Bacaan: 1 Samuel 16:1–13
Tema: “Manusia Melihat Apa Yang Di Depan Mata Tetapi Tuhan Melihat Hati”
Saudari-saudari W/KI GMIM yang dikasihi Tuhan Yesus Kristus, manusia sangat mudah menilai berdasarkan apa yang terlihat. Penampilan, pendidikan, pekerjaan, kemampuan berbicara, keadaan ekonomi, keluarga, pengalaman dan popularitas sering memengaruhi kesan kita tentang siapa yang dianggap lebih mampu atau lebih layak menerima kepercayaan.
Hal ini menjadi sangat penting ketika jemaat memasuki proses pemilihan Pelayan Khusus, baik Penatua maupun Diaken. Kita tidak sekadar mengisi sebuah posisi organisasi, tetapi memberikan kepercayaan kepada orang yang akan melayani, mendampingi, mendoakan, menjaga kehidupan persekutuan dan ikut memikul pergumulan umat.
Karena itu pemilihan Pelayan Khusus tidak boleh hanya ditentukan oleh kedekatan, popularitas, kemampuan ekonomi, kelompok pertemanan atau suka dan tidak suka. Dalam 1 Samuel 16, bahkan Samuel hampir keliru ketika melihat Eliab. Ia terkesan oleh penampilan, tetapi Tuhan berkata, “Manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi Tuhan melihat hati.”
Baca Juga: Renungan 1 Samuel 16:1–13, Manusia Melihat Apa Yang Di Depan Mata Tetapi Tuhan Melihat Hati
Ayat ini tidak berarti manusia dapat membaca hati seperti Tuhan. Hanya Tuhan yang mengetahui hati secara sempurna. Jemaat hanya dapat memperhatikan buah kehidupan yang nyata: karakter, integritas, kesetiaan, kerendahan hati, kehidupan keluarga, cara memperlakukan sesama, kemampuan menerima koreksi dan kesediaan melayani sebelum mempunyai jabatan.
Karena itu pertanyaan utama bukan, “Siapa yang saya suka?” melainkan, “Siapa yang berdasarkan buah kehidupannya dapat dipercaya untuk melayani umat Tuhan?”
Saudari-saudari W/KI GMIM yang dikasihi Tuhan Yesus Kristus,
Kitab 1 Samuel membawa kita kepada masa peralihan dari zaman para hakim menuju kerajaan. Samuel menjadi nabi dan pemimpin rohani, sedangkan Saul menjadi raja pertama Israel. Saul memiliki penampilan yang meyakinkan, tetapi perjalanan hidupnya menunjukkan bahwa penampilan dan kemampuan tidak dapat menggantikan ketaatan.
Dalam 1 Samuel 15, Saul kembali tidak menaati Tuhan dan kemudian mencoba membenarkan tindakannya. Samuel menegaskan bahwa ketaatan lebih baik daripada korban. Pasal 16 lalu dimulai ketika Samuel masih berdukacita karena Saul, tetapi Tuhan mengutusnya kepada keluarga Isai di Betlehem karena dari antara anak-anak Isai Tuhan telah menyediakan seorang raja.
Ketika melihat Eliab, Samuel hampir kembali menggunakan ukuran lahiriah. Penampilan Eliab begitu meyakinkan sehingga ia segera berpikir bahwa dialah orang pilihan Tuhan. Di sinilah Tuhan mengoreksi Samuel.
Jadi pasal ini bukan hanya kisah tentang Daud yang dipilih. Ini juga merupakan kisah tentang cara pandang Samuel yang sedang dibentuk Tuhan. Dalam konteks pemilihan Pelayan Khusus, prinsipnya jelas: jangan hanya melihat siapa yang paling menonjol; lihatlah kehidupan secara lebih utuh.
PEMBAHASAN AYAT PER AYAT
Ayat 1 dimulai dengan Tuhan berkata kepada Samuel, “Berapa lama lagi engkau berdukacita karena Saul?” Samuel mempunyai alasan untuk bersedih, tetapi Tuhan tidak membiarkannya terus tinggal pada kegagalan masa lalu. Ia dipanggil untuk bergerak kepada pekerjaan yang baru. Dalam kehidupan jemaat, pengalaman buruk dengan pelayanan sebelumnya perlu menjadi pelajaran, tetapi jangan dibawa menjadi dendam atau prasangka terhadap orang-orang yang sedang dipertimbangkan sekarang.
Ayat 2 menunjukkan Samuel takut kepada Saul, namun Tuhan tetap menuntunnya. Ini mengajarkan bahwa melakukan yang benar kadang membutuhkan keberanian. Dalam pemilihan Pelayan Khusus, jangan memilih hanya karena takut berbeda dengan keluarga, sahabat atau kelompok. Pertimbangan iman harus lebih tinggi daripada tekanan manusia.
Ayat 3 menunjukkan Samuel belum mengetahui siapa yang akan dipilih. Ia hanya diminta pergi dan menunggu petunjuk Tuhan. Karena itu proses pemilihan tidak seharusnya dimulai dengan hasil yang sudah ditentukan melalui kesepakatan tersembunyi atau tekanan kelompok. Datanglah dengan doa dan kerendahan hati.
Ayat 4–5 memperlihatkan Samuel taat pergi ke Betlehem dan menguduskan Isai serta anak-anaknya untuk korban. Sebelum proses pemilihan berlangsung, ada sikap menghadap Tuhan. Hubungannya jelas: keputusan rohani harus lahir dari hati yang juga mencari Tuhan. Doa jangan hanya menjadi formalitas, tetapi menjadi tempat memeriksa motivasi dan melepaskan kepentingan pribadi.
Ayat 6 menunjukkan Samuel melihat Eliab dan langsung berpikir bahwa inilah orang yang akan diurapi. Di sinilah terlihat kuatnya kesan pertama. Dalam pemilihan Pelayan Khusus kita pun dapat tertarik kepada orang yang komunikatif, aktif, berpendidikan, mempunyai relasi luas atau kemampuan ekonomi. Semua itu dapat menjadi kelebihan, tetapi tidak boleh menggantikan karakter. Kemampuan membuat seseorang terlihat; karakter menentukan apakah ia dapat dipercaya.
Ayat 7 menjadi pusat bacaan: “Manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi Tuhan melihat hati.” Tuhan mengetahui manusia secara sempurna, sedangkan jemaat hanya mengetahui sebagian. Karena itu kita tidak boleh merasa mampu membaca isi hati seseorang. Yang dapat kita lakukan adalah melihat buah kehidupannya.
Perhatikan apakah seseorang jujur, rendah hati, mampu menerima koreksi, menjaga perkataan, membawa damai, bertanggung jawab terhadap keluarga dan sudah menunjukkan kesediaan melayani tanpa menunggu jabatan. Dalam memilih Pelayan Khusus, jangan hanya melihat bagaimana seseorang tampil ketika ada kegiatan; lihatlah bagaimana ia menjalani kehidupan sehari-hari.
Ayat 8–10 menceritakan anak-anak Isai yang lain berjalan di depan Samuel, tetapi tidak satu pun dipilih Tuhan. Pengulangan ini menunjukkan bahwa Samuel sedang belajar untuk tidak terburu-buru. Pada ayat 6 ia cepat menyimpulkan; sekarang ia lebih berhati-hati. Demikian juga jemaat perlu menimbang dengan tenang, tidak menjadikan satu cerita, satu kesan atau satu peristiwa sebagai dasar keputusan seluruhnya.
Ayat 11 menunjukkan Daud bahkan tidak dihadirkan sejak awal karena sedang menggembalakan domba. Orang yang tidak terlalu diperhitungkan manusia justru menjadi orang yang dipilih Tuhan. Prinsipnya bukan bahwa kita harus memilih orang yang paling tidak terkenal, tetapi jangan meremehkan orang hanya karena ia sederhana atau tidak menonjol. Ada kesetiaan yang tidak banyak terlihat tetapi sangat penting bagi pelayanan.
Ayat 12 mengatakan Daud dipanggil dan Tuhan memerintahkan Samuel mengurapinya. Daud sendiri tetap digambarkan mempunyai penampilan yang baik. Jadi Firman bukan anti-kemampuan atau anti-penampilan; yang dikoreksi adalah ketika hal-hal lahiriah menjadi ukuran utama. Dalam pemilihan Pelayan Khusus, kemampuan tetap penting, tetapi harus berjalan bersama karakter dan kesiapan rohani.
Ayat 13 mencatat bahwa Daud diurapi dan Roh Tuhan berkuasa atasnya. Namun ia tidak langsung menjadi raja. Ia masih melalui proses panjang. Ini mengajarkan bahwa terpilih bukan berarti selesai dibentuk. Penatua atau Diaken tetap perlu belajar, menerima koreksi, menjaga keluarga, menjaga perkataan dan hidup dekat kepada Tuhan. Sebaliknya, tidak terpilih bukan berarti tidak dapat dipakai Tuhan, sebab pelayanan lebih luas daripada jabatan.
Keseluruhan ayat 1–13 karena itu mengajar kita untuk tidak terikat pada penilaian lama, tidak terburu-buru, tidak berhenti pada penampilan, memperhatikan buah kehidupan dan menyadari bahwa setiap orang yang dipilih tetap membutuhkan proses pembentukan.
PENUTUP
Saudari-saudari W/KI GMIM yang dikasihi Tuhan, tema “Manusia Melihat Apa Yang Di Depan Mata Tetapi Tuhan Melihat Hati” mengingatkan bahwa pemilihan Pelayan Khusus harus dijalani dengan kerendahan hati. Kita tidak dapat melihat hati seperti Tuhan, tetapi kita dapat memperhatikan buah kehidupan yang nyata.
Karena itu jangan memilih hanya karena kedekatan, popularitas, kemampuan ekonomi atau hubungan kelompok. Jangan pula menolak seseorang hanya karena pernah berbeda pendapat atau karena persoalan pribadi. Pemilihan gerejawi adalah tanggung jawab iman, bukan tempat menyelesaikan konflik pribadi.
Ada beberapa prinsip yang perlu kita pegang:
Pertama, pilih dengan doa dan takut akan Tuhan. Jangan biarkan tekanan kelompok menguasai keputusan.
Kedua, utamakan karakter daripada pencitraan. Kemampuan penting, tetapi integritas menentukan bagaimana kemampuan itu digunakan.
Ketiga, lihat kesetiaan sebelum jabatan. Orang yang mempunyai hati seorang hamba sudah melayani sebelum memiliki posisi.
Keempat, perhatikan kehidupan secara utuh. Kehidupan keluarga, perkataan, hubungan sosial dan kemampuan menerima koreksi merupakan bagian dari kesaksian.
Kelima, jangan abaikan orang yang tidak terlalu menonjol. Kesetiaan yang tenang sering tidak terlihat dalam keramaian.
Keenam, terpilih bukan berarti lebih baik. Penetapan justru menuntut kerendahan hati dan tanggung jawab yang lebih besar.
Ketujuh, tidak terpilih bukan berarti tidak dipakai Tuhan. Pelayanan jauh lebih luas daripada jabatan Penatua atau Diaken.
Bagi W/KI, ini juga berarti menjaga persekutuan selama proses pemilihan. Jangan menyebarkan cerita untuk melemahkan orang lain dan jangan membiarkan pilihan yang berbeda merusak persaudaraan. Jika orang yang kita dukung terpilih, jangan merasa kelompok kita menang; jika tidak terpilih, jangan menarik diri dari pelayanan. Semua tetap bagian dari tubuh Kristus.
Kepada mereka yang nantinya terpilih, ingatlah bahwa jabatan adalah kepercayaan, bukan kehormatan untuk dibanggakan. Pelayan Khusus akan berhadapan dengan orang sakit, keluarga berduka, pergumulan jemaat, informasi yang harus dijaga dan keputusan yang membutuhkan hikmat. Karena itu karakter bukan tambahan; karakter adalah bagian dari pelayanan itu sendiri.
Saudari-saudari, manusia melihat sebagian, tetapi Tuhan melihat dengan sempurna. Karena itu dalam memilih, berdoalah dengan sungguh, pertimbangkan dengan bijaksana, lihatlah buah kehidupan dan serahkan hasil kepada Tuhan.
Sebab manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi Tuhan melihat hati.
Amin.
Editor : Clavel Lukas