Bacaan: 1 Timotius 3:1–13
Tema: “Diuji Dahulu Baru Ditetapkan Dalam Pelayanan”
Saudara-saudara P/KB GMIM yang dikasihi Tuhan, seorang pria dalam kehidupannya sering dipercayakan banyak tanggung jawab. Ada yang menjadi suami, ayah, opa, pekerja, pemimpin di tempat kerja, anggota masyarakat, dan pada saat yang sama juga mengambil bagian dalam kehidupan serta pelayanan gereja. Dalam semua peran itu ada keputusan yang harus dibuat, ada tanggung jawab yang harus dipikul, ada keluarga yang perlu diperhatikan, ada pekerjaan yang harus diselesaikan dan ada kesaksian iman yang perlu dijaga. Karena itu kehidupan seorang pria Kristen sebenarnya merupakan tempat pembentukan yang berlangsung setiap hari.
Sering kali kita berpikir bahwa seseorang baru diuji ketika akan dipilih menjadi pelayan. Padahal jauh sebelum sebuah nama dimasukkan dalam proses pemilihan, kehidupan sudah menjadi ruang pengujian. Seorang pria sedang diuji ketika ia harus memilih antara kejujuran dan keuntungan. Ia sedang diuji ketika pulang dalam keadaan lelah tetapi keluarganya membutuhkan perhatian. Ia sedang diuji ketika pendapatnya tidak diterima.
Ia sedang diuji ketika orang lain mendapatkan kesempatan yang sebenarnya ia inginkan. Ia sedang diuji ketika mempunyai akses kepada uang yang bukan miliknya. Ia sedang diuji ketika mendapat kritik yang mungkin tidak menyenangkan. Bahkan cara seseorang menggunakan telepon genggam, berbicara di media sosial, memperlakukan pekerja, membayar utang, menepati janji dan menjaga perkataan semuanya dapat menjadi bagian dari proses pembentukan karakter.
Baca Juga: Renungan 1 Timotius 3:1–13, Diuji Dahulu Baru Ditetapkan Dalam Pelayanan
Baca Juga: Materi Khotbah 1 Timotius 3:1–13, Diuji Dahulu Baru Ditetapkan Dalam Pelayanan
Karena itu tema “Diuji Dahulu Baru Ditetapkan Dalam Pelayanan” sebenarnya jauh lebih dalam daripada sebuah proses administratif gereja. Tema ini menyentuh pertanyaan yang sangat pribadi: apakah kehidupan saya sedang menjadi kehidupan yang dapat dipercaya Tuhan? Kita sering ingin Tuhan menggunakan kita, tetapi mungkin Tuhan sedang lebih dahulu membentuk kita. Kita ingin mendapat tanggung jawab yang besar, tetapi Tuhan sedang melihat bagaimana kita menangani tanggung jawab kecil. Kita ingin memimpin orang lain, tetapi Tuhan terlebih dahulu mengajar kita menguasai diri sendiri.
Dalam dunia sekarang, kemampuan sering lebih cepat mendapat perhatian daripada karakter. Orang yang pandai berbicara cepat dikenal. Orang yang mempunyai jaringan luas mudah mendapatkan pengaruh. Orang yang mempunyai kemampuan ekonomi dapat dengan cepat dianggap berhasil. Tetapi Alkitab menunjukkan ukuran yang berbeda. Dalam 1 Timotius 3, Paulus tidak terutama berkata bahwa seorang pelayan harus paling kaya, paling terkenal, paling berpendidikan atau paling kuat pengaruhnya. Ia berbicara mengenai integritas, penguasaan diri, kesetiaan dalam keluarga, hubungan dengan uang, kesanggupan menjaga perkataan, kematangan iman dan kesaksian yang baik.
Itulah sebabnya renungan ini perlu kita terima bukan sebagai alat untuk menilai orang lain, tetapi sebagai cermin bagi diri sendiri. Sangat mudah membaca persyaratan dalam 1 Timotius 3 sambil memikirkan kelemahan orang lain. Tetapi Firman Tuhan terlebih dahulu bertanya kepada kita: bagaimana kehidupan saya sebagai pria Kristen? Bagaimana saya sebagai suami? Bagaimana saya sebagai ayah? Bagaimana saya sebagai pekerja? Bagaimana saya sebagai opa? Bagaimana saya ketika tidak ada orang lain yang melihat?
Saudara-saudara P/KB GMIM yang dikasihi Tuhan,
Surat 1 Timotius memperkenalkan dirinya sebagai surat Paulus kepada Timotius, yang disebut sebagai anaknya yang sah di dalam iman. Timotius bukan orang asing bagi Paulus. Ia merupakan rekan pelayanan yang telah berjalan bersama Paulus, melihat berbagai keadaan jemaat, menghadapi tantangan dan belajar menjalankan tanggung jawab. Paulus kemudian mempercayakan kepadanya tugas yang penting di Efesus, termasuk menghadapi pengajaran yang menyimpang dan membantu menata kehidupan jemaat.
Hal ini menarik karena Timotius sendiri adalah contoh bahwa pelayanan tidak lahir hanya dari keinginan sesaat. Kisah Para Rasul 16 menunjukkan bahwa ketika Paulus bertemu dengan Timotius di Listra, ia sudah mempunyai kesaksian yang baik dari saudara-saudara di Listra dan Ikonium. Artinya, sebelum Timotius menerima tanggung jawab yang semakin besar, kehidupannya sudah lebih dahulu dikenal dalam komunitas iman.
Timotius kemudian berjalan bersama Paulus. Ia belajar melalui perjalanan, pelayanan, tekanan dan tanggung jawab. Ia tidak langsung mengetahui semuanya. Ia dibentuk dalam proses. Bahkan ketika sudah menerima tanggung jawab penting, Paulus masih menasihatinya. Ini berarti bahwa mendapatkan kepercayaan tidak pernah berarti seseorang sudah selesai belajar.
Di Efesus, gereja menghadapi situasi yang tidak mudah. Ada persoalan ajaran dan berbagai tantangan kehidupan jemaat. Karena itu gereja membutuhkan pelayan yang bukan hanya mampu berbicara, tetapi dapat dipercaya. Struktur gereja memang penting, tetapi struktur yang baik dapat rusak apabila diisi oleh orang yang tidak mempunyai integritas.
Inilah sebabnya sebagian besar syarat dalam 1 Timotius 3 berbicara tentang karakter. Kemampuan memang ada tempatnya, tetapi kemampuan tanpa karakter dapat menjadi bahaya. Orang yang pandai berbicara tetapi tidak jujur dapat menggunakan kepandaiannya untuk memanipulasi. Orang yang mempunyai kuasa tetapi tidak mampu mengendalikan kemarahan dapat menggunakan kuasa untuk menekan. Orang yang mempunyai akses kepada uang tetapi tidak mempunyai integritas dapat merusak kepercayaan. Karena itu Tuhan tidak hanya mempersiapkan pekerjaan pelayanan bagi seseorang; Tuhan mempersiapkan seseorang bagi pekerjaan pelayanan itu.
Bagi P/KB GMIM, hal ini sangat penting. Banyak kualitas yang diperlukan dalam pelayanan sebenarnya dibentuk dalam kehidupan sehari-hari sebagai pria. Kesabaran dibentuk dalam keluarga. Integritas diuji dalam pekerjaan. Penguasaan diri diuji dalam konflik. Kesetiaan diuji ketika tidak ada penghargaan. Kerendahan hati diuji ketika orang lain lebih diperhatikan daripada kita.
Maka “diuji dahulu” bukan berarti gereja harus mencari-cari kelemahan seseorang untuk mempermalukannya. Pengujian harus dilakukan dengan kasih dan kebenaran. Tujuannya ialah memastikan bahwa tanggung jawab diberikan kepada orang yang telah memperlihatkan kematangan yang memadai, sekaligus memberi kesempatan bagi seseorang untuk menyadari bagian kehidupan yang masih perlu dibentuk.
PEMBAHASAN AYAT PER AYAT
Ayat 1 mengatakan bahwa apabila seseorang menghendaki jabatan penilik jemaat, ia menginginkan pekerjaan yang indah. Paulus tidak mengatakan bahwa kerinduan melayani itu salah. Justru ia menyebutnya baik. Tetapi perhatikan bahwa Paulus berbicara tentang pekerjaan, bukan sekadar kehormatan. Pelayanan berarti tanggung jawab, pengorbanan, perhatian kepada orang lain dan kesediaan memberi diri. Bagi P/KB, hal ini langsung menguji motivasi.
Apakah kita ingin melayani karena ingin berguna bagi Tuhan dan jemaat, atau karena ingin memperoleh kedudukan? Jika kita tidak mendapat jabatan, apakah kita masih bersedia membantu? Jika nama kita tidak diumumkan, apakah kita tetap setia? Seorang yang sungguh mempunyai hati pelayanan tidak menunggu gelar untuk mulai bekerja. Ia melayani karena mengasihi Tuhan, bukan karena membutuhkan pengakuan.
Ayat 2 berbicara tentang kehidupan yang tidak bercacat, kesetiaan dalam perkawinan, kemampuan menahan diri, kebijaksanaan, kesopanan, keramahan dan kecakapan mengajar. Tidak bercacat bukan berarti seorang pelayan tidak pernah membuat kesalahan, sebab semua manusia memiliki kelemahan. Yang dimaksud ialah kehidupannya tidak menunjukkan pola perilaku yang secara nyata bertentangan dengan iman. Bagi seorang pria Kristen, ini menyentuh kehidupan yang sangat pribadi. Kesetiaan kepada pasangan bukan hanya soal tidak melakukan perselingkuhan, tetapi juga bagaimana menjaga hati, mata, perkataan dan hubungan.
Penguasaan diri berarti tidak membiarkan emosi, keinginan atau dorongan sesaat mengendalikan kehidupan. Kita dapat mengajar orang lain dengan baik, tetapi bila tidak mampu mengendalikan diri, kesaksian kita akan kehilangan kekuatan. Tuhan menginginkan kehidupan yang utuh, sehingga iman yang dibicarakan di gereja juga terlihat dalam kehidupan sehari-hari.
Ayat 3 berbicara tentang tidak dikuasai minuman, tidak pemarah, tetapi peramah, pendamai dan tidak menjadi hamba uang. Bagian ini sangat dekat dengan pergumulan banyak pria. Seorang pria sering dinilai kuat ketika tegas, tetapi Alkitab tidak menyamakan ketegasan dengan kemarahan. Ada pria yang merasa harus meninggikan suara supaya dihormati, padahal kemampuan menguasai diri justru merupakan bentuk kekuatan yang lebih besar.
Ketika kita marah, apakah kita masih dapat mengendalikan kata-kata? Ketika pendapat kita ditolak, apakah kita langsung menyerang? Ketika seseorang mengkritik, apakah kita membalas dengan kebencian? Semua itu menjadi ujian karakter.
Demikian pula dengan uang. Seorang pria dapat bekerja sangat keras untuk keluarganya, tetapi jangan sampai keinginan memenuhi kebutuhan berubah menjadi cinta uang yang membuat kita menghalalkan cara. Integritas diuji bukan hanya ketika mengelola uang gereja dalam jumlah besar, tetapi juga melalui transaksi kecil, utang, janji, laporan dan penggunaan fasilitas yang bukan milik kita.
Ayat 4 membawa kita ke dalam kehidupan keluarga. Paulus meminta seorang penilik mampu mengurus rumah tangganya dengan baik. Bagi P/KB, bagian ini tidak boleh dibaca hanya sebagai syarat administratif untuk sebuah jabatan gereja. Ini adalah panggilan untuk melihat rumah sebagai tempat pertama pembentukan karakter. Orang di gereja mungkin melihat kita beberapa jam, tetapi istri dan anak-anak melihat kita setiap hari. Mereka mengetahui bagaimana kita berbicara ketika lelah, bagaimana kita menghadapi tekanan ekonomi dan bagaimana kita bertindak ketika merasa tidak dihargai.
Karena itu, sebelum bertanya apakah jemaat menghormati kita, tanyakan apakah keluarga mengalami kasih dan tanggung jawab melalui kehidupan kita. Seorang ayah tidak harus menjadi manusia sempurna, tetapi perlu berani berkata, “Ayah salah, maafkan Ayah,” ketika memang salah. Wibawa tidak hilang karena meminta maaf; justru di situlah anak belajar bahwa kekuatan dan kerendahan hati dapat berjalan bersama.
Ayat 5 menanyakan bagaimana seseorang dapat mengurus jemaat Allah apabila tidak mengetahui cara mengurus keluarganya. Kata “mengurus” di sini sangat penting karena pelayanan bukan soal menguasai. Seorang pria dapat salah memahami kepemimpinan apabila menganggap dirinya harus selalu memegang kendali dan semua orang harus mengikuti kemauannya. Tetapi pola Kristus adalah kepemimpinan yang merawat.
Dalam keluarga, seorang suami atau ayah tidak dipanggil menjadi penguasa yang menuntut semua orang takut kepadanya, melainkan pribadi yang bertanggung jawab, hadir, mendengar, menuntun dan melindungi. Dalam gereja juga demikian. Jemaat bukan milik pelayan. Jemaat adalah milik Tuhan. Kita hanya dipercaya untuk merawat. Karena itu semakin besar tanggung jawab seseorang, semakin besar pula kewajibannya memiliki hati seorang hamba.
Ayat 6 mengatakan bahwa seorang penilik tidak seharusnya merupakan orang yang baru bertobat supaya ia tidak menjadi sombong. Ayat ini menunjukkan bahwa Tuhan menghargai proses kematangan. Semangat sangat penting, tetapi semangat belum tentu sama dengan kedewasaan. Seorang pria muda dalam iman dapat mempunyai banyak kemampuan, tetapi tetap membutuhkan waktu untuk belajar menerima koreksi, mengalami kegagalan, bangkit, bekerja sama dan memahami bahwa pelayanan bukan tentang dirinya.
Tuhan tidak terburu-buru sebagaimana manusia sering terburu-buru. Kadang kita ingin cepat mendapat kepercayaan, tetapi Tuhan mungkin sedang membentuk akar sebelum memberikan tanggung jawab yang lebih besar. Jangan marah kepada proses. Bisa jadi proses itulah yang menyelamatkan kita dari kesombongan ketika kesempatan besar datang.
Ayat 7 mengatakan bahwa seorang penilik harus mempunyai kesaksian yang baik dari orang-orang di luar jemaat. Jadi bukan hanya bagaimana seseorang terlihat ketika memakai pakaian ibadah atau berada dalam rapat gereja, tetapi bagaimana kehidupannya dikenal di masyarakat. Bagi P/KB, ini sangat praktis. Bagaimana kita dikenal di tempat kerja? Apakah kita menepati janji? Bagaimana kita membayar utang?
Apakah usaha kita dijalankan dengan jujur? Bagaimana kita memperlakukan orang yang bekerja di bawah kita? Apakah tetangga mengenal kita sebagai orang yang dapat dipercaya? Bahkan dalam media sosial, karakter dapat terlihat melalui cara kita berkomentar dan menyebarkan informasi. Seorang pelayan tidak mungkin disukai semua orang, tetapi jangan sampai kesaksian Injil rusak karena pola hidup kita sendiri.
Ayat 8 berbicara mengenai para diaken yang harus terhormat, tidak bercabang lidah, tidak diperbudak minuman dan tidak mengejar keuntungan yang tidak pantas. Tidak bercabang lidah menjadi sangat penting dalam kehidupan pria dan pelayanan. Kita bisa tergoda mengatakan satu hal kepada satu orang lalu berkata lain kepada orang berikutnya demi menjaga posisi. Tetapi seorang yang dapat dipercaya tidak hidup dengan dua wajah.
Dalam pelayanan, kita juga mungkin mengetahui banyak informasi pribadi. Tidak semua yang diketahui harus diceritakan. Kemampuan menjaga kepercayaan adalah salah satu bentuk kedewasaan. Demikian pula mengenai keuntungan yang tidak pantas, jabatan pelayanan tidak boleh dijadikan jalan memperoleh manfaat ekonomi, proyek, relasi bisnis atau keuntungan tertentu bagi diri sendiri.
Ayat 9 mengatakan bahwa para diaken harus memegang rahasia iman dengan hati nurani yang suci. Ini berarti iman yang benar harus berjalan bersama hati nurani yang hidup. Kita dapat mengetahui banyak ajaran Alkitab tetapi secara perlahan kehilangan kepekaan terhadap dosa apabila terus membenarkan kesalahan sendiri. Hati nurani yang suci bukan hati nurani manusia yang tidak pernah salah, tetapi hati yang masih dapat ditegur.
Bagi P/KB, pertanyaan pentingnya ialah: apakah kita masih mau mendengar ketika istri, anak, rekan kerja atau saudara seiman menunjukkan kesalahan? Ataukah setiap teguran langsung dianggap sebagai serangan? Salah satu tanda kematangan seorang pria bukan bahwa ia tidak pernah dikoreksi, tetapi bahwa ia mampu menerima koreksi tanpa kehilangan harga diri.
Ayat 10 berkata dengan sangat jelas bahwa mereka harus diuji dahulu, dan setelah ternyata layak barulah mereka melayani. Inilah pusat tema kita. Pengujian membutuhkan waktu, sebab karakter tidak dapat dinilai hanya melalui satu wawancara atau satu kali penampilan. Bagaimana seseorang menghadapi kegagalan? Apakah ia tetap setia ketika tidak dipilih? Apakah ia mampu bekerja bersama orang yang berbeda pendapat?
Apakah ketika diberi sedikit tanggung jawab ia melakukannya dengan baik? Apakah ia menghargai orang yang tidak mempunyai kedudukan? Hal-hal seperti ini memperlihatkan isi hati. Bagi P/KB, ujian bahkan dapat terjadi sebelum kita pernah memikirkan pelayanan. Tuhan mungkin sedang memakai pekerjaan, keluarga, kesulitan ekonomi atau konflik untuk membentuk kemampuan kita menguasai diri dan mempercayai-Nya.
Ayat ini juga mengingatkan bahwa tidak mendapatkan suatu jabatan bukan berarti kita tidak dapat melayani. Bahkan mungkin salah satu ujian terbesar ialah apakah kita tetap mau melayani ketika orang lain yang dipilih. Bisakah kita mendukung tanpa iri? Bisakah kita berdoa bagi orang yang mendapat kepercayaan? Bisakah kita tetap bekerja dengan sukacita? Jika kita hanya mau melayani ketika berada di depan, kita perlu bertanya apakah kita mencintai pelayanan atau sebenarnya mencintai posisi.
Ayat 11 berbicara mengenai perempuan-perempuan yang harus terhormat, tidak memfitnah, mampu menahan diri dan dapat dipercaya. Walaupun terdapat perbedaan penafsiran mengenai apakah bagian ini menunjuk kepada istri para diaken atau perempuan yang menjalankan bentuk pelayanan tertentu, prinsipnya memperlihatkan bahwa lingkungan kehidupan pelayanan juga sangat penting.
Bagi P/KB, hal ini mengingatkan bahwa pelayanan tidak berjalan di ruang kosong. Hubungan dengan pasangan dan keluarga harus dibangun dengan keterbukaan dan saling menjaga. Seorang pria yang aktif melayani tetapi tidak pernah berbicara dengan keluarga mengenai tanggung jawab dan batas waktunya dapat menciptakan persoalan di rumah. Kehidupan pelayanan perlu membawa keluarga semakin dekat kepada Tuhan, bukan menjadi alasan keluarga merasa diabaikan.
Ayat 12 kembali menekankan kesetiaan perkawinan dan kemampuan mengurus anak-anak serta keluarga. Paulus mengulang bagian ini karena rumah tangga memang menjadi ruang penting pengujian. Tidak ada keluarga pelayan yang bebas masalah, dan seorang ayah tidak dapat mengendalikan seluruh pilihan anak-anaknya. Namun pertanyaannya adalah apakah ia melakukan bagian yang menjadi tanggung jawabnya dengan setia.
Apakah ia hadir? Apakah ia mendoakan keluarganya? Apakah ia memberi teladan? Apakah ia menjalankan kewajiban tanpa menggunakan pelayanan sebagai alasan untuk terus meninggalkan rumah? Pelayanan yang sehat tidak harus mengorbankan keluarga secara terus-menerus. Tuhan yang memanggil seseorang melayani juga adalah Tuhan yang mempercayakan kepadanya tanggung jawab keluarga.
Ayat 13 menutup dengan berkata bahwa mereka yang melayani dengan baik memperoleh kedudukan yang baik dan keberanian besar dalam iman kepada Kristus. Di sini kita kembali menemukan bahwa ukuran keberhasilan bukan sekadar mendapatkan jabatan, tetapi melayani dengan baik. Ada orang yang mungkin memegang posisi tinggi tetapi kehilangan hati seorang hamba, sementara ada orang yang tidak banyak dikenal tetapi melayani dengan kesetiaan luar biasa.
Tuhan melihat lebih dalam daripada daftar struktur organisasi. Pertanyaannya bukan berapa tahun kita menjabat, tetapi apa yang terjadi melalui kepercayaan itu. Apakah orang lain dibangun? Apakah keluarga tetap diperhatikan? Apakah karakter semakin matang? Dan terutama, apakah setelah melayani kita semakin bergantung kepada Kristus atau justru semakin mengandalkan diri sendiri?
PENUTUP
Saudara-saudara P/KB GMIM yang dikasihi Tuhan, tema “Diuji Dahulu Baru Ditetapkan Dalam Pelayanan” pada akhirnya membawa kita kepada satu kebenaran yang sangat sederhana tetapi mendalam: Tuhan tidak hanya melihat apakah kita mampu melakukan pekerjaan; Tuhan memperhatikan apakah kita dapat dipercaya ketika pekerjaan itu diberikan.
Karena itu sebelum memikirkan jabatan, pikirkan karakter.
Sebelum bertanya apakah kita akan dipilih, tanyakan apakah kita sedang dibentuk.
Sebelum meminta tanggung jawab yang lebih besar, lihatlah bagaimana kita menjalankan tanggung jawab yang sudah ada.
Bagi seorang suami, mungkin ujian yang sedang Tuhan pakai bukan sesuatu yang terjadi di gereja, tetapi cara kita memperlakukan istri ketika sedang berbeda pendapat. Kita mungkin dapat berbicara dengan sangat sopan kepada banyak orang, tetapi apakah pasangan kita mendapat kelembutan yang sama? Jika tidak, di situlah Tuhan sedang menunjukkan bagian kehidupan yang perlu dibentuk.
Bagi seorang ayah, ujian mungkin hadir melalui anak. Anak tidak selalu menjadi seperti yang kita harapkan. Dalam keadaan itu apakah kita hanya memerintah, atau masih mau mendengar? Apakah kita menggunakan kekerasan kata-kata ketika kecewa, atau belajar membimbing dengan kesabaran? Kita tidak dapat memimpin hati anak hanya dengan suara yang keras; kita membutuhkan kehidupan yang layak diteladani.
Bagi seorang opa, pengujian bisa berupa kesediaan melepaskan sebagian kendali kepada generasi berikutnya. Kita mempunyai banyak pengalaman, tetapi pengalaman tidak harus membuat kita merasa semua keputusan generasi muda wajib sama seperti keputusan kita dahulu. Jadilah sumber hikmat, bukan sumber tekanan. Wariskan iman, doa, nilai kehidupan dan karakter.
Bagi seorang pekerja atau pengusaha, tempat kerja merupakan ruang ujian yang sangat nyata. Jangan hanya dikenal rajin di gereja tetapi tidak dapat dipercaya dalam pekerjaan. Jangan membawa persembahan dari penghasilan yang diperoleh melalui cara yang tidak benar lalu merasa kehidupan rohani sudah beres. Tuhan yang kita sembah dalam ibadah adalah Tuhan yang sama yang melihat transaksi, laporan, janji dan cara kita memperlakukan orang lain.
Bagi mereka yang sudah melayani, teruslah ingat bahwa penetapan tidak membuat pengujian berhenti. Setelah mendapatkan kepercayaan, pengujian justru dapat menjadi semakin besar. Ketika orang mulai menghormati kita, kesombongan diuji. Ketika ada uang yang dipercayakan, integritas diuji. Ketika ada perbedaan pendapat, penguasaan diri diuji. Ketika pelayanan berhasil, motivasi diuji. Ketika pelayanan tidak berjalan sesuai rencana, kesetiaan diuji.
Karena itu jangan pernah menganggap jabatan sebagai bukti bahwa kita sudah selesai dibentuk Tuhan.
Kita tetap murid. Kita tetap membutuhkan Firman. Kita tetap membutuhkan teguran. Kita tetap membutuhkan pengampunan. Kita tetap membutuhkan pertolongan Roh Kudus. Ada beberapa hal penting yang perlu dibawa pulang dari renungan hari ini.
Pertama, pelayanan dimulai sebelum jabatan diberikan. Kesetiaan dalam kehidupan sehari-hari merupakan bagian dari pelayanan kita kepada Tuhan. Jika hanya mau melayani ketika diberikan posisi, hati kita perlu diperiksa kembali.
Kedua, karakter merupakan fondasi pelayanan. Kemampuan dapat membuat orang kagum, tetapi karakter membuat orang percaya. Dan kepercayaan sangat mudah hilang apabila integritas tidak dijaga.
Ketiga, keluarga merupakan salah satu tempat terpenting untuk menguji kehidupan seorang pria. Jangan mengejar kesaksian besar di luar tetapi membiarkan orang di rumah terus terluka oleh kehidupan kita.
Keempat, penguasaan diri merupakan kekuatan rohani. Pria yang kuat bukan hanya orang yang mampu memimpin orang lain, tetapi orang yang dengan pertolongan Tuhan belajar mengendalikan kemarahan, perkataan, keinginan dan egonya sendiri.
Kelima, uang merupakan salah satu ujian integritas. Jangan menjadikan kebutuhan, pelayanan atau keadaan sebagai pembenaran bagi ketidakjujuran.
Keenam, kemampuan menerima koreksi adalah tanda kematangan. Jangan cepat marah ketika ditegur. Dengarkan, periksa, dan jika benar, berubahlah.
Ketujuh, proses tidak selalu berarti penolakan. Kadang-kadang Tuhan belum memberikan kepercayaan yang kita inginkan karena Ia masih mempersiapkan kita untuk memikulnya dengan benar.
Kedelapan, sesudah ditetapkan kita tetap harus terus diuji oleh Firman. Tidak ada jabatan yang membuat seseorang berada di atas teguran Tuhan.
Saudara-saudara P/KB, marilah berhenti mengukur kesiapan pelayanan hanya dari pertanyaan, “Apakah saya bisa?” Mulailah bertanya, “Apakah saya dapat dipercaya?”
Saya mungkin bisa berbicara, tetapi apakah perkataan saya dapat dipercaya?
Saya mungkin bisa memimpin, tetapi apakah saya mampu menerima koreksi?
Saya mungkin bisa mengatur organisasi, tetapi apakah kehidupan pribadi saya tertata?
Saya mungkin dikenal di gereja, tetapi bagaimana saya dikenal oleh keluarga dan orang di tempat kerja?
Saya mungkin mempunyai banyak pengalaman, tetapi apakah pengalaman itu membuat saya semakin rendah hati atau semakin merasa diri paling benar?
Inilah pertanyaan-pertanyaan yang membawa kita kepada inti Firman.
Jangan takut apabila Tuhan sedang membentuk kita melalui proses yang panjang. Musa memiliki padang gurunnya. Timotius mempunyai perjalanan panjang bersama Paulus. Kita pun mempunyai proses masing-masing. Ada orang yang dibentuk melalui pekerjaan.
Ada yang dibentuk melalui keluarga. Ada yang dibentuk melalui kegagalan. Ada yang dibentuk melalui penantian. Ada yang dibentuk melalui tanggung jawab sederhana. Yang penting adalah jangan membuang proses tersebut.
Izinkan Tuhan bekerja. Jika ada ego, biarkan Tuhan merendahkannya. Jika ada kemarahan, biarkan Tuhan mengajar penguasaan diri. Jika ada ketidakjujuran, bereskanlah.
Jika ada hubungan keluarga yang rusak karena kesalahan kita, ambillah langkah untuk memperbaikinya. Jika ada kebiasaan buruk yang selama ini selalu dibenarkan dengan kalimat, “Memang saya begini,” berhentilah menjadikan karakter lama sebagai alasan menolak pembaruan Tuhan.
Seorang pria Kristen tidak menjadi kuat karena tidak pernah mengakui kelemahan. Kekuatan justru terlihat ketika ia cukup rendah hati untuk berkata, “Saya salah,” cukup berani untuk meminta maaf, cukup jujur untuk meminta pertolongan, dan cukup taat untuk berubah ketika Firman Tuhan menegur.
Mungkin hari ini kita sedang mempertimbangkan pelayanan tertentu. Jangan hanya berdoa, “Tuhan, biarlah saya terpilih.” Doakanlah sesuatu yang lebih dalam:
“Tuhan, jika aku dipercaya, jadikan aku layak memegang kepercayaan itu. Dan jika aku masih perlu dibentuk, berikan aku kerendahan hati untuk menjalani proses.”
Mungkin kita tidak sedang dicalonkan dalam pelayanan apa pun. Firman ini tetap berlaku, sebab setiap pria Kristen dipanggil menjadi orang yang dapat dipercaya.
Dapat dipercaya oleh keluarga. Dapat dipercaya dalam pekerjaan. Dapat dipercaya dalam perkataan. Dapat dipercaya dalam uang. Dapat dipercaya dalam pelayanan. Dapat dipercaya ketika tidak ada yang mengawasi.
Dan kiranya pada akhirnya yang kita kejar bukan sekadar nama kita tercatat dalam daftar pelayan, tetapi kehidupan kita tercatat sebagai kehidupan yang setia di hadapan Tuhan.
Diuji dahulu, baru ditetapkan. Dibentuk dahulu, baru dipercayakan. Dan sesudah dipercayakan, tetaplah menjadi murid yang mau terus dibentuk Tuhan. Sebab pelayanan yang sejati bukan tentang seberapa tinggi tempat kita berdiri, tetapi seberapa setia kita menjalankan apa yang Tuhan percayakan.
Amin.
Editor : Clavel Lukas