28 C
Manado
Rabu, 2 Desember 2020

UNESCO Tetapkan Bunaken jadi Cagar Biosfer

MANADOPOST.ID—Bunaken resmi menjadi cagar biosfer. Penetapan cagar biosfer baru Indonesia ini resmi diumumkan dalam sidang ke-32 International Coordinating Council (ICC) Man and the Biosphere (MAB) UNESCO tahun 2020.

Ada tiga Cagar Biosfer baru Indonesia seluas total 2.237.373,26 ha yang dikukuhkan oleh sidang ICC MAB kali ini. Yaitu Cagar Biosfer Bunaken Tangkoko Minahasa (746.412,54 ha), Cagar Biosfer Karimunjawa Jepara Muria (1.236.083,97 ha) dan Cagar Biosfer Merapi Merbabu Menoreh (254.876,75 ha).

Direktur Eksekutif Komite Nasional Program MAB Indonesia–Lembaga Ilmu pengetahuan Indonesia (LIPI) Prof Purwanto, mengaku mengaku sangat senang dan bangga. Bisa menjadi anggota jaringan kerja cagar biosfer dunia. Di mana misinya sangat mulia. Yaitu untuk pembangunan berkelanjutan dan harmonisasi kehidupan masyarakat dengan alam.

“Melalui Komite Nasional MAB Indonesia, LIPI tahun lalu mengusulkan 3 CB tersebut, dan setelah dinilai oleh IACBR (International Advisory Committee of Biosphere Reserve) dinyatakan be approved pada bulan Februari 2020, dan ditetapkan oleh Sidang ICC MAB ke-23 pada tanggal 28 Oktober 2020,” sebut Prof Purwanto saat diwawancarai Manado Post, kemarin.

Kawasan Cagar Biosfer Bunaken Tangkoko Minahasa, dipaparkannya meliputi area inti terdiri, dari TN Bunaken, KPHK Tangkoko (CA Duasudara, TWA Batu Putih dan TWA Batu Angus), CA gunung Lokon, Tahura Gunung Tumoa HV Worang. Lalu zona penyangga ada kawasan di sekitar area inti, dan area transisi yaitu zona terluar.

“Ketiga kawasan (area inti, zona penyangga dan area transisi) disebut kawasan cagar biosfer. Kawasan ini terletak di Kabupaten Minahasa, Minahasa Selatan, Minahasa Utara, Kota Manado, Kota Tomohon dan Kota Bitung,” paparnya.

Purwanto mengatakan, kini Indonesia memiliki 19 Cagar Biosfer seluas 29.901.729,259 ha yang menjadi bagian dari World Network of Biosphere Reserves (WNBR).

“Dari total luas kawasan Cagar Biosfer yang dimiliki Indonesia tersebut, luas kawasan konservasi yang menjadi core area/area inti Cagar Biosfer adalah 5.261.133,42 ha atau sebesar > 20% dari total luas kawasan Cagar Biosfer yang ada,” kata Purwanto dalam siaran pers yang diterima Kompas.com. Menurut Purwanto, konsep Cagar Biosfer telah digagas oleh UNESCO sejak tahun 1971.

Konsep Cagar Biosfer ini adalah mengelola suatu kawasan yang ditujukan untuk mengharmonisasikan antara kebutuhan konservasi keanekaragaman hayati, sosial, ekonomi yang berkelanjutan dan dukungan logistik yang cukup, dimana kawasan konservasi merupakan core area-nya. Saat ini jumlah Cagar Biosfer telah mencapai jumlah 714 yang tersebar di 129 negara di dunia.

“Pembangunan dan pengembangan Cagar Biosfer Indonesia dapat menjadi sarana untuk melaksanakan komitmen bangsa Indonesia dalam melaksanakan berbagai konvensi terkait dengan lingkungan hidup, keanekaragaman hayati, dan perubahan iklim,” ujar Purwanto.

Lebih lanjut Purwanto mengatakan, capaian penambahan tiga cagar biosfer baru tersebut merupakan prestasi Indonesia yang dimotori oleh Komite Nasional MAB UNESCO Indonesia yang didukung oleh LIPI dan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), serta pemerintah Provinsi Sulawesi Utara dan enam Pemerintah Kabupaten/Kota.

Senada dengan Purwanto, Direktur Program dan Pengembangan, Komite Nasional MAB Indonesia sekaligus Peneliti Pusat Penelitian Biologi LIPI, hari Nugroho mengatakan, keberadaan 19 Cagar Biosfer Indonesia membuat Indonesia memiliki peluang besar untuk mendemonstrasikan pembangunan berkelanjutan. Sebagai informasi, Dalam kegiatan tersebut juga diselenggarakan pemilihan pemenang MAB Young Scientists Awards 2020.

Pemilihan nominasinya diprioritaskan pada yang melakukan aksi nyata kontribusi pada implementasi Lima Action Plan (LAP) untuk Cagar Biosfer dan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs). Indonesia meraih prestasi dengan menjadi salah satu dari enam pemenangnya, yakni Radisti Ayu Praptiwi dengan judul penelitian ‘Understanding the impact of climate change to cultural ecosystem services in tropical marine biosphre reserve Taka Bonerate Kepulauan Selayar’.

Sidang yang sedianya dilaksanakan di Abuja Nigeria ini, karena pandemi Covid-19 maka dilakukan secara daring oleh Sekretariat MAB UNESCO, Paris dipimpin oleh Mr Adepoju Adeshola dari Nigeria dan diikuti oleh 34 negara anggota ICC-MAB. Saat ini, Indonesia menjabat sebagai negara anggota ICC-MAB UNESCO untuk periode 2019-2023. Selain menetapkan tiga cagar Biosfer di Indonesia, sidang tersebut juga menetapkan 24 Cagar Biosfer lainnya dari berbagai belahan dunia.(mg-07/gnr)

-

Artikel Terbaru

Menuju 40 Persen Mor-HJP Peluang Besar Pimpin Manado

Pasangan Calon Wali Kota Manado Mor Dominus Bastiaan  Bastiaan dan Wakil Wali Kota Manado Hanny Joost Pajouw (Mor-HJP) kans menang di Pilwako Manado, 9 Desember.

Tiga Nelayan Hilang Akhirnya Ditemukan, Bertahan dengan Layar Manual

Tiga nelayan, yakni Abdul Gani Lamusu (49) warga Desa Pinolosian Selatan (Pinsel), Ferdi Lamusu (15) warga Pinsel dan Feldi Potabuga (39) warga Desa Nunuk, Kecamatan Pinolosian, akhirnya ditemukan di perairan Kabupaten Boltim.

Pegadian Kanwil Manado Serahkan 4.200 Paket Bantuan Pangan

Selasa hingga Rabu tadi, Pegadaian Kanwil V Manado kembali menyalurkan paket bantuan pangan, melalui program Corporate Sosial Responsibility (CSR) bagi nasabah dan masyarakat.

Tatong Warning ASN Terkait Politik Praktis

Jelang Pilkada 9 Desember mendatang, Wali Kota Kotamobagu Tatong Bara me-warning kepada Aparatur Sipil Negara (ASN) di lingkungan Pemerintah Kota (Pemkot) Kotamobagu agar tidak terlibat politik praktis.

Kelangkaan LPG Jelang Nataru Diatensi Pemkab Minahasa

Berkaca pada tahun-tahun sebelumnya, LPG subsidi 3 kilogram sering langka jelang Natal dan Tahun Baru (Nataru). Untuk itu Pemkab Minahasa berupaya melakukan upaya antisipasi menjaga kelangkaan LPG subsidi pemerintah tersebut.