Bacaan dan Renungan untuk Orang Muda Katolik, Hari Senin 12 Oktober 2026

Fandy Gerungan • Dipublikasikan Senin, 12 Oktober 2026 | 09:36 WIB
Perjamuan Malam Terakhir
Perjamuan Malam Terakhir

Pekan Biasa ke XXVIII (Warna Liturgi Hijau)

Bacaan I Galatia 4:22-24.26-27.31-5.1

Bukankah ada tertulis, bahwa Abraham mempunyai dua anak, seorang dari perempuan yang menjadi hambanya dan seorang dari perempuan yang merdeka?

Tetapi anak dari perempuan yang menjadi hambanya itu diperanakkan menurut daging dan anak dari perempuan yang merdeka itu oleh karena janji.

Ini adalah suatu kiasan. Sebab kedua perempuan itu adalah dua ketentuan Allah: yang satu berasal dari gunung Sinai dan melahirkan anak-anak perhambaan, itulah Hagar?

Tetapi Yerusalem sorgawi adalah perempuan yang merdeka, dan ialah ibu kita.

Karena ada tertulis: "Bersukacitalah, hai si mandul yang tidak pernah melahirkan! Bergembira dan bersorak-sorailah, hai engkau yang tidak pernah menderita sakit bersalin! Sebab yang ditinggalkan suaminya akan mempunyai lebih banyak anak dari pada yang bersuami."

Karena itu, saudara-saudara, kita bukanlah anak-anak hamba perempuan, melainkan anak-anak perempuan merdeka.

Supaya kita sungguh-sungguh merdeka, Kristus telah memerdekakan kita. Karena itu berdirilah teguh dan jangan mau lagi dikenakan kuk perhambaan.

Demikianlah Sabda Tuhan

U. Syukur kepada Allah

Mazmur 113:1-2.3-4.5a.6-7

Haleluya! Pujilah, hai hamba-hamba TUHAN, pujilah nama TUHAN!

Kiranya nama TUHAN dimasyhurkan, sekarang ini dan selama-lamanya.

Dari terbitnya sampai kepada terbenamnya matahari terpujilah nama TUHAN.

TUHAN tinggi mengatasi segala bangsa, kemuliaan-Nya mengatasi langit.

Siapakah seperti TUHAN, Allah kita, yang diam di tempat yang tinggi,

yang merendahkan diri untuk melihat ke langit dan ke bumi?

Ia menegakkan orang yang hina dari dalam debu dan mengangkat orang yang miskin dari lumpur,

Bacaan Injil Lukas 11:29-32

Ketika orang banyak mengerumuni-Nya, berkatalah Yesus: "Angkatan ini adalah angkatan yang jahat. Mereka menghendaki suatu tanda, tetapi kepada mereka tidak akan diberikan tanda selain tanda nabi Yunus.

Sebab seperti Yunus menjadi tanda untuk orang-orang Niniwe, demikian pulalah Anak Manusia akan menjadi tanda untuk angkatan ini.

Pada waktu penghakiman, ratu dari Selatan itu akan bangkit bersama orang dari angkatan ini dan ia akan menghukum mereka. Sebab ratu ini datang dari ujung bumi untuk mendengarkan hikmat Salomo, dan sesungguhnya yang ada di sini lebih dari pada Salomo!

Pada waktu penghakiman, orang-orang Niniwe akan bangkit bersama angkatan ini dan mereka akan menghukumnya. Sebab orang-orang Niniwe itu bertobat waktu mereka mendengarkan pemberitaan Yunus, dan sesungguhnya yang ada di sini lebih dari pada Yunus!"

Demikianlah Injil Tuhan

U. Terpujilah Kristus

Renungan

Salve sahabat muda katolik, sebagai orang muda, kita tentu ingin bebas. Bebas menentukan pilihan, mengejar impian, membangun relasi, dan menikmati hidup. 

Namun, pernahkah kita berpikir bahwa meskipun kita merasa bebas, sebenarnya ada hal-hal yang masih mengikat kita? Kita bisa diperbudak oleh rasa iri, keinginan untuk selalu dipuji, ketakutan terhadap penilaian orang lain, bahkan kebiasaan buruk yang sulit kita tinggalkan.

Bacaan pertama mengingatkan kita bahwa Kristus telah membebaskan kita. Kebebasan sejati bukan berarti kita bisa melakukan apa saja sesuka hati, melainkan kemampuan untuk memilih apa yang baik dan benar. 

Kita tidak harus mengikuti semua tren agar diterima, berpura-pura menjadi orang lain demi mendapatkan pengakuan, atau mengorbankan nilai-nilai iman hanya supaya dianggap keren.

Sebagai orang muda Katolik, kita dipanggil untuk berani menjadi diri sendiri, berpegang pada iman, dan melakukan hal yang benar meskipun berbeda dari pilihan banyak orang. 

Kita memang tidak selalu sempurna, tetapi bersama Kristus, kita selalu memiliki kesempatan untuk memperbaiki diri.

Dalam Injil, Yesus menegur orang-orang yang terus meminta tanda, tetapi tidak sungguh-sungguh membuka hati. Sikap ini juga bisa terjadi dalam kehidupan kita. 

Kita sering meminta Tuhan membantu menyelesaikan masalah, mengabulkan keinginan, atau menunjukkan jalan hidup yang jelas. Namun, ketika Tuhan mengajak kita berubah, kita justru menunda-nunda.

Kita ingin hubungan dengan sesama menjadi lebih baik, tetapi enggan meminta maaf. Kita ingin hidup lebih dekat dengan Tuhan, tetapi selalu merasa tidak punya waktu untuk berdoa. 

Kita ingin menjadi pribadi yang lebih baik, tetapi terus mempertahankan kebiasaan yang merugikan diri sendiri dan orang lain.

Padahal, Tuhan sering kali sudah menunjukkan jalan melalui sabda-Nya, nasihat orang tua, perhatian sahabat, dan pengalaman hidup yang menyadarkan kita. 

Yang kita butuhkan bukan selalu tanda yang luar biasa, melainkan hati yang mau mendengarkan dan keberanian untuk bertindak.

Teman-teman, pertobatan tidak harus dimulai dari sesuatu yang besar. Kita bisa memulainya dengan mengurangi kebiasaan menghakimi orang lain, berani mengakui kesalahan, menggunakan media sosial secara bijaksana, serta meluangkan waktu untuk berdoa dan terlibat dalam kegiatan Gereja.

Jangan hanya meminta Tuhan mengubah keadaan kita, tetapi beranilah membiarkan Tuhan mengubah hati kita.

Marilah kita menjadi OMK yang sungguh merdeka dalam Kristus, bukan orang muda yang diperbudak oleh gengsi, tekanan pergaulan, atau keinginan untuk menyenangkan semua orang. 

Kita dipanggil untuk menjadi pribadi yang berani memilih kebaikan, setia pada iman, dan membawa pengaruh positif bagi lingkungan sekitar.

Semoga setiap hari kita semakin berani meninggalkan hal-hal yang menjauhkan kita dari Tuhan dan melangkah menuju hidup yang lebih baik. 

Sebab, iman yang hidup bukan hanya terlihat dari apa yang kita doakan, tetapi juga dari perubahan nyata yang kita lakukan. (*)

 

Editor : Fandy Gerungan
renungan katolik omk Renungan