MANADOPOST.ID - Ketika kebanyakan mahasiswa kedokteran masih beradaptasi dengan padatnya materi kuliah di semester awal, seorang mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi (Unsrat) Manado justru menemukan titik balik hidupnya dari layar televisi.
Serial medis House M.D. yang ia tonton tanpa ekspektasi khusus, perlahan berubah menjadi pintu masuk menuju dunia riset ilmiah yang jauh lebih kompleks dari sekadar hiburan.
Adalah Derren David Christian Homenta Rampengan, mahasiswa kedokteran kelahiran Manado, 7 Desember 2003, yang kini namanya tercatat dalam rekor Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) sebagai mahasiswa koas dengan publikasi internasional terbanyak di Indonesia.
Total 58 publikasi ilmiah terindeks Scopus berhasil ia torehkan di usia 22 tahun, sebuah capaian yang jarang ditemui bahkan di kalangan akademisi muda.
Semua itu berawal dari kebiasaan sederhana saat memasuki semester pertama kuliah.
Setelah menonton House M.D., rasa penasaran Derren tidak berhenti pada alur cerita.
Ia justru mulai mencari jurnal medis, membaca artikel ilmiah, dan menelusuri berbagai penelitian yang berkaitan dengan kasus-kasus yang muncul dalam serial tersebut.
Dari sana, kebiasaan membaca berkembang menjadi rutinitas yang membentuk arah baru dalam perjalanan akademiknya.
“Setiap episode yang saya tonton membuat saya ingin tahu lebih banyak. Dari situ saya mulai membaca jurnal dan sadar bahwa masih banyak pertanyaan di dunia kedokteran yang perlu dijawab lewat penelitian,” ujarnya.
Seiring waktu, rasa ingin tahu itu berubah menjadi keterlibatan aktif dalam berbagai proyek riset.
Derren mulai mengikuti pelatihan, berdiskusi dengan senior, hingga belajar menyusun artikel ilmiah dari dasar. Proses tersebut menjadi fondasi yang mengantarkannya pada berbagai kolaborasi penelitian berskala nasional hingga internasional.
Namun perjalanan itu tidak selalu mulus. Dunia penelitian menuntut kesabaran yang panjang, mulai dari proses pengumpulan data, penulisan naskah, hingga review ketat dari jurnal ilmiah.
Banyak penelitian yang memakan waktu berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun sebelum akhirnya bisa dipublikasikan.
Sebagian besar dari 58 publikasi yang ia miliki bahkan sudah dimulai sejak masa preklinik.
Ketika memasuki tahap koas yang dikenal sangat padat dengan aktivitas klinis di rumah sakit, banyak penelitian yang tetap berjalan di tengah keterbatasan waktu.
“Masa koas memang sangat menantang karena tanggung jawab klinik cukup besar. Tapi saya bersyukur karena ada teman-teman yang saling membantu, jadi penelitian tetap bisa berjalan,” katanya.
Salah satu pengalaman yang paling berkesan baginya adalah keterlibatan dalam studi internasional mengenai keraguan masyarakat terhadap vaksin COVID-19. Penelitian besar yang melibatkan lebih dari 102 ribu responden dari 186 negara itu kemudian dipublikasikan di jurnal Vaccine, salah satu jurnal bergengsi di bidang kesehatan global.
Dari penelitian tersebut, berbagai faktor yang memengaruhi keraguan vaksin berhasil diidentifikasi dan menjadi rujukan penting dalam strategi edukasi kesehatan di berbagai negara.
Bagi Derren, pengalaman itu menjadi bukti bahwa riset tidak mengenal batas geografis.
Ia menilai bahwa sebuah gagasan sederhana yang lahir dari ruang diskusi kecil dapat berdampak luas ketika dikembangkan melalui kolaborasi global. Perspektif itu membuatnya semakin yakin untuk terus melanjutkan jalur akademik berbasis riset.
Di balik pencapaiannya, Derren mengaku tidak berjalan sendiri. Dukungan keluarga, mentor, dosen pembimbing, hingga rekan sejawat menjadi bagian penting dalam perjalanannya. Namun ada satu sosok yang paling menginspirasi dirinya, yakni sang kakek.
Kakeknya yang telah berusia 83 tahun masih rutin membaca jurnal kedokteran setiap pekan. Kebiasaan itu meninggalkan kesan mendalam dan menjadi pengingat bahwa proses belajar tidak pernah berhenti oleh usia.
“Semangat beliau menjadi pengingat bahwa usia bukan alasan untuk berhenti berkembang,” tuturnya.
Meski telah meraih puluhan publikasi internasional dan penghargaan MURI, Derren tidak menempatkan pencapaian tersebut sebagai akhir perjalanan. Ia justru melihatnya sebagai awal dari tanggung jawab yang lebih besar dalam dunia kedokteran.
Baginya, penelitian harus memiliki dampak nyata bagi masyarakat, bukan hanya berhenti di publikasi ilmiah. Ia bercita-cita menjadi dokter yang mampu menggabungkan praktik klinis dan riset untuk meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan.
Kepada mahasiswa lain, ia menekankan bahwa kemampuan meneliti bukanlah bakat bawaan, melainkan keterampilan yang bisa dipelajari melalui konsistensi. Penolakan jurnal, revisi berulang, hingga kegagalan merupakan bagian dari proses yang harus dilalui.
Jika diringkas dalam satu prinsip hidup, Derren memilih ungkapan Latin Ora et labora—berdoa dan bekerja—sebagai pegangan yang menuntunnya dari seorang mahasiswa baru yang penasaran terhadap dunia medis di layar kaca, hingga menjadi pemegang rekor MURI di dunia akademik kedokteran Indonesia. (tkg)
Editor : Kenjiro Tanos