MTPJ GMIM 1 - 7 November 2026, Mazmur 139:1-24

Clavel Lukas • Dipublikasikan Selasa, 20 Oktober 2026 | 13:06 WIB
Logo GMIM
Logo GMIM

MTPJ GMIM 1 - 7 November 2026

TEMA BULANAN:

“Memilih Dan Menerima Pilihan Dengan Iman Serta Diperlengkapi Untuk Menjalankan Tugas Pelayanan Yang Berintegritas”

TEMA MINGGUAN :

"Selidiki Dan Ujilah Aku Kenallah Hati Dan Pikiran-Pikiranku”

Bacaan: Mazmur 139:1-24 

ALASAN PEMILIHAN TEMA

Perkembangan dunia dengan kemajuan teknologi, membuat manusia dapat menguji dan mengenal diri sendiri dan orang lain lebih dalam. Di antaranya adalah melalui analisis SWOT, tes kepribadian dan tes kejiwaan. Ada juga praktik meditasi yang dapat menjadi rujukan bagi seseorang untuk membantu memiliki kesadaran diri yang lebih tinggi untuk memahami pikiran serta perasaannya secara lebih mendalam.

Akan tetapi semua metode dan pendekatan tersebut sangat terbatas. Tidak dapat secara seratus persen menolong kita untuk dengan benar mengetahui siapa kita sebenarnya. Hanya Tuhan Allah yang paling mengenal pribadi setiap manusia, sebab Dialah yang menciptakan manusia. Tuhan Allah adalah Allah Mahatahu (Omniscience); Allah Mahahadir (Omnipresent); Allah Mahakuasa (Omnipotent).

Dengan demikian kita sadar siapa kita di hadapan Tuhan Allah. Kesadaran ini penting untuk senantiasa mengingatkan bahwa hidup kita tidak dapat disembunyikan dari hadapan-Nya. Oleh karena itu, di minggu ini kita akan merenungkan firman Tuhan Allah dalam Mazmur 139:1-24 di bawah tema “SELIDIKI DAN UJILAH AKU, KENALLAH HATI DAN PIKIRAN-PIKIRANKU.”

PEMBAHASAN TEMATIS

Pembahasan Teks Alkitab (Eksegese)

Kitab Mazmur dalam bahasa Ibrani adalah Sefer Tehillim yang berarti Kitab puji-pujian atau “nyanyian pujian”. Dalam Septuaginta (LXX) disebut Psalmoi, dari kata kerja Yunani psallo, artinya “memetik” atau “mendentingkan”. Awalnya kata ini digunakan untuk permainan alat musik petik. Kata tersebut kemudian menunjuk pada “nyanyian” (Ibr. psalmos) yang diterjemahkan dari kata Ibrani Mizmor atau “kumpulan nyanyian” (psalterion). Kitab Mazmur (Latin psalter) merupakan satu koleksi syair-syair keagamaan yang biasanya digunakan dalam upacara di bait Allah. Kitab Mazmur diakui ditulis oleh lebih dari satu orang.

Mazmur pasal 139 merupakan ungkapan permohonan pemazmur kepada Tuhan Allah. Ia menghadapi fitnahan dan tuduhan palsu. Ia merenungkan makna hidup yang didapatkan dalam kedekatan hubungannya dengan Tuhan Allah.

Perikop Mazmur 139: 1-24 dibagi dalam empat bagian besar yakni: Pertama: Tuhan Allah Mahatahu (Omniscience) (ayat 1-6), Kedua: Tuhan Allah Mahahadir (Omnipresent) (ayat 7-12), Ketiga: Tuhan Allah Mahakuasa (Omnipotent); (ayat 13-18); Keempat: Permohonan pemazmur (ayat 19-24). 

Ayat 1-6. Bagian ini adalah suatu pengakuan iman penuh ketakjuban dan kerendahan hati dari pemazmur tentang Tuhan Allah. Kalimat “Tuhan Engkau menyelidiki (Ibr. Khaqar: menembus, memeriksa secara mendalam) dan mengenal (Ibr. yada. Mengenal, memahami) aku”, adalah pengakuan pemazmur bahwa Tuhan Allah mengetahui sebenar-benarnya dan sedalam-dalamnya kehidupannya. Ini berarti hanya Tuhan Allah yang mengetahui dengan dalam keberadaan hidup pemazmur. Bukan hanya aktivitas lahiriah berupa duduk, beristirahat atau berdiri, tetapi juga Dia bahkan mengetahui apa yang ada dalam hati manusia, sebelum itu diucapkan dan dilakukan.

Tuhan Allah tidak dapat dibatasi oleh ruang dan waktu. Dia mengenal pikiran manusia dan mengetahui rahasia hati setiap manusia. Selanjutnya, kata “mengurung aku’ (ayat 5), memberi pengertian bahwa Tuhan Allah melindungi dan menuntun pemazmur dalam segala jalan hidupnya. Akhirnya, pemazmur berseru penuh takjub kepada Tuhan Allah yang Mahatahu karena terlalu ajaib baginya dan terlalu tinggi untuk dipahami manusia. 

Ayat 7-12. Pemazmur kemudian melanjutkan pujiannya tentang Tuhan Allah Mahahadir di segala ruang dan waktu. Pemazmur menyatakan bahwa Tuhan Allah hadir dalam perjalanan hidupnya melalui kuasa dan Roh-Nya. Hal itu nampak dari pertanyaan retoris yang disampaikan pemazmur di ayat 7, “Kemana aku dapat pergi menjauhi roh-Mu? Ke mana aku dapat lari dari hadapan-Mu? Artinya bahwa sejauh manapun manusia dapat pergi, entah itu sampai ke langit yang tertinggi atau sampai ke dunia orang mati yang paling bawah, di sanapun akan berjumpa dengan Tuhan Allah.

Juga kalau orang dapat terbang dengan kecepatan tinggi ibarat terbang dengan sayap fajar (ayat 9), dia akan selalu berjumpa dengan tangan Tuhan Allah yang berkuasa membimbingnya (ayat 10). Bahkan di bagian gelap sekalipun yang dianggap dapat menjadi tempat orang menjauh daripada-Nya (ayat 11,12), di sana juga ada Tuhan Allah, karena kegelapan ada dalam kuasa-Nya. 

Ayat 13-18. Pemazmur mengakui bahwa Tuhan Allah adalah pencipta segalanya. Manusia adalah ciptaan-Nya yang paling dahsyat dan ajaib. Pemazmur mengatakan “Sesungguhnya, Engkaulah yang membentuk buah pinggangku, menenun aku dalam kandungan ibuku” (ayat 13). Buah pinggang, Ibr. kilyah” yang berarti ginjal, simbol diri bagian paling dalam dari manusia. Tuhan Allah juga menenun manusia dalam kandungan ibu. Hal ini menunjukkan bagaimana kejadian manusia itu begitu dahsyat dan ajaib.

Sukacita yang dalam dialami pemazmur ketika dia merenungkan semua itu, sehingga ia bersyukur. Selanjutnya, pemazmur mengatakan karena manusia itu adalah ciptaan Tuhan Allah, maka tidak ada satupun yang tersembunyi di hadapan-Nya. Pemazmur sangat takjub dengan kuasa Tuhan Allah dalam keseluruhan proses hidup manusia. Meskipun kadang sulit untuk dipahami, karena terlalu besar dan tak terhitung jumlahnya, namun demikian pemazmur tetap bersama Tuhan Allah. 

Ayat 19-24. Bagian terakhir dari perikop ini, berisi tentang permohonan pemazmur untuk menghukum orang-orang fasik. Ia menyebutkan mereka sebagai “penumpah-penumpah darah”. Mereka disebut penindas. Bagi pemazmur, Tuhan Allah pasti mengetahui keadaan manusia dan tidak mungkin membiarkan orang-orang berbuat kejahatan. Dalam ayat 23-24: pemazmur memohon kepada Tuhan Allah untuk menyelidiki dan menyelami hatinya.

Frasa “selidikilah aku dan selamilah hatiku” (TB 2 LAI), mengandung pengertian bahwa pemazmur memohon agar keseluruhan hidupnya terus dikenali oleh Tuhan Allah. Apakah dia ada di jalan yang serong (Ibr. Otseb. Berhala) atau tidak. Permohonan ini lahir dari kesadaran untuk terus dituntun pada jalan yang diinginkan Tuhan Allah. Pemazmur sepertinya mengundang pemeriksaan ilahi karena . menyadari akan keberadaannya di hadapan Tuhan Allah yang Mahatahu.

Pemazmur menempatkan dirinya dalam tangan Tuhan Allah sambil menyadari bahwa ia sendiri memiliki kesalahan dan perlu terus menerus diterangi oleh-Nya. Kesadaran ini membuat pemazmur berucap “tuntunlah aku ke jalan yang kekal” (ayat 24). Jalan yang kekal ini menunjuk kepada jalan kehidupan dan damai sejahtera yang terbentang di depan. Jalan yang bertentangan dengan jalan kehancuran atau kebinasaan. 

MAKNA DAN IMPLIKASI FIRMAN

1. Tuhan Allah Mahatahu. Dia sangat mengenal siapa kita. Ini bukan hanya sebuah teori, tetapi berakar dalam pengalaman hidup pemazmur ketika ia dikenal, diselidiki dan diperiksa oleh Tuhan Allah. Pemazmur mengatakan, Tuhan Allah tahu seluruh aktivitasnya, semua yang dirasakannya, dipikirnya bahkan apa yang akan dikatakannya. Itu berarti, kita tidak dapat lari dan bersembunyi dari Tuhan Allah. Kemanapun dan bagaimanapun hidup kita, senantiasa diketahui oleh-Nya. 

2. Tuhan Allah Mahahadir. Dia ada di segala ruang dan waktu melalui Roh-Nya. Karena itu, sebagai warga gereja, kita juga harus memiliki keyakinan ini bahwa Tuhan Allah selalu hadir dalam setiap kehidupan kita. Dia tidak pernah meninggalkan kita. Sebagai calon Pelayan Khusus Diaken dan Penatua terpilih, milikilah keyakinan ini. Jangan ragu apalagi sampai menolak panggilan pelayanan yang dipercayakan.

3. Tuhan Allah adalah Pencipta. Kita manusia adalah ciptaan-Nya, maka tidak ada satupun yang tersembunyi di hadapan-Nya. Seluruh proses hidup manusiap dibentuk dan direncanakan-Nya sebelum semua terjadi. Yakinilah juga bahwa ketika kita telah dipilih menjadi Calon Diaken dan Penatua, itu adalah rencana Tuhan Allah, jauh sebelum kita dibentuk dalam kandungan ibu seperti perkataan firman Tuhan Allah dalam Yeremia 1:5 “Sebelum Aku membentuk engkau dalam rahim ibumu, Aku telah mengenal engkau, dan sebelum engkau keluar dari kandungan, Aku telah menguduskan engkau, Aku telah menetapkan engkau menjadi nabi bagi bangsa-bangsa”.

4. Seperti pemazmur yang bermohon kepada Tuhan Allah “selidikilah aku dan selamilah hatiku”. Demikian juga doa orang percaya harus jujur dan terbuka di hadapan Tuhan Allah, supaya tetap dituntun di jalan-Nya yang kekal. 

PERTANYAAN UNTUK DISKUSI

1. Apa yang saudara pahami tentang tema “Selidikilah dan ujilah aku, kenallah hati dan pikiran-pikiranku” menurut perikop Mazmur 139:1-24?

2. Mengapa upaya menyelidiki dan menguji hati serta pikiran adalah aktivitas yang harus dilakukan oleh kita sebagai orang percaya?

3. Bagaimana kita menjadikan hidup ini senantiasa jujur dan terbuka di hadapan Tuhan Allah sebab di hadapan-Nya tidak ada yang tersembunyi? 

NAS PEMBIMBING: Efesus 2:10

POKOK-POKOK DOA

1. Umat Tuhan selalu menyadari bahwa Tuhan adalah Allah yang Mahatahu, Mahahadir dan Mahapencipta.

2. Warga jemaat yang terpilih menjadi calon Pelayan Khusus tidak ragu dan tidak menolak menerima panggilan Tuhan tetapi bersedia hati untuk menerima pangillan itu.

3. Proses penyelesaian Berita Acara Pemilihan, penetapan dan peneguhan Pelayan Khusus. 

TATA IBADAH YANG DIUSULKAN

HARI MINGGU BENTUK I

NYANYIAN YANG DIUSULKAN

Panggilan Beribadah: NKB No. 7 “Nyanyikanlah, Nyanyian Baru”

Ses. Nas Pembimbing: “Selidiki Aku” (Musik & Lirik by Steve Tabalujan & Sari Simorangkir)

Pengakuan Dosa: KJ No. 26 “Mampirlah Dengar Doaku”

Berita Anugerah Allah: NNBT No. 29 “Apakah Yang T’lah Engkau Lakukan”

Ses. Hukum Tuhan: NKB No. 201 “Di Jalan Hidupku”

Ses. Pembacaan Alkitab: KJ. No. 51 “Kitab Suci Hartaku”

Persembahan: PKJ No. 146 “Bawa Persembahan”

Nyanyian Penutup: NKB. 128 “Ku Berserah Kepada Allahku”

ATRIBUT

Warna Dasar Hijau dengan Simbol Salib dan Perahu di atas Gelombang.

Editor : Clavel Lukas
mtpj gmim mtpj 1-7 November MTPJ khotbah Renungan