Bacaan: 1 Timotius 3:1–13
Tema: “Diuji Dahulu Baru Ditetapkan Dalam Pelayanan”
Saudari-saudari W/KI GMIM yang dikasihi Tuhan Yesus Kristus, ketika berbicara tentang pelayanan, kita sering langsung memikirkan tugas, jabatan, kemampuan, atau siapa yang akan dipercayakan memegang tanggung jawab tertentu. Namun 1 Timotius 3:1–13 membawa perhatian kita lebih dalam.
Paulus tidak pertama-tama berbicara tentang siapa yang paling mampu tampil, paling dikenal, atau paling lama aktif. Ia berbicara tentang karakter: kesetiaan, penguasaan diri, kehidupan keluarga, perkataan, hubungan dengan uang, hati nurani, dan kesaksian di tengah masyarakat. Sebelum seseorang menerima tanggung jawab pelayanan, kehidupannya perlu lebih dahulu dikenal dan diuji.
Bagi W/KI GMIM, Firman ini sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari. Perempuan menjalani keadaan dan tanggung jawab yang berbeda-beda: ada yang menjadi istri, ibu, oma, pekerja, pengusaha, pelayan gereja, atau anak yang merawat orang tua. Dalam semua keadaan itu, satu pertanyaan tetap penting: apakah kehidupan kita sedang menjadi kehidupan yang dapat dipercaya Tuhan?
Baca Juga: Renungan 1 Timotius 3:1–13, Diuji Dahulu Baru Ditetapkan Dalam Pelayanan
Baca Juga: Materi Khotbah 1 Timotius 3:1–13, Diuji Dahulu Baru Ditetapkan Dalam Pelayanan
Pengujian karakter sering terjadi bukan dalam perkara besar, tetapi dalam hal sederhana. Kita diuji ketika mendengar cerita pribadi orang lain: apakah dapat menjaga kepercayaan? Kita diuji ketika saudari lain memperoleh kesempatan yang kita inginkan: apakah dapat ikut bersukacita? Kita diuji ketika pekerjaan tidak dihargai: apakah tetap setia? Kita diuji ketika lelah dan kecewa: apakah mampu menguasai perkataan dan emosi?
Karena itu tema “Diuji Dahulu Baru Ditetapkan Dalam Pelayanan” bukan hanya berbicara tentang mekanisme pemilihan gerejawi. Tema ini berbicara tentang pembentukan kehidupan. Sebelum pelayanan terlihat di depan orang banyak, Tuhan bekerja dalam hati, motivasi, kebiasaan dan kesetiaan kita.
Maka ketika membaca bagian ini, janganlah kita pertama-tama menggunakannya untuk menilai orang lain. Jadikan Firman sebagai cermin. Tanyakanlah: apa yang sedang Tuhan bentuk dalam diri saya supaya kehidupan saya semakin dapat dipercaya?
Saudari-saudari W/KI GMIM yang dikasihi Tuhan Yesus Kristus,
Surat 1 Timotius memperkenalkan dirinya sebagai surat Paulus kepada Timotius, seorang rekan pelayanan yang dekat dengannya dan disebut sebagai anaknya yang sah di dalam iman. Timotius dipercayakan berada di Efesus untuk menghadapi pengajaran yang tidak sehat dan membantu menata kehidupan jemaat. Karena itu surat ini banyak berbicara tentang ajaran, kehidupan jemaat, ibadah, kepemimpinan dan kualitas orang yang dipercayakan dalam pelayanan.
Efesus merupakan kota penting dengan kehidupan sosial, ekonomi dan keagamaan yang kuat. Jemaat hidup di tengah berbagai pengaruh dan juga menghadapi persoalan dari dalam. Dalam keadaan seperti itu, gereja tidak cukup hanya memiliki struktur yang baik. Gereja membutuhkan orang-orang yang kehidupannya dapat dipercaya.
Itulah sebabnya sebagian besar syarat dalam 1 Timotius 3 berbicara tentang karakter. Kemampuan mengajar memang disebutkan, tetapi Paulus jauh lebih banyak berbicara mengenai kesetiaan, penguasaan diri, keramahan, keluarga, kematangan iman, uang, perkataan dan kesaksian.
Prinsipnya jelas: kemampuan dapat membuka kesempatan pelayanan, tetapi karakter menentukan apakah seseorang dapat dipercaya menjalankan kesempatan tersebut.
Pengujian bukanlah usaha mencari-cari kesalahan untuk mempermalukan seseorang. Pengujian merupakan bentuk tanggung jawab supaya kepercayaan tidak diberikan secara sembarangan. Dan “diuji” tidak berarti seseorang harus sempurna. Yang dicari ialah kehidupan yang mempunyai arah yang jelas: ketika salah mau bertobat, ketika ditegur mau mendengar, dan ketika dipercaya mau bertanggung jawab.
Bagi W/KI, hal ini penting sebab banyak pelayanan perempuan berlangsung tanpa sorotan. Ada pelayanan melalui doa, keluarga, kunjungan, perhatian kepada yang sakit, pendampingan, pekerjaan, pendidikan anak dan berbagai bentuk kesetiaan lainnya. Tuhan melihat semua itu sebagai ruang pembentukan.
PEMBAHASAN AYAT PER AYAT
Ayat 1 mengatakan bahwa apabila seseorang menghendaki jabatan penilik jemaat, ia menginginkan pekerjaan yang indah. Paulus menekankan “pekerjaan”, bukan kehormatan. Ini langsung menguji motivasi. Apakah kita ingin melayani karena mengasihi Tuhan atau karena menginginkan kedudukan? Jika nama kita tidak dipilih, apakah kita tetap mau membantu? Seorang yang memiliki hati seorang hamba tidak menunggu jabatan untuk mulai melayani.
Ayat 2 berbicara tentang kehidupan yang tidak bercacat, kesetiaan dalam perkawinan, penguasaan diri, kebijaksanaan, kesopanan, keramahan dan kemampuan mengajar. “Tidak bercacat” bukan berarti tanpa kesalahan, tetapi tidak hidup dalam pola yang jelas bertentangan dengan iman.
Pelayanan tidak boleh menjadi kehidupan yang terpisah dari kehidupan pribadi. Kita dapat berbicara tentang kasih di gereja, tetapi kasih itu juga harus terlihat dalam keluarga, dalam cara kita menanggapi orang lain dan dalam kesediaan memperbaiki kesalahan.
Ayat 3 berbicara tentang tidak dikuasai minuman, tidak pemarah, tetapi peramah, pendamai dan tidak diperbudak uang. Tekanan kehidupan perempuan dapat datang dari banyak arah, tetapi Firman tetap memanggil kita belajar menguasai diri.
Kelelahan tidak boleh terus-menerus menjadi alasan untuk melukai orang dengan perkataan. Demikian juga kebutuhan ekonomi tidak boleh membuat kita membenarkan cara yang tidak jujur. Pelayanan membutuhkan pribadi yang mampu mengelola emosi, keinginan dan sumber daya dengan bertanggung jawab.
Ayat 4 membawa perhatian kepada keluarga. Rumah merupakan salah satu tempat penting untuk melihat karakter karena di sanalah kehidupan kita terlihat secara dekat. Namun ayat ini tidak berarti seorang perempuan harus menanggung seluruh keadaan keluarganya seorang diri. Setiap anggota keluarga mempunyai tanggung jawabnya sendiri. Yang perlu diperiksa ialah apakah kita menjalankan bagian kita dengan kasih, doa, kejujuran dan tanggung jawab.
Ayat 5 menanyakan bagaimana seseorang dapat mengurus jemaat Allah apabila tidak mampu mengurus keluarganya. Kata “mengurus” menunjukkan bahwa kepemimpinan bukan soal menguasai, tetapi merawat. Orang-orang yang kita layani adalah milik Tuhan, bukan milik kita. Karena itu pemimpin yang sehat tidak menuntut semua orang mengikuti keinginannya, tetapi bersedia mendengar, mempertimbangkan dan mencari kebaikan bersama.
Ayat 6 mengingatkan bahwa seorang penilik janganlah orang yang baru bertobat supaya tidak menjadi sombong. Paulus menekankan kematangan. Semangat memang penting, tetapi semangat memerlukan akar. Ada hal-hal yang hanya dipelajari melalui waktu, koreksi, kegagalan, kerja sama dan pengalaman berjalan bersama Tuhan. Karena itu jangan membandingkan perjalanan pelayanan kita dengan orang lain. Proses yang lebih panjang bukan berarti Tuhan tidak memakai kita.
Ayat 7 mengatakan bahwa seorang penilik harus mempunyai kesaksian yang baik dari orang-orang di luar jemaat. Iman tidak hanya terlihat dalam kegiatan gereja, tetapi juga dalam pekerjaan, hubungan sosial, kehidupan bertetangga dan media sosial. Cara kita menyampaikan informasi, menepati janji, berbisnis dan memperlakukan orang lain merupakan bagian dari kesaksian Kristen.
Ayat 8 berbicara tentang para diaken yang harus terhormat, tidak bercabang lidah, tidak diperbudak minuman dan tidak mengejar keuntungan yang tidak pantas. “Tidak bercabang lidah” berarti perkataan seseorang dapat dipercaya. Hal ini sangat penting dalam pelayanan karena kita sering menerima informasi pribadi. Tidak semua yang kita ketahui perlu diceritakan. Menjaga kepercayaan merupakan salah satu bentuk kedewasaan rohani.
Ayat 9 mengatakan bahwa para diaken harus memegang rahasia iman dalam hati nurani yang suci. Pengetahuan rohani dan kehidupan tidak boleh dipisahkan. Kita dapat mengetahui banyak ayat tetapi tetap membenarkan iri hati, kepahitan atau kebohongan. Hati nurani yang suci bukan hati yang tidak pernah salah, melainkan hati yang masih peka terhadap teguran Tuhan dan bersedia bertobat.
Ayat 10 menjadi pusat tema: mereka harus diuji dahulu, kemudian barulah melayani. Pengujian membutuhkan waktu karena kesetiaan dan karakter tidak dapat dinilai hanya melalui satu penampilan. Bagaimana seseorang menerima kritik? Apakah ia tetap melayani ketika tidak dipuji? Dapatkah ia mendukung orang lain yang mendapat kesempatan lebih dahulu? Dapatkah ia dipercaya memegang informasi dan tanggung jawab? Semua itu membantu melihat kesiapan seseorang.
Ayat ini juga mengajarkan bahwa masa menunggu dapat menjadi masa pembentukan. Tidak mendapat jabatan tertentu bukan berarti tidak dapat melayani. Justru sikap kita ketika belum dipilih sering mengungkapkan motivasi yang sebenarnya.
Ayat 11 menyebut perempuan-perempuan yang harus terhormat, tidak memfitnah, dapat menahan diri dan dapat dipercayai dalam segala hal. Walaupun terdapat perbedaan penafsiran mengenai siapa tepatnya yang dimaksud, tuntutan karakternya sangat jelas. Perkataan seorang perempuan dapat menguatkan, tetapi juga dapat merusak hubungan. Karena itu W/KI dipanggil menjadi persekutuan di mana informasi dijaga, fitnah dijauhi, dan kata-kata digunakan untuk membangun.
Ayat 12 kembali berbicara mengenai kesetiaan dalam perkawinan dan kehidupan keluarga. Paulus tidak menuntut keluarga pelayan menjadi keluarga tanpa masalah. Yang penting ialah kesetiaan dalam menjalankan tanggung jawab. Jangan memakai kesibukan pelayanan untuk menghindari tanggung jawab di rumah. Sebaliknya, jangan merasa persoalan keluarga membuat hidup sama sekali tidak dapat dipakai Tuhan. Yang diperlukan adalah kejujuran, tanggung jawab dan kesediaan terus dibentuk.
Ayat 13 mengatakan bahwa mereka yang melayani dengan baik memperoleh kedudukan yang baik dan keberanian besar dalam iman kepada Kristus. Tekanannya bukan pada berhasil memperoleh jabatan, tetapi pada melayani dengan baik. Jabatan dapat berakhir, tetapi buah kesetiaan tetap berarti. Tuhan melihat apakah melalui kepercayaan yang diberikan kita semakin rendah hati, semakin dekat kepada Kristus dan menjadi berkat bagi sesama.
PENUTUP
Saudari-saudari W/KI GMIM yang dikasihi Tuhan, tema “Diuji Dahulu Baru Ditetapkan Dalam Pelayanan” mengingatkan kita bahwa Tuhan bukan hanya mencari orang yang bersedia, tetapi juga membentuk orang yang dapat dipercaya.
Karena itu doa kita tidak cukup hanya, “Tuhan, pakailah saya.” Kita juga perlu berkata, “Tuhan, bentuklah saya.” Jangan hanya meminta kesempatan yang lebih besar, tetapi mintalah karakter yang mampu memikul kesempatan itu dengan benar.
Pelayanan tidak dimulai ketika kita menerima jabatan. Pelayanan sudah berlangsung melalui cara kita berbicara, menjaga rahasia, memperlakukan keluarga, mengelola uang, menghadapi kritik dan mendukung keberhasilan orang lain. Justru di tempat-tempat sederhana itulah kesetiaan dibentuk.
Ada beberapa kebenaran penting yang perlu kita bawa pulang:
- Pelayanan dimulai dari karakter, bukan dari jabatan. Tuhan melihat kehidupan sebelum melihat posisi.
- Diuji bukan berarti harus sempurna. Yang diperlukan adalah hati yang mau bertobat, menerima koreksi dan terus bertumbuh.
- Perkataan harus dapat dipercaya. Gosip, fitnah dan cerita yang tidak seharusnya disebarkan dapat menghancurkan pelayanan.
- Penguasaan diri adalah tanda kedewasaan. Tekanan hidup tidak boleh menjadi alasan untuk terus melukai orang lain.
- Keluarga tetap merupakan bagian penting dari kesaksian. Pelayanan tidak boleh dibangun dengan terus-menerus mengabaikan tanggung jawab di rumah.
- Masa menunggu juga merupakan masa pembentukan. Sikap ketika orang lain mendapat kesempatan sering memperlihatkan keadaan hati kita.
- Setelah ditetapkan, kita tetap harus terus belajar. Jabatan tidak membuat seseorang berada di atas koreksi Firman Tuhan.
Karena itu marilah memeriksa diri dengan jujur. Apakah orang merasa aman mempercayakan sesuatu kepada kita? Apakah kita dapat bersukacita ketika perempuan lain mendapat kesempatan? Apakah kita mampu meminta maaf ketika salah? Apakah kita masih mau diajar setelah lama aktif melayani? Apakah pelayanan membuat kita semakin rendah hati atau justru semakin ingin dihormati?
Jika ada sesuatu yang Tuhan tunjukkan, jangan menutupinya. Jika kita terlalu mudah membicarakan orang lain, mulailah menjaga perkataan. Jika hati dipenuhi iri, bawalah kepada Tuhan. Jika hubungan rusak karena kesalahan kita, ambillah langkah untuk memperbaikinya. Jika sulit menerima koreksi, belajarlah mendengar sebelum membela diri.
Belajarlah dari Priskila. Ia menggunakan pengetahuan untuk membangun, rumahnya untuk pelayanan dan hidupnya sebagai rekan kerja bagi Injil. Ia tidak perlu menjadikan dirinya pusat agar hidupnya menjadi berarti bagi pekerjaan Tuhan.
Demikian pula W/KI GMIM dipanggil menjadi persekutuan perempuan yang saling membangun, bukan saling menjatuhkan; saling menjaga, bukan menyebarkan kelemahan; saling mendukung, bukan bersaing mencari perhatian.
Jika saudari sedang menunggu kesempatan pelayanan, jangan menganggap masa itu kosong. Mungkin Tuhan sedang membentuk kesabaran, memurnikan motivasi, menyembuhkan luka atau mengajar penguasaan diri. Jangan hanya bertanya, “Kapan Tuhan memakai saya?” Tanyakanlah, “Apa yang sedang Tuhan bentuk dalam hidup saya sekarang?”
Dan bagi yang sudah dipercayakan pelayanan, ingatlah bahwa pengujian belum selesai. Ketika mendapat penghargaan, kerendahan hati diuji. Ketika dikritik, kedewasaan diuji. Ketika memegang informasi, kesetiaan diuji. Ketika pelayanan berhasil, motivasi diuji. Karena itu tetaplah menjadi murid yang mau belajar, berdoa dan dikoreksi.
Pada akhirnya, yang paling penting bukan berapa banyak jabatan yang pernah kita pegang, tetapi apakah kehidupan kita telah menjadi berkat dan apakah Kristus semakin nyata melalui kita.
Diuji dahulu, baru ditetapkan. Dibentuk dahulu, baru dipercayakan. Dan sesudah dipercayakan, tetaplah menjadi perempuan yang mau terus dibentuk Tuhan.
Amin.
Editor : Clavel Lukas