Bacaan:
Tema: “Manusia Melihat Apa Yang Di Depan Mata Tetapi Tuhan Melihat Hati”
Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan, manusia sangat mudah menilai berdasarkan apa yang terlihat. Penampilan, pendidikan, pekerjaan, kemampuan berbicara, keadaan ekonomi, keluarga, pengalaman dan popularitas sering menjadi dasar untuk menentukan siapa yang dianggap lebih mampu, lebih layak atau lebih pantas menerima kepercayaan.
Kecenderungan ini menjadi sangat penting untuk direnungkan ketika jemaat memasuki proses pemilihan Pelayan Khusus GMIM, baik Penatua maupun Diaken. Kita tidak sedang sekadar mengisi sebuah posisi organisasi, tetapi memberikan kepercayaan kepada orang yang akan melayani, mendampingi, mendoakan, menjaga kehidupan persekutuan dan ikut memikul pergumulan umat.
Baca Juga: Profil Pdt Melki Tamaka, 7 Tahun Pelayanan di Kepulauan, 12 Tahun Melayani di Kantor Sinode GMIM
Karena itu pemilihan Pelayan Khusus tidak boleh berubah menjadi kontestasi popularitas, kedekatan keluarga, kemampuan ekonomi, kelompok pertemanan atau suka dan tidak suka. Firman Tuhan dalam 1 Samuel 16 menunjukkan bahwa bahkan Samuel hampir salah ketika melihat Eliab. Ia terkesan oleh apa yang tampak, tetapi Tuhan berkata:
“Manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi TUHAN melihat hati.”
Ayat ini tidak berarti kita dapat mengetahui isi hati seseorang seperti Tuhan. Hanya Tuhan yang melihat hati secara sempurna. Tugas jemaat adalah memperhatikan apa yang memang dapat dilihat: buah kehidupan, karakter, integritas, kesetiaan, kerendahan hati, kehidupan keluarga, cara memperlakukan sesama, kemampuan menerima koreksi dan kesediaan melayani bahkan sebelum mempunyai jabatan.
Karena itu pertanyaan utama bukan, “Siapa yang saya suka?” tetapi, “Siapa yang berdasarkan buah kehidupannya dapat dipercaya untuk melayani umat Tuhan?”
Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan,
Kitab 1 Samuel membawa kita kepada masa perubahan besar dalam kehidupan Israel, dari masa para hakim menuju kerajaan. Samuel mempunyai peranan penting sebagai nabi dan pemimpin rohani, sementara Saul menjadi raja pertama Israel.
Saul mempunyai penampilan yang mengesankan, tetapi perjalanan hidupnya menunjukkan bahwa penampilan dan potensi tidak dapat menggantikan ketaatan. Dalam 1 Samuel 15, Saul kembali tidak menaati Tuhan. Samuel kemudian menyampaikan bahwa ketaatan lebih baik daripada korban, dan kerajaan Saul tidak akan diteruskan sebagaimana yang ia harapkan.
Dalam 1 Samuel 16, Samuel masih berdukacita karena Saul, tetapi Tuhan mengutusnya kepada keluarga Isai di Betlehem untuk mengurapi seorang yang telah dipilih-Nya. Ketika Samuel melihat Eliab, ia hampir kembali memakai ukuran lahiriah. Tuhan kemudian mengoreksi cara pandangnya.
Jadi inti pasal ini bukan hanya bahwa Daud, anak bungsu, akhirnya dipilih. Yang terutama adalah bahwa penilaian manusia terbatas, sementara Tuhan mengetahui manusia secara utuh dan memilih menurut kehendak-Nya.
Prinsip ini sangat relevan bagi pemilihan Pelayan Khusus. Gereja tidak boleh hanya melihat siapa yang tampak paling meyakinkan, tetapi perlu mempertimbangkan kehidupan secara utuh. Kemampuan memang penting, tetapi kemampuan harus berjalan bersama karakter. Popularitas tidak sama dengan integritas, dan aktivitas tidak selalu sama dengan kedewasaan rohani.
PEMBAHASAN AYAT PER AYAT
Ayat 1 dimulai dengan Tuhan berkata kepada Samuel, “Berapa lama lagi engkau berdukacita karena Saul?” Samuel mempunyai alasan untuk bersedih, tetapi Tuhan tidak membiarkannya terus tinggal pada kegagalan masa lalu. Tuhan mengutusnya kepada Isai karena telah menyediakan seorang raja.
Ini menunjukkan bahwa kegagalan manusia tidak menghentikan pekerjaan Tuhan. Dalam kehidupan gereja, pengalaman buruk masa lalu perlu menjadi pelajaran, tetapi tidak boleh berubah menjadi luka yang mengendalikan keputusan berikutnya. Ketika memilih pelayan, jangan membawa dendam lama atau kekecewaan pribadi sebagai dasar penilaian.
Ayat 2 memperlihatkan ketakutan Samuel terhadap Saul. Namun Tuhan tetap menuntunnya. Ini mengajarkan bahwa ketaatan kadang membutuhkan keberanian. Dalam pemilihan Pelayan Khusus, mungkin pilihan yang menurut pertimbangan rohani kita benar tidak sama dengan pilihan sahabat atau keluarga. Jangan memilih hanya karena takut mengecewakan kelompok. Ketaatan kepada Tuhan harus lebih tinggi daripada tekanan manusia.
Ayat 3 menunjukkan bahwa Samuel belum mengetahui siapa yang akan dipilih. Ia hanya diminta pergi, dan Tuhan akan menunjukkan langkah berikutnya. Ini mengajarkan kerendahan hati dalam proses. Samuel tidak datang dengan hasil yang sudah ditentukan. Demikian pula pemilihan gerejawi seharusnya tidak dibawa ke dalam kesepakatan tersembunyi, blok kelompok atau tekanan supaya orang tertentu pasti terpilih. Proses rohani membutuhkan hati yang terbuka terhadap kehendak Tuhan.
Ayat 4–5 menunjukkan Samuel melakukan apa yang diperintahkan Tuhan, lalu menguduskan Isai dan anak-anaknya untuk korban. Sebelum proses pemilihan berlangsung, ada sikap menghadap Tuhan. Ini mengingatkan bahwa doa dalam pemilihan Pelayan Khusus tidak boleh menjadi formalitas. Jemaat perlu sungguh-sungguh memeriksa hati, melepaskan kepentingan pribadi dan meminta hikmat Tuhan sebelum menentukan pilihan.
Ayat 6 memperlihatkan Samuel melihat Eliab dan segera menyimpulkan bahwa dialah orang yang diurapi Tuhan. Penampilan Eliab sangat meyakinkan. Kita pun dapat mengalami hal serupa. Orang yang komunikatif, aktif, berpendidikan, berpengaruh atau mempunyai banyak relasi mudah dianggap paling layak. Semua itu dapat menjadi kelebihan, tetapi tidak boleh menjadi ukuran utama. Kemampuan bukan karakter, dan popularitas bukan integritas.
Ayat 7 menjadi pusat seluruh bacaan: “Manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi TUHAN melihat hati.” Tuhan mengetahui motivasi, pikiran, kehendak dan kesetiaan manusia secara sempurna. Jemaat tidak memiliki kemampuan itu. Karena itu kita tidak boleh mengaku mengetahui isi hati seseorang, tetapi kita dapat memperhatikan buah kehidupan.
Dalam pemilihan Pelayan Khusus, lihatlah apakah seseorang dapat dipercaya, rendah hati, mampu menerima koreksi, menjaga perkataan, memperlakukan keluarga dan sesama dengan baik, membawa damai serta sudah menunjukkan kesetiaan sebelum memiliki jabatan. Karakter tidak diketahui hanya dari satu penampilan, tetapi dari perjalanan hidup yang dapat dikenali oleh komunitas.
Ayat 8–10 menceritakan bahwa Abinadab, Syama dan anak-anak Isai lainnya lewat di depan Samuel, tetapi Tuhan tidak memilih mereka. Bagian ini menunjukkan bahwa Samuel sedang belajar menunggu dan tidak lagi terburu-buru membuat kesimpulan.
Pada ayat 6 ia langsung menilai Eliab, tetapi setelah beberapa kali dikoreksi ia menjadi lebih berhati-hati. Pemilihan juga dapat menjadi proses pendewasaan jemaat: apakah kita mampu menimbang dengan tenang, tidak memaksakan kehendak dan menerima bahwa pertimbangan kita perlu dikoreksi oleh Firman.
Ayat 11 menunjukkan bahwa setelah tujuh anak Isai lewat, ternyata Daud masih berada di padang menggembalakan domba. Ia bahkan tidak dihadirkan sejak awal. Ini mengingatkan bahwa orang yang tidak terlalu menonjol belum tentu tidak mempunyai kualitas pelayanan. Dalam pemilihan Pelsus, jangan mengabaikan orang hanya karena ia pendiam, sederhana atau tidak mempunyai banyak relasi. Ada kesetiaan yang mungkin tidak banyak terlihat tetapi justru sangat penting bagi pelayanan.
Namun ayat ini juga tidak berarti kita otomatis harus memilih orang yang paling tidak dikenal. Prinsipnya adalah: jangan meremehkan orang berdasarkan penampilan dan jangan menjadikan popularitas sebagai ukuran utama.
Ayat 12 mengatakan Daud dipanggil dan Tuhan menyuruh Samuel mengurapinya. Teks juga menyebut penampilan Daud secara positif. Jadi Alkitab bukan anti-kemampuan atau anti-penampilan. Yang ditolak adalah penilaian yang hanya bertumpu pada itu. Dalam memilih Pelayan Khusus, kemampuan tetap penting, tetapi harus berjalan bersama karakter, kesetiaan dan kesiapan rohani.
Ayat 13 mencatat bahwa Samuel mengurapi Daud dan Roh Tuhan berkuasa atasnya. Tetapi Daud tidak langsung menjadi raja. Ia masih melalui proses panjang. Inilah pelajaran penting: dipilih bukan berarti selesai dibentuk.
Orang yang terpilih menjadi Penatua atau Diaken bukan berarti lebih suci daripada anggota jemaat lain. Justru tanggung jawab untuk belajar, menerima koreksi, menjaga keluarga, menjaga perkataan dan hidup dekat kepada Tuhan menjadi semakin besar. Sebaliknya, orang yang tidak terpilih tetap mempunyai tempat dalam pelayanan, sebab pekerjaan Tuhan jauh lebih luas daripada jabatan.
Keseluruhan ayat 1–13 karena itu mempunyai alur yang jelas: Samuel dilepaskan dari keterikatan pada masa lalu, belajar taat, dikoreksi dari cara melihat berdasarkan penampilan, lalu menyaksikan pilihan Tuhan dan proses pembentukan orang yang dipilih-Nya.
Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan
Kita bisa melihat dalam Kisah Para Rasul 6, yang memberi contoh yang sangat baik tentang bagaimana jemaat memberikan kepercayaan pelayanan. Ketika muncul persoalan dalam pelayanan kepada para janda, para rasul meminta jemaat memilih tujuh orang.
Kriteria yang disebutkan bukan kekayaan, popularitas atau hubungan dekat dengan para rasul, tetapi orang-orang yang terkenal baik, penuh Roh dan hikmat.
Ungkapan “terkenal baik” menunjukkan bahwa kehidupan mereka sudah mempunyai kesaksian yang dapat dikenali. Jemaat memang tidak membaca hati, tetapi dapat melihat buah kehidupan.
Prinsip ini sangat relevan bagi pemilihan Pelayan Khusus GMIM. Pertimbangkan bagaimana seseorang telah hidup sebelum memiliki jabatan. Apakah ia sudah melayani? Apakah dapat dipercaya? Apakah membawa damai? Apakah mampu bekerja bersama orang lain? Apakah menjaga perkataan dan memiliki kerendahan hati untuk belajar?
Pemilihan bukan mencari manusia sempurna, tetapi kita juga tidak boleh mengabaikan karakter yang sudah nyata dalam kehidupan seseorang.
PENUTUP
Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan, tema “Manusia Melihat Apa Yang Di Depan Mata Tetapi Tuhan Melihat Hati” mengingatkan bahwa pemilihan Pelayan Khusus bukan arena persaingan, melainkan tanggung jawab iman.
Kita tidak dapat melihat hati seperti Tuhan. Karena itu jangan mengaku mengetahui motivasi seseorang secara mutlak. Tetapi kita dapat dan harus memperhatikan buah kehidupan, karakter, integritas, kesetiaan dan kesaksian.
Dalam memilih Pelayan Khusus, ada beberapa prinsip yang perlu kita pegang:
Pertama, pilih dengan doa dan takut akan Tuhan. Jangan biarkan tekanan kelompok, hubungan keluarga atau rasa sungkan mengendalikan keputusan.
Kedua, utamakan karakter daripada pencitraan. Kemampuan penting, tetapi karakter menentukan bagaimana kemampuan itu digunakan.
Ketiga, lihat kesetiaan sebelum jabatan. Orang yang sungguh mempunyai hati seorang hamba akan melayani bahkan ketika tidak mempunyai posisi.
Keempat, perhatikan kehidupan yang utuh. Kehidupan keluarga, cara memperlakukan sesama, kemampuan menjaga perkataan dan menerima koreksi merupakan bagian dari kesaksian.
Kelima, jangan meremehkan orang yang tidak terlalu menonjol. Kesetiaan yang tenang sering tidak terlihat dalam keramaian, tetapi dapat menjadi kualitas penting dalam pelayanan.
Keenam, terpilih bukan berarti lebih baik. Penetapan adalah tanggung jawab untuk semakin rendah hati, bukan alasan meminta penghormatan.
Ketujuh, tidak terpilih bukan berarti tidak dapat dipakai Tuhan. Pelayanan jauh lebih luas daripada jabatan Penatua atau Diaken.
Karena itu ketika tiba waktunya memilih, jangan datang sebagai pendukung kandidat atau kelompok tertentu. Datanglah sebagai anggota tubuh Kristus yang sedang mencari siapa yang dapat dipercaya melayani jemaat.
Jangan bertanya, “Siapa orang saya?” tetapi, “Siapa yang menunjukkan buah kehidupan seorang pelayan?”
Dan setelah proses pemilihan selesai, jagalah kesatuan. Yang terpilih bukan pemenang, dan yang tidak terpilih bukan pecundang. Semua tetap bagian dari tubuh Kristus.
Kepada mereka yang terpilih, ingatlah Daud: pengurapan bukan akhir proses. Tetaplah belajar, berdoa, menerima koreksi dan menjaga hati seorang hamba. Kepada mereka yang tidak terpilih, tetaplah melayani dengan sukacita. Nilai hidup kita di hadapan Tuhan tidak ditentukan oleh jabatan.
Manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi Tuhan melihat hati. Karena itu pilihlah dengan doa, pertimbangkan dengan hikmat, perhatikan buah kehidupan dan serahkanlah hasil kepada Tuhan.
Amin.
Editor : Clavel Lukas