22.4 C
Manado
Jumat, 19 Agustus 2022

Aktivitas Belajar Saat Covid-19

Jalan Terjal, Butuh Nyali Belajar di Kaki Gunung Berapi

Mewabahnya Corona Virus Disease 2019 (Covid-19), tak membuat guru patah semangat untuk mengajar. Momen Hardiknas 2 Mei, Manado Post mengulas aktivitas dunia pendidikan wilayah kepulauan. Berikut laporannya.

Laporan: Dewi Muntia, Sriwani Adolong, Manado

SUSAH jaringan, jalan terjal dan rusak, hingga belajar di bawah kaki gunung berapi, menjadi tantangan tersendiri bagi guru dan siswa di wilayah kepulauan (Nusa Utara).

Kepulauan Sitaro, 11 guru SMP Negeri 2 Satap Siau Barat Utara (Sibarut), harus door to door ke rumah 53 pelajar. Paling ekstrim ada guru yang ditugaskan mengajar di Kampung Winangun. Ke tempat ini harus memiliki nyali kuat. Kampung ini berada tepat di kaki Gunung Karangetang. “Untuk sampai ke Kampung Winangun, saya harus naik gunung dan jalannya jika lihat ke bawah jurang,” ungkap salah satu guru yang tak mau namanya korankan.

1491945 Adx_ManadoPost_InPage_Mobile

Ini katanya sudah tanggung jawabnya sebagai guru. “Kalau di perkotaan ada internet. Mereka bisa belajar online. Kalau di daerah terpencil, jaringan susah,” ungkapnya. Kampung Winangun tidak asing bagi pembaca, saat erupsi Karangetang, warganya selalu dievakuasi. “Untuk siswa yang kampungnya memiliki jaringan internet, dibuat grup di FB, WA, dan Messenger. Tapi karena jaringan di daerah Lehi, Mini, Winangun, dan seputarannya tidak bagus, maka kami kebanyakan menggunakan grub messenger,” tambah Kepsek SMP Negeri 2 Satap Sibarut Neltje Areros MPd.

Dalam belajar online tidak serta merta terlaksana dengan baik. Karena dari 53 siswa, sebagian besar tidak memiliki smartphone. Karena orangtua tidak mampu. Dan dianjutkan pemerintah, untuk belajar lewat TV. Bahkan kalau pun akan belajar lewat TV, tidak bisa dapat juga siarannya. Ada TV, tapi siarannya tidak ada. “Inilah menjadi kendala untuk belajar disituasi pandemi ini. Kalau pun bagi siswa yang memiliki HP Android dan punya jaringan, tetap kami guru-guru memantau dengan datang berkunjung ke rumah mereka. Tentu mengikuti protokol kesehatan,” katanya.

Di lain tempat, aktivitas pendidikan Kepulauan Sangihe salah satunya di SMP Negeri 1 Tabukan Selatan Tengah, Kampung Salurang, terus berjalan meski belajar di rumah. Diungkapkan Guru Mata Pelajaran IPA Geonal Pontoh, dirinya harus datang ke rumah siswa di lima kampung Kecamatan Tabukan Selatan Tengah, dan satu kampung di Kecamatan Tabukan Selatan Tenggara.

Pakai sepeda motor untuk memberi ilmu kepada siswa kelas 7, 8 dan 9, dengan jumlah keseluruhan 39 pelajar. Pak Onal menceritakan, tantangannya sebagai seorang guru harus menyiapkan metode pembelajaran berbasis di rumah. Kemudian keterbatasan media belajar online atau digital, kata Pak Onal menjadi salah satu kendala.

Mengingat daerah tempat tugasnya untuk media belajar online hampir tidak bisa dilaksanakan. Karena jaringan telekomunikasi tersedia tapi tidak semua tempat. Apalagi sebagian besar siswa-siswa juga tidak punya smartphone. “Kalau listrik padam jaringan akan hilang,” tuturnya.

Selain itu juga tantangan mengajar saat ini yang dialaminya yakni, jarak tempuh antara rumah siswa yang terbilang cukup jauh dan juga yang tinggal di wilayah-wilayah yang sulit dijangkau. Kemudian ada beberapa siswa yang tinggal dibeberapa kampung yang notabene kampung tersebut saat ini sudah hampir-hampir membatasi akses keluar masuk orang dari luar kampung.

Dia mengakui, ada sisi positif yang dia dapatkan dari bencana non alam ini. Interaksi guru dan siswa lebih dekat. “Harapan kami di Hardiknas 2020 ini, dapat memberikan semangat yang lebih besar lagi untuk belajar. Karena menurut saya, belajar itu tidak hanya di sekolah tapi bisa di mana saja,” kuncinya. Siswa SMP Negeri 1 Tabukan Selatan Tengah Zefanya Langi berharap, Covid-19 cepat berakhir. “Kami akan tetap semangat dan rajin,” tutupnya.(wan/cw-04/gnr)

Mewabahnya Corona Virus Disease 2019 (Covid-19), tak membuat guru patah semangat untuk mengajar. Momen Hardiknas 2 Mei, Manado Post mengulas aktivitas dunia pendidikan wilayah kepulauan. Berikut laporannya.

Laporan: Dewi Muntia, Sriwani Adolong, Manado

SUSAH jaringan, jalan terjal dan rusak, hingga belajar di bawah kaki gunung berapi, menjadi tantangan tersendiri bagi guru dan siswa di wilayah kepulauan (Nusa Utara).

Kepulauan Sitaro, 11 guru SMP Negeri 2 Satap Siau Barat Utara (Sibarut), harus door to door ke rumah 53 pelajar. Paling ekstrim ada guru yang ditugaskan mengajar di Kampung Winangun. Ke tempat ini harus memiliki nyali kuat. Kampung ini berada tepat di kaki Gunung Karangetang. “Untuk sampai ke Kampung Winangun, saya harus naik gunung dan jalannya jika lihat ke bawah jurang,” ungkap salah satu guru yang tak mau namanya korankan.

Ini katanya sudah tanggung jawabnya sebagai guru. “Kalau di perkotaan ada internet. Mereka bisa belajar online. Kalau di daerah terpencil, jaringan susah,” ungkapnya. Kampung Winangun tidak asing bagi pembaca, saat erupsi Karangetang, warganya selalu dievakuasi. “Untuk siswa yang kampungnya memiliki jaringan internet, dibuat grup di FB, WA, dan Messenger. Tapi karena jaringan di daerah Lehi, Mini, Winangun, dan seputarannya tidak bagus, maka kami kebanyakan menggunakan grub messenger,” tambah Kepsek SMP Negeri 2 Satap Sibarut Neltje Areros MPd.

Dalam belajar online tidak serta merta terlaksana dengan baik. Karena dari 53 siswa, sebagian besar tidak memiliki smartphone. Karena orangtua tidak mampu. Dan dianjutkan pemerintah, untuk belajar lewat TV. Bahkan kalau pun akan belajar lewat TV, tidak bisa dapat juga siarannya. Ada TV, tapi siarannya tidak ada. “Inilah menjadi kendala untuk belajar disituasi pandemi ini. Kalau pun bagi siswa yang memiliki HP Android dan punya jaringan, tetap kami guru-guru memantau dengan datang berkunjung ke rumah mereka. Tentu mengikuti protokol kesehatan,” katanya.

Di lain tempat, aktivitas pendidikan Kepulauan Sangihe salah satunya di SMP Negeri 1 Tabukan Selatan Tengah, Kampung Salurang, terus berjalan meski belajar di rumah. Diungkapkan Guru Mata Pelajaran IPA Geonal Pontoh, dirinya harus datang ke rumah siswa di lima kampung Kecamatan Tabukan Selatan Tengah, dan satu kampung di Kecamatan Tabukan Selatan Tenggara.

Pakai sepeda motor untuk memberi ilmu kepada siswa kelas 7, 8 dan 9, dengan jumlah keseluruhan 39 pelajar. Pak Onal menceritakan, tantangannya sebagai seorang guru harus menyiapkan metode pembelajaran berbasis di rumah. Kemudian keterbatasan media belajar online atau digital, kata Pak Onal menjadi salah satu kendala.

Mengingat daerah tempat tugasnya untuk media belajar online hampir tidak bisa dilaksanakan. Karena jaringan telekomunikasi tersedia tapi tidak semua tempat. Apalagi sebagian besar siswa-siswa juga tidak punya smartphone. “Kalau listrik padam jaringan akan hilang,” tuturnya.

Selain itu juga tantangan mengajar saat ini yang dialaminya yakni, jarak tempuh antara rumah siswa yang terbilang cukup jauh dan juga yang tinggal di wilayah-wilayah yang sulit dijangkau. Kemudian ada beberapa siswa yang tinggal dibeberapa kampung yang notabene kampung tersebut saat ini sudah hampir-hampir membatasi akses keluar masuk orang dari luar kampung.

Dia mengakui, ada sisi positif yang dia dapatkan dari bencana non alam ini. Interaksi guru dan siswa lebih dekat. “Harapan kami di Hardiknas 2020 ini, dapat memberikan semangat yang lebih besar lagi untuk belajar. Karena menurut saya, belajar itu tidak hanya di sekolah tapi bisa di mana saja,” kuncinya. Siswa SMP Negeri 1 Tabukan Selatan Tengah Zefanya Langi berharap, Covid-19 cepat berakhir. “Kami akan tetap semangat dan rajin,” tutupnya.(wan/cw-04/gnr)

Most Read

Artikel Terbaru

/