SILAKITA Buka Ruang Mahasiswa Lawan Ketidaktahuan

Kenjiro Tanos • Dipublikasikan Rabu, 16 September 2026 | 23:14 WIB
SILAKITA hadir sebagai ruang mahasiswa mengasah nalar, menguji informasi, membahas isu dan mengubah gagasan menjadi karya yang berdampak.
SILAKITA hadir sebagai ruang mahasiswa mengasah nalar, menguji informasi, membahas isu dan mengubah gagasan menjadi karya yang berdampak.

MANADOPOST.ID — Pertanyaan “Siapakah Lawan Kita?” kini diarahkan bukan untuk mencari siapa yang harus dihadapi, melainkan apa yang perlu dilawan.

Dari gagasan itu, SILAKITA hadir sebagai ruang belajar mahasiswa untuk menguji informasi, mempertajam nalar dan mengubah pemikiran menjadi karya.

Founder SILAKITA Kelvin Dayo mengatakan, “Lawan” dalam komunitas tersebut bukan merujuk pada individu atau kelompok tertentu.

Ketidaktahuan, apatisme, informasi menyesatkan serta kebiasaan menerima sesuatu tanpa bertanya justru menjadi persoalan yang ingin dihadapi bersama.

“Bagi kami, lawan bukanlah orang lain. Lawan kita bisa berupa ketidaktahuan, apatisme dan kebiasaan menerima sesuatu tanpa bertanya,” kata Kelvin.

Gagasan itu dirangkum dalam tagline “Kenali persoalan, lawan ketidaktahuan.” SILAKITA mendorong mahasiswa tidak berhenti pada forum diskusi. Setiap gagasan dapat dikembangkan menjadi tulisan, kajian, video, karya visual hingga materi publikasi.

Kehadiran komunitas tersebut juga berangkat dari perhatian terhadap ruang partisipasi pemuda.

Dalam dokumen SILAKITA yang mencantumkan data Indeks Pembangunan Pemuda Indonesia 2024, disebutkan 71,44 persen pemuda mengikuti kegiatan sosial kemasyarakatan. Namun, partisipasi dalam organisasi tercatat 5,44 persen, sedangkan mereka yang memberikan saran atau pendapat dalam rapat sebesar 6,09 persen.

Kondisi itu menjadi salah satu pijakan SILAKITA untuk menawarkan pola partisipasi yang berbeda.

Mahasiswa diajak tidak sekadar hadir atau menyampaikan pendapat, tetapi membaca persoalan, memeriksa informasi, mempertimbangkan berbagai perspektif dan menghasilkan karya.

Komunitas ini terbuka bagi mahasiswa lintas program studi dan latar belakang. Rasa ingin tahu, keterbukaan serta kemauan belajar menjadi nilai yang ditekankan dalam prosesnya.

Di dalam SILAKITA, Ruang Nalar digunakan untuk membedah isu dan mempertemukan beragam perspektif.

Hasil diskusi kemudian dapat masuk ke Laboratorium Gagasan untuk dikembangkan menjadi tulisan, kajian, video maupun karya visual.

Pembahasan isu aktual dikemas melalui SILAKITA KRITIS, dengan cakupan pendidikan, demokrasi, sosial-politik, lingkungan dan ekonomi.

Sementara SILAKITA CERITA mengambil tema yang lebih dekat dengan kehidupan mahasiswa, seperti keluarga, pertemanan, percintaan, kesepian hingga pencarian jati diri.

Gagasan yang dinilai telah matang selanjutnya melewati Writers Room sebelum diproduksi melalui Media Room.

SILAKITA menargetkan dua hingga tiga publikasi setiap pekan sebagai bagian dari upaya membawa gagasan mahasiswa ke ruang publik.

Kelvin menegaskan komunitas tersebut juga menerapkan prinsip “tidak ada senioritas intelektual”.

Kritik diarahkan kepada gagasan, bukan pribadi, sehingga setiap anggota memiliki ruang untuk menyampaikan pandangan sekaligus menguji kembali pemikirannya.

Bagi SILAKITA, proses itu menjadi bagian penting agar suara mahasiswa tidak berhenti sebagai opini.

Pertanyaan “Siapakah Lawan Kita?” akhirnya menjadi pintu masuk untuk mengenali persoalan, memeriksa informasi dan mengolah gagasan hingga menghasilkan karya yang meninggalkan jejak. (tkg)

Editor : Kenjiro Tanos
Kelvin Dayo SILAKITA mahasiswa berpikir kritis mahasiswa komunitas mahasiswa pendidikan mahasiswa