ya TUHAN, tunjukkanlah itu kepadaku.

Bawalah aku berjalan dalam kebenaran-Mu dan ajarlah aku, sebab Engkaulah Allah yang menyelamatkan aku, Engkau kunanti-nantikan sepanjang hari.

Ingatlah segala rahmat-Mu dan kasih setia-Mu, ya TUHAN, sebab semuanya itu sudah ada sejak purbakala.

Dosa-dosaku pada waktu muda dan pelanggaran-pelanggaranku janganlah Kauingat, tetapi ingatlah kepadaku sesuai dengan kasih setia-Mu, oleh karena kebaikan-Mu, ya TUHAN.

TUHAN itu baik dan benar; sebab itu Ia menunjukkan jalan kepada orang yang sesat.

Ia membimbing orang-orang yang rendah hati menurut hukum, dan Ia mengajarkan jalan-Nya kepada orang-orang yang rendah hati.

Bacaan II Filipi 2:1-5

Jadi karena dalam Kristus ada nasihat, ada penghiburan kasih, ada persekutuan Roh, ada kasih mesra dan belas kasihan,

karena itu sempurnakanlah sukacitaku dengan ini: hendaklah kamu sehati sepikir, dalam satu kasih, satu jiwa, satu tujuan,

dengan tidak mencari kepentingan sendiri atau puji-pujian yang sia-sia. Sebaliknya hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama dari pada dirinya sendiri;

dan janganlah tiap-tiap orang hanya memperhatikan kepentingannya sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga.

Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus,

Demikianlah Sabda Tuhan

U. Syukur kepada Allah

Bacaan Injil Matius 21:28-32

"Tetapi apakah pendapatmu tentang ini: Seorang mempunyai dua anak laki-laki. Ia pergi kepada anak yang sulung dan berkata: Anakku, pergi dan bekerjalah hari ini dalam kebun anggur.

Jawab anak itu: Baik, bapa. Tetapi ia tidak pergi.

Lalu orang itu pergi kepada anak yang kedua dan berkata demikian juga. Dan anak itu menjawab: Aku tidak mau. Tetapi kemudian ia menyesal lalu pergi juga.

Siapakah di antara kedua orang itu yang melakukan kehendak ayahnya?" Jawab mereka: "Yang terakhir." Kata Yesus kepada mereka: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya pemungut-pemungut cukai dan perempuan-perempuan sundal akan mendahului kamu masuk ke dalam Kerajaan Allah.

Sebab Yohanes datang untuk menunjukkan jalan kebenaran kepadamu, dan kamu tidak percaya kepadanya. Tetapi pemungut-pemungut cukai dan perempuan-perempuan sundal percaya kepadanya. Dan meskipun kamu melihatnya, tetapi kemudian kamu tidak menyesal dan kamu tidak juga percaya kepadanya."

Demikianlah Injil Tuhan

U. Terpujilah Kristus

Renungan

Salve sahabat muda katolik, kita tentu punya banyak rencana. Kita ingin sukses, punya masa depan yang baik, membanggakan orang tua, memiliki pekerjaan yang kita impikan.

Tentu saja kita ingin menjadi pribadi yang lebih baik. Namun, keinginan yang baik tidak akan berarti banyak kalau tidak diwujudkan dalam tindakan.

Bacaan hari ini mengajak kita melihat satu hal yang sangat dekat dengan kehidupan kita: perubahan.

Kadang kita tahu apa yang benar, tetapi sulit melakukannya. Kita tahu bahwa kita harus meminta maaf, tetapi gengsi membuat kita bertahan. Kita tahu bahwa kita harus meninggalkan kebiasaan buruk. 

Tetapi kita masih mencari alasan. Kita tahu bahwa kita perlu lebih dekat dengan Tuhan, tetapi kesibukan dan kenyamanan sering membuat doa menjadi hal terakhir yang kita pikirkan.

Ada juga saat ketika kita pernah berkata, “Saya tidak bisa berubah.” Kita merasa sudah terlalu jauh, terlalu banyak melakukan kesalahan, atau terlalu sering mengecewakan Tuhan dan orang lain.

Namun, Tuhan tidak melihat kita hanya berdasarkan masa lalu. Bacaan pertama mengingatkan bahwa seseorang yang pernah berjalan di jalan yang salah masih memiliki kesempatan untuk kembali. 

Ini adalah kabar yang sangat penting bagi kita sebagai orang muda. Masa lalu bukanlah identitas kita selamanya.

Mungkin kita pernah gagal dalam hubungan, pertemanan, pendidikan, pekerjaan, pelayanan, atau bahkan dalam kehidupan iman. Kita mungkin pernah mengambil keputusan yang salah. Tetapi Tuhan selalu memberikan kesempatan untuk bangkit.

Yang Tuhan kehendaki bukan sekadar penyesalan, tetapi perubahan nyata.
Injil memperlihatkan dua anak yang memberikan respons berbeda kepada ayahnya. 

Yang satu mengatakan siap, tetapi tidak melakukannya. Yang lain awalnya menolak, tetapi kemudian berubah dan menjalankan apa yang diminta.

Dari sini kita belajar bahwa dalam kehidupan iman, tindakan berbicara lebih kuat daripada kata-kata. Menjadi orang muda Katolik bukan hanya soal aktif mengikuti kegiatan Gereja. 

Memakai atribut OMK, hadir dalam misa, atau mengikuti berbagai pelayanan. Semua itu baik, tetapi iman harus masuk lebih dalam ke dalam kehidupan sehari-hari.

Iman harus terlihat ketika kita menggunakan media sosial. Iman terlihat dari cara kita berbicara kepada teman. Iman terlihat ketika kita memperlakukan orang tua. 

Iman terlihat ketika kita berhadapan dengan orang yang berbeda dari kita. Iman juga terlihat ketika tidak ada seorang pun yang melihat apa yang kita lakukan.

Karena itu, jangan sampai kita terlihat sangat rohani di depan orang lain, tetapi kehilangan kasih ketika berada di luar gereja.

Surat Rasul Paulus kepada jemaat di Filipi mengingatkan kita tentang pentingnya kerendahan hati dan kepedulian terhadap sesama. Ini juga menjadi tantangan bagi OMK zaman sekarang.

Kita hidup di zaman ketika banyak orang berlomba menunjukkan diri. Media sosial membuat kita mudah membandingkan hidup sendiri dengan kehidupan orang lain. Kita ingin terlihat sukses, bahagia, populer, menarik, dan selalu baik-baik saja.

Tetapi sebagai pengikut Kristus, kita dipanggil bukan untuk terus-menerus membuktikan bahwa diri kita lebih hebat daripada orang lain. Kita dipanggil untuk belajar mengasihi, menghargai, dan memperhatikan sesama.

Kadang-kadang pertobatan terbesar bukanlah melakukan sesuatu yang luar biasa. Bisa saja pertobatan itu dimulai dari hal sederhana: meminta maaf kepada orang tua. 

Berhenti menyakiti seseorang, meninggalkan pergaulan yang membawa kita pada keburukan, mengendalikan kata-kata, kembali berdoa, atau berani mengatakan tidak pada sesuatu yang kita tahu tidak benar.

Jangan menunggu menjadi sempurna untuk kembali kepada Tuhan. Jangan menunggu hidup kita berantakan baru mencari Tuhan. Dan jangan berpikir bahwa karena pernah jatuh, kita tidak layak untuk melayani-Nya.

Tuhan selalu membuka jalan bagi orang yang mau berubah. Sebagai orang muda Katolik, mari kita belajar menjadi pribadi yang tidak hanya pandai mengatakan hal-hal baik, tetapi juga berani melakukan kebaikan. 

Tidak hanya berbicara tentang iman, tetapi berani menghidupi iman. Tidak hanya mengatakan mencintai Tuhan, tetapi menunjukkan kasih itu melalui cara kita memperlakukan sesama.

Pada akhirnya, pertanyaan penting bagi kita bukanlah seberapa banyak kita berbicara tentang Tuhan, tetapi seberapa nyata Tuhan bekerja melalui kehidupan kita.

Hari ini mungkin Tuhan sedang mengetuk hati kita dan mengajak kita berubah. Jangan takut untuk mengatakan, “Saya mau mulai lagi.”

Tidak harus langsung melakukan sesuatu yang besar. Mulailah dari satu langkah kecil. Tinggalkan satu kebiasaan buruk. Perbaiki satu hubungan. Luangkan waktu untuk berdoa. Berbuat baik kepada satu orang. Kembali mendekat kepada Tuhan.

Sebab pertobatan tidak selalu dimulai dari langkah yang besar. Sering kali, pertobatan dimulai dari hati yang sederhana dan berani berkata, “Tuhan, aku mau berubah.” (*)

 

Editor : Fandy Gerungan
renungan katolik omk Renungan