Bacaan dan Renungan untuk Orang Muda Katolik, Hari Rabu 14 Oktober 2026

Fandy Gerungan • Dipublikasikan Selasa, 13 Oktober 2026 | 14:55 WIB
Perjamuan Malam Terakhir
Perjamuan Malam Terakhir

Pekan Biasa ke XXVIII (Warna Liturgi Hijau)

Bacaan I Galatia 5:18-25

Akan tetapi jikalau kamu memberi dirimu dipimpin oleh Roh, maka kamu tidak hidup di bawah hukum Taurat.

Perbuatan daging telah nyata, yaitu: percabulan, kecemaran, hawa nafsu,

penyembahan berhala, sihir, perseteruan, perselisihan, iri hati, amarah, kepentingan diri sendiri, percideraan, roh pemecah,

kedengkian, kemabukan, pesta pora dan sebagainya. Terhadap semuanya itu kuperingatkan kamu?seperti yang telah kubuat dahulu?bahwa barangsiapa melakukan hal-hal yang demikian, ia tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah.

Tetapi buah Roh ialah: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan,

kelemahlembutan, penguasaan diri. Tidak ada hukum yang menentang hal-hal itu.

Barangsiapa menjadi milik Kristus Yesus, ia telah menyalibkan daging dengan segala hawa nafsu dan keinginannya.

Jikalau kita hidup oleh Roh, baiklah hidup kita juga dipimpin oleh Roh,

Demikianlah Sabda Tuhan

U. Syukur kepada Allah

Mazmur 1:1-2.3.4.6

Berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik, yang tidak berdiri di jalan orang berdosa, dan yang tidak duduk dalam kumpulan pencemooh,

tetapi yang kesukaannya ialah Taurat TUHAN, dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam.

Ia seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya, dan yang tidak layu daunnya; apa saja yang diperbuatnya berhasil.

Bukan demikian orang fasik: mereka seperti sekam yang ditiupkan angin.

sebab TUHAN mengenal jalan orang benar, tetapi jalan orang fasik menuju kebinasaan.

Bacaan Injil Lukas 11:42-46

Tetapi celakalah kamu, hai orang-orang Farisi, sebab kamu membayar persepuluhan dari selasih, inggu dan segala jenis sayuran, tetapi kamu mengabaikan keadilan dan kasih Allah. Yang satu harus dilakukan dan yang lain jangan diabaikan.

Celakalah kamu, hai orang-orang Farisi, sebab kamu suka duduk di tempat terdepan di rumah ibadat dan suka menerima penghormatan di pasar.

Celakalah kamu, sebab kamu sama seperti kubur yang tidak memakai tanda; orang-orang yang berjalan di atasnya, tidak mengetahuinya."

Seorang dari antara ahli-ahli Taurat itu menjawab dan berkata kepada-Nya: "Guru, dengan berkata demikian, Engkau menghina kami juga."

Tetapi Ia menjawab: "Celakalah kamu juga, hai ahli-ahli Taurat, sebab kamu meletakkan beban-beban yang tak terpikul pada orang, tetapi kamu sendiri tidak menyentuh beban itu dengan satu jaripun.

Demikianlah Injil Tuhan

U. Terpujilah Kristus

Renungan

Di zaman sekarang, kita terbiasa menunjukkan kehidupan melalui media sosial. Kita bisa membagikan foto saat mengikuti kegiatan rohani, mengunggah kata-kata bijak, atau memperlihatkan berbagai hal baik yang kita lakukan. 

Namun, ada satu pertanyaan penting yang perlu kita renungkan: apakah diri kita yang terlihat di depan orang lain sama dengan diri kita yang sesungguhnya?

Bacaan hari ini mengajak kita untuk tidak hanya sibuk membangun citra diri, tetapi juga memperhatikan keadaan hati. Yesus menegur orang-orang Farisi karena mereka sangat memperhatikan aturan keagamaan. 

Tetapi Mereka mengabaikan kasih dan keadilan. Mereka terlihat saleh, tetapi kehidupan mereka belum sepenuhnya mencerminkan kebaikan Allah.

Pesan ini sangat dekat dengan kehidupan kita sebagai orang muda Katolik. Kita mungkin aktif dalam kegiatan Orang Muda Katolik (OMK), rajin mengikuti Misa, atau terlibat dalam pelayanan Gereja. 

Namun, apakah kita juga mampu menghargai teman yang berbeda pendapat? Apakah kita tidak mudah menghakimi orang lain? Apakah kita tetap bersikap baik kepada teman yang tidak populer atau sering diabaikan?

Jangan sampai kita terlihat rohani di gereja, tetapi menjadi orang yang suka bergosip, menyebarkan kebencian, merendahkan teman, atau menyimpan iri hati. 

Iman bukan hanya tentang seberapa sering kita berdoa, melainkan juga tentang bagaimana kita memperlakukan orang lain setelah selesai berdoa.

Bacaan pertama mengingatkan kita bahwa kehidupan yang dipimpin oleh Roh Kudus akan menghasilkan kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, dan penguasaan diri. 

Semua itu merupakan tanda bahwa iman kita sungguh bertumbuh. Buah Roh tersebut dapat kita wujudkan dalam hal-hal sederhana. Kita menunjukkan kasih ketika mau mendengarkan teman yang sedang mengalami masalah. 

Kita menunjukkan kesabaran ketika tidak langsung membalas komentar yang menyakitkan. Kita menunjukkan kebaikan ketika membantu tanpa mengharapkan pujian. 

Kita menunjukkan penguasaan diri ketika mampu menahan amarah dan tidak ikut menyebarkan gosip. Menjadi orang muda Katolik yang baik bukan berarti harus selalu sempurna. 

Kita boleh pernah gagal, kecewa, marah, atau melakukan kesalahan. Yang terpenting adalah kesediaan untuk mengakui kesalahan, memperbaiki diri, dan memberikan kesempatan kepada Tuhan untuk membarui hati kita.

Teman-teman muda yang terkasih, Dunia tidak hanya membutuhkan orang muda yang pandai berbicara tentang kebaikan, tetapi juga mereka yang berani melakukan kebaikan. 

Gereja tidak hanya membutuhkan orang muda yang ramai dalam kegiatan, tetapi juga mereka yang menghadirkan kasih Kristus melalui tindakan nyata.

Jangan hanya menjadi orang muda yang terlihat baik, tetapi jadilah orang muda yang sungguh membawa kebaikan. Biarlah kehadiran kita membuat orang lain merasa diterima, dihargai, dan dikuatkan. 

Biarlah perkataan kita membangun, bukan menjatuhkan. Biarlah tindakan kita menunjukkan bahwa iman kepada Kristus benar-benar hidup dalam diri kita.

Mari kita membuka hati bagi bimbingan Roh Kudus. Mulailah dari hal-hal kecil, dari rumah, sekolah, kampus, tempat kerja, lingkungan pertemanan, hingga komunitas OMK. Sebab, ketika hati kita berubah, cara kita memperlakukan orang lain pun akan berubah.

Semoga kita menjadi orang muda Katolik yang tidak hanya bangga menyandang nama Kristus, tetapi juga berani menghadirkan kasih-Nya dalam kehidupan sehari-hari. (*)

Editor : Fandy Gerungan
renungan katolik omk Renungan