MANADOPOST.ID— Belajar bahasa Inggris tidak harus dengan cara kaku dan jauh dari keseharian. Itu yang dibuktikan Tim Dosen Jurusan Sastra Inggris Universitas Sam Ratulangi melalui program pengabdian masyarakat di TK Melania Langowan pada 11–12 Agustus 2026.
Mengusung tema "Pelatihan Bahasa Inggris Komunikatif Bernuansa Lokal Minahasa untuk Anak-Anak TK Melania Langowan" kegiatan ini digagas Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat atau LPPM Unsrat Manado.
Tujuannya sederhana namun penting: memperkenalkan bahasa Inggris sejak usia dini dengan cara yang dekat dengan anak. Para pemateri tidak menggunakan buku teks umum, melainkan mengaitkan kosa kata sederhana dengan benda, makanan, dan budaya Minahasa yang sudah akrab di telinga anak-anak.
“Anak-anak lebih cepat menangkap ketika kata ‘cat’ kita kaitkan dengan ‘kucing’, atau ‘apple’ dengan buah-buahan yang ada di sekitar mereka. Dengan pendekatan berbasis budaya lokal, pembelajaran jadi lebih hidup dan kontekstual,” ujar Ketua Tim Pengabdian, Stephani Johana Sigarlaki, S.S., M.Hum., yang juga menjabat sebagai Ketua Jurusan Sastra Inggris Unsrat.
Dalam pelatihan dua hari itu, tim dosen didampingi Evi Irawanti Br. Saragih, S.S., M.A., serta empat orang mahasiswa Sastra Inggris Unsrat. Mereka mengajak anak-anak TK bernyanyi, bermain peran, dan menyebut benda-benda di sekitar dengan bahasa Inggris. Suasana kelas pun berubah menjadi riuh, ceria, dan penuh tawa.
Antusiasme terlihat jelas. Para guru mendampingi dengan semangat, anak-anak berlomba-lomba menjawab, sementara orang tua murid yang ikut menyaksikan juga merasa bangga.
Respon positif datang dari seluruh pihak. Guru, murid, hingga orang tua murid mengaku senang dan sangat mendukung kegiatan ini dari awal hingga akhir. Mereka berharap program serupa bisa terus berlanjut agar anak-anak di Langowan punya bekal bahasa sejak dini tanpa kehilangan jati diri budaya lokal.
"Melalui program kemitraan masyarakat ini, LPPM Unsrat berharap dapat menjadi jembatan antara kampus dan masyarakat. Bahasa Inggris dipelajari, budaya Minahasa tetap dijaga, dan anak-anak tumbuh dengan wawasan yang lebih luas. (mpd)
Editor : Filip Kapantow