24.4 C
Manado
Senin, 15 Agustus 2022

Jenderal Sudjana Beber Penyebab 180 Kasus Penganiayaan di Sulut, Empat Tewas Dibunuh

MANADOPOST.ID—Minuman keras (miras) benar-benar menjadi sumber masalah di Bumi Nyiur Melambai. Ternyata, ada ratusan aksi kriminal yang terjadi selang Januari-April disebabkan si pelaku sudah dalam keadaan mabuk.

“Selama tiga bulan saya evaluasi, kasus yang menonjol di Sulut itu kasus penganiayaan,” beber Kapolda Irjen Pol Nana Sudjana di sela-sela penanganan Kampung Sadar Miras di Desa Talawaan, Kecamatan Talawaan, Minut, Kamis (2/6).

Data Polda Sulut selang Januari hingga April, dari 326 kasus penganiayaan, 180 di antaranya karena para pelaku dalam pengaruh miras. “Mereka miras dan dalam kondisi setengah sadar. Mereka tidak pandang teman atau lawan. Ada yang membawa pisau. Dan biasanya karena pengaruh miras jadi setengah sadar dan terjadilah penganiayaan,” tutur eks Kapolda Metro Jaya tersebut.

Bahkan, lanjut jenderal dua bintang itu, dari 6 kasus pembunuhan pada periode yang sama, empat di antaranya karena si pelaku mabuk. “Karena miras menimbulkan keresahan. Banyak sekali kejadian penganiayaan. Kita harus sadari bersama. Setiap hari, saya sampaikan harus ada langkah-langkah, tidak bisa dibiarkan. Kita tahu masalah miras tradisional ini cukup lama. Mungkin ini generasi ke berapa. Kita tahu minuman itu konon dikonsumsi para bangsawan dan masyarakat pada umumnya,” ungkap Nana.

1491945 Adx_ManadoPost_InPage_Mobile

Selain penganiayaan terhadap rekan atau lawannya, ada juga KDRT yang juga disebabkan mabuk. “Jadi ini beberapa hal yang harus segera diambil langkah. Menimbulkan tindak pidana. Kemudian menimbulkan keresahan bagi masyarakat Sulut,” tegasnya.

Dia memahami petani cap tikus menjadi salah satu mata pencarian masyarakat Sulut. Namun tidak boleh mengonsumsi miras berlebihan. “Setelah saya konsultasikan kepada para tokoh agama, ternyata itu bukan budaya. Melainkan kebiasaan buruk dan juga menjadikan orang berperilaku menyimpang. Akan ada generasi yang hilang kalau terus dibiarkan mengonsumsi miras,” tukasnya. (jen)

MANADOPOST.ID—Minuman keras (miras) benar-benar menjadi sumber masalah di Bumi Nyiur Melambai. Ternyata, ada ratusan aksi kriminal yang terjadi selang Januari-April disebabkan si pelaku sudah dalam keadaan mabuk.

“Selama tiga bulan saya evaluasi, kasus yang menonjol di Sulut itu kasus penganiayaan,” beber Kapolda Irjen Pol Nana Sudjana di sela-sela penanganan Kampung Sadar Miras di Desa Talawaan, Kecamatan Talawaan, Minut, Kamis (2/6).

Data Polda Sulut selang Januari hingga April, dari 326 kasus penganiayaan, 180 di antaranya karena para pelaku dalam pengaruh miras. “Mereka miras dan dalam kondisi setengah sadar. Mereka tidak pandang teman atau lawan. Ada yang membawa pisau. Dan biasanya karena pengaruh miras jadi setengah sadar dan terjadilah penganiayaan,” tutur eks Kapolda Metro Jaya tersebut.

Bahkan, lanjut jenderal dua bintang itu, dari 6 kasus pembunuhan pada periode yang sama, empat di antaranya karena si pelaku mabuk. “Karena miras menimbulkan keresahan. Banyak sekali kejadian penganiayaan. Kita harus sadari bersama. Setiap hari, saya sampaikan harus ada langkah-langkah, tidak bisa dibiarkan. Kita tahu masalah miras tradisional ini cukup lama. Mungkin ini generasi ke berapa. Kita tahu minuman itu konon dikonsumsi para bangsawan dan masyarakat pada umumnya,” ungkap Nana.

Selain penganiayaan terhadap rekan atau lawannya, ada juga KDRT yang juga disebabkan mabuk. “Jadi ini beberapa hal yang harus segera diambil langkah. Menimbulkan tindak pidana. Kemudian menimbulkan keresahan bagi masyarakat Sulut,” tegasnya.

Dia memahami petani cap tikus menjadi salah satu mata pencarian masyarakat Sulut. Namun tidak boleh mengonsumsi miras berlebihan. “Setelah saya konsultasikan kepada para tokoh agama, ternyata itu bukan budaya. Melainkan kebiasaan buruk dan juga menjadikan orang berperilaku menyimpang. Akan ada generasi yang hilang kalau terus dibiarkan mengonsumsi miras,” tukasnya. (jen)

Most Read

Artikel Terbaru

/