Ayat kunci: “Tetapi aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada TUHAN!” — Yosua 24:15.
Yosua 23–24 merupakan bagian penutup dari kehidupan dan kepemimpinan Yosua. Setelah bangsa Israel menikmati tanah yang Tuhan janjikan, Yosua mengumpulkan para pemimpin Israel dan menyampaikan pesan yang sangat penting.
Ia mengingatkan mereka bahwa semua keberhasilan yang mereka alami bukan semata-mata karena kekuatan mereka sendiri, tetapi karena Tuhan yang berperang bagi mereka dan menggenapi janji-Nya.
Yosua mengetahui bahwa kehidupan bangsa Israel akan terus berjalan tanpa dirinya. Karena itu, sebelum meninggalkan mereka, Yosua tidak hanya berbicara mengenai keberhasilan masa lalu, tetapi terutama mengingatkan mereka supaya tetap setia kepada Tuhan.
Pesan tersebut juga menjadi penting bagi kehidupan orang percaya saat ini. Kita dapat mengalami pertolongan Tuhan, menikmati berkat-Nya, melewati berbagai pergumulan, bahkan melihat doa-doa kita dijawab. Namun, setelah menerima semuanya itu, pertanyaan yang harus kita renungkan adalah: Apakah kita tetap setia kepada Tuhan?
1. Jangan Melupakan Perbuatan Tuhan
Dalam Yosua 23, Yosua mengingatkan bangsa Israel tentang segala sesuatu yang telah Tuhan lakukan bagi mereka. Tuhan yang memberikan kemenangan, Tuhan yang membawa mereka masuk ke tanah perjanjian, dan Tuhan yang menggenapi janji-Nya.
Manusia sering kali mudah mengingat masalah, tetapi melupakan pertolongan Tuhan. Ketika menghadapi kesulitan baru, kita dapat merasa seolah-olah Tuhan belum pernah menolong kita sebelumnya.
Karena itu, kita perlu belajar mengingat kembali perjalanan hidup kita bersama Tuhan.
Ada masa ketika kita tidak tahu bagaimana jalan keluar akan datang, tetapi Tuhan membuka jalan. Ada masa ketika kita merasa lemah, tetapi Tuhan memberikan kekuatan. Ada masa ketika kita tidak melihat masa depan dengan jelas, tetapi Tuhan tetap menuntun langkah demi langkah.
Mengingat kesetiaan Tuhan akan menolong kita menghadapi masa depan dengan iman.
2. Tetap Berpegang pada Firman Tuhan
Yosua tidak hanya meminta bangsa Israel mengingat pertolongan Tuhan. Ia juga meminta mereka untuk tetap berpegang pada segala sesuatu yang telah diperintahkan Tuhan.
Kesetiaan kepada Tuhan bukan hanya tentang perasaan atau pengalaman rohani. Kesetiaan harus terlihat dalam kehidupan sehari-hari melalui ketaatan kepada Firman Tuhan.
Kita dapat mengalami hadirat Tuhan dalam ibadah, tersentuh oleh khotbah, atau mendapatkan sukacita ketika berdoa. Namun, kehidupan iman akan terlihat ketika kita tetap memilih melakukan kehendak Tuhan setelah ibadah selesai.
Firman Tuhan harus menjadi dasar ketika kita mengambil keputusan, menghadapi masalah, membangun keluarga, menjalankan pekerjaan, dan berhubungan dengan orang lain.
3. Jangan Membiarkan Hati Berpaling kepada Tuhan-Tuhan Lain
Yosua juga memperingatkan bangsa Israel agar tidak berkompromi dengan penyembahan berhala bangsa-bangsa di sekitar mereka.
Peringatan ini tetap relevan bagi orang percaya. Berhala pada zaman sekarang tidak selalu berbentuk patung. Sesuatu dapat menjadi "berhala" ketika mengambil tempat yang seharusnya hanya diberikan kepada Tuhan.
Pekerjaan, uang, jabatan, popularitas, kenyamanan, hubungan, bahkan ambisi pribadi dapat menjadi sesuatu yang menguasai hati apabila kita menempatkannya lebih tinggi daripada Tuhan.
Karena itu, kita perlu memeriksa hati kita secara terus-menerus.
Apa yang paling kita kejar? Apa yang paling kita takut kehilangan? Kepada siapa kita paling bergantung?
Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut dapat menunjukkan apa yang sebenarnya menjadi pusat kehidupan kita.
4. Pilihlah Hari Ini Siapa yang Akan Kamu Layani
Puncak pesan Yosua terdapat dalam Yosua 24:15:
“Tetapi aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada TUHAN!”
Ini adalah sebuah keputusan iman.
Yosua tidak memaksa bangsa Israel. Ia memberikan pilihan dan sekaligus menyatakan keputusan dirinya sendiri. Setelah melihat seluruh perjalanan bangsa Israel dan kesetiaan Tuhan, Yosua mengambil keputusan untuk tetap beribadah kepada Tuhan.
Dalam kehidupan orang percaya, ada banyak keputusan yang harus kita ambil. Namun, salah satu keputusan terpenting adalah menentukan siapa yang akan menjadi pusat kehidupan kita.
Mengikut Tuhan bukan keputusan yang hanya dilakukan ketika keadaan baik. Kesetiaan kepada Tuhan harus tetap dipertahankan ketika doa belum dijawab, ketika keadaan tidak sesuai harapan, ketika menghadapi tekanan, dan ketika jalan yang harus ditempuh terasa sulit.
5. Roh Kudus Menolong Kita untuk Tetap Setia
Sebagai umat Pantekosta, kita percaya bahwa kehidupan Kristen tidak dijalani dengan kekuatan manusia semata. Roh Kudus diberikan untuk menolong, menguatkan, menghibur, dan menuntun orang percaya dalam kehidupan sehari-hari.
Ketika kita merasa lemah dalam mempertahankan iman, kita dapat datang kepada Tuhan dan meminta pertolongan Roh Kudus.
Roh Kudus menolong kita untuk tetap memiliki hati yang tertuju kepada Tuhan. Ia mengingatkan kita akan Firman Tuhan, memberikan kekuatan ketika menghadapi pencobaan, dan menolong kita untuk hidup dalam ketaatan.
Karena itu, jangan hanya mengandalkan kekuatan sendiri. Bangun kehidupan doa, membaca Firman Tuhan, dan terus membuka hati kepada pekerjaan Roh Kudus.
Aplikasi dalam Kehidupan
Dari Yosua 23–24, ada beberapa hal yang dapat kita lakukan:
Pertama, ingatlah kesetiaan Tuhan.
Luangkan waktu untuk mengingat pertolongan Tuhan dalam perjalanan hidup kita.
Kedua, tetaplah berpegang pada Firman Tuhan.
Jangan biarkan keadaan menentukan iman kita. Jadikan Firman Tuhan sebagai dasar kehidupan.
Ketiga, periksa kembali hati kita.
Pastikan tidak ada sesuatu yang mengambil tempat Tuhan dalam kehidupan kita.
Keempat, buat keputusan untuk tetap melayani Tuhan.
Jangan hanya setia ketika keadaan baik. Tetaplah beribadah dan percaya kepada Tuhan dalam segala keadaan.
Kelima, bergantunglah kepada Roh Kudus.
Mintalah pertolongan Roh Kudus supaya kita memiliki kekuatan untuk hidup dalam ketaatan dan kesetiaan.
Yosua 23–24 mengajarkan bahwa setelah mengalami pertolongan dan berkat Tuhan, kita tidak boleh melupakan Dia. Keberhasilan masa lalu seharusnya membuat kita semakin dekat kepada Tuhan, bukan menjauh dari-Nya.
Yosua menutup perjalanan hidupnya dengan sebuah keputusan yang jelas: “Tetapi aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada TUHAN!”
Kiranya keputusan yang sama menjadi keputusan kita setiap hari. Di tengah perubahan zaman, berbagai tantangan, godaan, dan ketidakpastian kehidupan, kita tetap memilih Tuhan.
Bukan hanya ketika keadaan mudah, tetapi juga ketika keadaan sulit.
Tetap setia. Tetap berpegang pada Firman. Tetap berjalan bersama Roh Kudus. Dan jadikan Tuhan sebagai pusat kehidupan kita.
Doa Penutup
Tuhan Yesus, kami bersyukur untuk setiap penyertaan dan pertolongan-Mu dalam kehidupan kami. Ampuni kami apabila sering melupakan kebaikan-Mu dan membiarkan hati kami lebih tertuju kepada perkara-perkara dunia.
Tolong kami untuk tetap setia kepada-Mu. Berikan kami kekuatan untuk berpegang pada Firman-Mu, menjauh dari segala sesuatu yang dapat menjauhkan kami dari-Mu, dan tetap memilih untuk melayani-Mu dalam segala keadaan.
Roh Kudus, tuntunlah kehidupan kami setiap hari. Berikan kekuatan ketika kami lemah, teguhkan iman ketika kami menghadapi pergumulan, dan mampukan kami untuk hidup dalam ketaatan kepada Tuhan.
Biarlah kami bersama keluarga kami dapat berkata dengan iman: “Tetapi aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada TUHAN!”
Dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa. Amin (*)
Editor : Deiby Rotinsulu