Bacaan dan Renungan untuk Orang Muda Katolik, Hari Senin 28 September 2026

Fandy Gerungan • Dipublikasikan Jumat, 25 September 2026 | 14:44 WIB
Perjamuan Malam Terakhir
Perjamuan Malam Terakhir

Pekan Biasa ke XXVI (Warna Liturgi Hijau)

Bacaan I Ayub 1:6-22

Pada suatu hari datanglah anak-anak Allah menghadap TUHAN dan di antara mereka datanglah juga Iblis.

Maka bertanyalah TUHAN kepada Iblis: "Dari mana engkau?" Lalu jawab Iblis kepada TUHAN: "Dari perjalanan mengelilingi dan menjelajah bumi."

Lalu bertanyalah TUHAN kepada Iblis: "Apakah engkau memperhatikan hamba-Ku Ayub? Sebab tiada seorangpun di bumi seperti dia, yang demikian saleh dan jujur, yang takut akan Allah dan menjauhi kejahatan."

Lalu jawab Iblis kepada TUHAN: "Apakah dengan tidak mendapat apa-apa Ayub takut akan Allah?

Bukankah Engkau yang membuat pagar sekeliling dia dan rumahnya serta segala yang dimilikinya? Apa yang dikerjakannya telah Kauberkati dan apa yang dimilikinya makin bertambah di negeri itu.

Tetapi ulurkanlah tangan-Mu dan jamahlah segala yang dipunyainya, ia pasti mengutuki Engkau di hadapan-Mu."

Maka firman TUHAN kepada Iblis: "Nah, segala yang dipunyainya ada dalam kuasamu; hanya janganlah engkau mengulurkan tanganmu terhadap dirinya." Kemudian pergilah Iblis dari hadapan TUHAN.

Pada suatu hari, ketika anak-anaknya yang lelaki dan yang perempuan makan-makan dan minum anggur di rumah saudara mereka yang sulung,

datanglah seorang pesuruh kepada Ayub dan berkata: "Sedang lembu sapi membajak dan keledai-keledai betina makan rumput di sebelahnya,

datanglah orang-orang Syeba menyerang dan merampasnya serta memukul penjaganya dengan mata pedang. Hanya aku sendiri yang luput, sehingga dapat memberitahukan hal itu kepada tuan."

Sementara orang itu berbicara, datanglah orang lain dan berkata: "Api telah menyambar dari langit dan membakar serta memakan habis kambing domba dan penjaga-penjaga. Hanya aku sendiri yang luput, sehingga dapat memberitahukan hal itu kepada tuan."

Sementara orang itu berbicara, datanglah orang lain dan berkata: "Orang-orang Kasdim membentuk tiga pasukan, lalu menyerbu unta-unta dan merampasnya serta memukul penjaganya dengan mata pedang. Hanya aku sendiri yang luput, sehingga dapat memberitahukan hal itu kepada tuan."

Sementara orang itu berbicara, datanglah orang lain dan berkata: "Anak-anak tuan yang lelaki dan yang perempuan sedang makan-makan dan minum anggur di rumah saudara mereka yang sulung,

maka tiba-tiba angin ribut bertiup dari seberang padang gurun; rumah itu dilandanya pada empat penjurunya dan roboh menimpa orang-orang muda itu, sehingga mereka mati. Hanya aku sendiri yang luput, sehingga dapat memberitahukan hal itu kepada tuan."

Maka berdirilah Ayub, lalu mengoyak jubahnya, dan mencukur kepalanya, kemudian sujudlah ia dan menyembah,

katanya: "Dengan telanjang aku keluar dari kandungan ibuku, dengan telanjang juga aku akan kembali ke dalamnya. TUHAN yang memberi, TUHAN yang mengambil, terpujilah nama TUHAN!"

Dalam kesemuanya itu Ayub tidak berbuat dosa dan tidak menuduh Allah berbuat yang kurang patut.

Demikianlah Sabda Tuhan

U. Syukur kepada Allah

Mazmur 17:1.2-3.6-7

Doa Daud. Dengarkanlah, TUHAN, perkara yang benar, perhatikanlah seruanku; berilah telinga akan doaku, dari bibir yang tidak menipu.

Dari pada-Mulah kiranya datang penghakiman: mata-Mu kiranya melihat apa yang benar.

Bila Engkau menguji hatiku, memeriksanya pada waktu malam, dan menyelidiki aku, maka Engkau tidak akan menemui sesuatu kejahatan; mulutku tidak terlanjur.

Aku berseru kepada-Mu, karena Engkau menjawab aku, ya Allah; sendengkanlah telinga-Mu kepadaku, dengarkanlah perkataanku.

Tunjukkanlah kasih setia-Mu yang ajaib, ya Engkau, yang menyelamatkan orang-orang yang berlindung pada tangan kanan-Mu terhadap pemberontak.

Bacaan Injil Lukas 9:46-50

Maka timbullah pertengkaran di antara murid-murid Yesus tentang siapakah yang terbesar di antara mereka.

Tetapi Yesus mengetahui pikiran mereka. Karena itu Ia mengambil seorang anak kecil dan menempatkannya di samping-Nya,

dan berkata kepada mereka: "Barangsiapa menyambut anak ini dalam nama-Ku, ia menyambut Aku; dan barangsiapa menyambut Aku, ia menyambut Dia, yang mengutus Aku. Karena yang terkecil di antara kamu sekalian, dialah yang terbesar."

Yohanes berkata: "Guru, kami lihat seorang mengusir setan demi nama-Mu, lalu kami cegah orang itu, karena ia bukan pengikut kita."

Yesus berkata kepadanya: "Jangan kamu cegah, sebab barangsiapa tidak melawan kamu, ia ada di pihak kamu."

Demikianlah Injil Tuhan

U. Terpujilah Kristus

Renungan

Salve sahabat muda katolik! ada banyak hal yang kita pikirkan: masa depan, pendidikan, pekerjaan, hubungan, keluarga, pertemanan, pelayanan, sampai keinginan untuk membuktikan bahwa diri kita mampu. 

Di tengah semua itu, kita juga bisa mengalami kegagalan, kehilangan, penolakan, dan kekecewaan.

Bacaan hari ini memperkenalkan kita kepada Ayub, seorang yang hidup dekat dengan Tuhan tetapi tetap mengalami penderitaan yang sangat berat. Dalam waktu singkat, ia kehilangan banyak hal yang sangat berharga dalam hidupnya.

Pengalaman Ayub mengingatkan kita bahwa hidup beriman bukan berarti hidup tanpa masalah. Menjadi orang yang dekat dengan Tuhan bukan jaminan bahwa semua rencana kita akan selalu berjalan dengan lancar.

Kadang kita berpikir, kalau sudah rajin berdoa, aktif dalam pelayanan, pergi ke gereja, dan berusaha hidup baik, seharusnya hidup kita juga baik-baik saja. Tetapi kenyataannya tidak selalu demikian.

Ada kalanya kita sudah berusaha sebaik mungkin, tetapi tetap gagal. Kita sudah berdoa, tetapi persoalan belum selesai. Kita sudah berbuat baik, tetapi justru disalahpahami. Pada saat seperti itu, iman kita sedang diuji.

Ayub mengajarkan kepada kita tentang kesetiaan. Ia tidak hanya percaya kepada Tuhan ketika hidupnya penuh berkat. Ketika semuanya berubah, ia tetap berusaha mempertahankan hubungannya dengan Allah.

Bagi orang muda, ini menjadi tantangan yang sangat nyata. Jangan sampai iman kita hanya kuat ketika hidup sedang menyenangkan. Jangan sampai kita dekat dengan Tuhan hanya ketika membutuhkan sesuatu.

Justru ketika hidup sedang berat, ketika doa terasa belum terjawab, ketika masa depan terasa tidak jelas, di situlah kita belajar mempercayakan diri kepada Tuhan.

Sementara itu, Injil memperlihatkan para murid yang masih sibuk memikirkan siapa yang paling besar. Mereka ingin mengetahui siapa yang paling penting di antara mereka.

Bukankah hal seperti ini juga sering terjadi dalam kehidupan kita? Di media sosial, kita mudah membandingkan diri dengan orang lain. Kita melihat teman yang lebih sukses, lebih populer, lebih menarik, lebih berprestasi, lebih banyak memiliki sesuatu. 

Tanpa sadar, kita mulai merasa bahwa nilai diri kita ditentukan oleh pencapaian dan pengakuan orang lain.

Yesus menunjukkan jalan yang berbeda. Kebesaran tidak ditentukan oleh seberapa terkenal kita, seberapa tinggi posisi kita, atau seberapa banyak orang yang mengagumi kita. Kebesaran justru terlihat dalam kerendahan hati, kesediaan melayani, dan kemampuan menerima orang lain.

Karena itu, OMK dipanggil bukan untuk berlomba menjadi yang paling hebat, tetapi menjadi pribadi yang paling siap untuk mengasihi dan melayani.

Tidak masalah kalau nama kita tidak selalu disebut. Tidak masalah kalau pelayanan kita tidak selalu mendapatkan pujian. Tidak masalah kalau kebaikan kita tidak langsung diketahui orang lain.

Yang penting adalah Tuhan melihat ketulusan hati kita.

Hari ini kita diajak memiliki dua sikap penting: tetap percaya ketika hidup sedang sulit dan tetap rendah hati ketika hidup sedang berhasil.

Ketika gagal, jangan langsung merasa bahwa Tuhan meninggalkan kita. Ketika berhasil, jangan merasa bahwa kita lebih hebat daripada orang lain.

Hidup orang muda masih panjang. Akan ada banyak keberhasilan, tetapi juga banyak kegagalan. Akan ada saat kita merasa sangat kuat, tetapi juga ada saat kita merasa tidak mampu melanjutkan perjalanan.

Dalam semuanya itu, jangan kehilangan Tuhan. Biarlah iman menjadi tempat kita kembali ketika hidup terasa berat. Dan biarlah kerendahan hati menjadi sikap kita ketika Tuhan mempercayakan keberhasilan kepada kita.

Menjadi besar bukan berarti berdiri paling tinggi di antara orang lain. Menjadi besar berarti mampu merendahkan hati, mengangkat orang lain, tetap setia kepada Tuhan, dan terus berjalan meskipun hidup tidak selalu sesuai dengan rencana kita. (*)

Editor : Fandy Gerungan
renungan katolik omk Renungan