Bacaan dan Renungan untuk Umat Katolik, Hari Jumat 9 Oktober 2026

Fandy Gerungan • Dipublikasikan Kamis, 8 Oktober 2026 | 10:55 WIB
Perjamuan Malam Terakhir
Perjamuan Malam Terakhir

Pekan Biasa ke XXVII (Warna Liturgi Hijau)

Bacaan I Galatia 3:7-14

Jadi kamu lihat, bahwa mereka yang hidup dari iman, mereka itulah anak-anak Abraham.

Dan Kitab Suci, yang sebelumnya mengetahui, bahwa Allah membenarkan orang-orang bukan Yahudi oleh karena iman, telah terlebih dahulu memberitakan Injil kepada Abraham: "Olehmu segala bangsa akan diberkati."

Jadi mereka yang hidup dari iman, merekalah yang diberkati bersama-sama dengan Abraham yang beriman itu.

Karena semua orang, yang hidup dari pekerjaan hukum Taurat, berada di bawah kutuk. Sebab ada tertulis: "Terkutuklah orang yang tidak setia melakukan segala sesuatu yang tertulis dalam kitab hukum Taurat."

Dan bahwa tidak ada orang yang dibenarkan di hadapan Allah karena melakukan hukum Taurat adalah jelas, karena: "Orang yang benar akan hidup oleh iman."

Tetapi dasar hukum Taurat bukanlah iman, melainkan siapa yang melakukannya, akan hidup karenanya.

Kristus telah menebus kita dari kutuk hukum Taurat dengan jalan menjadi kutuk karena kita, sebab ada tertulis: "Terkutuklah orang yang digantung pada kayu salib!"

Yesus Kristus telah membuat ini, supaya di dalam Dia berkat Abraham sampai kepada bangsa-bangsa lain, sehingga oleh iman kita menerima Roh yang telah dijanjikan itu.

Demikianlah Sabda Tuhan

U. Syukur kepada Allah

Mazmur 111:1-2.3-4.5-6

Haleluya! Aku mau bersyukur kepada TUHAN dengan segenap hati, dalam lingkungan orang-orang benar dan dalam jemaah.

Besar perbuatan-perbuatan TUHAN, layak diselidiki oleh semua orang yang menyukainya.

Agung dan bersemarak pekerjaan-Nya, dan keadilan-Nya tetap untuk selamanya.

Perbuatan-perbuatan-Nya yang ajaib dijadikan-Nya peringatan; TUHAN itu pengasih dan penyayang.

Diberikan-Nya rezeki kepada orang-orang yang takut akan Dia. Ia ingat untuk selama-lamanya akan perjanjian-Nya.

Kekuatan perbuatan-Nya diberitakan-Nya kepada umat-Nya, dengan memberikan kepada mereka milik pusaka bangsa-bangsa.

Bacaan Injil Lukas 11:15-26

Tetapi ada di antara mereka yang berkata: "Ia mengusir setan dengan kuasa Beelzebul, penghulu setan."

Ada pula yang meminta suatu tanda dari sorga kepada-Nya, untuk mencobai Dia.

Tetapi Yesus mengetahui pikiran mereka lalu berkata: "Setiap kerajaan yang terpecah-pecah pasti binasa, dan setiap rumah tangga yang terpecah-pecah, pasti runtuh.

Jikalau Iblis itu juga terbagi-bagi dan melawan dirinya sendiri, bagaimanakah kerajaannya dapat bertahan? Sebab kamu berkata, bahwa Aku mengusir setan dengan kuasa Beelzebul.

Jadi jika Aku mengusir setan dengan kuasa Beelzebul, dengan kuasa apakah pengikut-pengikutmu mengusirnya? Sebab itu merekalah yang akan menjadi hakimmu.

Tetapi jika Aku mengusir setan dengan kuasa Allah, maka sesungguhnya Kerajaan Allah sudah datang kepadamu.

Apabila seorang yang kuat dan yang lengkap bersenjata menjaga rumahnya sendiri, maka amanlah segala miliknya.

Tetapi jika seorang yang lebih kuat dari padanya menyerang dan mengalahkannya, maka orang itu akan merampas perlengkapan senjata, yang diandalkannya, dan akan membagi-bagikan rampasannya.

Siapa tidak bersama Aku, ia melawan Aku dan siapa tidak mengumpulkan bersama Aku, ia mencerai-beraikan."

"Apabila roh jahat keluar dari manusia, iapun mengembara ke tempat-tempat yang tandus mencari perhentian, dan karena ia tidak mendapatnya, ia berkata: Aku akan kembali ke rumah yang telah kutinggalkan itu.

Maka pergilah ia dan mendapati rumah itu bersih tersapu dan rapih teratur.

Lalu ia keluar dan mengajak tujuh roh lain yang lebih jahat dari padanya, dan mereka masuk dan berdiam di situ. Maka akhirnya keadaan orang itu lebih buruk dari pada keadaannya semula."

Demikianlah Injil Tuhan

U. Terpujilah Kristus

Renungan

Saudara/i dalam kehidupan iman, kita sering merasa bahwa menjadi orang baik berarti harus melakukan sebanyak mungkin hal yang benar. Kita berusaha menaati aturan, menjalankan kewajiban, aktif dalam kehidupan menggereja, dan menghindari kesalahan. 

Semua itu memang penting. Namun, bacaan hari ini mengingatkan bahwa dasar kehidupan iman bukanlah sekadar banyaknya aturan yang kita lakukan, melainkan iman dan keterbukaan kita terhadap rahmat Allah.

Rasul Paulus menunjukkan bahwa Abraham menjadi teladan karena ia percaya kepada Allah. Iman membuat Abraham berani menyerahkan hidupnya kepada Tuhan, bahkan ketika ia belum mengetahui seluruh jalan yang akan dilaluinya.

Demikian juga kita. Beriman bukan berarti kita selalu memahami rencana Tuhan. Beriman berarti tetap percaya ketika jalan di depan belum jelas. Ada saat ketika doa kita belum terjawab, persoalan belum selesai, dan harapan belum terwujud. 

Pada saat seperti itu, iman mengajarkan kita untuk tetap berjalan bersama Tuhan. Lebih dari itu, kita perlu menyadari bahwa keselamatan adalah anugerah yang diberikan melalui Kristus. 

Yesus telah memberikan diri-Nya bagi kita di salib. Karena itu, kehidupan iman tidak boleh dibangun atas kesombongan rohani seolah-olah kita menjadi baik karena kekuatan kita sendiri.

Injil hari ini berbicara tentang perjuangan melawan kuasa jahat dan pentingnya memiliki hati yang sungguh-sungguh berpihak kepada Kristus. Ada bahaya ketika seseorang hanya membersihkan hidupnya dari keburukan, tetapi tidak mengisinya dengan kehadiran Tuhan.

Hati manusia tidak pernah benar-benar kosong. Jika kita tidak mengisinya dengan Tuhan, kasih, kebenaran, dan kebaikan, berbagai hal lain dapat mengambil tempat di dalamnya.

Karena itu, kehidupan iman membutuhkan ketekunan. Kita tidak cukup hanya meninggalkan kebiasaan buruk. Kita juga perlu membangun kebiasaan baik. 

Berdoa, membaca Kitab Suci, mengikuti Ekaristi, menerima sakramen dengan sungguh-sungguh, mengampuni, melayani, dan berbuat kasih kepada sesama.

Menjadi pengikut Kristus berarti mengambil keputusan untuk terus berjalan bersama-Nya. Tidak bisa setengah hati. Dunia menawarkan begitu banyak suara dan arah yang dapat membuat kita menjauh dari Tuhan. 

Karena itu, kita membutuhkan hati yang teguh dan pilihan yang jelas. Mari kita bertanya kepada diri sendiri: apakah hati kita sungguh-sungguh menjadi tempat bagi Tuhan? 

Ataukah kita hanya berusaha terlihat baik dari luar, sementara di dalam hati masih ada iri hati, kebencian, kesombongan, dendam, atau keinginan untuk hidup tanpa Tuhan?

Hari ini Tuhan mengajak kita bukan hanya untuk membersihkan hati, tetapi juga mengisinya dengan kasih-Nya.

Sebab iman yang sejati bukan hanya tampak dalam apa yang kita hindari, tetapi juga dalam apa yang kita hidupi. Ketika Kristus sungguh menjadi pusat kehidupan, kita akan memiliki kekuatan untuk menolak kejahatan, bertahan dalam pencobaan, dan terus menghasilkan buah kasih.

Semoga kita memiliki iman seperti Abraham, yang berani percaya dan berjalan bersama Tuhan. Semoga kita juga memiliki hati yang selalu terbuka bagi Kristus, sehingga hidup kita tidak hanya bersih dari kejahatan, tetapi sungguh dipenuhi oleh kasih, kebaikan, dan Roh Kudus. (*)



Editor : Fandy Gerungan
renungan katolik Renungan