Berita Utama Ekbis Kapol Teropong Minahasa Raya Nusa Utara Bolmong Raya Nasional Publika Politik Esport Healthy Hukum Internasional Lifestyle&Teknologi Liputan Khusus Olahraga Opini Otomotif Show & Celebrities Xpresi

Pejabat Tomohon Sering Mangkir, Begini Tanggapan Pengamat Politik dan Tokoh Masyarakat

Julius Laatung • Minggu, 9 Mei 2021 | 16:40 WIB
SERING ABSEN: Kondisi pembahasan di ruang sidang DPRD Kota Tomohon, banyak kursi pejabat yang kosong. Dok Julius/MP
SERING ABSEN: Kondisi pembahasan di ruang sidang DPRD Kota Tomohon, banyak kursi pejabat yang kosong. Dok Julius/MP
    MANADOPOST.ID--Tak berakhirnya inkonsistensi kehadiran oknum pejabat Pemerintah Kota (Pemkot) Tomohon.  Kala pembahasan bersama pihak legislatif, tak hanya ditanggapi miring oleh kepala daerah dan Ketua DPRD Tomohon Djemmy Sundah SE, belum lama ini.   Hal ini pun menuai sorotan dari sejumlah pihak. Dikatakan Pengamat Pemerintahan dan Politik Josef Kairupan, ada dua arah yang bisa dicermati publik, terkait intensnya kritikan yang dialamatkan ke oknum pejabat Kota Bunga kala bersinergi bersama DPRD.       Yang pertama dikatakan Kairupan, tanggapan pimpinan legislatif mengenai ketidakhadiran pejabat bisa diartikan sebagai bentuk pemecah soliditas pihak eksekutif. Yang kini tengah dibangun dan diperkokoh kepala daerah. Maklum, di masa kepemimpinan dan era baru Kota Tomohon di bawah komando Caroll Senduk-Wenny Lumentut (CS-WL) . Durasi pejabat berpatron pada pemimpin berlatar belakang partai lain, bisa disebut lumayan lama.         "Dari sisi politis, pernyataan ketua DPRD Tomohon ini, saya kira bisa disebut pemecah soliditas di tubuh internal eksekutif. Publik dibuat dan diarahkan seolah, kepala daerah saat ini belum mampu mengendalikan perangkat kerja nya. Wajar, durasi perpindahan tampuk kepemimpinan ini cukup lama, bisa jadi juga ada konflik internal di dalamnya," kata Kairupan.         Setelahnya, Kairupan menyebut, bentuk kurang gesitnya pejabat di Tomohon menyesuaikan dengan akselerasi sigap ala CS-WL. Bisa dikatakan sebagai bentuk kepasrahan pada tanggung jawab dan amanah yang diberikan. Publik, lanjut dia,  pasti tahu dan paham oknum-oknum kepala dinas mana, yang ketika di masa Pilkada lalu "all-out" mengamankan instruksi pimpinan sebelum.       "Analisa kedua bisa diartikan, jika para oknum-oknum pejabat kurang gesit ini sudah sadar diri dan mengerti jika di masa rolling nantinya. Dirinya tak lagi diakomodir kepala daerah. Tentunya, jika demikian sudah selayaknya ada kajian dan amatan jeli kepala daerah. Berdasarkan dengan hasil dan capaian kinerja pejabat. Kalau memang tak bisa diandalkan, yah di rolling saja," kata Akademisi Unsrat ini.       Lain hal dengan Tokoh Masyarakat (Tomas) Tomohon Danny Tular, dirinya tak sungkan menyatakan jika kepala daerah harus segera melakukan revolusi mental ke seluruh SKPD di Kota Religius. Sifatnya mendesak namun tetap sesuai koridor yang berlaku. Wajar, masa kepemimpinan CS-WL yang singkat pastinya membutuhkan birokrat-birokrat unggul dan hebat. Bukan hanya sekedar pandai memainkan lakon semata.       "Tidak salah memang yang dikatakan pimpinan DPRD Tomohon. Mereka.(pejabat,red) sepertinya perlu diajarkan lagi bagaimana cara berperilaku yang baik dan disiplin kepada atasan. Perlu direvolusi mental- mental para pejabat. Jangan beri kepercayaan dan amanah pada pejabat yang lambat, baik di konteks berinovasi dan mengeksekusi program. Durasi pemerintahan Pak Caroll dan Pak Wenny juga kan tidak lama. Atau bisa jadi juga, karena sudah lama terbuai dengan kebiasaan kerja santai di masa kepemimpinan sebelumnya," sindir Tular.     Julius Laatung Editor : Julius Laatung
#Wali Kota Tomohon #Kota Tomohon #Danny Tular #Josef Kairupan #Wali Kota Tomohon Caroll Senduk #Djemmy Sundah #Pemerintah Kota Tomohon #Pejabat Mangkir #Kota Bunga #DPRD Tomohon #Wawali Wenny Lumentut #Wakil Wali Kota Tomohon #Caroll Senduk-Wenny Lumentut ##BeritaTomohonTerkini #Rolling Pejabat