Dari Ruang Kuliah ke Panggung Kota, Kisah Noel Weenas Menjadi Nyong Manado 2026

Kenjiro Tanos • Dipublikasikan Rabu, 29 Juli 2026 | 20:34 WIB
Nyong Manado 2026 Noel Weenas
Nyong Manado 2026 Noel Weenas
 
 
MANADOPOST.ID – Selempang Nyong Manado 2026 akhirnya resmi disandang Andi Harunsyah Peter Noel Weenas.
 
Namun, bagi pemuda berusia 21 tahun itu, kemenangan tersebut bukanlah akhir dari sebuah kompetisi, melainkan titik awal untuk mengabdi kepada Kota Manado melalui pendidikan, pengembangan generasi muda, dan promosi daerah.
 
Lulusan Fakultas Hukum Universitas Atma Jaya Yogyakarta itu mengaku keputusannya mengikuti ajang Pemilihan Nyong Nona Manado 2026 lahir dari kerinduan untuk kembali mengenal kota yang telah membesarkannya.
 
Hampir empat tahun merantau menempuh pendidikan membuatnya merasa perlu membangun kembali kedekatan dengan identitas sebagai anak Manado.
 
“Saya mulai bertanya pada diri sendiri, seberapa dalam saya benar-benar mengenal Manado hari ini. Karena itu saya mengikuti ajang ini sebagai ruang untuk mengambil kembali identitas saya sebagai anak Manado,” ujarnya.
 
Noel mengatakan, selama menjalani pendidikan di luar daerah, ia menyadari bahwa rasa memiliki terhadap sebuah kota tidak cukup hanya karena lahir di tempat tersebut. Menurutnya, kecintaan harus dibangun melalui pemahaman terhadap sejarah, budaya, masyarakat, hingga berbagai tantangan yang sedang dihadapi daerah.
 
Pemuda yang merupakan anak sulung dari empat bersaudara itu lahir dari pasangan Christiano Yorikho Ardiansyah Andi Baso Weenas SH dan Merry Ilona Prisilia Emod.
 
Setelah menyelesaikan studi hukum, ia kini ingin mengabdikan pengetahuan dan pengalamannya untuk memberikan kontribusi nyata bagi Kota Manado.
 
Baginya, gelar Nyong Manado memiliki makna yang jauh lebih besar dibanding sekadar simbol prestasi.
 
Ia memandang kemenangan tersebut sebagai bukti bahwa keterbatasan dan tantangan hidup tidak seharusnya menjadi penghalang untuk berkembang.
 
“Bukan tentang selempang atau pengakuan, tetapi pembuktian bahwa keadaan hidup tidak harus menentukan batas kemampuan kita. Selama kita terus belajar dan tidak menyerah, selalu ada kesempatan untuk bertumbuh dan memberi manfaat bagi orang lain,” ungkapnya kepada Manado Post.
 
Menuju malam grand final, Noel menjalani berbagai persiapan secara menyeluruh. Ia tidak hanya memperkuat kemampuan berbicara di depan publik, tetapi juga memperdalam berbagai isu strategis yang berkaitan dengan Kota Manado, mulai dari sektor pariwisata, budaya, pemerintahan, ekonomi hingga persoalan sosial.
 
Menurutnya, seorang Nyong Manado harus mampu menyampaikan gagasan yang berbasis data serta memahami kondisi daerah yang diwakilinya.
 
Karena itu, ia membiasakan diri berlatih public speaking di depan kamera maupun audiens, sekaligus terus menerima berbagai masukan agar kemampuan komunikasinya semakin matang.
 
Selain aspek intelektual, Noel menilai pembentukan karakter menjadi bagian terpenting selama proses persiapan. Disiplin, konsistensi, integritas, dan kerendahan hati menjadi nilai yang terus ia tanamkan.
 
“Grand final bukan garis akhir. Justru itu awal dari tanggung jawab yang lebih besar sebagai representasi pemuda Kota Manado,” tuturnya.
 
Di balik keberhasilannya, Noel mengaku tantangan terberat bukan berasal dari persaingan antarpeserta, melainkan dari dirinya sendiri.
 
Rasa takut gagal, overthinking, hingga keinginan tampil sempurna menjadi ujian yang harus ia hadapi sepanjang proses seleksi.
 
Ia memilih mengatasi hal tersebut dengan memperkuat disiplin dalam setiap tahapan.
 
Fokus pada hal-hal yang dapat dikendalikan, menjaga kesehatan fisik dan mental, serta melakukan evaluasi diri secara konsisten menjadi prinsip yang membantunya melewati seluruh proses.
 
“Bagi saya, keberhasilan bukan tentang menjadi lebih baik dari orang lain, tetapi menjadi lebih baik dari diri saya yang kemarin,” ungkap Noel.
 
Momen ketika namanya diumumkan sebagai Nyong Manado 2026 menjadi pengalaman yang sulit dilupakan.
 
Hal pertama yang terlintas dalam pikirannya adalah rasa syukur atas penyertaan Tuhan selama perjalanan hidupnya. Ia juga menyampaikan terima kasih kepada keluarga yang selalu memberikan dukungan penuh sejak awal mengikuti kompetisi.
 
Kini, setelah resmi menyandang gelar Nyong Manado, Noel ingin memusatkan perhatian pada bidang pendidikan. Menurutnya, peningkatan kualitas sumber daya manusia merupakan fondasi utama pembangunan kota, termasuk dalam mendukung kemajuan sektor pariwisata.
 
Ia meyakini investasi pada pendidikan akan menciptakan efek berantai terhadap berbagai sektor lainnya karena masyarakat yang berkualitas akan mampu melahirkan inovasi, pelayanan yang lebih baik, serta daya saing daerah yang semakin kuat.
 
“Semakin baik kualitas manusia dalam satu kota, dampaknya akan memberikan efek domino yang mengakar pada sektor-sektor lainnya,” katanya.
 
Kepada generasi muda Manado, Noel berpesan agar tidak sibuk membandingkan perjalanan hidup dengan orang lain. Ia mengajak anak-anak muda untuk berani menjadi diri sendiri, terus belajar, menjaga nilai-nilai positif, dan tidak kehilangan jati diri hanya demi mengikuti tren.
 
“Kompetisi terbesar bukan melawan orang lain, tetapi melawan diri kita yang kemarin. Ketika kita mampu menjadi pribadi yang lebih baik setiap hari, saya percaya kita sudah berada di jalur yang tepat untuk memberi dampak bagi diri sendiri maupun Kota Manado,” pungkasnya. (tkg)
 
 
Editor : Kenjiro Tanos
Nyong Manado 2026 Noel Weenas Pemilihan Nyong Nona Manado 2026 pageant