Mahasiswa Unsrat Hadirkan SMOKOL, Inovasi Edukasi Gizi untuk Lawan Masalah Gizi Anak di Bitung

Kenjiro Tanos • Dipublikasikan Selasa, 1 September 2026 | 17:29 WIB
Mahasiswa Unsrat menghadirkan SMOKOL, majalah multisensori berbasis budaya Manado untuk meningkatkan literasi gizi siswa SD di Bitung.
Mahasiswa Unsrat menghadirkan SMOKOL, majalah multisensori berbasis budaya Manado untuk meningkatkan literasi gizi siswa SD di Bitung.

 

MANADOPOST.ID - Persoalan gizi anak tak selalu datang dalam bentuk kekurangan makanan. Di satu sisi masih ditemukan anak dengan kondisi kurus dan sangat kurus, sementara di sisi lain kasus kegemukan hingga obesitas juga muncul.

Kondisi ini mendorong mahasiswa Universitas Sam Ratulangi (Unsrat) menghadirkan pendekatan edukasi yang lebih dekat dengan keseharian anak melalui majalah interaktif multisensori bernama SMOKOL.

Program tersebut menyasar siswa SD Katolik 4 Don Bosco Bitung, Sulawesi Utara. SMOKOL dirancang bukan sekadar sebagai majalah cetak, melainkan media pembelajaran yang menggabungkan visual, cerita, suara dan unsur budaya lokal untuk membuat materi gizi lebih mudah diterima siswa sekolah dasar.

Nama SMOKOL sendiri diambil dari istilah lokal yang merujuk pada tradisi sarapan. Pendekatan tersebut kemudian dipadukan dengan narasi berlogat Manado serta pengenalan makanan lokal, sehingga edukasi mengenai pola makan sehat tidak terasa jauh dari kehidupan anak-anak.

Ketua Tim SMOKOL Deon Nathanael Pasau, mengatakan inovasi tersebut berangkat dari keyakinan bahwa edukasi mengenai gizi perlu diberikan dengan cara yang sesuai dengan karakter anak masa kini.

“Kami percaya, setiap anak berhak tumbuh sehat. Melalui SMOKOL, kami ingin menjadikan pengetahuan gizi sebagai langkah awal menuju generasi yang lebih sehat dan berkualitas,” kata Deon.

Kebutuhan terhadap edukasi tersebut terlihat dari kondisi siswa di sekolah mitra. Berdasarkan survei terhadap 80 siswa, hanya 38,8 persen yang berada dalam kategori status gizi normal. Sementara 42,6 persen mengalami kekurangan gizi, yang mencakup kategori sangat kurus dan kurus.

Pada saat yang sama, sebanyak 18,8 persen siswa justru masuk dalam kategori gizi lebih, yakni gemuk dan obesitas. Data itu menunjukkan adanya beban ganda gizi, ketika masalah kekurangan gizi dan kelebihan gizi hadir secara bersamaan dalam lingkungan sekolah yang sama.

Persoalan tidak berhenti pada status gizi. Pola konsumsi harian siswa juga menjadi perhatian. Sejumlah siswa masih terbiasa melewatkan sarapan, mengonsumsi jajanan dengan kandungan gula tinggi dan nilai gizi rendah, hingga membawa bekal berupa makanan olahan cepat saji yang minim sayuran.

Pemahaman tentang pola makan seimbang pun masih rendah. Sebanyak 85 persen siswa yang menjadi sasaran program diketahui belum memahami konsep Isi Piringku, panduan komposisi makanan yang menjadi salah satu dasar edukasi gizi.

Situasi tersebut diperkuat dengan keterbatasan fasilitas pendukung kesehatan di sekolah. Unit Kesehatan Sekolah (UKS) belum memiliki alat ukur tinggi dan berat badan dengan standar yang memadai.

Di sisi lain, edukasi kesehatan yang sebelumnya diberikan masih cenderung menggunakan metode konvensional sehingga kurang menarik bagi siswa.

Tim mahasiswa kemudian mencoba mengubah pola tersebut melalui SMOKOL. Setiap halaman majalah dilengkapi barcode yang dapat dipindai menggunakan perangkat digital untuk mengakses narasi suara atau voice over. Suara tersebut menggunakan logat Manado agar penyampaian materi terasa lebih akrab bagi siswa.

Konsep multisensori menjadi salah satu kekuatan utama media ini. Siswa tidak hanya membaca informasi dan melihat ilustrasi, tetapi juga dapat mendengarkan penjelasan melalui audio. Cara tersebut diharapkan membantu anak memahami sekaligus mengingat pesan kesehatan yang disampaikan.

Materi dalam SMOKOL juga tidak menggunakan contoh makanan yang sulit ditemui. Tim memasukkan sejumlah pangan lokal yang dekat dengan kehidupan masyarakat Sulawesi Utara, seperti ikan cakalang, tinutuan atau bubur Manado, sayur gedi dan ubi jalar.

Melalui visualisasi konsep Isi Piringku, makanan lokal tersebut diperkenalkan sebagai bagian dari pilihan menu yang dapat memenuhi kebutuhan gizi seimbang. Pendekatan ini sekaligus menjadi cara untuk mengenalkan kembali pangan lokal kepada anak dalam konteks kesehatan.

Cerita bergambar mengenai tradisi sarapan atau smokol juga menjadi bagian dari majalah. Anak-anak diajak memahami pentingnya sarapan sebelum beraktivitas serta belajar mengurangi kebiasaan membeli jajanan secara sembarangan.

Tak berhenti pada pemberian informasi, SMOKOL turut menyediakan jurnal interaktif bertajuk “Pahlawan Gizi”. Siswa dapat mencatat pola makan mereka setiap hari, kemudian memperoleh pesan motivasi berbasis audio untuk mendorong terbentuknya kebiasaan hidup sehat secara bertahap.

Program ini dilaksanakan melalui pendampingan intensif selama empat bulan dengan melibatkan 15 siswa kelas 5 sebagai sasaran utama. Perkembangan program dievaluasi melalui pengukuran antropometri serta perbandingan tingkat pengetahuan siswa sebelum dan sesudah mendapatkan edukasi melalui metode pre-test dan post-test.

Pendekatan tersebut membuat keberhasilan program tidak hanya dinilai dari antusiasme siswa, tetapi juga melalui perubahan yang dapat diukur. Tim ingin memastikan media yang dibuat benar-benar membantu meningkatkan pemahaman anak mengenai gizi dan pola hidup sehat.

Bagi sekolah, program tersebut juga diarahkan agar tidak berhenti ketika masa pendampingan mahasiswa berakhir. Hak kelola media SMOKOL diserahkan kepada UKS dan perpustakaan sekolah sehingga dapat dimanfaatkan kembali sebagai aset pembelajaran gizi dalam jangka panjang.

Deon menilai pendekatan berbasis budaya menjadi bagian penting dari inovasi tersebut. Anak-anak tidak hanya diberi tahu apa yang harus dimakan, tetapi diperkenalkan pada pilihan makanan sehat yang sebenarnya sudah tersedia di lingkungan mereka.

“Melalui pendekatan kearifan lokal seperti menu Minahasa dan budaya Smokol, anak-anak diajak mencintai makanan sehat yang ada di sekitar rumah mereka,” ujarnya.

Kehadiran SMOKOL memperlihatkan bahwa edukasi gizi di sekolah dapat dikembangkan dengan memanfaatkan teknologi sederhana tanpa harus meninggalkan identitas budaya lokal. Perpaduan majalah, audio, ilustrasi, storytelling dan pangan lokal menjadi upaya mahasiswa Unsrat menjadikan pesan kesehatan lebih dekat dengan dunia anak.

Di tengah persoalan beban ganda gizi yang masih ditemukan pada usia sekolah, pendekatan semacam ini menjadi penting.

Sebab, membangun kebiasaan makan sehat sejak dini bukan hanya berkaitan dengan kondisi kesehatan anak hari ini, tetapi juga menjadi investasi bagi kualitas generasi pada masa mendatang. (tkg)

Tim Pengembang SMOKOL:

Deon Nathanael Pasau — Ilmu Kesehatan Masyarakat

Kinetar Rose Cornelia Soelaiman — Kedokteran Umum

Nathalie Aurelia Tanuli — Kedokteran Umum

Angelic Mailangkay — Sistem Informasi

Pascalita Marcela Sinedu — Sistem Informasi

Dosen Pembimbing:
Selly Ruth Defianna Br Sidabalok, S.Kep., Ns., MPH

 

Editor : Kenjiro Tanos
SMOKOL Unsrat edukasi gizi anak mahasiswa Unsrat gizi siswa SD SD Katolik 4 Don Bosco Bitung