MANADOPOST.ID - Penemuan Seekor babi hutan dengan daging berwarna biru neon mengejutkan para pemburu hewan liar di California, Amerika Serikat (AS).
Penyelidikan kemudian mengungkap bahwa perubahan warna daging tersebut disebabkan oleh paparan racun.
Fenomena ini menimbulkan kekhawatiran, terutama di Monterey County, California.
Otoritas setempat telah mengeluarkan peringatan terkait potensi bahaya jika hewan buruan, seperti babi hutan, rusa, beruang, atau hewan lain, yang disebabkan oleh keracunan rodentisida yang membuat daging berubah warna.
Menurut Ryan Bourbour, koordinator investigasi dari Departemen Perikanan dan Satwa Liar California (CDFW), peringatan ini penting agar pemburu lebih berhati-hati.
“Para pemburu harus menyadari bahwa hewan buruan bisa saja terkontaminasi racun jika mereka memakan hewan lain yang sudah terpapar,” jelasnya, dikutip dari Science Alert.
- Apa Itu Rodentisida?
Rodentisida adalah racun yang dibuat untuk mengendalikan hama pengerat.
Menurut Australian Pesticides and Veterinary Medicines Authority (APVMA), rodentisida adalah racun yang diolah menjadi umpan dan digunakan untuk mengendalikan hewan pengeret seperti tikus dan mencit.
Terdapat beberapa jenis rodentisi, termasuk rodentisida Antikoagulan dan Non-antikoagulan seperti fosfida, kolekalserifol, bromethalin, dan striknin.
Racun ini biasanya digunakan di dalam dan sekitar rumah, bangunan industri, pertanian, hingga lahan perkebunan.
Namun, penggunaannya di California sudah mulai dibatasi sejak 2024.
Khusus di Monterey County, babi hutan diduga terpapar rodentisida jenis diphacinone, racun populer yang dipakai perusahaan pertanian untuk mengurangi populasi tikus, tupai, dan hewan kecil lainnya.
Baca Juga: Peta Megathrust Gempa BMKG Bikin Geger, Ada Sulawesi Utara, Ini Zona Terdampak!
Karena babi hutan adalah hewan omnivora, mereka bisa dengan mudah ikut memakan hewan yang telah terkena racun tersebut.
- Bahaya Daging yang Terkontaminasi
Jika daging babi hutan yang sudah terpapar racun dikonsumsi manusia, risikonya sangat tinggi.
Orang yang memakan daging tersebut bisa mengalami “paparan sekunder”, yaitu keracunan tidak langsung dari racun yang masih bertahan di organ hewan.
Rodentisida antikoagulan dapat mengganggu proses pembekuan darah manusia sehingga menimbulkan pendarahan spontan.
Gejalanya bisa berupa memar, perdarahan dari hidung atau gusi, hingga perdarahan internal.
Selain itu, paparan jangka panjang terhadap pestisida juga bisa memengaruhi kualitas sperma, meningkatkan risiko kanker, hingga menimbulkan berbagai penyakit serius lainnya.
---
Fenomena “babi biru neon” ini menjadi peringatan keras bagi para pemburu dan masyarakat agar lebih waspada terhadap hewan buruan yang tampak tidak normal.
Pemerintah setempat menegaskan bahwa konsumsi daging hewan yang sudah terkontaminasi sangat berbahaya bagi kesehatan. (mpd)
Editor : Tina Mamangkey