Bacaan dan Renungan untuk Umat Katolik, Hari Senin 12 Oktober 2026

Fandy Gerungan • Dipublikasikan Senin, 12 Oktober 2026 | 09:34 WIB
Perjamuan Malam Terakhir
Perjamuan Malam Terakhir

Pekan Biasa ke XXVIII (Warna Liturgi Hijau)

Bacaan I Galatia 4:22-24.26-27.31-5.1

Bukankah ada tertulis, bahwa Abraham mempunyai dua anak, seorang dari perempuan yang menjadi hambanya dan seorang dari perempuan yang merdeka?

Tetapi anak dari perempuan yang menjadi hambanya itu diperanakkan menurut daging dan anak dari perempuan yang merdeka itu oleh karena janji.

Ini adalah suatu kiasan. Sebab kedua perempuan itu adalah dua ketentuan Allah: yang satu berasal dari gunung Sinai dan melahirkan anak-anak perhambaan, itulah Hagar?

Tetapi Yerusalem sorgawi adalah perempuan yang merdeka, dan ialah ibu kita.

Karena ada tertulis: "Bersukacitalah, hai si mandul yang tidak pernah melahirkan! Bergembira dan bersorak-sorailah, hai engkau yang tidak pernah menderita sakit bersalin! Sebab yang ditinggalkan suaminya akan mempunyai lebih banyak anak dari pada yang bersuami."

Karena itu, saudara-saudara, kita bukanlah anak-anak hamba perempuan, melainkan anak-anak perempuan merdeka.

Supaya kita sungguh-sungguh merdeka, Kristus telah memerdekakan kita. Karena itu berdirilah teguh dan jangan mau lagi dikenakan kuk perhambaan.

Demikianlah Sabda Tuhan

U. Syukur kepada Allah

Mazmur 113:1-2.3-4.5a.6-7

Haleluya! Pujilah, hai hamba-hamba TUHAN, pujilah nama TUHAN!

Kiranya nama TUHAN dimasyhurkan, sekarang ini dan selama-lamanya.

Dari terbitnya sampai kepada terbenamnya matahari terpujilah nama TUHAN.

TUHAN tinggi mengatasi segala bangsa, kemuliaan-Nya mengatasi langit.

Siapakah seperti TUHAN, Allah kita, yang diam di tempat yang tinggi,

yang merendahkan diri untuk melihat ke langit dan ke bumi?

Ia menegakkan orang yang hina dari dalam debu dan mengangkat orang yang miskin dari lumpur,

Bacaan Injil Lukas 11:29-32

Ketika orang banyak mengerumuni-Nya, berkatalah Yesus: "Angkatan ini adalah angkatan yang jahat. Mereka menghendaki suatu tanda, tetapi kepada mereka tidak akan diberikan tanda selain tanda nabi Yunus.

Sebab seperti Yunus menjadi tanda untuk orang-orang Niniwe, demikian pulalah Anak Manusia akan menjadi tanda untuk angkatan ini.

Pada waktu penghakiman, ratu dari Selatan itu akan bangkit bersama orang dari angkatan ini dan ia akan menghukum mereka. Sebab ratu ini datang dari ujung bumi untuk mendengarkan hikmat Salomo, dan sesungguhnya yang ada di sini lebih dari pada Salomo!

Pada waktu penghakiman, orang-orang Niniwe akan bangkit bersama angkatan ini dan mereka akan menghukumnya. Sebab orang-orang Niniwe itu bertobat waktu mereka mendengarkan pemberitaan Yunus, dan sesungguhnya yang ada di sini lebih dari pada Yunus!"

Demikianlah Injil Tuhan

U. Terpujilah Kristus

Renungan

Saudara-saudari terkasih dalam Kristus, Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering berbicara tentang kebebasan. Kita ingin bebas menentukan pilihan, mengejar cita-cita, dan menjalani hidup sesuai dengan keinginan kita. 

Namun, pernahkah kita menyadari bahwa ada banyak hal yang justru membuat kita tidak sungguh-sungguh merdeka? Rasa iri, kebencian, kesombongan, kebiasaan buruk, dan keinginan untuk selalu dipuji dapat mengikat hati kita tanpa kita sadari.

Melalui bacaan pertama, Santo Paulus mengingatkan bahwa Kristus telah membebaskan kita dari perhambaan. Kebebasan yang diberikan Kristus bukan sekadar kebebasan untuk melakukan apa saja. 

Melainkan kebebasan untuk hidup sebagai anak-anak Allah. Kita tidak lagi harus diperbudak oleh dosa, ketakutan, atau keinginan untuk membuktikan bahwa diri kita lebih baik daripada orang lain.

Menjadi orang merdeka dalam Kristus berarti berani meninggalkan hal-hal yang menjauhkan kita dari Allah. Kita mungkin masih memiliki kelemahan dan pernah melakukan kesalahan, tetapi kita tidak harus terus-menerus hidup dalam kesalahan yang sama. 

Kasih karunia Allah selalu membuka jalan bagi pertobatan dan pembaruan hidup. Yang terpenting adalah kesediaan kita untuk bangkit, memperbaiki diri, dan berjalan kembali bersama-Nya.

Sementara itu, Injil mengajak kita untuk melihat bagaimana kita menanggapi kehadiran Allah. Orang banyak pada zaman Yesus menginginkan tanda yang luar biasa.

Padahal mereka sedang berhadapan langsung dengan Dia yang membawa keselamatan. Mereka sibuk mencari bukti, tetapi kurang membuka hati untuk menerima kebenaran yang sudah hadir di tengah-tengah mereka.

Bukankah sikap seperti ini juga bisa terjadi dalam kehidupan kita? Kita terkadang meminta Allah menunjukkan kuasa-Nya melalui mukjizat, mengabulkan doa sesuai keinginan kita, atau mengubah keadaan secepat mungkin. 

Ketika harapan tidak terpenuhi, kita mulai meragukan kasih dan penyertaan-Nya. Kita lupa bahwa kehadiran Allah tidak selalu ditunjukkan melalui peristiwa besar.

Ia juga hadir melalui orang-orang yang mengasihi kita, teguran yang menyadarkan kita, kesempatan untuk memperbaiki kesalahan, dan kekuatan untuk bertahan dalam kesulitan.

Kisah orang-orang Niniwe yang bertobat mengingatkan kita bahwa mendengarkan sabda Tuhan seharusnya membawa perubahan nyata dalam hidup. 

Iman bukan hanya tentang mengetahui ajaran agama, rajin berdoa, atau mengikuti perayaan Ekaristi. Semua itu penting, tetapi iman juga harus tampak dalam cara kita memperlakukan sesama, mengendalikan amarah, mengampuni orang yang menyakiti kita, serta berani mengakui kesalahan.

Allah tidak menuntut kita menjadi sempurna dalam sekejap. Ia mengundang kita untuk terus bertumbuh dan tidak menutup hati terhadap panggilan-Nya.

Saudara-saudari terkasih, kedua bacaan hari ini mengajak kita untuk melakukan dua hal penting: menerima kebebasan yang diberikan Kristus dan berani menanggapi panggilan-Nya melalui pertobatan. 

Jangan sampai kita terus meminta tanda dari Allah, tetapi mengabaikan kesempatan untuk berubah yang sudah diberikan-Nya setiap hari.

Marilah kita bertanya kepada diri sendiri: apa yang masih memperbudak hati kita? Kebiasaan buruk apa yang perlu kita tinggalkan? Dan perubahan apa yang selama ini kita tunda meskipun kita tahu bahwa itulah yang dikehendaki Allah?

Semoga kita semakin menyadari bahwa kebebasan sejati ditemukan ketika kita hidup dalam kasih Kristus. Dengan hati yang terbuka, kita belajar meninggalkan dosa, memperbarui diri, dan menjadi pribadi yang membawa kebaikan bagi sesama.

Sebab, Kristus telah membebaskan kita bukan supaya kita kembali hidup dalam belenggu, melainkan supaya kita mampu menjalani hidup yang baru, penuh kasih, dan setia kepada kehendak Allah. (*)

Editor : Fandy Gerungan
renungan katolik Renungan