24.4 C
Manado
Kamis, 7 Juli 2022

OD: Di Luar Jawa, Hanya Sulut yang Dapat

1 Triliun Beli Cengkih Petani!

MANADOPOST.ID—Sepak terjang Gubernur Provinsi Sulawesi Utara (Sulut) Olly Dondokambey tak perlu diragukan. Berkat lobi OD, Menteri Keuangan Sri Mulyani siap mengucurkan dana yang jumlahnya fantastis, sebesar Rp1 triliun.

Dana tersebut dikatakan Gubernur OD untuk menunjang penguatan ekonomi di Bumi Nyiur Melambai. “Barusan (kemarin) saya SMS dengan ibu menteri keuangan. Menteri siapkan bantuan penguatan ekonomi untuk Sulawesi Utara sebesar Rp1 triliun,” beber OD, di sela-sela pemberian bibit dan jagung manis di Perkebunan Wawo, Kota Tomohon, Senin (27/7).

Disampaikan OD, Menteri Sri Mulyani sangat berharap bantuan tersebut kembali menggerakkan perekonomian Bumi Nyiur Melambai. “Pak gub saya minta Pertumbuhan Ekonomi Sulut tembus 6 persen di tahun 2021,” ungkapnya mengutip apa yang disampaikan menteri kepadanya.

Bantuan tersebut, lanjut dia, akan disalurkan lewat Bank SulutGo. Dengan skema pemberian pinjaman dengan bunga yang murah. “Kalau kita semua kuat dan bersatu, ekonomi di Sulut akan terus tumbuh sehingga masyarakat tidak kehilangan pekerjaan. Masyarakat juga akan dibantu oleh Bank SulutGo dengan bantuan dana Rp1 triliun ini kita siapkan pinjaman dengan bunga yang murah. Tidak seperti pinjaman di bank-bank. Nanti skemanya akan kita atur supaya masyarakat mendapatkan pinjaman dengan bunga yang sangat murah sehingga bisa mendapatkan modal untuk usaha yang lebih baik,” jelasnya.

1491945 Adx_ManadoPost_InPage_Mobile

Terkait dana Rp1 triliun tersebut ternyata hanya dikucurkan ke beberapa provinsi saja. “Hanya dapat DKI Jakarta, Jawa Barat dan Jawa Timur. Di luar Jawa hanya Sulut. Itu karena faktor pertemanan yang terjalin. Dan bu Menteri percaya saya bisa menaikan perekonomian di Sulut,” bebernya.

Tak hanya itu, Pemprov Sulut mulai berpikir hingga beberapa tahun ke depan demi kesejahteraan para pekebun/petani. ODSK sementara menggodok asuransi pertanian bagi petani di Sulut. OD bersama Pemprov berencana menyiapkan asuransi pertanian di Sulut untuk mencegah risiko kerugian yang dialami petani akibat gangguan hama yang dapat mengurangi hasil panen.

“Sekarang kita lagi coba untuk asuransi pertanian. Jadi kalau asuransi pertanian ini berjalan bagus, nanti pemerintah yang akan back up. Jadi risikonya tidak akan ada di petani, karena kan pertanian ini kalau musim hama datang menyerang petani langsung rugi tiga bulan. Makanya saat ini kami lagi pelajari, agar kedepan ada asuransi pertanian. Sehingga manfaatnya para petani tidak akan takut rugi lagi jika diserang hama,” beber Olly.

OD menyebut, jikalau rencana tersebut berhasil maka di APBD tahun 2021 pihak Pemprov akan mengcover. “Kita doakan berhasil. Dan akan kita cover semua dalam APBD sehingga petani tidak akan rugi kalau dia gagal panen. Kami lagi susun rencana ini, kalau berhasil saya kira para petani Sulut tidak usah ragu. Generasi muda nantinya akan lebih banyak turun ke lapangan sehingga sumber daya manusia kita juga maju dan petani kita juga maju,” pungkasnya.

Menanggapi hal ini, personel DPRD Sulut Fabian Kaloh memberi apresiasi pada ide OD tersebut. “Ini bukti kalau pemerintah memang hadir untuk masyarakat. Khususnya kaum tani. Kita akan ikut mengawal ini di DPRD dalam fungsi budgeting,” tandasnya.

Terkait kabar baik ini, salah satu petani cengkih asal Minahasa Niko Watulingas mengungkapkan, saat ini harga jual cengkih sangat tak sebanding. “Bisa dibayangkan, kita pakai pemetik dari luar kemudian ada juga yang dibayar untuk berjemur. Jadi bisa dibayangkan berapa untung kami sebagai petani cengkih saat ini?,” tanya dia.

Dirinya pun sangat berharap jika pemerintah mampu membeli cengkih langsung dari petani dengan harga yang layak. “Iya, saya lihat diberita ada dana Rp1 triliun untuk Sulut. Kami pun berharap pemprov Sulut dalam hal ini pak gubernur dan pak wakil gubernur, akan membeli langsung cengkih kami dengan dana tersebut untuk memutar dan mempercepat perekonomian di Sulut,” harap dia.

Di sisi lain, Pengamat Pemerintahan Sulut Dr Alfons Kimbal menyebutkan, bantuan anggaran dengan jumlah besar tersebut adalah bukti nyata kepemimpinan ODSK yang bersinergi dengan pemerintah pusat. “Ini merupakan kemampuan pak OD dalam lingkaran kekuasaan pusat. Ini merupakan jaringan kekuatan yang dimiliki pak OD, dan ini khususnya sangat menguntungkan Sulut dalam meningkatkan perekonomian dan pembangunan,” tuturnya.

Lanjut dia, bantuan tersebut harus mampu dikelola atau diprogramkan pemerintah agar benar-benar mendorong perekonomian. Salah satunya yang kini dinilai mampu meningkatkan perekonomian Sulut adalah sektor pertanian. “Pak OD saya rasa sangat tau persis bagaimana membuat perekonomian Sulut bangkit kembali. Tentunya dari hasil pertanian, jika memang ada program yang dibuat untuk petani, pastinya itu merupakan keputusan yang nantinya bakal mensejahterakan masyarakat khususnya kaum petani,” ujarnya.

Diketahui, saat ini petani Sulut kebanyakan merindukan kesehjateraan di dua komoditi unggulan. Yakni cengkih dan kopra. Panen cengkih pun sudah dimulai di sejumlah wilayah seperti Minahasa, Minsel dan Boltim. Namun teriakan-teriakan masih saja terdengar karena harga jual cengkih masih murah. Dari data yang didapat Manado Post jumlah petani cengkih di Sulut ada sekira 600.000 jiwa.

Sementara itu, Pengamat Ekonomi Sulut Dr Joy Tulung menyampaikan, pogram bantuan tersebut bertujuan mendorong ekonomi daerah, dan tidak ada persyaratan apa-apa. “Kecuali harus menyalurkan kreditnya kepada sektor-sektor produktif dan itu yang disampaikan oleh Menteri Keuangan Sri Mulyani tadi (kemarin),” ujarnya.

Dikatakan Tulung, sepertinya ada 4 BPD bukan 7 BPD, dan keempat BPD yang telah menandatangani perjanjian kerja sama tersebut termasuk BSG, dan ada juga Bank DKI, BJB serta Bank Jateng, dan ada beberapa BPD yang sedang dalam tahap kajian. “Dengan skema tersebut, percepatan pemulihan nasional diharapkan dapat tercapai dengan menjangkau pelaku usaha yang merupakan nasabah BPD dan tersebar di seluruh wilayah Indonesia, khususnya yang terdampak pandemi Covid-19,” kata dia.

Lebih jauh kata dia, pinjaman PEN Daerah dan Penempatan Dana diharapkan dapat mendukung perbaikan ekonomi daerah dari sisi supply side, di mana pengusaha daerah mendapatkan pinjaman murah dari BPD, dan demand side di mana pemerintah daerah memiliki kapasitas fiskal yang lebih untuk membeli produk lokal daerah.

“Maksud produk lokal itu adalah barang yang sudah diproduksi dan siap dipasarkan. Kalau cengkih itu masuk juga komoditi lokal,” tukasnya. “Harapan kita semua memang jika pemerintah bisa membantu harga beli cengkih dari petani. Itu menjadi harapan kita semua, namun kalau tidak sesuai dengan aturan tidak boleh juga dipaksakan, karena program ini diberikan untuk sektor usaha yang produktif namun terdampak Covid-19 seperti UMKM,” kuncinya.(cw-01/ayu/gnr)

JIKA SEBAGIAN DANA DIKUCURKAN BANTU PETANI CENGKIH:

  1. Dana pusat yang dikucurkan Rp1 trilun
  2. Jika memungkinkan, sebagian dana tersebut diminta dipakai membeli cengkih petani.
  3. Jika dibeli dengan harga Rp70 ribu, petani bakal terbantu karena saat ini harga cengkih di pasaran tak menentu.
  4. Di sisi lain, uang hasil penjualan cengkih bakal dipakai petani untuk memenuhi kebutuhan hidup.
  5. Pemerintah bisa menyimpan cengkih hasil penjualan. Jika harga cengkih sudah sudah menyentuh Rp80 ribu, bisa dijual kembali.
  6. Bakal terjadi perputaran uang di daerah sendiri. Masyarakat untung. Pemerintah juga untung. Tujuan pemerintah menyejahterakan petani/warga terwujud.

*Sumber: Diolah

MANADOPOST.ID—Sepak terjang Gubernur Provinsi Sulawesi Utara (Sulut) Olly Dondokambey tak perlu diragukan. Berkat lobi OD, Menteri Keuangan Sri Mulyani siap mengucurkan dana yang jumlahnya fantastis, sebesar Rp1 triliun.

Dana tersebut dikatakan Gubernur OD untuk menunjang penguatan ekonomi di Bumi Nyiur Melambai. “Barusan (kemarin) saya SMS dengan ibu menteri keuangan. Menteri siapkan bantuan penguatan ekonomi untuk Sulawesi Utara sebesar Rp1 triliun,” beber OD, di sela-sela pemberian bibit dan jagung manis di Perkebunan Wawo, Kota Tomohon, Senin (27/7).

Disampaikan OD, Menteri Sri Mulyani sangat berharap bantuan tersebut kembali menggerakkan perekonomian Bumi Nyiur Melambai. “Pak gub saya minta Pertumbuhan Ekonomi Sulut tembus 6 persen di tahun 2021,” ungkapnya mengutip apa yang disampaikan menteri kepadanya.

Bantuan tersebut, lanjut dia, akan disalurkan lewat Bank SulutGo. Dengan skema pemberian pinjaman dengan bunga yang murah. “Kalau kita semua kuat dan bersatu, ekonomi di Sulut akan terus tumbuh sehingga masyarakat tidak kehilangan pekerjaan. Masyarakat juga akan dibantu oleh Bank SulutGo dengan bantuan dana Rp1 triliun ini kita siapkan pinjaman dengan bunga yang murah. Tidak seperti pinjaman di bank-bank. Nanti skemanya akan kita atur supaya masyarakat mendapatkan pinjaman dengan bunga yang sangat murah sehingga bisa mendapatkan modal untuk usaha yang lebih baik,” jelasnya.

Terkait dana Rp1 triliun tersebut ternyata hanya dikucurkan ke beberapa provinsi saja. “Hanya dapat DKI Jakarta, Jawa Barat dan Jawa Timur. Di luar Jawa hanya Sulut. Itu karena faktor pertemanan yang terjalin. Dan bu Menteri percaya saya bisa menaikan perekonomian di Sulut,” bebernya.

Tak hanya itu, Pemprov Sulut mulai berpikir hingga beberapa tahun ke depan demi kesejahteraan para pekebun/petani. ODSK sementara menggodok asuransi pertanian bagi petani di Sulut. OD bersama Pemprov berencana menyiapkan asuransi pertanian di Sulut untuk mencegah risiko kerugian yang dialami petani akibat gangguan hama yang dapat mengurangi hasil panen.

“Sekarang kita lagi coba untuk asuransi pertanian. Jadi kalau asuransi pertanian ini berjalan bagus, nanti pemerintah yang akan back up. Jadi risikonya tidak akan ada di petani, karena kan pertanian ini kalau musim hama datang menyerang petani langsung rugi tiga bulan. Makanya saat ini kami lagi pelajari, agar kedepan ada asuransi pertanian. Sehingga manfaatnya para petani tidak akan takut rugi lagi jika diserang hama,” beber Olly.

OD menyebut, jikalau rencana tersebut berhasil maka di APBD tahun 2021 pihak Pemprov akan mengcover. “Kita doakan berhasil. Dan akan kita cover semua dalam APBD sehingga petani tidak akan rugi kalau dia gagal panen. Kami lagi susun rencana ini, kalau berhasil saya kira para petani Sulut tidak usah ragu. Generasi muda nantinya akan lebih banyak turun ke lapangan sehingga sumber daya manusia kita juga maju dan petani kita juga maju,” pungkasnya.

Menanggapi hal ini, personel DPRD Sulut Fabian Kaloh memberi apresiasi pada ide OD tersebut. “Ini bukti kalau pemerintah memang hadir untuk masyarakat. Khususnya kaum tani. Kita akan ikut mengawal ini di DPRD dalam fungsi budgeting,” tandasnya.

Terkait kabar baik ini, salah satu petani cengkih asal Minahasa Niko Watulingas mengungkapkan, saat ini harga jual cengkih sangat tak sebanding. “Bisa dibayangkan, kita pakai pemetik dari luar kemudian ada juga yang dibayar untuk berjemur. Jadi bisa dibayangkan berapa untung kami sebagai petani cengkih saat ini?,” tanya dia.

Dirinya pun sangat berharap jika pemerintah mampu membeli cengkih langsung dari petani dengan harga yang layak. “Iya, saya lihat diberita ada dana Rp1 triliun untuk Sulut. Kami pun berharap pemprov Sulut dalam hal ini pak gubernur dan pak wakil gubernur, akan membeli langsung cengkih kami dengan dana tersebut untuk memutar dan mempercepat perekonomian di Sulut,” harap dia.

Di sisi lain, Pengamat Pemerintahan Sulut Dr Alfons Kimbal menyebutkan, bantuan anggaran dengan jumlah besar tersebut adalah bukti nyata kepemimpinan ODSK yang bersinergi dengan pemerintah pusat. “Ini merupakan kemampuan pak OD dalam lingkaran kekuasaan pusat. Ini merupakan jaringan kekuatan yang dimiliki pak OD, dan ini khususnya sangat menguntungkan Sulut dalam meningkatkan perekonomian dan pembangunan,” tuturnya.

Lanjut dia, bantuan tersebut harus mampu dikelola atau diprogramkan pemerintah agar benar-benar mendorong perekonomian. Salah satunya yang kini dinilai mampu meningkatkan perekonomian Sulut adalah sektor pertanian. “Pak OD saya rasa sangat tau persis bagaimana membuat perekonomian Sulut bangkit kembali. Tentunya dari hasil pertanian, jika memang ada program yang dibuat untuk petani, pastinya itu merupakan keputusan yang nantinya bakal mensejahterakan masyarakat khususnya kaum petani,” ujarnya.

Diketahui, saat ini petani Sulut kebanyakan merindukan kesehjateraan di dua komoditi unggulan. Yakni cengkih dan kopra. Panen cengkih pun sudah dimulai di sejumlah wilayah seperti Minahasa, Minsel dan Boltim. Namun teriakan-teriakan masih saja terdengar karena harga jual cengkih masih murah. Dari data yang didapat Manado Post jumlah petani cengkih di Sulut ada sekira 600.000 jiwa.

Sementara itu, Pengamat Ekonomi Sulut Dr Joy Tulung menyampaikan, pogram bantuan tersebut bertujuan mendorong ekonomi daerah, dan tidak ada persyaratan apa-apa. “Kecuali harus menyalurkan kreditnya kepada sektor-sektor produktif dan itu yang disampaikan oleh Menteri Keuangan Sri Mulyani tadi (kemarin),” ujarnya.

Dikatakan Tulung, sepertinya ada 4 BPD bukan 7 BPD, dan keempat BPD yang telah menandatangani perjanjian kerja sama tersebut termasuk BSG, dan ada juga Bank DKI, BJB serta Bank Jateng, dan ada beberapa BPD yang sedang dalam tahap kajian. “Dengan skema tersebut, percepatan pemulihan nasional diharapkan dapat tercapai dengan menjangkau pelaku usaha yang merupakan nasabah BPD dan tersebar di seluruh wilayah Indonesia, khususnya yang terdampak pandemi Covid-19,” kata dia.

Lebih jauh kata dia, pinjaman PEN Daerah dan Penempatan Dana diharapkan dapat mendukung perbaikan ekonomi daerah dari sisi supply side, di mana pengusaha daerah mendapatkan pinjaman murah dari BPD, dan demand side di mana pemerintah daerah memiliki kapasitas fiskal yang lebih untuk membeli produk lokal daerah.

“Maksud produk lokal itu adalah barang yang sudah diproduksi dan siap dipasarkan. Kalau cengkih itu masuk juga komoditi lokal,” tukasnya. “Harapan kita semua memang jika pemerintah bisa membantu harga beli cengkih dari petani. Itu menjadi harapan kita semua, namun kalau tidak sesuai dengan aturan tidak boleh juga dipaksakan, karena program ini diberikan untuk sektor usaha yang produktif namun terdampak Covid-19 seperti UMKM,” kuncinya.(cw-01/ayu/gnr)

JIKA SEBAGIAN DANA DIKUCURKAN BANTU PETANI CENGKIH:

  1. Dana pusat yang dikucurkan Rp1 trilun
  2. Jika memungkinkan, sebagian dana tersebut diminta dipakai membeli cengkih petani.
  3. Jika dibeli dengan harga Rp70 ribu, petani bakal terbantu karena saat ini harga cengkih di pasaran tak menentu.
  4. Di sisi lain, uang hasil penjualan cengkih bakal dipakai petani untuk memenuhi kebutuhan hidup.
  5. Pemerintah bisa menyimpan cengkih hasil penjualan. Jika harga cengkih sudah sudah menyentuh Rp80 ribu, bisa dijual kembali.
  6. Bakal terjadi perputaran uang di daerah sendiri. Masyarakat untung. Pemerintah juga untung. Tujuan pemerintah menyejahterakan petani/warga terwujud.

*Sumber: Diolah

Most Read

Artikel Terbaru

/