Bacaan dan Renungan untuk Umat Katolik, Hari Senin 5 Oktober 2026

Fandy Gerungan • Dipublikasikan Senin, 5 Oktober 2026 | 09:40 WIB
Perjamuan Malam Terkahir
Perjamuan Malam Terkahir

Pekan Biasa ke XXVII (Warna Liturgi Hijau)

Bacaan I Galatia 1:6-12

Aku heran, bahwa kamu begitu lekas berbalik dari pada Dia, yang oleh kasih karunia Kristus telah memanggil kamu, dan mengikuti suatu injil lain,

yang sebenarnya bukan Injil. Hanya ada orang yang mengacaukan kamu dan yang bermaksud untuk memutarbalikkan Injil Kristus.

Tetapi sekalipun kami atau seorang malaikat dari sorga yang memberitakan kepada kamu suatu injil yang berbeda dengan Injil yang telah kami beritakan kepadamu, terkutuklah dia.

Seperti yang telah kami katakan dahulu, sekarang kukatakan sekali lagi: jikalau ada orang yang memberitakan kepadamu suatu injil, yang berbeda dengan apa yang telah kamu terima, terkutuklah dia.

Jadi bagaimana sekarang: adakah kucari kesukaan manusia atau kesukaan Allah? Adakah kucoba berkenan kepada manusia? Sekiranya aku masih mau mencoba berkenan kepada manusia, maka aku bukanlah hamba Kristus.

Sebab aku menegaskan kepadamu, saudara-saudaraku, bahwa Injil yang kuberitakan itu bukanlah injil manusia.

Karena aku bukan menerimanya dari manusia, dan bukan manusia yang mengajarkannya kepadaku, tetapi aku menerimanya oleh penyataan Yesus Kristus.

Demikianlah Sabda Tuhan

U. Syukur kepada Allah

Mazmur 111:1-2.7-8.9.10c

Haleluya! Aku mau bersyukur kepada TUHAN dengan segenap hati, dalam lingkungan orang-orang benar dan dalam jemaah.

Besar perbuatan-perbuatan TUHAN, layak diselidiki oleh semua orang yang menyukainya.

Perbuatan tangan-Nya ialah kebenaran dan keadilan, segala titah-Nya teguh,

kokoh untuk seterusnya dan selamanya, dilakukan dalam kebenaran dan kejujuran.

Dikirim-Nya kebebasan kepada umat-Nya, diperintahkan-Nya supaya perjanjian-Nya itu untuk selama-lamanya; nama-Nya kudus dan dahsyat.

Permulaan hikmat adalah takut akan TUHAN, semua orang yang melakukannya berakal budi yang baik. Puji-pujian kepada-Nya tetap untuk selamanya.

Bacaan Injil Lukas 10:25-37

Pada suatu kali berdirilah seorang ahli Taurat untuk mencobai Yesus, katanya: "Guru, apa yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?"

Jawab Yesus kepadanya: "Apa yang tertulis dalam hukum Taurat? Apa yang kaubaca di sana?"

Jawab orang itu: "Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu dan dengan segenap akal budimu, dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri."

Kata Yesus kepadanya: "Jawabmu itu benar; perbuatlah demikian, maka engkau akan hidup."

Tetapi untuk membenarkan dirinya orang itu berkata kepada Yesus: "Dan siapakah sesamaku manusia?"

Jawab Yesus: "Adalah seorang yang turun dari Yerusalem ke Yerikho; ia jatuh ke tangan penyamun-penyamun yang bukan saja merampoknya habis-habisan, tetapi yang juga memukulnya dan yang sesudah itu pergi meninggalkannya setengah mati.

Kebetulan ada seorang imam turun melalui jalan itu; ia melihat orang itu, tetapi ia melewatinya dari seberang jalan.

Demikian juga seorang Lewi datang ke tempat itu; ketika ia melihat orang itu, ia melewatinya dari seberang jalan.

Lalu datang seorang Samaria, yang sedang dalam perjalanan, ke tempat itu; dan ketika ia melihat orang itu, tergeraklah hatinya oleh belas kasihan.

Ia pergi kepadanya lalu membalut luka-lukanya, sesudah ia menyiraminya dengan minyak dan anggur. Kemudian ia menaikkan orang itu ke atas keledai tunggangannya sendiri lalu membawanya ke tempat penginapan dan merawatnya.

Keesokan harinya ia menyerahkan dua dinar kepada pemilik penginapan itu, katanya: Rawatlah dia dan jika kaubelanjakan lebih dari ini, aku akan menggantinya, waktu aku kembali.

Siapakah di antara ketiga orang ini, menurut pendapatmu, adalah sesama manusia dari orang yang jatuh ke tangan penyamun itu?"

Jawab orang itu: "Orang yang telah menunjukkan belas kasihan kepadanya." Kata Yesus kepadanya: "Pergilah, dan perbuatlah demikian!"

Demikianlah Injil Tuhan

U. Terpujilah Kristus

Renungan

Saudara/i bacaan hari ini mengajak kita untuk melihat kembali apa arti menjadi pengikut Kristus. Iman bukan hanya soal mengetahui ajaran yang benar, tetapi juga tentang bagaimana ajaran itu diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam surat kepada jemaat di Galatia, Santo Paulus mengingatkan umat agar tidak mudah meninggalkan Injil Kristus dan mengikuti ajaran yang menyimpang. 

Ada begitu banyak suara dalam kehidupan yang dapat memengaruhi kita. Tidak semuanya membawa kita semakin dekat kepada Tuhan.

Kadang-kadang kita lebih mudah percaya pada apa yang sedang ramai dibicarakan, apa yang banyak disukai orang, atau apa yang sesuai dengan keinginan kita. 

Bahkan dalam kehidupan beriman pun kita bisa tergoda untuk memilih hanya ajaran yang menyenangkan hati, sementara ajaran yang menuntut pertobatan dan pengorbanan justru kita hindari.

Karena itu, menjadi murid Kristus membutuhkan keteguhan hati. Kita dipanggil untuk tetap berpegang pada Injil, bukan sekadar supaya terlihat sebagai orang beriman, tetapi supaya seluruh hidup kita sungguh-sungguh dibentuk oleh Kristus.

Dalam Injil, Yesus membawa kita lebih jauh lagi. Seorang ahli Taurat mengetahui dengan baik hukum tentang kasih kepada Allah dan sesama. Namun, ia masih mencari batas mengenai siapa yang pantas disebut sesama.

Yesus kemudian menunjukkan bahwa kasih kepada sesama tidak boleh dibatasi oleh latar belakang, kelompok, kedekatan, perbedaan, atau kepentingan pribadi. 

Melalui kisah orang Samaria yang murah hati, Yesus menunjukkan bahwa menjadi sesama berarti berani mendekat kepada orang yang membutuhkan pertolongan.

Yang menarik, orang yang menunjukkan belas kasih justru berasal dari kelompok yang pada waktu itu dipandang berbeda oleh orang Yahudi. Ia tidak berhenti pada rasa kasihan. 

Ia melihat, mendekat, merawat, mengorbankan waktu, tenaga, bahkan hartanya. Di sinilah Injil menjadi sangat nyata. Kasih bukan hanya perasaan. Kasih membutuhkan tindakan.

Kita bisa saja rajin berdoa, aktif dalam kegiatan Gereja, memahami banyak ajaran iman, bahkan sering berbicara tentang kasih. Tetapi semuanya menjadi kurang berarti jika kita tidak mampu melihat penderitaan orang lain di sekitar kita.

Mungkin ada teman yang sedang mengalami masalah tetapi tidak berani bercerita. Ada anggota keluarga yang sedang membutuhkan perhatian. Ada orang yang merasa kesepian meskipun setiap hari berada di tengah banyak orang. 

Ada pula seseorang yang pernah kita jauhi karena kesalahan masa lalu. Pertanyaannya bukan hanya siapa yang pantas kita kasihi. Pertanyaan yang lebih penting adalah apakah kita bersedia menjadi sesama bagi orang yang membutuhkan kehadiran kita.

Sebagai orang Katolik, kita dipanggil untuk menghadirkan wajah Kristus melalui kehidupan kita. Dunia tidak hanya membutuhkan orang yang mampu berbicara tentang iman, tetapi juga orang yang mampu menghadirkan kasih, pengampunan, kepedulian, dan belas kasih.

Kadang-kadang kita terlalu sibuk mencari siapa yang salah, siapa yang berbeda, atau siapa yang tidak layak mendapatkan perhatian kita. Sementara itu, Tuhan mengajak kita untuk berhenti sejenak dan melihat orang yang terluka di sekitar kita.

Menjadi murid Kristus berarti berani turun dari kenyamanan diri. Kita dipanggil untuk tidak hanya menjadi penonton ketika orang lain mengalami kesulitan.

Bacaan hari ini juga mengingatkan bahwa kesetiaan kepada Injil dan kasih kepada sesama tidak dapat dipisahkan. Injil yang benar harus menghasilkan kehidupan yang penuh kasih. Iman yang sungguh-sungguh harus terlihat dalam cara kita memperlakukan orang lain.

Karena itu, marilah kita bertanya kepada diri sendiri: apakah iman saya selama ini sungguh membuat saya semakin dekat dengan Tuhan dan semakin peduli kepada sesama?

Jangan sampai kita mengenal banyak hal tentang Tuhan, tetapi semakin jauh dari orang yang membutuhkan. Jangan sampai kita rajin berbicara tentang kasih, tetapi sulit mengampuni. 

Jangan sampai kita mengaku sebagai murid Kristus, tetapi hati kita tertutup terhadap penderitaan orang lain.

Hari ini Tuhan mengajak kita untuk tidak berhenti pada pengetahuan dan kata-kata. Kasih harus diwujudkan. Iman harus dihidupi. Injil harus menjadi nyata melalui tindakan sederhana yang kita lakukan setiap hari.

Mungkin kita tidak mampu menyelesaikan semua persoalan dunia. Tetapi kita selalu bisa menjadi tanda kasih Tuhan bagi seseorang yang kita jumpai hari ini.

Satu perhatian kecil, satu pertolongan sederhana, satu pengampunan, satu kesediaan mendengarkan, atau satu tindakan belas kasih dapat menjadi jalan bagi seseorang untuk merasakan bahwa Tuhan tidak meninggalkannya.

Semoga kita semakin setia kepada Injil Kristus dan semakin berani menjadi sesama bagi siapa pun yang membutuhkan. Sebab iman yang hidup bukan hanya tampak dari apa yang kita katakan tentang Tuhan, tetapi terutama dari kasih yang kita nyatakan kepada sesama. (*)

Editor : Fandy Gerungan
renungan katolik Renungan