RHK GMIM Minggu 25 Oktober 2026
2 Timotius 1:3-5
(3) Aku mengucap syukur kepada Allah, yang kulayani dengan hati nurani yang murni seperti yang dilakukan nenek moyangku. Dan selalu aku mengingat engkau dalam permohonanku, baik siang maupun malam.
(4) Dan apabila aku terkenang akan air matamu yang kaucurahkan, aku ingin melihat engkau kembali supaya penuhlah kesukaanku.
(5) Sebab aku teringat akan imanmu yang tulus ikhlas, yaitu iman yang pertama-tama hidup di dalam nenekmu Lois dan di dalam ibumu Eunike dan yang aku yakin hidup juga di dalam dirimu.
Keluarga Kristen yang dikasihi dan diberkati Tuhan Yesus,
Paulus membuka suratnya dengan ucapan syukur kepada Tuhan Allah, meskipun sedang berada di penjara.
Ucapan syukur ini menunjukkan bahwa pelayanan sejati tidak ditentukan oleh keadaan, melainkan oleh hati yang tulus dan hubungan yang benar dengan Tuhan Allah.
Keadaan boleh terbatas, tetapi pengenalan akan Tuhan Allah yang hidup memotivasi melayani dari hati yang tulus dan
murni.
Paulus mengingat Timotius dalam setiap permohonannya dan terkenang akan air mata yang dicurahkannya serta iman yang tulus ikhlas.
Hal ini menegaskan betapa dekatnya hubungan Paulus dan Timotius.
Iman yang bertumbuh tidak lahir begitu saja, melainkan dibentuk dalam perjalanan yang panjang melalui pendampingan yang sabar dan teladan yang nyata.
Paulus tidak hanya melihat hasil, tetapi juga menghargai proses pembentukan rohani yang berlangsung dalam kehidupan Timotius.
Paulus mengenali iman Timotius sebagai warisan dari neneknya Lois dan ibunya Eunike.
Iman bukan sekadar keputusan pribadi, melainkan juga hasil pembinaan dalam keluarga.
Keluarga menjadi tempat pertama di mana iman ditanamkan dan dibentuk.
Ayat ini menegaskan bahwa iman sejati bersifat turun-temurun, bukan dalam arti otomatis diwariskan, melainkan melalui keteladanan hidup dan pengajaran yang setia.
Iman yang hidup adalah iman yang tampak dalam keseharian dan mengakar dalam kasih akan Firman Tuhan Allah.
Keluarga Kristen yang dikasihi dan diberkati Tuhan Yesus,
Setiap pribadi yang telah menerima warisan iman diajak untuk tidak tinggal diam atau sekadar menjadi penerima pasif.
Iman harus dihidupkan melalui kedisiplinan rohani, pengabdian yang setia dan keterlibatan aktif dalam pelayanan.
Dunia sangat membutuhkan saksi-saksi iman yang berakar kuat dan tidak goyah oleh tekanan zaman.
Seperti Paulus yang tetap setia melayani dan tetap bersyukur meskipun di dalam penjara serta di tengah penderitaan.
Seperti Timotius yang meneruskan warisan rohani dengan setia, demikian juga kita sebagai keluarga Kristen dipanggil untuk melanjutkan warisan iman kepada generasi demi generasi.
Kita dipanggil untuk memiliki iman yang aktif, melalui sikap dan tingkah laku menjadi teladan iman kepada semua orang.
Tetap bersyukur apapun keadaan yang kita hadapi, sehingga kita menjadi berkat bagi banyak orang. Amin
Doa: Ya Tuhan Allah, mampukan kami untuk tetap bersyukur dalam berbagai situasi dan mewariskan iman kepada anak-cucu kami, untuk memberitakan kabar baik bagi semua orang. Di dalam nama Yesus Kristus kami berdoa. Amin.
Editor : Aprilia Sahari