alexametrics
24.4 C
Manado
Kamis, 19 Mei 2022

Banner Mobile (Anymind)

Pdt Magritha Dalos Menguat Calon Ketua BPMS GMIM

MANADOPOST.ID— Pemilihan Badan Pekerja Majelis Sinode (BPMS) GMIM 2022-2027, direncanakan berlangsung pekan keempat Maret 2022 yang akan berlangsung Sidang Majelis Sinode (SMS). Sejumlah kandidat mencuat di posisi Ketua BPMS.

Paling santer, petahana Pdt Dr Hein Arina diprediksi bakal kembali menjabat. Namun belakangan, muncul nama Pdt Magritha Dalos. Dukungan untuk Pdt Arina dan Pdt Dalos dikabarkan sama kuat. Persaingan keduanya dipastikan sengit.

Nelson Sasauw, pengamat sosial yang juga warga GMIM menegaskan, saat ini harus dibuka ruang untuk kaum perempuan. “Yang paling sekarang dibuka ruang kepada kaum perempuan. Sebab GMIM punya pengalaman 88 tahun. Ternyata dipimpin oleh lelaki, dan terakhir ini, banyak persoalan,” katanya.

Lanjutnya kapasitas perempuan saat ini punya kemampuan yang mempuni. “Sebaiknya kalau boleh kaum perempuan yang ada sekarang, bahwa mereka ini punyak kapasitas dan kemampuan untuk menjadi pemimpin,” tegasnya.

Dia mencontohkan Rektor Unsrat dan Rektor Unima yang dijabat perempuan, mengalami peningkatan yang luar biasa. “Nah kenapa kita tidak membuka ruang seluas-luasnya kepada kaum perempuan,” ungkapnya menambahkan di tanah Minahasa sesuai sejarah adalah orang yang pandai. “Fakta tanah Minahasa, suku Minahasa, diberkati luar biasa oleh Tuhan. Itu fakta dan tidak boleh dibantahkan. Manusia cakap, pandai dan tanahnya subur,” tegasnya.

Pdt Dalos dinilai layak menjadi Ketua BPMS GMIM karena dinilai memiliki karakter hidup seorang Hamba Tuhan. “Seperti yang dilakoni Pdt Magritha Dalos. Seorang single parents, memimpin keluarga semenjak Alm dr Berti Tangel dipanggil Tuhan,” beber Pendiri Panji Yosua Ventje Pinontoan.

Diungkapkannya, Pdt Dalos menghidupi 5 anak perempuan hingga saat ini boleh sukses adalah keajaiban. Putri cantik dan pintar. Pertama Pnt Dr Pricilia Tangel, Ketua Pemuda Sinode GMIM dan Ketua Pemuda Sinode Am Gereja Suluttenggo. Kedua Lidya Tangel SIP,  staf Inspektorat Pemprov Sulut dan sementara tugas belajar S2 di IPDN Cilandak. Ketiga Lois Tangel SE, Putri Pariwisata Indonesia 2016, Putri Pariwisata International 2017, Ketua Pemuda GMIM Stefanus Tamansari. Keempat Devona Tangel STh, calon Pendeta GMIM. Kelima Blessy Tangel, Mahasiswa Universitas Pelita Harapan (UPH) Jurusan Hukum Internasional. “Bagi saya, beliau layak masuk Badan Pekerja Majelis Sinode (BPMS) GMIM 2022-2027,” nilai Ventje Pinontoan, eks Ketua P/KB GMIM Wilayah Manado Timur Satu ini.

Lain halnya dengan Pdt Johan Manampiring. Menurutnya, figur Pdt Dallos layak BPMS GMIM karena kematangan dan kedewasaan membangun pelayanan. Terbukti, jemaat yang dipimpin selalu berhasil. Berawal dari Tenaga Utusan Gereja Timor Timor. Kembali ke Manado, menjadi Ketua BPMJ GMIM Bukit Moria Winangun dan pernah menjadi Sekretaris Umum Yayasan Medika GMIM. “Saat ini, menjadi Ketua BPMJ GMIM Stefanus Taman Sari Paniki Bawah Wilayah Mapanget Satu tergolong sukses,” ungkap Pdt Manampiring.

Dirinya pun terkesan Pdt Dalos, Pelayan Tuhan yang mau berkebun Tanam Rica di halaman Pastori. Bahkan, membuka lahan kebun ‘Bapacol’ pernah dilakukan dan mendapat simpati luar biasa dari jemaat. “Kepedulian sosialnya sangat tinggi, karena sebagai Hamba Tuhan berhasil, salah satu ukurannya adalah mau peduli kepada jemaat,” sambungnya.

Lain halnya, Dora Lintang, sahabat Pdt Dalos sejak SMP. Menurutnya, Pdt Dalos adalah anak petani yang tekun dan mau membantu orang tua di kebun. Disegani teman dan sahabat. Selain pintar, sangat berintegritas dalam sikap dan tindakan. Bahkan di SMA, Pdt Dalos menjadi guru pengganti bagi teman-teman sekelas, karena kemampuan kepemimpinannya diakui para guru dan sahabat. Bahkan, kakak kelas mengakui kelebihan dan talentanya. “Begitu juga dalam pelayanan, sejak SMP sudah bisa memimpin Ibadah, sehingga saat SMA sudah menjadi pemimpin Pemuda Gereja,” beber Lintang.

Sementara itu, 13 nama bakal calon BPMS GMIM periode 2022-2027, harus disaring dalam 1.043 sidang majelis jemaat GMIM. Pun 141 Wilayah GMIM wajib menjalankan amanat majelis jemaat, untuk menyampaikan nama para nominator yang telah disetujui, kepada panitia pemilihan aras Sinode. Ini sesuai tata gereja GMIM tahun 2021 yang dipertegas dalam keputusan BPMS tentang pemilihan di semua aras tahun 2021-2022.

Pun yang nantinya nama-nama yang akan masuk kedalam nominasi, harus diusulkan oleh 75 jemaat dari 1043 jemaat se-GMIM. Yang merupakan representasi usulan jemaat melalui Pelsus dan telah dibahas serta diputuskan dalam sidang majelis jemaat. Nama ini nantinya akan diserahkan kepada BPMW setempat, untuk mendapat tanda tangan pengesahan, sebelum diteruskan kepada panitia pemilihan aras Sinode.

Waktu pemasukan pengusulan nominasi BPMS, mulai Minggu pertama Februari ini sampai awal Maret 2022 mendatang. Disampaikan Sekretaris BPMS GMIM Pdt Evert AA Tangel, bahwa nama yang dinominasikan harus disahkan dalam sidang majelis jemaat. “Yang dinominasikan jemaat tidak perlu dengan usulan jabatan yang akan dijabat. Hanya nama (nominator) saja,” singkatnya.

Beragam tanggapan muncul dari warga GMIM dalam agenda pemilihan aras Sinode ini. Yang intinya menegaskan agar nama yang diusulkan harus merupakan representasi dari suara jemaat. Jangan sampai hak jemaat dirampok demi kepentingan lainnya. Harus dihindari jemaat dikhianati demi hal yang disinyalir untuk kepentingan pihak lain.

Seperti disampaikan Pdt Wailan Janny Posumah MTh. Ketua Ketua BPMW Tateran Dua ini menegaskan, jangan sampai suara jemaat diabaikan demi kepentingan pihak lain. “Harus secara utuh dijelaskan. Sebab kan pendeta di jemaat, kita ditopang oleh jemaat. Apapun yang terjadi dalam keluarga pendeta, selalu ditopang jemaat. Berarti 98 persen kebutuhan hidup pendeta dari jemaat,” katanya menambahkan terlepas dari suami atau istri pendeta yang mempunyai pekerjaan lainnya.

Di samping itu tambah Pdt Posumah, keluarga pendeta juga ada topangan dari pihak lain yang sifatnya insidetil. Namun sumber utama pendeta untuk kebutuhan ada dari jemaat. “Maka jangan sampai kaitan dengan nominasi, kita mengabaikan suara jemaat yang direpresentasikan dalam sidang pleno, karena ada topangan dari pihak lain. Misalnya penjaringan nominasi, ada misalnya pihak lainnya yang membuat kita menggantikan (mengabaikan) suara jemaat,” terangnya.

Ketua BPMJ Sion Suluun Satu ini menegaskan, untuk penjaringan suara harus sesuai dengan tata Gereja, yakni ditetapkan melalui keputusan sidang majelis jemaat. “Agar supaya apa yang diinginkan jemaat, tersampaikan dalam nominasi. Jangan sampai jemaat dikhianati hanya karena embel-embel pihak lain. Sementara suara jemaat diabaikan. Jangan sampai seperti itu. Jangan sampai mengabaikan suara jemaat yang merupakan representasi sidang, hanya karena adanya pihak lain, yang membuat pendeta atau ketua jemaat merobah keinginan sidang,” tegasnya.

Lanjut Pdt Posumah, hal yang wajar ketika saat ini sudah beredar beberapa struktur calon BPMS. Menurut hal itu tidak bisa disalahkan, bahkan itu hal yang positif. “Mungkin karena banyak yang tidak tahu, maka itu dijadikan referensi. Namun jangan sampai dipaksakan menjadi keputusan sidang. Sebab kalau dipaksakan maka sama saja penghianat suara jemaat yang direpresentasikan dalam sidang,” ungkapnya. “Nama tersebut bisa dibawa dalam sidang. Namun ketika sidang tidak menyetujui, maka jangan dipaksakan. Jangan sampai sudah tidak disampaikan di sidang, sudah disampaikan kepada panitia Sinode. Jangan khianati jemaat,” katanya.

Juga disampaikan Pdt Jopie Lontoh STh. “Harus melalui persidangan (nominasi BPMS). Kalau mungkin teman-teman Pelsus tidak ada tanggapan ketika ada nama yang diusulkan oleh ketua BPMJ, maka tidak masalah. Sebab mungkin juga ada yang tidak melalui sidang, hanya lewat BPMJ dan nantinya disidang akan disampaikan nama yang dinominasikan,” katanya sembari mengatakan ketika disampaikan di sidang, juga harus melalui wilayah, dengan tertanda BPMW dan disampaikan kepada panitia pemilihan aras Sinode.

Pdt Lontoh yang saat ini merupakan tim kerja tata Gereja GMIM periode 2018-2022 menambahkan, kalau memang dalam sidang ada nama yang tidak disetujui, maka harus dihormati. “Harus disampaikan oleh Pelsus yang adalah peserta sidang. Tidak semua tau tentang calon yang pas dan memenuhi syarat dicalonkan menjadi nominasi. Sehingga BPMJ menyampaikan ke sidang. Dan Pelsus yang menganggapi dalam sidang majelis,” tegasnya. “Kalau ada majelis yang tidak setuju, tentu pemimpin sidang, menanyakan siapa calon yang akan dinominasikan. Juga misalnya seseorang yang tidak dianggap tepat untuk dinominasikan oleh jemaat, bisa diganti. Karena itu tempatnya untuk membahas dan mendiskusikan, calon nominasi ke aras Sinode. Apapun calon yang dinominasikan, harus ditetapkan dalam sidang,” terangnya.

Sementara itu, terkait pemilihan BPMS nanti, Pnt Juldie Daada menyinggung beberapa hal. Di antaranya bidang pendidikan dan kesehatan GMIM. “Lebih fokus dalam peningkatan mutu pendidikan, terlebih bagi sekolah-sekolah GMIM. Karena saat ini bukan menjadi pilihan utama bagi masyarakat,” ungkap Juldie sembari berharap ke depan pendidikan GMIM harus lebih berkualitas dan inovatif. “Agar lulusan-lulusan sekolah GMIM, baik TK sampai SMA bahkan perguruan tinggi adalah lulusan yang mampu bersaing di tengah perkembangan teknologi,” tegasnya.

Ketua Komisi Kategorial Remaja GMIM Betlehem Kawangkoan Baru ini meminta perhatian BPMS pada masalah kesehatan. “BPMS GMIM ke depan harus meningkatkan mutu pelayanan kesehatan yang paripurna dan tidak mengejar profit semata,” ungkapnya. “Dari segi pelayanan, harus menjangkau sampai ke jemaat-jemaat di  pelosok daerah yang menjadi bagian dari pelayanan GMIM. Agar tidak terkesan BPMS hanya fokus ke pusat kota atau ke tempat yang ramai,” tambahnya.

Di sisi lain, Sekretaris Umum BPMS GMIM Pdt Evert Tangel menyebut persiapan pemilihan sudah matang. Pemilihan diaken dan penatua, ketua komisi BIPRA jemaat, dan pemilihan di aras wilayah sudah selesai. Sementara pemilihan aras Sinode, lanjutnya, dimulai dengan kompelka BIPRA Sinode. Rencananya dilaksanakan 25 Februari, di lima tempat yang telah ditetapkan pada SMST tahun 2021. Tahapan pemilihan terakhir adalah pemilihan Badan Pekerja Majelis Sinode (BPMS) GMIM. Direncanakan berlangsung pekan keempat Maret 2022 yang akan berlangsung Sidang Majelis Sinode (SMS). Pdt Tangel menegaskan semua agenda pemilihan siap dilaksanakan. “Kompelka BIPRA Sinode 25 Februari dan BPMS dalam Sidang Majelis Sinode pekan keempat Maret 2022. Dan ini sudah siap dilaksanakan,” tegasnya.(tim mp)

MANADOPOST.ID— Pemilihan Badan Pekerja Majelis Sinode (BPMS) GMIM 2022-2027, direncanakan berlangsung pekan keempat Maret 2022 yang akan berlangsung Sidang Majelis Sinode (SMS). Sejumlah kandidat mencuat di posisi Ketua BPMS.

Paling santer, petahana Pdt Dr Hein Arina diprediksi bakal kembali menjabat. Namun belakangan, muncul nama Pdt Magritha Dalos. Dukungan untuk Pdt Arina dan Pdt Dalos dikabarkan sama kuat. Persaingan keduanya dipastikan sengit.

Nelson Sasauw, pengamat sosial yang juga warga GMIM menegaskan, saat ini harus dibuka ruang untuk kaum perempuan. “Yang paling sekarang dibuka ruang kepada kaum perempuan. Sebab GMIM punya pengalaman 88 tahun. Ternyata dipimpin oleh lelaki, dan terakhir ini, banyak persoalan,” katanya.

Lanjutnya kapasitas perempuan saat ini punya kemampuan yang mempuni. “Sebaiknya kalau boleh kaum perempuan yang ada sekarang, bahwa mereka ini punyak kapasitas dan kemampuan untuk menjadi pemimpin,” tegasnya.

Dia mencontohkan Rektor Unsrat dan Rektor Unima yang dijabat perempuan, mengalami peningkatan yang luar biasa. “Nah kenapa kita tidak membuka ruang seluas-luasnya kepada kaum perempuan,” ungkapnya menambahkan di tanah Minahasa sesuai sejarah adalah orang yang pandai. “Fakta tanah Minahasa, suku Minahasa, diberkati luar biasa oleh Tuhan. Itu fakta dan tidak boleh dibantahkan. Manusia cakap, pandai dan tanahnya subur,” tegasnya.

Pdt Dalos dinilai layak menjadi Ketua BPMS GMIM karena dinilai memiliki karakter hidup seorang Hamba Tuhan. “Seperti yang dilakoni Pdt Magritha Dalos. Seorang single parents, memimpin keluarga semenjak Alm dr Berti Tangel dipanggil Tuhan,” beber Pendiri Panji Yosua Ventje Pinontoan.

Diungkapkannya, Pdt Dalos menghidupi 5 anak perempuan hingga saat ini boleh sukses adalah keajaiban. Putri cantik dan pintar. Pertama Pnt Dr Pricilia Tangel, Ketua Pemuda Sinode GMIM dan Ketua Pemuda Sinode Am Gereja Suluttenggo. Kedua Lidya Tangel SIP,  staf Inspektorat Pemprov Sulut dan sementara tugas belajar S2 di IPDN Cilandak. Ketiga Lois Tangel SE, Putri Pariwisata Indonesia 2016, Putri Pariwisata International 2017, Ketua Pemuda GMIM Stefanus Tamansari. Keempat Devona Tangel STh, calon Pendeta GMIM. Kelima Blessy Tangel, Mahasiswa Universitas Pelita Harapan (UPH) Jurusan Hukum Internasional. “Bagi saya, beliau layak masuk Badan Pekerja Majelis Sinode (BPMS) GMIM 2022-2027,” nilai Ventje Pinontoan, eks Ketua P/KB GMIM Wilayah Manado Timur Satu ini.

Lain halnya dengan Pdt Johan Manampiring. Menurutnya, figur Pdt Dallos layak BPMS GMIM karena kematangan dan kedewasaan membangun pelayanan. Terbukti, jemaat yang dipimpin selalu berhasil. Berawal dari Tenaga Utusan Gereja Timor Timor. Kembali ke Manado, menjadi Ketua BPMJ GMIM Bukit Moria Winangun dan pernah menjadi Sekretaris Umum Yayasan Medika GMIM. “Saat ini, menjadi Ketua BPMJ GMIM Stefanus Taman Sari Paniki Bawah Wilayah Mapanget Satu tergolong sukses,” ungkap Pdt Manampiring.

Dirinya pun terkesan Pdt Dalos, Pelayan Tuhan yang mau berkebun Tanam Rica di halaman Pastori. Bahkan, membuka lahan kebun ‘Bapacol’ pernah dilakukan dan mendapat simpati luar biasa dari jemaat. “Kepedulian sosialnya sangat tinggi, karena sebagai Hamba Tuhan berhasil, salah satu ukurannya adalah mau peduli kepada jemaat,” sambungnya.

Lain halnya, Dora Lintang, sahabat Pdt Dalos sejak SMP. Menurutnya, Pdt Dalos adalah anak petani yang tekun dan mau membantu orang tua di kebun. Disegani teman dan sahabat. Selain pintar, sangat berintegritas dalam sikap dan tindakan. Bahkan di SMA, Pdt Dalos menjadi guru pengganti bagi teman-teman sekelas, karena kemampuan kepemimpinannya diakui para guru dan sahabat. Bahkan, kakak kelas mengakui kelebihan dan talentanya. “Begitu juga dalam pelayanan, sejak SMP sudah bisa memimpin Ibadah, sehingga saat SMA sudah menjadi pemimpin Pemuda Gereja,” beber Lintang.

Sementara itu, 13 nama bakal calon BPMS GMIM periode 2022-2027, harus disaring dalam 1.043 sidang majelis jemaat GMIM. Pun 141 Wilayah GMIM wajib menjalankan amanat majelis jemaat, untuk menyampaikan nama para nominator yang telah disetujui, kepada panitia pemilihan aras Sinode. Ini sesuai tata gereja GMIM tahun 2021 yang dipertegas dalam keputusan BPMS tentang pemilihan di semua aras tahun 2021-2022.

Pun yang nantinya nama-nama yang akan masuk kedalam nominasi, harus diusulkan oleh 75 jemaat dari 1043 jemaat se-GMIM. Yang merupakan representasi usulan jemaat melalui Pelsus dan telah dibahas serta diputuskan dalam sidang majelis jemaat. Nama ini nantinya akan diserahkan kepada BPMW setempat, untuk mendapat tanda tangan pengesahan, sebelum diteruskan kepada panitia pemilihan aras Sinode.

Waktu pemasukan pengusulan nominasi BPMS, mulai Minggu pertama Februari ini sampai awal Maret 2022 mendatang. Disampaikan Sekretaris BPMS GMIM Pdt Evert AA Tangel, bahwa nama yang dinominasikan harus disahkan dalam sidang majelis jemaat. “Yang dinominasikan jemaat tidak perlu dengan usulan jabatan yang akan dijabat. Hanya nama (nominator) saja,” singkatnya.

Beragam tanggapan muncul dari warga GMIM dalam agenda pemilihan aras Sinode ini. Yang intinya menegaskan agar nama yang diusulkan harus merupakan representasi dari suara jemaat. Jangan sampai hak jemaat dirampok demi kepentingan lainnya. Harus dihindari jemaat dikhianati demi hal yang disinyalir untuk kepentingan pihak lain.

Seperti disampaikan Pdt Wailan Janny Posumah MTh. Ketua Ketua BPMW Tateran Dua ini menegaskan, jangan sampai suara jemaat diabaikan demi kepentingan pihak lain. “Harus secara utuh dijelaskan. Sebab kan pendeta di jemaat, kita ditopang oleh jemaat. Apapun yang terjadi dalam keluarga pendeta, selalu ditopang jemaat. Berarti 98 persen kebutuhan hidup pendeta dari jemaat,” katanya menambahkan terlepas dari suami atau istri pendeta yang mempunyai pekerjaan lainnya.

Di samping itu tambah Pdt Posumah, keluarga pendeta juga ada topangan dari pihak lain yang sifatnya insidetil. Namun sumber utama pendeta untuk kebutuhan ada dari jemaat. “Maka jangan sampai kaitan dengan nominasi, kita mengabaikan suara jemaat yang direpresentasikan dalam sidang pleno, karena ada topangan dari pihak lain. Misalnya penjaringan nominasi, ada misalnya pihak lainnya yang membuat kita menggantikan (mengabaikan) suara jemaat,” terangnya.

Ketua BPMJ Sion Suluun Satu ini menegaskan, untuk penjaringan suara harus sesuai dengan tata Gereja, yakni ditetapkan melalui keputusan sidang majelis jemaat. “Agar supaya apa yang diinginkan jemaat, tersampaikan dalam nominasi. Jangan sampai jemaat dikhianati hanya karena embel-embel pihak lain. Sementara suara jemaat diabaikan. Jangan sampai seperti itu. Jangan sampai mengabaikan suara jemaat yang merupakan representasi sidang, hanya karena adanya pihak lain, yang membuat pendeta atau ketua jemaat merobah keinginan sidang,” tegasnya.

Lanjut Pdt Posumah, hal yang wajar ketika saat ini sudah beredar beberapa struktur calon BPMS. Menurut hal itu tidak bisa disalahkan, bahkan itu hal yang positif. “Mungkin karena banyak yang tidak tahu, maka itu dijadikan referensi. Namun jangan sampai dipaksakan menjadi keputusan sidang. Sebab kalau dipaksakan maka sama saja penghianat suara jemaat yang direpresentasikan dalam sidang,” ungkapnya. “Nama tersebut bisa dibawa dalam sidang. Namun ketika sidang tidak menyetujui, maka jangan dipaksakan. Jangan sampai sudah tidak disampaikan di sidang, sudah disampaikan kepada panitia Sinode. Jangan khianati jemaat,” katanya.

Juga disampaikan Pdt Jopie Lontoh STh. “Harus melalui persidangan (nominasi BPMS). Kalau mungkin teman-teman Pelsus tidak ada tanggapan ketika ada nama yang diusulkan oleh ketua BPMJ, maka tidak masalah. Sebab mungkin juga ada yang tidak melalui sidang, hanya lewat BPMJ dan nantinya disidang akan disampaikan nama yang dinominasikan,” katanya sembari mengatakan ketika disampaikan di sidang, juga harus melalui wilayah, dengan tertanda BPMW dan disampaikan kepada panitia pemilihan aras Sinode.

Pdt Lontoh yang saat ini merupakan tim kerja tata Gereja GMIM periode 2018-2022 menambahkan, kalau memang dalam sidang ada nama yang tidak disetujui, maka harus dihormati. “Harus disampaikan oleh Pelsus yang adalah peserta sidang. Tidak semua tau tentang calon yang pas dan memenuhi syarat dicalonkan menjadi nominasi. Sehingga BPMJ menyampaikan ke sidang. Dan Pelsus yang menganggapi dalam sidang majelis,” tegasnya. “Kalau ada majelis yang tidak setuju, tentu pemimpin sidang, menanyakan siapa calon yang akan dinominasikan. Juga misalnya seseorang yang tidak dianggap tepat untuk dinominasikan oleh jemaat, bisa diganti. Karena itu tempatnya untuk membahas dan mendiskusikan, calon nominasi ke aras Sinode. Apapun calon yang dinominasikan, harus ditetapkan dalam sidang,” terangnya.

Sementara itu, terkait pemilihan BPMS nanti, Pnt Juldie Daada menyinggung beberapa hal. Di antaranya bidang pendidikan dan kesehatan GMIM. “Lebih fokus dalam peningkatan mutu pendidikan, terlebih bagi sekolah-sekolah GMIM. Karena saat ini bukan menjadi pilihan utama bagi masyarakat,” ungkap Juldie sembari berharap ke depan pendidikan GMIM harus lebih berkualitas dan inovatif. “Agar lulusan-lulusan sekolah GMIM, baik TK sampai SMA bahkan perguruan tinggi adalah lulusan yang mampu bersaing di tengah perkembangan teknologi,” tegasnya.

Ketua Komisi Kategorial Remaja GMIM Betlehem Kawangkoan Baru ini meminta perhatian BPMS pada masalah kesehatan. “BPMS GMIM ke depan harus meningkatkan mutu pelayanan kesehatan yang paripurna dan tidak mengejar profit semata,” ungkapnya. “Dari segi pelayanan, harus menjangkau sampai ke jemaat-jemaat di  pelosok daerah yang menjadi bagian dari pelayanan GMIM. Agar tidak terkesan BPMS hanya fokus ke pusat kota atau ke tempat yang ramai,” tambahnya.

Di sisi lain, Sekretaris Umum BPMS GMIM Pdt Evert Tangel menyebut persiapan pemilihan sudah matang. Pemilihan diaken dan penatua, ketua komisi BIPRA jemaat, dan pemilihan di aras wilayah sudah selesai. Sementara pemilihan aras Sinode, lanjutnya, dimulai dengan kompelka BIPRA Sinode. Rencananya dilaksanakan 25 Februari, di lima tempat yang telah ditetapkan pada SMST tahun 2021. Tahapan pemilihan terakhir adalah pemilihan Badan Pekerja Majelis Sinode (BPMS) GMIM. Direncanakan berlangsung pekan keempat Maret 2022 yang akan berlangsung Sidang Majelis Sinode (SMS). Pdt Tangel menegaskan semua agenda pemilihan siap dilaksanakan. “Kompelka BIPRA Sinode 25 Februari dan BPMS dalam Sidang Majelis Sinode pekan keempat Maret 2022. Dan ini sudah siap dilaksanakan,” tegasnya.(tim mp)

Most Read

Artikel Terbaru

/