Bacaan: 1 Timotius 3:1–13
Tema: “Diuji Dahulu Baru Ditetapkan Dalam Pelayanan”
Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan, sering kali kita lebih tertarik kepada hasil akhir daripada proses yang membentuk seseorang sampai tiba pada hasil tersebut. Kita melihat seseorang berdiri di depan jemaat, memimpin pelayanan, mengajar, mengambil keputusan, atau menerima sebuah tanggung jawab, tetapi kita tidak selalu mengetahui perjalanan panjang yang telah ia lalui sebelum sampai di sana. Kita melihat jabatan, tetapi Tuhan melihat proses.
Kita melihat apa yang tampak di depan, tetapi Tuhan melihat apa yang terjadi ketika tidak seorang pun memperhatikan. Kita melihat kemampuan seseorang berbicara, sedangkan Tuhan juga melihat bagaimana ia menjaga hati, mengendalikan diri, memperlakukan keluarga, menggunakan uang, memegang janji, dan bersikap ketika tidak mendapatkan apa yang diinginkannya.
Karena itu tema “Diuji Dahulu Baru Ditetapkan Dalam Pelayanan” mengajak kita melihat pelayanan dari sudut yang berbeda. Pertanyaannya bukan terutama, “Siapa yang akan mendapat jabatan?” melainkan, “Apa yang sedang Tuhan bentuk dalam kehidupan seseorang sebelum sebuah kepercayaan diberikan kepadanya?” Ada bagian kehidupan yang tidak dapat dipersiapkan hanya melalui pelatihan. Seseorang dapat belajar berbicara di depan umum, mempelajari tata gereja, mengetahui prosedur pelayanan, dan memperoleh berbagai pengetahuan, tetapi kesetiaan, kejujuran, kesabaran, penguasaan diri dan kerendahan hati biasanya dibentuk melalui perjalanan kehidupan.
Baca Juga: Renungan 1 Timotius 3:1–13, Diuji Dahulu Baru Ditetapkan Dalam Pelayanan
Baca Juga: Calon BPMS GMIM 60 atau 65 Tahun, Revisi Tata Gereja ALOT
Tuhan sering bekerja melalui hal-hal yang tampaknya kecil. Kesediaan datang tepat waktu, kejujuran ketika mengelola sesuatu yang sederhana, kemampuan menjaga rahasia, kesediaan meminta maaf, cara menghadapi orang yang tidak disukai, cara menerima kritik, dan sikap ketika pekerjaan kita tidak dihargai—semuanya dapat menjadi ruang pengujian karakter. Banyak orang ingin melakukan perkara besar bagi Tuhan, tetapi Firman mengingatkan bahwa kesetiaan dalam perkara sehari-hari tidak boleh dianggap kecil.
Karena itu, ketika 1 Timotius 3 berbicara mengenai syarat orang-orang yang dipercayakan dalam pelayanan, Paulus tidak terutama memberikan daftar kemampuan teknis. Ia berbicara mengenai kehidupan. Ini sangat menarik. Tuhan seolah-olah berkata kepada gereja: sebelum melihat apa yang dapat dilakukan seseorang, lihatlah terlebih dahulu bagaimana ia hidup.
Tema kita tidak boleh membuat kita sibuk menguji orang lain tetapi lupa menguji diri sendiri. Sangat mudah membaca 1 Timotius 3 sambil berpikir, “Orang itu tidak memenuhi syarat,” atau “Orang ini seharusnya tidak dipilih.” Tetapi renungan seharusnya pertama-tama menjadi cermin. Pertanyaannya adalah: Jika Tuhan sedang mempersiapkan saya untuk sebuah kepercayaan, bagian kehidupan apa yang sedang Ia uji dan bentuk sekarang?
Mungkin pengujian itu terjadi melalui keluarga. Mungkin melalui pekerjaan. Mungkin melalui kekecewaan ketika pendapat kita tidak digunakan. Mungkin melalui keadaan ketika kita tidak mendapat penghargaan. Mungkin melalui kesempatan memperoleh keuntungan dengan cara yang salah. Mungkin melalui seseorang yang sulit kita kasihi. Semua keadaan itu dapat menjadi ruang di mana Tuhan membentuk karakter jauh sebelum sebuah jabatan diberikan.
Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan,
Surat 1 Timotius memperkenalkan dirinya sebagai surat Paulus kepada Timotius, seorang rekan pelayanan yang sangat dekat dengannya. Paulus menyebut Timotius sebagai anaknya yang sah di dalam iman. Timotius dipercayakan berada di Efesus untuk membantu menjaga kehidupan jemaat di tengah persoalan pengajaran, kehidupan umat dan kepemimpinan.
Menariknya, Timotius sendiri adalah contoh seseorang yang tidak muncul secara tiba-tiba sebagai seorang pemimpin. Dalam Kisah Para Rasul 16, ketika Paulus menjumpainya di Listra, Timotius sudah dikenal baik oleh saudara-saudara seiman di Listra dan Ikonium. Setelah itu ia berjalan bersama Paulus, belajar, melayani, menghadapi kesulitan, melihat persoalan jemaat dan menjalani proses panjang sebelum menerima berbagai tanggung jawab yang semakin besar.
Dengan kata lain, Timotius yang menerima nasihat tentang kualitas pelayan juga merupakan seseorang yang telah mengalami proses pembentukan. Ia mengetahui bahwa pelayanan bukan sesuatu yang diberikan hanya karena seseorang ingin mendapatkannya. Ada perjalanan untuk dikenal, dibimbing, dipercaya dan dibentuk.
Jemaat di Efesus sendiri hidup dalam lingkungan yang penuh tantangan. Paulus sudah memperingatkan Timotius mengenai pengajaran yang tidak sehat. Dalam keadaan seperti itu, gereja tidak cukup hanya mempunyai struktur organisasi. Gereja membutuhkan orang-orang yang dapat dipercaya.
Inilah sebabnya daftar dalam 1 Timotius 3 begitu kuat berbicara tentang karakter. Paulus tidak mengatakan bahwa pemimpin harus menjadi orang paling kaya, paling berpendidikan, paling terkenal atau paling kuat jaringannya. Ia berbicara tentang kemampuan menguasai diri, kesetiaan dalam keluarga, ketenangan, keramahan, kejujuran, hubungan dengan uang, kematangan rohani dan kesaksian dalam masyarakat.
Prinsipnya sangat jelas: pelayanan publik harus bertumbuh dari kehidupan pribadi yang sedang dibentuk Tuhan.
Tema “Diuji Dahulu Baru Ditetapkan Dalam Pelayanan” juga mengingatkan bahwa pengujian bukan hukuman. Pengujian dapat menjadi bentuk pemeliharaan Tuhan. Tuhan tidak ingin kita memikul sesuatu yang belum siap kita tanggung. Ada tanggung jawab yang apabila diberikan terlalu cepat justru dapat merusak kehidupan seseorang.
Karena itu proses perlu dihargai. Kadang-kadang kita ingin Tuhan cepat memakai kita, tetapi Tuhan justru sedang mempersiapkan kita. Kita meminta kesempatan, tetapi Tuhan sedang membentuk karakter. Kita berdoa supaya pintu terbuka, tetapi Tuhan sedang mengajar kita bagaimana hidup ketika pintu itu belum terbuka.
Jangan meremehkan masa persiapan. Bisa jadi justru di sanalah fondasi pelayanan sedang dibangun.
PEMBAHASAN AYAT PER AYAT
Ayat 1 berkata bahwa orang yang menghendaki jabatan penilik jemaat menginginkan pekerjaan yang indah. Kata yang perlu kita renungkan adalah “pekerjaan”. Paulus tidak menggambarkan pelayanan terutama sebagai kehormatan, tetapi sebagai tanggung jawab. Ini langsung menguji motivasi. Ada perbedaan antara ingin melayani dan ingin menjadi seseorang melalui pelayanan. Orang yang sungguh memiliki hati pelayanan masih dapat melakukan kebaikan walaupun tidak mendapatkan posisi tertentu.
Ia tidak berkata, “Kalau saya tidak dipilih, saya tidak mau melakukan apa-apa.” Justru di sinilah hati seorang hamba terlihat. Sebelum Tuhan mempercayakan pelayanan yang terlihat, Ia dapat menguji apakah kita tetap setia melakukan sesuatu yang tidak mendapatkan perhatian. Kesetiaan sering dimulai di tempat yang tidak memberi tepuk tangan.
Ayat 2 membawa kita kepada kehidupan yang “tidak bercacat”, kesetiaan dalam perkawinan, kemampuan menguasai diri, kebijaksanaan, kesopanan, keramahan dan kemampuan mengajar. Paulus menempatkan kehidupan sebelum kemampuan. “Tidak bercacat” bukan berarti seseorang tidak pernah membuat kesalahan, melainkan bahwa tidak terdapat pola kehidupan yang jelas bertentangan dengan iman yang diakuinya.
Seorang pelayan tetap manusia yang dapat gagal, tetapi ketika gagal ia tidak menjadikan kesalahan sebagai gaya hidup dan tidak terus-menerus menolak pertobatan. Di sinilah kita melihat bahwa pengujian pelayanan dimulai dari integritas. Apakah orang yang melihat kita dari dekat menemukan kehidupan yang sama dengan kehidupan yang kita tampilkan kepada jemaat? Kemampuan mengajar penting, tetapi kebenaran yang diajarkan akan jauh lebih kuat ketika terlihat pula dalam cara kita hidup.
Ayat 3 berbicara mengenai minuman, kemarahan, keramahan, perdamaian dan uang. Paulus seakan membawa sorotan kepada beberapa bagian kehidupan yang sering membongkar siapa kita sebenarnya. Salah satunya adalah kemarahan. Kita mungkin terlihat sangat rohani ketika suasana mendukung, tetapi bagaimana ketika pendapat kita ditolak? Bagaimana ketika ada orang yang meremehkan kita?
Bagaimana ketika seseorang mengambil kesempatan yang kita inginkan? Respons dalam keadaan seperti itu memperlihatkan banyak hal mengenai kematangan. Demikian pula dengan uang. Tidak semua orang diuji melalui jumlah uang yang besar. Kadang-kadang integritas diuji melalui hal sederhana: uang kembalian, pertanggungjawaban kecil, penggunaan fasilitas atau kejujuran dalam transaksi. Orang yang ingin dipercayakan perkara besar perlu belajar setia dalam perkara-perkara kecil.
Ayat 4 membawa pengujian masuk ke dalam rumah tangga. Ini sangat penting karena rumah adalah tempat di mana kita paling sulit mempertahankan sebuah citra. Orang yang tinggal bersama kita mengetahui bagaimana kita berbicara ketika lelah, bagaimana kita menghadapi masalah dan bagaimana kita meminta maaf ketika salah. Paulus menunjukkan bahwa karakter pelayanan tidak boleh hanya dinilai dari penampilan ketika berada dalam kegiatan gereja.
Rumah bukan sekadar bagian pribadi yang sama sekali tidak berhubungan dengan pelayanan. Justru di rumah banyak kualitas pelayanan diuji. Apakah kita dapat mendengar? Apakah kita bertanggung jawab? Apakah kita menggunakan otoritas dengan kasih atau dengan ketakutan? Tidak ada keluarga yang sempurna, tetapi keluarga merupakan ruang nyata tempat iman diperjuangkan.
Ayat 5 memperdalam prinsip tersebut dengan bertanya bagaimana seseorang dapat mengurus jemaat Allah apabila tidak tahu mengurus keluarganya. Kata “mengurus” mengandung gagasan perhatian dan pemeliharaan. Ini penting karena pelayanan gereja bukan persoalan menguasai manusia. Jemaat bukan milik pelayan. Jemaat adalah milik Tuhan.
Ketika seseorang mendapat kepercayaan dalam gereja, ia bukan menjadi pemilik, melainkan pengurus. Karena itu pertanyaannya bukan berapa banyak orang yang mengikuti perkataannya, tetapi apakah melalui kehidupannya orang semakin ditolong untuk hidup dekat dengan Kristus. Pelayanan yang benar tidak membuat manusia bergantung secara tidak sehat kepada pemimpin, tetapi membawa mereka semakin bertumbuh dalam Tuhan.
Ayat 6 mengatakan bahwa seorang penilik janganlah orang yang baru bertobat agar ia tidak menjadi sombong. Di sini kita menemukan nilai penting dari waktu. Waktu memungkinkan karakter bertumbuh dan teruji. Seseorang dapat memiliki banyak talenta tetapi tetap membutuhkan kedewasaan. Gereja dapat kagum melihat kemampuan seseorang, tetapi jangan sampai kekaguman membuat kita melompati proses pembentukan.
Bahkan orang yang sangat berbakat tetap membutuhkan pengalaman menerima koreksi, belajar bekerja bersama orang lain, menghadapi kegagalan dan mengakui keterbatasan. Kesombongan sering tumbuh ketika seseorang diberikan terlalu banyak pengaruh sebelum cukup belajar bahwa pelayanan bukan tentang dirinya. Karena itu menunggu tidak selalu berarti tertunda. Ada saat ketika menunggu adalah bagian dari pembentukan.
Ayat 7 menyebut kesaksian yang baik dari orang di luar jemaat. Ini berarti kehidupan Kristen tidak dapat dibagi menjadi dua: satu kehidupan ketika berada di gereja dan kehidupan lain ketika berada di tempat kerja atau masyarakat. Orang yang hanya mengenal kita di luar kegiatan gereja juga sedang melihat buah iman kita. Bagaimana kita membayar utang? Apakah kita memenuhi janji? Apakah kita adil kepada pekerja? Bagaimana kita memperlakukan tetangga yang sulit? Bagaimana kita menulis komentar di media sosial? Semua itu menjadi bagian dari kesaksian. Seorang pelayan memang tidak mungkin disukai semua orang, tetapi seharusnya tidak dikenal karena pola ketidakjujuran yang nyata.
Ayat 8 berbicara tentang para diaken yang harus terhormat, tidak bercabang lidah, tidak dikuasai minuman dan tidak mengejar keuntungan yang tidak pantas. Ungkapan “tidak bercabang lidah” sangat relevan. Ada orang yang mengatakan satu hal di depan seseorang dan mengatakan hal berbeda di tempat lain. Ini mungkin terlihat kecil, tetapi dapat merusak kepercayaan dengan sangat cepat.
Pelayanan membutuhkan orang yang perkataannya dapat dipercaya. Apabila kita menerima informasi pribadi, kita harus tahu batas antara sesuatu yang perlu disampaikan kepada pihak yang bertanggung jawab dan sesuatu yang tidak boleh dijadikan bahan percakapan. Kedewasaan rohani juga terlihat melalui kemampuan menjaga lidah.
Ayat 9 meminta para diaken memegang rahasia iman dengan hati nurani yang suci. Di sini Paulus mempertemukan dua hal: apa yang seseorang percayai dan bagaimana hati nuraninya bekerja. Kita dapat mempunyai pengetahuan yang benar tetapi kehidupan yang tidak selaras dengannya. Karena itu seorang pelayan perlu menjaga hati nurani supaya tetap peka terhadap teguran Tuhan.
Ada bahaya ketika seseorang melakukan kesalahan yang sama berulang kali dan kemudian mulai merasa tidak ada masalah. Hati nurani dapat menjadi semakin tumpul apabila teguran terus diabaikan. Seorang pelayan yang sehat bukanlah orang yang tidak pernah ditegur, melainkan orang yang ketika ditegur masih mau mendengar.
Ayat 10 menjadi pusat tema: “Mereka juga harus diuji dahulu, baru ditetapkan dalam pelayanan setelah ternyata mereka tak bercacat.” Perhatikan urutannya: diuji dahulu, kemudian melayani. Paulus memberi tempat kepada proses. Kesetiaan seseorang perlu dikenal sebelum diberikan tanggung jawab tertentu.
Ini tidak berarti gereja harus membuka seluruh kehidupan pribadi orang dan mencari kesalahan sebanyak-banyaknya. Pengujian harus dilakukan secara adil dan bertanggung jawab. Tetapi gereja juga tidak boleh hanya mengatakan, “Yang penting dia mau.” Kemauan adalah awal yang baik, tetapi pelayanan membutuhkan lebih daripada kesediaan. Ada karakter yang harus dapat dipercaya.
Dalam kehidupan kita secara pribadi, ayat ini membawa pertanyaan lain: Bagaimana saya menjalani proses ketika belum memperoleh apa yang saya inginkan? Kadang-kadang justru di situlah Tuhan sedang menguji kita. Apakah kita tetap melayani ketika tidak dipilih? Apakah kita masih dapat mendukung orang lain yang mendapat kepercayaan? Apakah kita dapat bersukacita ketika orang lain maju? Kesediaan melakukan semua itu mungkin merupakan salah satu bentuk ujian terdalam terhadap motivasi pelayanan.
Ayat 11 berbicara mengenai perempuan-perempuan yang harus terhormat, tidak memfitnah, dapat menguasai diri dan dapat dipercaya dalam segala hal. Ada pembahasan penafsiran mengenai apakah yang dimaksud Paulus adalah istri para diaken atau perempuan yang mempunyai bentuk pelayanan diakonal, tetapi kualitas yang disebutkan tetap memberikan prinsip yang jelas: lingkungan pelayanan membutuhkan orang yang dapat dipercaya.
Salah satu bahaya besar kehidupan bersama adalah fitnah dan percakapan yang tidak terkendali. Kebenaran tentang seseorang tidak boleh dibuat lebih buruk melalui tambahan cerita, dan informasi yang belum pasti tidak boleh diteruskan sebagai fakta. Orang yang matang tidak merasa harus menceritakan segala sesuatu yang diketahuinya.
Ayat 12 kembali menekankan kesetiaan perkawinan dan kehidupan keluarga. Pengulangan ini menunjukkan bahwa Tuhan tidak memisahkan kerohanian publik dari tanggung jawab pribadi. Tetapi ini juga perlu dipahami dengan bijaksana. Paulus tidak mengatakan bahwa seorang pelayan dapat mengendalikan seluruh keputusan anggota keluarganya. Setiap anggota keluarga tetap mempunyai tanggung jawabnya sendiri.
Yang dinilai ialah bagaimana pelayan tersebut menjalankan bagian yang memang menjadi tanggung jawabnya. Apakah ia hadir, bertanggung jawab dan berusaha membangun rumah tangga dengan kasih? Jangan sampai pelayanan digunakan sebagai alasan untuk melarikan diri dari tanggung jawab yang sudah dipercayakan Tuhan di rumah.
Ayat 13 berkata bahwa mereka yang melayani dengan baik memperoleh kedudukan yang baik dan keberanian besar dalam iman kepada Kristus. Perhatikan kembali tekanan Paulus: bukan mereka yang mendapat jabatan, tetapi mereka yang melayani dengan baik. Ini mengubah cara kita melihat keberhasilan.
Di hadapan Tuhan, keberhasilan pelayanan tidak terutama diukur dari posisi yang pernah kita duduki atau berapa lama nama kita tercatat dalam struktur organisasi. Pertanyaannya adalah bagaimana kita menggunakan kepercayaan tersebut. Apakah orang ditolong? Apakah iman bertumbuh? Apakah kita semakin rendah hati? Apakah setelah bertahun-tahun melayani kita semakin dekat kepada Kristus atau justru semakin sibuk mempertahankan posisi?
PENUTUP
Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan, tema “Diuji Dahulu Baru Ditetapkan Dalam Pelayanan” akhirnya membawa kita bukan pertama-tama kepada proses pemilihan orang lain, melainkan kepada pemeriksaan diri.
Mungkin selama ini kita terlalu banyak bertanya mengenai siapa yang layak dan siapa yang tidak layak. Hari ini marilah bertanya kepada diri sendiri: bagian manakah dalam hidup saya yang masih perlu dibentuk Tuhan?
Mungkin kita rajin melayani tetapi masih sulit menerima kritik. Mungkin kita mampu berbicara tentang kasih tetapi mudah menyimpan sakit hati. Mungkin kita dapat memimpin orang banyak tetapi kurang mendengarkan keluarga. Mungkin kita terlihat tenang di gereja tetapi mudah meledak di rumah. Mungkin kita berbicara mengenai kejujuran tetapi masih mencari pembenaran untuk perkara-perkara kecil yang tidak benar.
Firman tidak diberikan untuk membuat kita putus asa, tetapi supaya kita membuka kehidupan kepada pekerjaan Tuhan.
Ada satu hal penting yang harus kita ingat: Tuhan tidak hanya mempersiapkan pelayanan bagi seseorang; Tuhan juga mempersiapkan seseorang bagi pelayanan.
Kita sering berdoa, “Tuhan, bukakan pintu.”
Tetapi mungkin Tuhan sedang berkata, “Aku sedang mempersiapkanmu sebelum pintu itu dibuka.”
Kita berkata, “Tuhan, berikanlah tanggung jawab.”
Tetapi Tuhan sedang membentuk kesabaran kita.
Kita meminta kesempatan untuk memimpin.
Tetapi Tuhan terlebih dahulu mengajar kita menerima koreksi.
Kita ingin dipercayakan sesuatu yang besar.
Tetapi Tuhan sedang memperhatikan bagaimana kita menjaga sesuatu yang kecil.
Jangan meremehkan proses tersebut.
Pertama, belajarlah setia sebelum mendapatkan jabatan. Jangan tunggu menjadi pelayan resmi baru mau bekerja bagi Tuhan. Mulailah dari kesempatan yang sudah tersedia. Jika dapat menolong, tolonglah. Jika dapat mendoakan, berdoalah. Jika dapat hadir bagi orang lain, hadirlah. Hati seorang hamba terlihat sebelum gelar seorang pelayan diberikan.
Kedua, izinkan karakter dibentuk lebih dalam daripada kemampuan. Kemampuan membuat kita dapat melakukan sesuatu, tetapi karakter menentukan bagaimana kemampuan itu digunakan. Tuhan bukan hanya tertarik pada apa yang dapat dilakukan tangan kita; Ia juga bekerja pada hati yang menggerakkan tangan itu.
Ketiga, jangan takut menerima koreksi. Orang yang tidak dapat dikoreksi akan sulit bertumbuh. Ketika seseorang menunjukkan kelemahan kita, jangan langsung melihatnya sebagai musuh. Ujilah perkataannya. Jika ada kebenaran, terimalah. Tidak semua kritik benar, tetapi orang bijaksana tidak menolak semuanya hanya karena terasa tidak nyaman.
Keempat, jagalah kehidupan ketika tidak ada yang melihat. Integritas berarti kehidupan di depan dan di belakang tidak berjalan ke arah yang bertentangan. Kita mungkin dapat menipu manusia untuk sementara, tetapi tidak dapat menyembunyikan hati dari Tuhan.
Kelima, jangan menjadikan kegagalan sebagai akhir. Diuji tidak berarti kita harus tidak pernah jatuh. Ada perbedaan antara orang yang jatuh kemudian bertobat dengan orang yang terus memelihara kesalahan dan menolak berubah. Apabila Tuhan menunjukkan sesuatu yang salah, bangkitlah, bereskanlah dan lanjutkan proses pembentukan.
Keenam, hormatilah waktu Tuhan. Tidak semua kesempatan yang belum datang berarti pintu sudah tertutup selamanya. Ada hal yang membutuhkan waktu supaya karakter mempunyai akar. Pohon yang mempunyai akar kuat tidak tumbuh dalam satu malam. Demikian pula kematangan.
Ketujuh, ketika dipercaya, tetaplah menjadi murid. Jangan sampai jabatan menghentikan pertumbuhan kita. Semakin besar tanggung jawab, semakin besar kebutuhan untuk berdoa, belajar, mendengar dan mengevaluasi diri.
Saudara-saudara, mungkin yang Tuhan ingin lakukan melalui Firman hari ini bukan langsung membawa kita kepada kedudukan baru, tetapi kepada hati yang baru.
Jangan hanya berkata, “Tuhan, pakailah aku.”
Beranilah juga berkata, “Tuhan, bentuklah aku.”
Jangan hanya berkata, “Tuhan, percayakan sesuatu kepadaku.”
Katakanlah, “Tuhan, jadikan aku orang yang dapat dipercaya.”
Jangan hanya berkata, “Tuhan, berikan aku kesempatan.”
Katakanlah, “Tuhan, ajarlah aku setia pada kesempatan yang sudah ada.”
Timotius dikenal baik sebelum berjalan lebih jauh bersama Paulus. Ia belajar sebelum menerima tanggung jawab yang semakin besar. Dan bahkan setelah memperoleh kepercayaan, ia tetap menerima nasihat dan pembentukan.
Begitulah seharusnya perjalanan pelayanan kita.
Tidak ada titik ketika kita dapat berkata, “Saya sudah selesai dibentuk.”
Selama masih melayani, kita masih belajar.
Selama masih hidup, Tuhan masih membentuk.
Dan selama Tuhan masih memberikan kepercayaan, kita masih membutuhkan kasih karunia.
Pada akhirnya yang paling penting bukan apakah nama kita pernah tercatat dalam suatu jabatan, melainkan apakah kehidupan kita dapat dipakai untuk menghadirkan kasih Kristus. Bukan apakah kita pernah berdiri di depan banyak orang, tetapi apakah kita setia ketika tidak ada seorang pun melihat. Bukan apakah manusia pernah memberi kita kedudukan, tetapi apakah kita terus membiarkan Tuhan membentuk hati.
Karena itu, jika hari ini Tuhan sedang menguji, jangan cepat mengeluh. Jika Tuhan sedang mengoreksi, jangan cepat menolak.
Jika Tuhan sedang meminta kita menunggu, jangan segera merasa dilupakan.
Jika Tuhan sedang memberikan tanggung jawab kecil, jangan menganggapnya tidak berarti.
Bisa jadi justru melalui semua itulah Tuhan sedang mempersiapkan sesuatu yang jauh lebih penting daripada sebuah jabatan: Ia sedang membentuk karakter seorang hamba.
Diuji dahulu, baru ditetapkan. Tetapi lebih dalam daripada itu: dibentuk dahulu, baru dipercayakan. Karena Tuhan bukan hanya mencari orang yang mampu melakukan pekerjaan-Nya; Tuhan membentuk orang yang dapat dipercaya untuk membawa nama-Nya.
Amin
Editor : Clavel Lukas