Pekan Biasa ke XXVIII (Warna Liturgi Hijau)
Bacaan I Galatia 4:31b
Karena itu, saudara-saudara, kita bukanlah anak-anak hamba perempuan, melainkan anak-anak perempuan merdeka.
Demikianlah Sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah
Mazmur 119:41.43.44.45.47.48
Kiranya kasih setia-Mu mendatangi aku, ya TUHAN, keselamatan dari pada-Mu itu sesuai dengan janji-Mu,
Janganlah sekali-kali mencabut firman kebenaran dari mulutku, sebab aku berharap kepada hukum-hukum-Mu.
Aku hendak berpegang pada Taurat-Mu senantiasa, untuk seterusnya dan selamanya.
Aku hendak hidup dalam kelegaan, sebab aku mencari titah-titah-Mu.
Aku hendak bergemar dalam perintah-perintah-Mu yang kucintai itu.
Aku menaikkan tanganku kepada perintah-perintah-Mu yang kucintai, dan aku hendak merenungkan ketetapan-ketetapan-Mu.
Bacaan Injil Lukas 11:37-41
Ketika Yesus selesai mengajar, seorang Farisi mengundang Dia untuk makan di rumahnya. Maka masuklah Ia ke rumah itu, lalu duduk makan.
Orang Farisi itu melihat hal itu dan ia heran, karena Yesus tidak mencuci tangan-Nya sebelum makan.
Tetapi Tuhan berkata kepadanya: "Kamu orang-orang Farisi, kamu membersihkan bagian luar dari cawan dan pinggan, tetapi bagian dalammu penuh rampasan dan kejahatan.
Hai orang-orang bodoh, bukankah Dia yang menjadikan bagian luar, Dia juga yang menjadikan bagian dalam?
Akan tetapi, berikanlah isinya sebagai sedekah dan sesungguhnya semuanya akan menjadi bersih bagimu.
Demikianlah Injil Tuhan
U. Terpujilah Kristus
Renungan
Saudara-saudari terkasih dalam Kristus, Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering berusaha menampilkan diri sebaik mungkin di hadapan orang lain. Kita ingin terlihat baik, sopan, ramah, dan dihormati.
Kita juga berusaha menjaga penampilan agar orang lain memiliki kesan yang baik terhadap diri kita. Namun, pernahkah kita bertanya, apakah hati kita sudah seindah penampilan yang kita tunjukkan?
Melalui Injil hari ini, Yesus mengajak kita untuk melihat lebih dalam ke dalam diri sendiri. Ia mengingatkan bahwa kesalehan tidak cukup hanya tampak dari luar.
Rajin berdoa, mengikuti Misa, membaca Kitab Suci, dan menjalankan berbagai kegiatan rohani memang penting. Namun, semua itu harus disertai hati yang tulus, penuh kasih, dan mau melakukan kebaikan kepada sesama.
Teguran Yesus kepada orang Farisi menunjukkan bahwa seseorang bisa saja sangat memperhatikan aturan keagamaan, tetapi melupakan hal yang lebih mendasar, yaitu kebersihan hati.
Mereka begitu memperhatikan apa yang tampak di luar, tetapi kurang menyadari keadaan batin mereka sendiri. Padahal, iman yang sejati seharusnya mengubah cara kita berpikir, berbicara, dan bertindak.
Kita pun dapat mengalami hal yang sama. Kita mungkin terlihat baik di hadapan banyak orang, tetapi masih menyimpan iri hati, kesombongan, kebencian, atau keinginan untuk menjatuhkan orang lain.
Kita bisa terlihat murah hati, tetapi sebenarnya mengharapkan pujian. Kita bisa berbicara tentang kasih, tetapi sulit mengampuni orang yang menyakiti kita.
Karena itu, Tuhan tidak hanya melihat apa yang kita lakukan, tetapi juga ketulusan hati yang mendasarinya. Tuhan menghendaki agar kebaikan tidak berhenti pada kata-kata atau penampilan.
Melainkan menjadi nyata melalui tindakan yang membawa sukacita dan harapan bagi orang lain.
Bacaan pertama mengingatkan kita bahwa kita adalah anak-anak yang merdeka. Dalam iman Kristiani, kemerdekaan ini bukan berarti kita bebas melakukan apa saja sesuka hati.
Kemerdekaan sejati berarti kita tidak lagi diperbudak oleh dosa, kesombongan, kebencian, dan keinginan untuk selalu mencari pengakuan manusia. Kristus membebaskan kita agar kita mampu hidup dalam kasih dan melakukan kehendak Allah dengan hati yang tulus.
Saudara-saudari terkasih, Marilah kita menjadikan hari ini sebagai kesempatan untuk memperbaiki diri. Sebelum menilai kekurangan orang lain, kita belajar memeriksa hati sendiri.
Sebelum menuntut orang lain berubah, kita berani memulai perubahan dari diri kita. Dan sebelum menunjukkan kebaikan kepada dunia, kita memastikan bahwa kebaikan itu sungguh lahir dari hati yang penuh kasih.
Sebab, iman yang hidup bukan hanya terlihat dari seberapa sering kita beribadah, melainkan juga dari bagaimana kita memperlakukan orang lain, terutama mereka yang lemah, tersisih, dan membutuhkan pertolongan.
Tuhan tidak mencari manusia yang sekadar tampak sempurna, melainkan manusia yang mau membuka hati untuk dibersihkan, dibentuk, dan dipenuhi oleh kasih-Nya.
Semoga hidup kita tidak hanya menjadi indah di mata manusia, tetapi juga berkenan di hadapan Allah. (*)
Editor : Fandy Gerungan