Don Bosco Manado Perkuat Kualitas Guru dan Siswa Lewat Seminar “Mengajar dengan Hati”

Tommy Waworundeng • Dipublikasikan Sabtu, 10 Oktober 2026 | 22:32 WIB
Foto bersama usai seminar “Mengajar dengan Hati” dan Testimoni Alumni yang digelar di SMA Frater Don Bosco Manado, Rabu (7/10/2026).
Foto: Fabian
Foto bersama usai seminar “Mengajar dengan Hati” dan Testimoni Alumni yang digelar di SMA Frater Don Bosco Manado, Rabu (7/10/2026). Foto: Fabian

 

MANADOPOST.ID– Persekolahan Frater Don Bosco Manado terus berupaya meningkatkan kualitas tenaga pendidik dan peserta didik melalui penguatan nilai-nilai pendidikan, ketulusan dalam mengajar, serta pembentukan karakter yang bermakna bagi kehidupan. 

Komitmen tersebut diwujudkan melalui seminar “Mengajar dengan Hati” dan Testimoni Alumni yang digelar di SMA Frater Don Bosco Manado, Rabu (7/10/2026).

Kegiatan yang bekerja sama dengan Badan Komunikasi Alumni Don Bosco-Manado di Jakarta ini diikuti para guru dan siswa kelas XII SMA Frater Don Bosco Manado.

Foto bersama usai seminar “Mengajar dengan Hati” dan Testimoni Alumni yang digelar di SMA Frater Don Bosco Manado, Rabu (7/10/2026).
Foto: Fabian
Foto bersama usai seminar “Mengajar dengan Hati” dan Testimoni Alumni yang digelar di SMA Frater Don Bosco Manado, Rabu (7/10/2026). Foto: Fabian

 

Ketua Yayasan Don Bosco Manado, Frater Yonas Paso, secara resmi membuka kegiatan tersebut. Turut mendampingi, Kepala SMA Don Bosco Frater Norbertus Banusu dan Kepala SMP Don Bosco Frater Julius Sole.

Seminar ini menghadirkan Constantinus El sebagai pembicara. Dengan pengalaman sekitar 30 tahun di bidang pendidikan, Constantinus menekankan pentingnya ketulusan hati dalam menjalankan proses belajar mengajar.

Menurutnya, mengajar tidak seharusnya dipandang semata-mata sebagai profesi, tetapi juga sebagai panggilan pribadi yang dijalankan dengan hati, dedikasi, dan tanggung jawab terhadap masa depan anak didik.

Dengan landasan tersebut, berbagai kesulitan dan tantangan dalam dunia pendidikan dapat disikapi secara lebih bijaksana. Keberhasilan seorang guru, lanjutnya, tidak hanya diukur dari penguasaan teknik mengajar, tetapi juga dari sejauh mana proses pendidikan memberikan makna dan manfaat bagi siswa.

Constantinus juga membagikan buku tulisannya berjudul “Mengajar dengan Hati” kepada para peserta. Buku tersebut diterbitkan dengan dukungan sponsorship dari sejumlah alumni Don Bosco.

Siswa Tidak Cukup Hanya Lulus, tetapi Harus Siap Menghadapi Kehidupan
Semangat pendidikan yang menekankan makna dan manfaat kehidupan tersebut kemudian diperkuat melalui testimoni Fabian B. Pascoal, Koordinator Badan Komunikasi Alumni Don Bosco-Manado di Jakarta.

Dalam pemaparannya, Fabian menegaskan bahwa keberhasilan pendidikan tidak cukup hanya diukur dari kelulusan siswa setelah menyelesaikan pendidikan formal.

Lebih dari itu, siswa perlu dipersiapkan agar mampu “lolos” ketika memasuki kehidupan sosial kemasyarakatan maupun dunia kerja dan persaingan profesional (marketplace).

Menurut Fabian, sekolah memiliki peran penting dalam membekali siswa dengan pengetahuan, karakter, nilai spiritual, serta kemampuan membangun hubungan yang sehat dengan orang lain. 

Bekal tersebut menjadi modal penting bagi generasi muda untuk menghadapi berbagai tantangan kehidupan.

Ia kemudian membagikan konsep tentang tiga dimensi kehidupan sukses yang dirangkumnya berdasarkan pengalaman, perenungan, pengetahuan, serta interaksinya dengan Tuhan, sesama manusia, dan dirinya sendiri.

Fabian menguraikan tiga huruf S dalam kata “sukses” sebagai representasi dari tiga dimensi kehidupan, yakni Spirituality, Social, dan Self.

Dimensi Spirituality menggambarkan hubungan seseorang dengan Tuhan. Dimensi Social mencerminkan kemampuan membangun interaksi yang sehat dan harmonis dengan sesama. Sementara itu, dimensi Self menekankan pentingnya mengenali, mengembangkan, dan merawat diri secara bertanggung jawab.

Ketiga dimensi tersebut, menurut Fabian, perlu berjalan beriringan agar kesuksesan tidak hanya terlihat dari pencapaian materi, jabatan, atau prestasi pribadi, tetapi juga tercermin dalam kualitas hubungan dan keseimbangan hidup seseorang.

From Success to Significance: Sukses yang Memberi Makna bagi Sesama
Fabian menegaskan bahwa kesuksesan pribadi saja belum cukup. Ia mengajak para guru dan siswa untuk melangkah lebih jauh melalui prinsip “From Success to Significance”, atau dari sukses menuju kehidupan yang bermakna.

Prinsip tersebut sejalan dengan konsep Successful and Meaningful Life yang diperkenalkan Constantinus dalam seminar “Mengajar dengan Hati”.

Menurut Fabian, kesuksesan yang paripurna bukan sekadar keberhasilan yang dinikmati oleh individu bersangkutan, melainkan kesuksesan yang menghasilkan buah-buah kebaikan bagi orang lain.

Dengan demikian, seseorang tidak hanya berusaha mencapai keberhasilan bagi dirinya sendiri, tetapi juga menggunakan pengetahuan, kemampuan, pengalaman, dan pencapaiannya untuk memberikan kontribusi positif bagi lingkungan sekitarnya.

Ia mengingatkan bahwa setiap orang dapat dikenal melalui buah yang dihasilkannya. Karena itu, pendidikan perlu mendorong siswa untuk tidak hanya menjadi pribadi yang cerdas dan berhasil, tetapi juga mampu menghadirkan manfaat nyata bagi keluarga, masyarakat, dan bangsa.

Melalui seminar dan testimoni alumni ini, Persekolahan Frater Don Bosco Manado menegaskan pentingnya sinergi antara guru, siswa, dan alumni dalam membangun pendidikan yang tidak hanya berorientasi pada prestasi akademik, tetapi juga pada pembentukan karakter dan nilai-nilai kemanusiaan.

Guru diharapkan mengajar dengan hati, sementara siswa dipersiapkan untuk menjalani kehidupan dengan integritas, kepedulian, dan tanggung jawab. Pada akhirnya, keberhasilan pendidikan tidak hanya menghasilkan lulusan yang kompeten, tetapi juga manusia yang mampu menjadikan kesuksesannya bermakna bagi sesama. (*) 

 

 

 

 

Editor : Tommy Waworundeng
MANADO Don Bosco