MANADOPOST.ID – Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Sam Ratulangi (Unsrat) kembali membuktikan komitmennya dalam mengimplementasikan Tridharma Perguruan Tinggi melalui Program Kemitraan kepada Masyarakat (PKM).
Pada hari Jumat, 28 Agustus 2026, tim dosen dari FIB Unsrat menyelenggarakan sebuah kegiatan pengabdian yang inovatif dan menyentuh aspek kemanusiaan di Sentra Pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus Amadeus Manado.
Kegiatan ini mengusung tema penuh "Sosialisasi Sastra sebagai Terapi di Sentra Pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus Amadeus Manado", sebuah langkah progresif untuk memperkenalkan pendekatan alternatif dalam mendukung perkembangan psikologis anak-anak istimewa tersebut.
Tim pelaksana PKM dari FIB Unsrat ini dikoordinasikan Alwin Firdaus, D. Tito Wardani, dan Wins Senor yang dibantu juga Roger A. Kembuan dan Stefanie Humena.
Kehadiran tim akademisi ini disambut dengan antusiasme tinggi oleh para tenaga pendidik, terapis, dan pimpinan di Sentra Amadeus.
Kegiatan ini menjadi jembatan penting yang menghubungkan dunia akademis sastra dengan kebutuhan praktis pendidikan inklusif di lapangan.
Sastra, yang selama ini mungkin lebih banyak dikaji di dalam ruang kelas sebagai karya seni atau literatur, kini dibawa langsung ke tengah masyarakat sebagai instrumen terapeutik yang nyata dan berdaya guna.
Acara inti dalam kegiatan sosialisasi ini dipandu oleh dua pemateri utama yang membawakan pendekatan interdisipliner, memadukan kekayaan makna sastra dengan ilmu psikologi klinis.
Tampil sebagai pemateri pertama adalah Alwin Firdaus. Mewakili tim dosen FIB Unsrat, Alwin memaparkan secara komprehensif mengenai peran fundamental puisi dalam membantu regulasi emosi sebagai bentuk terapi.
Dalam presentasinya, ia menyoroti bagaimana unsur intrinsik puisi—seperti rima, ritme, repetisi, dan metafora—mampu menjadi medium berekspresi yang sangat aman.
"Puisi menawarkan kebebasan ruang tanpa adanya penghakiman. Bagi anak berkebutuhan khusus, yang kerap kali mengalami hambatan dalam mengartikulasikan emosi dan kecemasan mereka melalui bahasa komunikasi sehari-hari, puisi bertindak sebagai saluran katarsis. Melalui pendekatan puisi, mereka dibantu untuk mengenali, menyalurkan, dan menstabilkan gejolak emosi mereka dengan cara yang indah sekaligus terstruktur," urai Alwin memukau para peserta yang hadir.
Untuk melengkapi perspektif sastra dengan pendekatan klinis, sesi kedua diisi oleh seorang psikolog anak profesional, Alida Shally Maulinda.
Kehadiran Alida memberikan bobot keilmuan psikologi terkait metode dan praktik terapi puisi (poetry therapy) secara spesifik bagi anak dengan kebutuhan khusus.
Ia menjelaskan bahwa tujuan utama terapi puisi pada konteks ini bukanlah untuk mencetak anak menjadi seorang penyair ahli, melainkan memanfaatkan proses apresiasi dan penciptaan puisi sebagai intervensi terapeutik harian.
Alida membagikan metode praktis tentang cara menggunakan puisi untuk merangsang respons kognitif dan sensorik anak.
"Kita bisa menggunakan intonasi suara yang dinamis saat membacakan bait-bait puisi untuk menarik atensi anak. Terapi ini memungkinkan kita masuk ke dunia mereka. Melalui proses mendengarkan dan merespons lirik puisi yang sederhana, anak-anak diajak untuk melatih fokus, mengembangkan imajinasi spasial, serta secara perlahan meningkatkan kemampuan interaksi sosial dan komunikasi verbal mereka di lingkungan sekitar," papar Alida secara rinci.
Kegiatan PKM ini tidak sekadar berjalan satu arah. Sosialisasi diwarnai dengan sesi diskusi interaktif, tanya jawab, dan simulasi singkat yang memandu para pendidik di Sentra Amadeus mempraktikkan teknik dasar terapi puisi tersebut.
Selama sesi berlangsung, Roger A. Kembuan dan Wins Senor turut berperan aktif memandu jalannya diskusi, memastikan setiap pertanyaan dari para guru dan terapis terjawab dengan baik.
Kolaborasi tim ini menciptakan suasana yang hangat, edukatif, dan sangat partisipatif.
Para staf pengajar di Sentra Amadeus mengaku mendapatkan wawasan dan perbekalan metodologi baru yang sangat relevan untuk diaplikasikan ke dalam rutinitas terapi harian anak-anak didik mereka.
Sebagai penutup, kegiatan Program Kemitraan kepada Masyarakat ini diharapkan mampu membawa dampak jangka panjang yang signifikan.
Tim PKM FIB Unsrat berharap agar metode sastra sebagai terapi tidak hanya berakhir pada tahap sosialisasi hari ini, namun dapat diimplementasikan secara berkesinambungan menjadi bagian integral dari kurikulum pendampingan di Sentra Amadeus Manado.
Sinergi lintas disiplin antara akademisi sastra dari Universitas Sam Ratulangi dan praktisi psikologi klinis ini membuktikan bahwa ilmu humaniora memiliki peran nyata dalam membangun masyarakat inklusif, sekaligus membuka jalan baru bagi peningkatkan kualitas hidup serta kemandirian emosional anak-anak berkebutuhan khusus di Sulawesi Utara. (mpd)
Editor : Filip Kapantow