MANADOPOST.ID - Universitas Negeri Manado (Unima) kembali menghadirkan terobosan baru dalam mendorong keterlibatan aktif mahasiswa di lingkungan kampus.
Melalui Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Matematika, Ilmu Pengetahuan Alam dan Kebumian (FMIPAK), sebuah platform aspirasi resmi diluncurkan dengan nama SAPA FMIPAK.
Program yang merupakan singkatan dari Sistem Aspirasi, Pengaduan & Advokasi Mahasiswa FMIPAK ini diinisiasi Departemen Advokasi dan Hubungan Masyarakat BEM FMIPAK bersama Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPM) FMIPAK.
Kehadirannya menjadi wadah strategis bagi mahasiswa untuk menyampaikan aspirasi, kritik, hingga laporan secara lebih terarah dan aman.
Ketua BEM FMIPAK Unima, Yosia Lonteng, menegaskan komitmen pihaknya dalam menindaklanjuti setiap laporan yang masuk.
“Tentunya untuk setiap pengaduan yang masuk pada kami pasti akan ditindak lanjuti,” ujarnya.
Ia menjelaskan, setiap aspirasi yang diterima akan melalui proses klasifikasi agar penanganannya lebih efektif.
“Semua aspirasi, pengaduan, maupun kritik yang masuk akan kami klasifikasikan dulu berdasarkan jenisnya, supaya penanganannya lebih fokus dan tepat sasaran,” jelasnya.
Tidak hanya itu, laporan juga akan melalui tahap verifikasi dan analisis awal oleh Departemen Advokasi sebelum diproses lebih lanjut.
“Setiap laporan tidak langsung semerta ditindak, tapi dipastikan dulu kebenaran dan urgensinya berdasarkan kajian fakta dan data,” tambah Yosia.
Setelah tahap tersebut, BEM FMIPAK akan berkoordinasi dengan pihak terkait, mulai dari program studi hingga tingkat fakultas.
Yosia menegaskan peran BEM sebagai penghubung antara mahasiswa dan pimpinan kampus agar setiap aspirasi benar-benar mendapatkan respons konkret.
“Kami berperan sebagai jembatan untuk mengawal agar aspirasi mahasiswa benar-benar diterima dan mendapat respon,” katanya.
Transparansi juga menjadi prinsip utama dalam pengelolaan SAPA FMIPAK. Mahasiswa dapat memantau perkembangan laporan yang mereka sampaikan.
“Kami akan menjaga transparansi setiap proses, mulai dari masuknya laporan sampai tindak lanjutnya, agar mahasiswa tahu bahwa suaranya tidak diabaikan,” tegasnya.
Selain itu, aspek keamanan pelapor turut menjadi prioritas. SAPA FMIPAK menyediakan opsi pelaporan anonim serta menjamin kerahasiaan identitas pengguna.
“Saat ditindaklanjuti, yang kami sampaikan adalah isu, bukan siapa pelapornya. Intinya, SAPA FMIPAK kami pastikan jadi ruang yang aman,” ungkapnya.
Dengan kehadiran platform ini, BEM FMIPAK berharap tercipta ruang komunikasi yang lebih hidup dan solutif di lingkungan kampus.
“Saya ingin SAPA FMIPAK ini jadi tempat suara mahasiswa didengar, diperjuangkan, dan ditindaklanjuti secara nyata,” tutup Yosia. (tkg)
Editor : Kenjiro Tanos