Bacaan dan Renungan untuk Orang Muda Katolik, Hari Rabu 7 Oktober 2026

Fandy Gerungan • Dipublikasikan Selasa, 6 Oktober 2026 | 15:31 WIB
Perjamuan Malam Terakhir
Perjamuan Malam Terakhir

Perayaan Wajib St. Perawan Maria, Ratu Rosario (Warna Liturgi Putih)

Bacaan I Galatia 2:1-2.7-14

Kemudian setelah lewat empat belas tahun, aku pergi pula ke Yerusalem dengan Barnabas dan Tituspun kubawa juga.

Aku pergi berdasarkan suatu penyataan. Dan kepada mereka kubentangkan Injil yang kuberitakan di antara bangsa-bangsa bukan Yahudi?dalam percakapan tersendiri kepada mereka yang terpandang?,supaya jangan dengan percuma aku berusaha atau telah berusaha.

Tetapi sebaliknya, setelah mereka melihat bahwa kepadaku telah dipercayakan pemberitaan Injil untuk orang-orang tak bersunat, sama seperti kepada Petrus untuk orang-orang bersunat

karena Ia yang telah memberikan kekuatan kepada Petrus untuk menjadi rasul bagi orang-orang bersunat, Ia juga yang telah memberikan kekuatan kepadaku untuk orang-orang yang tidak bersunat.

Dan setelah melihat kasih karunia yang dianugerahkan kepadaku, maka Yakobus, Kefas dan Yohanes, yang dipandang sebagai sokoguru jemaat, berjabat tangan dengan aku dan dengan Barnabas sebagai tanda persekutuan, supaya kami pergi kepada orang-orang yang tidak bersunat dan mereka kepada orang-orang yang bersunat;

hanya kami harus tetap mengingat orang-orang miskin dan memang itulah yang sungguh-sungguh kuusahakan melakukannya.

Tetapi waktu Kefas datang ke Antiokhia, aku berterang-terang menentangnya, sebab ia salah.

Karena sebelum beberapa orang dari kalangan Yakobus datang, ia makan sehidangan dengan saudara-saudara yang tidak bersunat, tetapi setelah mereka datang, ia mengundurkan diri dan menjauhi mereka karena takut akan saudara-saudara yang bersunat.

Dan orang-orang Yahudi yang lainpun turut berlaku munafik dengan dia, sehingga Barnabas sendiri turut terseret oleh kemunafikan mereka.

Tetapi waktu kulihat, bahwa kelakuan mereka itu tidak sesuai dengan kebenaran Injil, aku berkata kepada Kefas di hadapan mereka semua: "Jika engkau, seorang Yahudi, hidup secara kafir dan bukan secara Yahudi, bagaimanakah engkau dapat memaksa saudara-saudara yang tidak bersunat untuk hidup secara Yahudi?"

Demikianlah Sabda Tuhan

U. Syukur kepada Allah

Mazmur 117:1.2

Pujilah TUHAN, hai segala bangsa, megahkanlah Dia, hai segala suku bangsa!

Sebab kasih-Nya hebat atas kita, dan kesetiaan TUHAN untuk selama-lamanya. Haleluya!

Bacaan Injil Lukas 11:1-4

Pada suatu kali Yesus sedang berdoa di salah satu tempat. Ketika Ia berhenti berdoa, berkatalah seorang dari murid-murid-Nya kepada-Nya: "Tuhan, ajarlah kami berdoa, sama seperti yang diajarkan Yohanes kepada murid-muridnya."

Jawab Yesus kepada mereka: "Apabila kamu berdoa, katakanlah: Bapa, dikuduskanlah nama-Mu; datanglah Kerajaan-Mu.

Berikanlah kami setiap hari makanan kami yang secukupnya

dan ampunilah kami akan dosa kami, sebab kamipun mengampuni setiap orang yang bersalah kepada kami; dan janganlah membawa kami ke dalam pencobaan."

Demikianlah Injil Tuhan

U. Terpujilah Kristus

Renungan

Salve sahabat muda katolik! kita tentu ingin diterima. Kita ingin punya teman, dihargai, disukai, dan dianggap baik oleh orang lain. Karena itu, kadang kita tanpa sadar mengikuti apa yang sedang populer. 

Menyesuaikan diri dengan lingkungan, bahkan melakukan sesuatu yang sebenarnya tidak sesuai dengan hati nurani hanya supaya tidak dianggap berbeda.

Media sosial juga bisa membuat kita semakin mudah hidup berdasarkan penilaian orang lain. Kita bisa sibuk membangun citra diri supaya terlihat bahagia, sukses, keren, atau religius. 

Padahal, apa yang terlihat di luar belum tentu sama dengan keadaan hati kita.
Bacaan pertama hari ini mengingatkan kita tentang pentingnya keberanian untuk hidup dalam kebenaran. 

Paulus berani menegur Petrus ketika melihat adanya sikap yang tidak sesuai dengan semangat Injil. Paulus tidak mencari popularitas. Ia tidak memilih diam hanya karena takut kehilangan penerimaan dari orang lain.

Bagi kita orang muda, sikap seperti ini tidak selalu mudah. Kadang kita tahu bahwa sesuatu itu salah, tetapi kita memilih diam karena takut kehilangan teman. 

Kita tahu bahwa sebuah pergaulan tidak sehat, tetapi tetap mengikutinya karena takut dianggap tidak solid. Kita tahu bahwa membicarakan keburukan orang lain itu tidak benar, tetapi tetap ikut bergosip supaya tidak dianggap aneh.

Di sinilah iman kita diuji. Menjadi pengikut Kristus bukan berarti selalu mengikuti arus. Ada saatnya kita harus berani berkata tidak. Ada saatnya kita harus berani berbeda. 

Ada saatnya kita harus memilih kebenaran meskipun pilihan itu membuat kita tidak populer. Namun, keberanian itu tidak boleh muncul dari kesombongan. 

Kita bukan dipanggil untuk merasa paling benar dan menghakimi orang lain. Kita dipanggil untuk memiliki hati yang jujur, rendah hati, dan berani memperbaiki diri.

Injil hari ini membawa kita kepada satu hal yang sangat penting bagi kehidupan orang muda: doa.

Para murid melihat Yesus berdoa dan mereka ingin belajar dari-Nya. Ini menarik, karena mereka tidak meminta Yesus mengajarkan bagaimana menjadi terkenal, bagaimana menjadi hebat, atau bagaimana mendapatkan kekuasaan. Mereka meminta diajarkan berdoa.

Mengapa? Karena mereka menyadari bahwa kehidupan yang kuat membutuhkan hubungan yang kuat dengan Allah.

Kita juga membutuhkan doa. Bukan hanya ketika sedang menghadapi masalah. Bukan hanya ketika ujian datang, ketika hubungan sedang kacau, ketika keluarga mengalami persoalan, atau ketika kita membutuhkan sesuatu dari Tuhan.

Kita membutuhkan doa setiap hari karena hati kita setiap hari berhadapan dengan banyak suara.

Ada suara teman. Ada suara media sosial. Ada suara tren. Ada suara keinginan pribadi. Ada suara yang mengatakan bahwa kita harus menjadi seperti orang lain agar diterima.

Di tengah semua suara itu, doa membantu kita kembali mendengarkan suara Tuhan.

Doa membuat kita berhenti sejenak dan bertanya: Apakah pilihan saya sungguh baik? Apakah hubungan yang saya jalani membawa saya semakin dekat kepada Tuhan? 

Apakah cara saya memperlakukan orang lain sudah mencerminkan kasih Kristus? Apakah saya sedang menjadi diri saya yang sebenarnya, atau hanya sedang berusaha mendapatkan pengakuan?

Hari ini Gereja merayakan St. Perawan Maria, Ratu Rosario. Bagi orang muda, Rosario mungkin kadang terasa seperti doa yang sederhana dan berulang. 

Namun justru dalam kesederhanaannya, Rosario mengajarkan sebuah kebiasaan yang sangat penting: menyediakan waktu untuk berhenti, hening, dan memusatkan hati kepada Tuhan.

Bersama Maria, kita merenungkan kehidupan Yesus. Kita belajar dari sukacita-Nya, pelayanan-Nya, penderitaan-Nya, wafat-Nya, dan kemenangan kebangkitan-Nya.

Rosario bukan pelarian dari kehidupan. Rosario justru membantu kita menghadapi kehidupan dengan hati yang lebih kuat.

Ketika sedang bingung menentukan masa depan, berdoalah. Ketika merasa tidak diterima, berdoalah. Ketika mengalami kegagalan, berdoalah. Ketika hubungan dengan seseorang sedang bermasalah, berdoalah.

Ketika kita tergoda untuk mengikuti sesuatu yang sebenarnya tidak baik, berdoalah. Tetapi setelah berdoa, jangan berhenti di sana. Lakukan sesuatu yang benar.

Inilah yang penting: doa harus mengubah hidup. Kalau kita berdoa tetapi masih senang merendahkan orang lain, ada sesuatu yang perlu kita perbaiki. Kalau kita rajin Rosario tetapi masih menyimpan kebencian. 

Kita perlu membiarkan doa menyentuh hati kita lebih dalam. Kalau kita rajin mengikuti kegiatan Gereja tetapi hidup kita penuh kepalsuan, mungkin Tuhan sedang mengajak kita untuk bertumbuh dalam kejujuran.

Maria mengajarkan kita untuk membawa seluruh kehidupan kepada Tuhan. Ia tidak mengajarkan kita menjadi manusia yang sempurna tanpa masalah. Ia mengajarkan kita untuk tetap percaya kepada Allah di tengah segala keadaan.

Karena itu, sebagai orang muda Katolik, jangan takut menjadi berbeda ketika harus memilih yang benar.

Jangan takut kehilangan popularitas karena mempertahankan iman. Jangan takut dianggap aneh karena memilih pergaulan yang sehat.

Jangan takut mengatakan tidak ketika sesuatu bertentangan dengan nilai Kristiani. Dan jangan pernah merasa terlalu muda untuk hidup dekat dengan Tuhan.

Dunia membutuhkan orang muda yang bukan hanya pintar, kreatif, dan berprestasi, tetapi juga memiliki hati yang kuat, jujur, penuh kasih, dan berakar dalam Kristus.

Mari belajar dari Maria, Ratu Rosario. Jadikan doa bukan hanya kegiatan yang kita lakukan ketika membutuhkan Tuhan, tetapi kebiasaan yang membuat kita semakin dekat dengan-Nya.

Sebab orang muda yang sungguh berdoa bukan berarti orang muda yang melarikan diri dari dunia. Ia justru menjadi orang muda yang siap hadir di tengah dunia dengan hati yang lebih kuat, pilihan yang lebih bijaksana, dan keberanian untuk memperjuangkan kebenaran.

Bersama Maria, mari kita belajar berdoa dengan hati, hidup dengan jujur, berani memilih yang benar, dan mengikuti Kristus dalam setiap langkah kehidupan kita. (*)

Editor : Fandy Gerungan
renungan katolik omk Renungan