32.4 C
Manado
Jumat, 12 Agustus 2022

Test COVID Cukup Kumur-Kumur, Naik Pesawat Tak Lagi Wajib PCR

MANADOPOST.ID— Banyak warga, termasuk di Sulawesi Utara (Sulut), kurang nyaman menjalani PCR test karena bagian hidung atau tenggorokannya dicolok. Tapi kini sudah ada metode PCR kumur. Seperti apa metode ini?

Biofarma segera mengedarkan alat tes Covid-19 terbaru berbasis air liur dengan cara kumur-kumur. Setelah itu tetap diproses di laboratorium PCR. Dibandingkan metode selama ini, tes Covid-19 berbasis air liur dinilai lebih nyaman ketimbang harus colok hidung dan rongga mulut. Alat ini bisa digunakan untuk anak-anak usia lebih dari lima tahun yang saat ini sudah mulai banyak kembali sekolah tatap muka.

Produk terbaru tersebut diberi nama Bio Saliva. Kepala Divisi Komunikasi Pemasaran dan Distribusi PT Biofarma Hidayat Setiaji mengatakan alat tersebut sudah mendapatkan nomor izin edar dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes). Uji validasi post market produk Bio Saliva itu melibatkan tiga lembaga. Yaitu Laboratorium Mikrobiologi Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Indonesia, Lab. Biomedik Lanjut FK Universitas Padjadjaran, dan Lab Mikrobiologi Klinik FK Universitas Airlangga.

’’Ada beberapa kelebihan PCR Gargle Bio Saliva ini,’’ katanya, seperti dilansir Jawa Pos. Selain bisa digunakan untuk anak-anak mulai umur lima tahun, alat ini juga mengurangi resiko paparan langsung antara tenaga kesehatan dengan penderita Covid-19.

1491945 Adx_ManadoPost_InPage_Mobile

Keunggulan berikutnya adalah cocok untuk pengambilan sampel dengan antrian yang panjang. Kemudian sampel virus hasil kumur-kumur juga tidak membutuhkan suhu dingin. ’’Karena sampel dapat disimpan di suhu ruang,’’ jelasnya.

Hasil riset menggunakan mBioCov diketahui bahwa tingkat sensitivitasnya mencapai lebih dari 90 persen. Hidayat juga mengatakan cairan yang digunakan untuk kumur-kumur aman jika tidak sengaja tertelan.

Di dalam satu paket Bio Saliva terdapat empat item peralatan. Yaitu tabung Gargle Solution (cairan kumur) berwarna biru, tabung Collection Buffer berwarna merah, adapter, dan biohazard plastic untuk menyimpan sampel hasil kumur-kumur.

Pertama orang kumur-kumur dengan cairan kumur yang sudah ada di tabung merah. Kemudian dimasukkan kembali ke botol merah ditambah larutan pencampur yang ada di tabung warna merah. Kemudian dikocok sampai berbusa. Setelah itu dimasukkan ke dalam plastik biohazard. Kemudian baru diproses diproses di lab PCR. Hidayat mengatakan nomor izin edar Bio Saliva keluar pada 1 April 2021 lalu. Kemudian sudah melalui tahapan soft launching pada 8 Mei lalu.

Sementara itu, Kementerian Perhubungan (Kemenhub) menghapus tes PCR dari kewajiban screening bagi Pelaku Perjalanan Orang Dalam Negeri (PPDN) lewat aturan baru SE Kemenhub Nomor 94 Tahun 2021.

”Sesuai dengan Inmemdagri dan SE Satgas Covid-19 baru, tes RT-PCR untuk darat tidak ada lagi. Jadi kita ya mengikuti perubahannya,” Jelas Dirjen Perhubungan Darat Budi Setiyadi, kemarin (3/11)

Dalam SE terbaru disebutkan, pelaku perjalanan jarak jauh yang menggunakan kendaraan pribadi, kendaraan umum, dan angkutan penyeberangan di dalam dan luar Jawa- Bali, dengan kategori PPKM Level 3, Level 2, dan Level 1, wajib menunjukkan hasil tes Antigen maksimal 1×24 jam dan kartu vaksin minimal dosis pertama. ”Hasil tes dan kartu vaksin harus ditunjukkan sebelum keberangkatan,” papar Budi.

Budi menjelaskan, ketentuan wajib tes Antigen tersebut sesuai Instruksi Menteri Dalam Negeri Nomor 57 Tahun 2021 dan SE Satgas Covid-19 Nomor 22 Tahun 2021. “Selain syarat vaksin dan antigen, penumpang juga wajib menggunakan aplikasi PeduliLindungi,” katanya.

Adapun bagi pengemudi dan pembantu pengemudi kendaraan logistik, kata Budi, masih berlaku ketentuan yang sama seperti peraturan sebelumnya.  Dalam peraturan sebelumnya disebutkan bahwa sopir dan kernet wajib menunjukkan surat keterangan hasil negatif Rapid Test Antigen yang sampelnya diambil dalam kurun waktu maksimal 14×24 jam sebelum keberangkatan serta kartu vaksin dosis lengkap

Jika sopir dan kernet baru divaksinasi dosis pertama, maka wajib menunjukkan surat keterangan hasil negatif Rapid Test Antigen yang sampelnya diambil dalam kurun waktu maksimal 7×24 jam sebelum keberangkatan.

Jika sopir dan kernet belum di vaksin sama sekali, maka wajib menunjukkan surat keterangan hasil negatif Rapid Test Antigen yang sampelnya diambil dalam kurun waktu maksimal 1×24 jam sebelum keberangkatan.

Bagi yang belum melaksanakan vaksinasi, maka akan diarahkan untuk melakukan vaksinasi oleh Satuan Tugas Penanganan COVID-19 jika tersedia di lokasi simpul transportasi darat.

Dalam SE terbaru juga disebutkan, khusus pelaku perjalanan rutin dengan moda transportasi darat menggunakan kendaraan pribadi, kendaraan umum, transportasi sungai, danau, dan penyeberangan, dalam satu wilayah aglomerasi perkotaan, tidak diwajibkan untuk menunjukkan kartu vaksin dan hasil tes antigen.

Pembatasan jumlah penumpang kendaraan pribadi, kendaraan umum, serta kapal sungai, danau, dan penyeberangan (ASDP) juga berlaku maksimal 70 persen dari kapasitas tempat duduk bagi daerah PPKM Level 3 dan PPKM Level 2. Adapun untuk daerah dengan PPKM Level 1, kendaraan boleh diisi hingga maksimal 100 persen dari kapasitas tempat duduk.

Terkait pengawasan pelaksanaan SE ini akan dilakukan pemeriksaan acak (random check) oleh pihak-pihak terkait seperti Kepolisian, TNI, Ditjen Hubdat, Badan Pengelola Transportasi Jabodetabek (BPTJ), Balai Pengelola Transportasi Darat (BPTD), dan Dinas Perhubungan. Pemeriksaan acak ini akan dilakukan di terminal, pelabuhan penyeberangan, rest area, pos koordinasi, dan lokasi pengecekan lainnya. “Dalam pengawasan ini juga dilakukan bersama dengan Satgas Covid-19 dan pemerintah daerah,” ujar Budi.

Budi menegaskan, sesuai dengan arahan Satgas Covid-19, masyarakat tetap menjaga protokol kesehatan saat bepergian dengan tetap menggunakan masker. “Juga, tidak berbicara selama perjalanan, serta tidak makan dan minum dalam perjalanan yang kurang dari dua jam,” tuturnya.

Dalam hal penerbangan, perjalanan dari dan keluar Jawa Bali kini boleh menggunakan tes antigen. Melalui SE Nomor 96 Tahun 2021 disebutkan bahwa penerbangan dari atau ke bandara di Pulau Jawa dan Pulau Bali, serta antarbandara di dalam wilayah Pulau Jawa dan Pulau Bali boleh dengan tes Rapid Antigen dengan durasi sampel maksimal 1×24 jam.

Meski demikian, kebijakan ini hanya diperuntukkan bagi mereka yang sudah mendapatkan vaksin lengkap (dua dosis) ”Bagi pelaku perjalanan yang sudah mendapatkan vaksin lengkap, bisa menggunakan Rapid Test Antigen maksimal 1×24 jam, serta menunjukkan kartu vaksin sebelum keberangkatan,” ujar Dirjen Perhubungan Udara Novie Riyanto.

Sedangkan bagi pelaku perjalanan yang masih mendapatkan satu kali vaksin, wajib menunjukkan surat keterangan hasil negatif RT-PCR maksimal 3×24 jam dan kartu vaksin, sebelum keberangkatan.

Novie juga menyebut bahwa Anak usia di bawah 12 tahun diperbolehkan terbang dengan didampingi orang tua atau keluarga, yang dibuktikan dengan menunjukkan kartu keluarga (KK), serta memenuhi persyaratan test Covid-19 sebagaimana ketentuan wilayahnya,” ujarnya.

Selama pemberlakuan SE terbaru ini, kapasitas penumpang pesawat udara kategori lorong tunggal (narrow body) dan lorong ganda (wide body), boleh lebih dari 70 persen kapasitas angkut (load factor). “Hanya saja, penyelenggara angkutan udara tetap wajib menyediakan tiga baris kursi yang diperuntukkan sebagai area karantina, bagi penumpang yang terindikasi bergejala Covid-19,” kata Novie.(jawapos)

MANADOPOST.ID— Banyak warga, termasuk di Sulawesi Utara (Sulut), kurang nyaman menjalani PCR test karena bagian hidung atau tenggorokannya dicolok. Tapi kini sudah ada metode PCR kumur. Seperti apa metode ini?

Biofarma segera mengedarkan alat tes Covid-19 terbaru berbasis air liur dengan cara kumur-kumur. Setelah itu tetap diproses di laboratorium PCR. Dibandingkan metode selama ini, tes Covid-19 berbasis air liur dinilai lebih nyaman ketimbang harus colok hidung dan rongga mulut. Alat ini bisa digunakan untuk anak-anak usia lebih dari lima tahun yang saat ini sudah mulai banyak kembali sekolah tatap muka.

Produk terbaru tersebut diberi nama Bio Saliva. Kepala Divisi Komunikasi Pemasaran dan Distribusi PT Biofarma Hidayat Setiaji mengatakan alat tersebut sudah mendapatkan nomor izin edar dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes). Uji validasi post market produk Bio Saliva itu melibatkan tiga lembaga. Yaitu Laboratorium Mikrobiologi Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Indonesia, Lab. Biomedik Lanjut FK Universitas Padjadjaran, dan Lab Mikrobiologi Klinik FK Universitas Airlangga.

’’Ada beberapa kelebihan PCR Gargle Bio Saliva ini,’’ katanya, seperti dilansir Jawa Pos. Selain bisa digunakan untuk anak-anak mulai umur lima tahun, alat ini juga mengurangi resiko paparan langsung antara tenaga kesehatan dengan penderita Covid-19.

Keunggulan berikutnya adalah cocok untuk pengambilan sampel dengan antrian yang panjang. Kemudian sampel virus hasil kumur-kumur juga tidak membutuhkan suhu dingin. ’’Karena sampel dapat disimpan di suhu ruang,’’ jelasnya.

Hasil riset menggunakan mBioCov diketahui bahwa tingkat sensitivitasnya mencapai lebih dari 90 persen. Hidayat juga mengatakan cairan yang digunakan untuk kumur-kumur aman jika tidak sengaja tertelan.

Di dalam satu paket Bio Saliva terdapat empat item peralatan. Yaitu tabung Gargle Solution (cairan kumur) berwarna biru, tabung Collection Buffer berwarna merah, adapter, dan biohazard plastic untuk menyimpan sampel hasil kumur-kumur.

Pertama orang kumur-kumur dengan cairan kumur yang sudah ada di tabung merah. Kemudian dimasukkan kembali ke botol merah ditambah larutan pencampur yang ada di tabung warna merah. Kemudian dikocok sampai berbusa. Setelah itu dimasukkan ke dalam plastik biohazard. Kemudian baru diproses diproses di lab PCR. Hidayat mengatakan nomor izin edar Bio Saliva keluar pada 1 April 2021 lalu. Kemudian sudah melalui tahapan soft launching pada 8 Mei lalu.

Sementara itu, Kementerian Perhubungan (Kemenhub) menghapus tes PCR dari kewajiban screening bagi Pelaku Perjalanan Orang Dalam Negeri (PPDN) lewat aturan baru SE Kemenhub Nomor 94 Tahun 2021.

”Sesuai dengan Inmemdagri dan SE Satgas Covid-19 baru, tes RT-PCR untuk darat tidak ada lagi. Jadi kita ya mengikuti perubahannya,” Jelas Dirjen Perhubungan Darat Budi Setiyadi, kemarin (3/11)

Dalam SE terbaru disebutkan, pelaku perjalanan jarak jauh yang menggunakan kendaraan pribadi, kendaraan umum, dan angkutan penyeberangan di dalam dan luar Jawa- Bali, dengan kategori PPKM Level 3, Level 2, dan Level 1, wajib menunjukkan hasil tes Antigen maksimal 1×24 jam dan kartu vaksin minimal dosis pertama. ”Hasil tes dan kartu vaksin harus ditunjukkan sebelum keberangkatan,” papar Budi.

Budi menjelaskan, ketentuan wajib tes Antigen tersebut sesuai Instruksi Menteri Dalam Negeri Nomor 57 Tahun 2021 dan SE Satgas Covid-19 Nomor 22 Tahun 2021. “Selain syarat vaksin dan antigen, penumpang juga wajib menggunakan aplikasi PeduliLindungi,” katanya.

Adapun bagi pengemudi dan pembantu pengemudi kendaraan logistik, kata Budi, masih berlaku ketentuan yang sama seperti peraturan sebelumnya.  Dalam peraturan sebelumnya disebutkan bahwa sopir dan kernet wajib menunjukkan surat keterangan hasil negatif Rapid Test Antigen yang sampelnya diambil dalam kurun waktu maksimal 14×24 jam sebelum keberangkatan serta kartu vaksin dosis lengkap

Jika sopir dan kernet baru divaksinasi dosis pertama, maka wajib menunjukkan surat keterangan hasil negatif Rapid Test Antigen yang sampelnya diambil dalam kurun waktu maksimal 7×24 jam sebelum keberangkatan.

Jika sopir dan kernet belum di vaksin sama sekali, maka wajib menunjukkan surat keterangan hasil negatif Rapid Test Antigen yang sampelnya diambil dalam kurun waktu maksimal 1×24 jam sebelum keberangkatan.

Bagi yang belum melaksanakan vaksinasi, maka akan diarahkan untuk melakukan vaksinasi oleh Satuan Tugas Penanganan COVID-19 jika tersedia di lokasi simpul transportasi darat.

Dalam SE terbaru juga disebutkan, khusus pelaku perjalanan rutin dengan moda transportasi darat menggunakan kendaraan pribadi, kendaraan umum, transportasi sungai, danau, dan penyeberangan, dalam satu wilayah aglomerasi perkotaan, tidak diwajibkan untuk menunjukkan kartu vaksin dan hasil tes antigen.

Pembatasan jumlah penumpang kendaraan pribadi, kendaraan umum, serta kapal sungai, danau, dan penyeberangan (ASDP) juga berlaku maksimal 70 persen dari kapasitas tempat duduk bagi daerah PPKM Level 3 dan PPKM Level 2. Adapun untuk daerah dengan PPKM Level 1, kendaraan boleh diisi hingga maksimal 100 persen dari kapasitas tempat duduk.

Terkait pengawasan pelaksanaan SE ini akan dilakukan pemeriksaan acak (random check) oleh pihak-pihak terkait seperti Kepolisian, TNI, Ditjen Hubdat, Badan Pengelola Transportasi Jabodetabek (BPTJ), Balai Pengelola Transportasi Darat (BPTD), dan Dinas Perhubungan. Pemeriksaan acak ini akan dilakukan di terminal, pelabuhan penyeberangan, rest area, pos koordinasi, dan lokasi pengecekan lainnya. “Dalam pengawasan ini juga dilakukan bersama dengan Satgas Covid-19 dan pemerintah daerah,” ujar Budi.

Budi menegaskan, sesuai dengan arahan Satgas Covid-19, masyarakat tetap menjaga protokol kesehatan saat bepergian dengan tetap menggunakan masker. “Juga, tidak berbicara selama perjalanan, serta tidak makan dan minum dalam perjalanan yang kurang dari dua jam,” tuturnya.

Dalam hal penerbangan, perjalanan dari dan keluar Jawa Bali kini boleh menggunakan tes antigen. Melalui SE Nomor 96 Tahun 2021 disebutkan bahwa penerbangan dari atau ke bandara di Pulau Jawa dan Pulau Bali, serta antarbandara di dalam wilayah Pulau Jawa dan Pulau Bali boleh dengan tes Rapid Antigen dengan durasi sampel maksimal 1×24 jam.

Meski demikian, kebijakan ini hanya diperuntukkan bagi mereka yang sudah mendapatkan vaksin lengkap (dua dosis) ”Bagi pelaku perjalanan yang sudah mendapatkan vaksin lengkap, bisa menggunakan Rapid Test Antigen maksimal 1×24 jam, serta menunjukkan kartu vaksin sebelum keberangkatan,” ujar Dirjen Perhubungan Udara Novie Riyanto.

Sedangkan bagi pelaku perjalanan yang masih mendapatkan satu kali vaksin, wajib menunjukkan surat keterangan hasil negatif RT-PCR maksimal 3×24 jam dan kartu vaksin, sebelum keberangkatan.

Novie juga menyebut bahwa Anak usia di bawah 12 tahun diperbolehkan terbang dengan didampingi orang tua atau keluarga, yang dibuktikan dengan menunjukkan kartu keluarga (KK), serta memenuhi persyaratan test Covid-19 sebagaimana ketentuan wilayahnya,” ujarnya.

Selama pemberlakuan SE terbaru ini, kapasitas penumpang pesawat udara kategori lorong tunggal (narrow body) dan lorong ganda (wide body), boleh lebih dari 70 persen kapasitas angkut (load factor). “Hanya saja, penyelenggara angkutan udara tetap wajib menyediakan tiga baris kursi yang diperuntukkan sebagai area karantina, bagi penumpang yang terindikasi bergejala Covid-19,” kata Novie.(jawapos)

Most Read

Artikel Terbaru

/